Abraham yang seorang Komisaris Polisi dan Arshinta seorang guru TK. anak-anak Lucifer setelah dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linieva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
“Bram, jadi sekarang si Love sudah bekerja di rumah mu ya?” Adley bertanya pada Abraham, saat kerjaan sedikit santai.
“Iya, dia tinggal dan bekerja di rumah ku.”
“Wah….padahal dari awal kau selalu bersikeras untuk menolak nya ya, ternyata dia bisa betah juga….
“Aku tidak menolak nya, tapi aku masih mempertimbangkan nya, tahu kan, perbedaan antara dua kalimat itu!”
“Aku lihat dia rajin bekerja, masakan nya juga enak, hampir sama rasa nya dengan mama ku.” Puji Abraham pada Bellova.
“Iya, dan tiap hari juga pakaian mu bisa di ganti kan, tidak itu-itu melulu.” Ledek Adley, menarik ujung baju lengan Abraham.
“Wajar lah, nama nya juga bujangan….
“Enggak tuh! Lihat aku dong, aku malah setiap hari sangat perduli dengan kebersihan dan fashion….
“Jadi maksud mu aku tidak bersih? Lagi pula kau kan sudah punya pacar, dan…..
“Anggap aja si Love itu pacar mu, jadi bisa ada yang mengurusi mu, hehehehe…..” canda nya, membuat Abraham ingin memukul kepala nya.
Adley dan Abraham sedang asik mengobrol, membicarakan tentang apapun, di dalam kantor.
“Pak polisi, anak saya masih belum pulang, apakah ada kabar pak, tentang anak gadis saya?” seorang wanita setengah tua datang kekantor polisi bertanya tentang anak gadis nya yang hilang.
Wanita itu bersamaan dengan suami nya, mereka yang tua dan tampak lesu, berjalan pun saling bergandengan karena tidak kuat berdiri terlalu lama.
Anak buah Abraham melayani mereka, menyuruh nya untuk duduk dan mendengarkan lagi tentang laporan nya.
“Sudah berapa hari anak nya tidak pulang?” tanya polisi tersebut.
“Pak, saya kan sudah melapor seminggu yang lalu, kenapa di tanya lagi?” tanya si ibu kesal.
“Ibu, laporan tentang anak hilang itu banyak. Jadi saya ingin tahu tentang laporan ibu.”
“Sudah seminggu, anak gadis saya sampai sekarang belum pulang juga.” Jawab si ibu mengalah setelah di tanya tegas.
Abraham dan Adley keluar setelah mendengar pembicaraan si ibu.
Suami isteri itu melihat kedatangan Abraham.
“Pak polisi, tolong saya, anak saya belum pulang, seminggu yang lalu saya sudah datang melapor, dan kata nya di suruh tunggu lagi. Bagaimana ini pak…. Nasib anak gadis saya….” Si ibu berdiri, mendekati Abraham
dengan keadaan panik.
“Apa ibu ada foto anak nya?”
“Ada pak, ini saya selalu bawa foto anak saya kemana-mana. Karena tiap hari saya selalu berusaha mencari nya. Ini pak… ini foto anak
saya..”
Si ibu menyerahkan foto anak nya, yang di keluarkan dari tas usang yang di sandang. Foto pun sudah mulai pudar.
Abraham melihat foto itu. foto gadis muda yang tersenyum.
“Nama anak gadis saya adalah Dyna, umur nya 21 tahun, dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga, tapi ketika saya datang ke rumah majikan nya, kata nya anak saya sudah beberapa hari tidak masuk bekerja, padahal anak saya selalu pamit bilang akan berangkat bekerja. Kami tidak tahu harus mencari
nya kemana….hhhikkss hhhiikksss…..hhiiikkkksss……” ibu itu menangis,berusaha menahan air mata nya yang mengalir. Sang suami berusaha menenangkan isteri nya, walau sebenar nya dia juga merasa kesedihan.
Abraham melihat Adley yang juga melihat nya, seperti memiliki pertanyaan yang sama.
“Ridwan, coba kamu cek laporan ibu ini, berikan pada ku informasi nya, seperti tempat anak nya bekerja, nama majikan nya dan informasi lain nya.” Pinta nya pada Ridwan, anak buah nya.
“Baik pak!” jawab Ridwan sambil memberi hormat, mengangkat tangan di kepala.
“Ibu dan bapak pulang saja dulu, nanti kami akan menghubungi kalian kalau ada informasi tentang anak kalian….
“Tapi pak? Kami kan sudah menunggu lama, kami juga tidak tahu bagaimana keadaan anak kami sekarang…..kenapa masih harus menunggu lagi?” tanya nya masih menangis.
“Kami sudah melakukan pencarian untuk anak anda, hanya saja masih belum menemukan nya. Dan kami juga sedang berusaha……
“Selalu seperti itu! kalian kan seorang polisi, kenapa hanya mencari satu orang saja kalian lambat?? Apa kalian hanya memberikan harapan palsu pada rakyat kecil seperti kami? Atau harus kah kami memberikan uang yang
besar dulu baru kalian mau berusaha mencari nya?” suami nya yang sedari tadi hanya diam, sekarang sudah berani mengeluarkan pertanyaan, sama seperti isteri nya, dia pun juga menangis. Mereka sangat kecewa dengan hasil kerja dari kepolisian yang di anggap lambat untuk menemukan anak nya.
Abraham mengerti, dia tidak merasa tersinggung atau marah, sebagai orang tua yang menyayangi anak nya, pasti akan melakukan hal yang sama. Dia juga merasa bersalah pada diri nya sendiri.
“Maafkan kami pak, bu. Tapi kami akan lebih berusaha lagi untuk mencari menemukan anak bapak. Tolong tinggalkan nomor yang bisa di hubungi, jadi kalau ada informasi yang kami dapatkan, kami akan memberitahukan
nya pada kalian.” Abraham berusaha membuat mereka bisa lebih sabar lagi.
Suami isteri itu saling menatap, seperti nya mereka bisa di bujuk untuk lebih bersabar lagi.
“Kalau begitu, kami percaya pada anda. Tolong….. temukan anak kami…. Kami….mohon…” pinta si isteri dengan melipat tangan nya di hadapan Abraham.
Abraham menggenggam tangan si ibu yang di lipat di depan nya, dan setelah meyakinkan nya, mereka pun pergi, baru beberapa langkah, si isteri berbalik melihat ke belakang lagi. Abraham membalas dengan memberikan senyuman nya.
“Ridwan, berikan pada ku informasi yang sudah di berikan ibu itu.” pinta nya pada anak buah nya.
Abraham kembali ke ruang kerja nya, Adley mengikuti dari belakang.
“Bram, belakangan ini kasus penculikan terjadi pada wanita, apakah menurut mu, kalau anak nya si ibu tadi juga di culik dengan pelaku yang sama?” tanya Adley.
“Kita tidak bisa memberi keputusan seperti itu, kita harus melakukan pemeriksaan terlebih dahulu.”
“Lalu…. Kemana kita akan mencari informasi nya lebih dulu?” tanya nya serius.
Abraham melihat nya.
Ridwan memberikan catatan tentang informasi yang di beritahukan orang tua si anak perempuan itu. setelah di baca nya dengan teliti….
“Ke rumah majikan nya, pak Agus Wido.
**********
Oksana dan Gwen sudah menyelesaikan pekerjaan nya di Adam Company, dan hasil nya bagus, Ina dan yang lain nya merasa bersyukur dan bahagia. Saat ini kedua wanita muda dan cantik itu sedang berada di dalam
ruangan Presdir, yaitu tempat Ina bekerja. Mereka tidak mengganggu pekerjaan kakak nya, yang mereka lakukan hanya duduk sambil membaca majalah dan memainkan
ponsel nya. Mereka juga memang tidak ingin mengganggu Ina yang sangat sibuk dan
serius. Zafran juga sudah menyediakan makanan dan minuman kesukaan mereka.
Sebentar mereka bisa mengobrol bersama-sama, ada Sakya juga, mereka tidak bisa
mengobrol lebih lama, karena Ina tidak mau mereka membuang waktu saat bekerja.