NovelToon NovelToon
Permaisuri Gendut

Permaisuri Gendut

Status: tamat
Genre:Fantasi Isekai / Time Travel / Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Cinta Istana/Kuno / Tamat
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: ANWi

Tiara Mo akan menghadiri kompetisi tinju tahunan, namun dalam perjalanan ia mengalami kecelakaan dengan truk tangki minyak , saat sadar ia sudah menempati tubuh permaisuri 200kg.

" APA APA INI ! APA PEMILIK TUBUH ASLI TIDAK BISA MENAHAN RASA LAPAR !" Pekik tiara mo kesal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1 : Prolog

Tiara Mo berjalan mantap menuju mobil merah Ferrari yang terparkir rapi di halaman rumahnya.

Ia mengenakan pakaian sport berwarna hitam, sederhana namun pas di tubuhnya. Hari itu ia akan menghadiri kompetisi tahunan atlet tinju, agenda yang sudah lama tercatat dalam jadwalnya. Wajahnya tenang, tak terlihat gugup sedikit pun.

Tangan panjang dan kekar itu membuka pintu mobil. Di dalam, sudah duduk seorang pria paruh baya dengan janggut tipis yang terawat rapi.

“Selamat pagi, Huang,” sapa Tiara Mo sambil duduk dan menarik sabuk pengaman.

Huang Su tersenyum tipis melalui kaca spion. Tatapannya lembut, penuh hormat.

“Selamat pagi juga, Nona.”

Selain sebagai sopir pribadi, Huang Su adalah orang kepercayaan Tiara Mo. Selama bertahun-tahun, pria itu menjadi tangan kanannya, orang yang memegang banyak urusan penting—termasuk kunci mobil-mobil mewah miliknya.

“Kau sudah tahu lokasi kompetisinya, kan?” tanya Tiara sambil mengenakan kacamata hitam beserta topi hitam.

“Sudah, Nona Mo,” jawab Huang Su singkat sebelum menyalakan mesin.

Mobil itu melaju keluar dari halaman rumah mewah, menyatu dengan lalu lintas pagi yang belum terlalu padat. Tiara bersandar ringan di kursinya, lalu merogoh ponsel dari saku tas kecilnya.

Ia menekan satu nama di layar.

Sambungan terhubung.

“Coach,” ucapnya singkat.

Suara di seberang terdengar agak pecah. “Tiara? Kau sudah berangkat?”

“Sudah. Sekitar tiga puluh menit lagi sampai,” jawabnya. “Kondisi cuaca kurang bagus, hujan semalam bikin jalan licin.”

“Baik. Jangan terlalu memaksakan diri. Fokus saja—”

Suara itu terputus.

Tiara mengernyit pelan. Ia menatap layar ponselnya. Tidak ada sinyal.

“Daerah sini memang sering begitu,” gumamnya, lalu meletakkan ponsel kembali.

Mobil melaju di jalan besar yang membelah kawasan industri. Di kejauhan, terlihat sebuah truk besar membawa muatan cairan dalam tangki silinder panjang. Aroma minyak samar tercium saat mereka mendekat.

Huang Su memperlambat laju mobil.

Namun semuanya terjadi terlalu cepat.

Dari arah samping, truk itu tiba-tiba oleng. Suara rem melengking memecah udara. Sebelum Huang Su sempat menghindar, benturan keras menghantam sisi mobil mereka.

BRAK!

Ferrari terpental. Tubuh Tiara terhempas ke samping meski sabuk pengaman menahannya. Kepalanya membentur keras, pandangannya langsung berkunang.

Tangki truk pecah.

Minyak menyembur ke jalan.

Percikan api muncul entah dari mana.

Api menjalar dengan cepat.

Panas menyergap.

“Tiara—!” suara Huang Su terdengar samar, tenggelam oleh ledakan kecil dan suara api.

Tiara mencoba membuka mata. Udara terasa membakar paru-parunya. Napasnya pendek. Kesadarannya memudar, digantikan rasa panas dan berat yang menekan seluruh tubuhnya.

Lalu semuanya gelap.

***

Tiara mengira ia akan mati. Rasanya sungguh sial—ia baru saja berada di ambang meraih sabuk juara, namun harus mengalami kecelakaan tragis. Butuh waktu lama baginya untuk memahami apa yang terjadi.

Namun yang pertama ia rasakan justru sesak.

Seolah ada beban besar menindih dadanya.

Tiara menarik napas, tetapi udara terasa sempit. Kelopak matanya berat saat ia memaksakan diri untuk membuka mata.

Yang terlihat bukanlah langit atau cahaya rumah sakit.

Melainkan langit-langit tinggi dengan ukiran rumit.

Tubuhnya… tidak terasa seperti miliknya.

Terlalu berat. Terlalu besar.

Ia menelan ludah dengan susah payah.

“Apa yang terjadi?” bisiknya lirih.

Perlahan, ingatannya kembali saat mengalami kecelakaan hebat. Mata besarnya membelalak.

“Aku… masih hidup!” gumamnya, berusaha berpikir logis. Pasti ia telah melewatkan pertandingan hari itu.

Saat matanya mengamati ke sekeliling, Tiara menangkap pemandangan seorang gadis muda berkepang dua berlari bersama seorang pria tua berjanggut. Sekilas, pria itu terlihat sangat mirip dengan Huang Su.

“Hei, kalian dokter dan perawat?” tanya Tiara Mo.

Gadis berkepang dua bernama Xiao Xiao itu terperangah.

“Yang Mulia, apa Anda baik-baik saja?”

Sontak, setelah pertanyaan itu, kepala Tiara Mo terasa seperti dihujani ribuan jarum. Ingatan asing mengalir paksa ke dalam benaknya—hinaaan, darah, peperangan, tawa licik, tatapan dingin, dan rasa takut yang mendalam.

Ingatan siapa ini? pikir Tiara Mo kalut.

“Dok, bagaimana keadaanku? Dan bagaimana dengan Huang Su?” ucap Tiara tergesa.

Xiao Xiao dan tabib tua itu saling bertatapan.

“Keadaan Anda sudah membaik, Yang Mulia,” ujar sang tabib dengan nada profesional. “Namun, tumpukan lemak di tubuh Anda menyebabkan jantung bekerja lebih berat, sehingga aliran darah terganggu dan membuat Anda mudah pingsan.”

Tiara Mo mengernyit.

“Apa maksud Anda? Aku tidak mungkin memiliki lemak sebanyak itu sampai menyumbat jantung,” bantahnya tegas.

“Yang Mulia, sebaiknya Anda melihat tubuh Anda sendiri dan bercermin,” tukas tabib itu, sedikit tidak sabar.

“Ck!”

Sejak sadar, Tiara memang merasakan keanehan mendalam. Suasana ini terasa asing. Pakaian yang dikenakannya pun terasa kuno. Apakah rumah sakit sekarang menyediakan pakaian seperti ini?

Tubuhnya yang masih terbaring terasa begitu berat. Ia memberanikan diri mengecek pergelangan tangannya.

Sekali lihat, wajah Tiara Mo langsung memucat.

“Gemuk sekali! Kenapa pergelangan tanganku bisa setebal ini?!”

Ia kembali melirik kakinya.

“Astaga! Apa-apaan ini?! Jangan-jangan aku koma terlalu lama sampai berat badanku menumpuk seperti ini!” pekiknya panik.

“Sekarang tahun berapa? Jangan jangan aku koma bertahun tahun.” Tiara bergerak tergesa ke arah Xiao Xiao.

Gadis itu menjawab pelan, hampir berbisik.

“Sekarang… tahun ke-23 Kekaisaran Daxuan. Tahun 820, Yang Mulia.”

" Hah!" Jawaban itu membuat jantung Tiara Mo berdegup kencang. Ingatan asing yang tadi muncul kembali terlintas jelas di benaknya.

Jangan-jangan… Batin Tiara Mo.

“APA-APAAN INI—A-aku…!”

Transmigrasi.... Pikir nya kalut.

Pikiran itu muncul begitu saja.

“APA INI?! APA PEMILIK TUBUH ASLI TIDAK BISA MENAHAN RASA LAPAR?!” pekik Tiara Mo kesal sambil menatap tubuhnya yang membesar tak wajar.

Sekarang aku permaisuri Lin Yue yang gemuk!!!! Akh. Pikirnya kesal.

***

Mohon Dukungan untuk :

• Like

• Komen

• Subscribe

• Follow Penulis

Terimakasih banyak

Love,

ANWi❤️

1
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
mampir kak
ANWi: makasi udah mampir kaka cantik ~
total 1 replies
Erlina Ibrik
Berarti Han shuo adalah Putra mahkota atau Kaisar yang sesungguhnya..?
🧐
Erlina Ibrik
Semangat Author , awal cerita keliatan menarik 👍
ANWi: terimakasih sudah mampir kak erlina ~
total 1 replies
sahabat pena
happy ending... di tunggu karya baru nya Kak💪💪💕
sahabat pena: Sama-sama Kak
total 2 replies
sahabat pena
pilihan yg terbaik adalah mengikuti kata hati mu tiara mo. semangat lanjut Kak 💪💪💪
sahabat pena: sama sama kak
total 2 replies
Sribundanya Gifran
lanjut💪💪💪
ANWi: siap kakak cantik~
total 1 replies
Sribundanya Gifran
lanjut
Sribundanya Gifran
lanjut thor
ANWi: siap kak, terimakasi sudah mampir~
total 1 replies
sahabat pena
kurang waspada
ANWi: iya nih Lin Yue ga fokus , kenapa ya~
total 1 replies
sahabat pena
jangan bilang jodoh nya permaisuri itu han suo lagi? 🤣🤣🤣🤣
ANWi: waduh~
total 1 replies
sahabat pena
lanjut kak💪💪💪😘
sahabat pena
part awal masih penasaran. lanjut kak💪💪💪
sahabat pena: sama sama trs semangat kak💪💪💪
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!