Season 1 : Nadia dan Nathan (Tamat)
Season 2 : Nara dan alex (Tamat)
Baca juga kelanjutannya dengan judul dan kisah baru "Pernikahan Paksa Karina"
Seperti biasanya, baca lima episode dulu ea biar enak bacanya.
Nadia Ayu Purnama adalah seorang gadis cantik berusia sembilan belas tahun yang terpaksa menikah dengan seorang rentenir.
Menjadi istri muda dari seseorang yang lebih pantas disebut paman olehnya membuatnya tersiksa. Apalagi tekanan dari Devi, istei pertama Bondan yang selalu menyiksanya bukan hanya dengan fisik, tapi juga dengan perkataan yang selalu membuat air mata Nadia meleleh.
Akankan seumur hidup dia berada dalam kubangan menjadi istri kedua yang menderita? Atau apakah dia dapat terlepas dari laki-laki yang membuatnya merasa jijik pada dirinya sendiri?
Mari kita Do'akan agar Nadia menemukan laki-laki yang dapat menyelamatkan hidupnya dan menerima Nadia dengan cintanya yang tulus. Aamiiin.
Ikuti ceritanya ya Zheyenk 😘
Jangan lupa Vote dan Rate dulu dong 😁
Terus masukin juga jadi favorit kamu 😎
Ya udah deh. Silahkan membaca 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_OK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Tentang Rasa
Maaf akoh lama liburnya....
Harap maklum adanya, ternyata memang benar jika luka di hati lebih menyakitkan
**Alhamdulillah, semua berjalan sesuai yang diharapkan. Terima kasi dukungan dan do'a kalian.
Happy reading**^_^
Dalam hidup ini. Tidak semua yang kita inginkan akan kita dapatkan. Apa yang kita harapkan pun tidak semuanya dapat terwujud.
Hidup ini kadang memang kejam. Kadang kehidupan yang kita lalui jauh dari apa yang diharapkan. Penderitaan seperti tidak ada akhirnya mendera. Dan, nasib pilu seperti selalu menghantui.
Namun, kehidupan tidak akan berhenti hanya untuk menunggu meratapi hidup. Tetapi, hidup memberikan waktu untuk menerima dan merelakan. Menjalani apa yang ada di depan tidaklah seburuk yang difikirkan sebelumnya.
Rasa cinta itu rasa yang mulia. Yang hadirnya tanpa diduga dan diminta. Namun, rasa cinta sering datang bersamaan dengan rasa benci yang tersembunyi. Semakin besar kita mencintai, semakin besar pula rasa benci yang terpupuk di hati yang suatu saat bisa meledak menghancurkan rasa cinta yang sebelumnya bersemi.
Rasa cinta yang dimiliki Nadia mungkin juga sebesar yang dimiliki Satria di masa lalu. Namun semua itu sirna dan digantikan oleh rasa benci antara keduanya. Baik Satria maupun Nadia merasa kecewa. Merasa tersakiti.
Benar, Nadia juga merasa sakit saat ini. Perasaannya sama hancurnya dengan perasaan Satria. Namun inilah yang memang harus terjadi. Cinta Nadia pun sudah hilang. Hingga ia tidak merasakan apapun pada laki-laki yang sedang merenung di dalam sana.
”Kamu baik-baik saja Nad?” tanya Joni saat melihat Nadia keluar dari kafe dengan wajah yang menunjukkan bahwa sesuatu yang buruk terjadi pada hatinya.
“Em.” Nadia hanya mengangguk. Ia terus berjalan hingga menuju mobilnya.
Joni mungkin tidak tahu apa yang terjadi di dalam. Namun, secara garis besar ia bisa menyimpulkan bahwa sesuatu yang besar terjadi diantara keduanya. Entahlah. Dia tidak bisa membantu lebih jauh.
Nadia pun segera masuk ke dalam mobil. Mendudukkan dirinya dengan tenang disana. Menata hati yang dirundung duka.
Sepanjang perjalanan, Joni sesekali melirik Nadia yang hanya terdiam disana. Namun dari wajahnya saja jelas mengisyaratkan kesedihan yang mendalam. Ada tangis yang tertahan disana.
Joni membelokkan mobil yang ia kendarai ke arah telaga. Tempat itulah yang sangat cocok untuk Nadia melepaskan bebannya sekarang. Sebagai seorang bodyguard sekaligus sahabat yang telah menghabiskan waktu bersama, Joni faham apa yang diinginkan Nadia tanpa diucapkan.
“Kenapa kita kesini Jon?” tanya Nadia saat Joni telah mematikan mesin mobilnya.
“Kamu harus melepaskan kesedihanmu dulu sebelum pulang. Kalau tidak, tidak ada yang bisa menjamin apa yang baru kamu lakukan tidak akan terbongkar.” Nadia mendesah. Joni benar. Dan itu tentu sangatlah tidak baik. Jika juragan Bondan tahu bahwa ia menemui anak laki-lakinya secara diam-diam, semua orang tidak dapat membayangkan apa yang akan laki-laki itu lakukan.
Nadia membuka pintu mobil dan keluar. Berjalan ke dekat telaga yang terlihat tenang. Joni berada agak jauh di belakangnya.
Cukup lama Nadia berdiri di pinggir telaga. Merenungkan apa yang telah terjadi padanya. Merenungkan ungkapan cinta yang tak terduga. Cinta yang seharusnya menjadi indah jika diungkapkan jauh sebelum semuanya terjadi. Cinta yang ia rasakan tidak bertepuk sebelah tangan. Tapi sekarang tidak ada gunanya. Semua terlambat. Benar-benar terlambat.
“Kenapa semua ini terjadi padaku Jon?” Ucap Nadia setelah beberapa waktu.
“Apa yang sebenarnya terjadi Nad?”
“Aku tidak tahu harus bahagia atau bersedih karena akhirnya aku tahu bahwa cintaku tidak bertepuk sebelah tangan Jon. Tapi apa gunanya sekarang? Semua sudah terlambat.”
“Apa maksudmu dia juga mencintaimu?”
“Ya. Namun sayang sekali bukan, jika baru saat ini aku mengetahuinya. Bahkan rasa cinta yang dulu sempat terasa saja sudah hilang entah kemana...” lirih Nadia.
“Kamu sudah tidak lagi mencintainya?”
Nadia bergeming. Baginya, cinta sesuatu yang mustahil. Ia bahkan ragu akan merasakan cinta setelah semua yang telah berlalu. Tidak ada cinta dihatinya. Hatinya mati rasa tentang cinta.
“Apa dia mengatakan sesuatu?”
“Hem. Dia bilang dia menyesal.” Nadia tersenyum hambar. “Kamu tahu Jon, Dua tahun aku berusaha menghilangkan dirinya dalam hatiku. Dan akhirnya aku berhasil. Aku fikir aku akan bersamanya setelah semua ini berakhir. Tapi sekarang aku sadar itu tidak mungkin.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak memiliki apa-apa lagi yang bisa dibagi dengannya. Semua berakhir semenjak dia menghancurkan kepercayaanku padanya. Bagaimana mungkin dia percaya pada gosip sialan itu daripada padaku yang sejak kecil hidup bersamanya. Itu sangat menyedihkan bukan.” Nadia mengambil batu kerikil. Melemparkannya jauh ke dalam telaga. Seperti membuang cinta yamg tak jadi bersemi.
“Ayo kita pulang Jon. Aku sudah selesai disini.” Kata Nadia.
“Selesai membuang cinta masa kecilmu?” Joni terkekeh. Nadia mengiyakan. Lagipula tidak ada yang bisa ia tutup dari Joni.
“Aku harap semua akan baik-baik saja.”
“Aku yakin kamu akan mendapatkan kebahagiaanmu segera Nad.”
Nadia hanya mengamininya di dalam hati. Ia sendiri tersenyum getir. Bahkan hanya untuk sekedar berharap ia tidak yakin akan mampu.
Setelah kepergian Nadia dari tempat itu, sesosok laki-laki dengan santai keluar dari persembunyiannya. Sejak awal kedatangan Nadia, laki-laki bernama lengkap Nathaneil Geovan Mahardika sudah berada disana. Duduk menikmati telaga dibalik semak yang lumayan tinggi sehingga baik Nadia maupun Joni tidak menyadari kedatanganya.
“Wanita yang tidak beruntung.” Gumamnya pelan. “Semakin lama, semakin terbuka tentangmu Nadia. Namun semakin banyak luka yang sudah kamu dapat yang aku ketahui hingga saat ini. Kamu sungguh wanita yang istimewa.” Katanya sebelum ia pergi dari tempat itu.
......🌹🌹🌹......
Saat sampai di rumah, Nadia sudah bisa mendapatkan ketenangannya kembali. Di depan rumah, Sinta segera menyambutnya dengan senyum hangat yang menenangkan. Namun dari ekspresi wajahnya, dapat dilihat bahwa ada kecemasan disana.
“Setelah ini temui aku di kamar.” Bisik Sinta saat sahabatnya itu masuk ke dalam kamarnya. Nadia hanya mengangguk. Ia pun juga ingin menceritakan pertemuannya dengan Satria.
Nadia berulang kali meyakinkan hatinya di depan cermin. Ia memastikan hatinya bahwa apa yang ia lakukan memang sudah benar. Memastikan jika di dalam hatinya memang tidak ada lagi nama laki-laki bernama Satria yang mengisi hatinya.
Benar. Hati itu kosong sekarang. Bahkan nama suaminya pun tidak mempunyai tempat disana. Baginya saat ini yang terpenting adalah bagaimana membawa warga desanya terbebas dari kekangan juragan Bondan yang sialnya menjadi suaminya sekarang.
Dengan kerja keras dan dedikasinya selama ini, ia harap tidak akan ada lagi gadis yang mempunyai nasib seperti yang ia alami. Dia tak akan membiarkan ada Nadia lain yang kehilangan cita dan cinta seperti dirinya. Yang harus ia pikirkan setelah ini hanyalah bagaimana cara agar semua itu dapat terwujud.
Usahanya selama ini belum bisa dikatakan berhasil. Sanggar keterampilan yang ia bangun memang sedikit banyak membantu masyarakat. Tapi ini masih jauh dari yang diharapkan. Masih belum bisa memutus ketergantungan warga desa pada suaminya yang notabene adalah lintah darat.
Di dalam kamarnya, Sinta sedang menunggu Nadia dengan tidak sabar. Ia begitu penasaran setelah ia tahu bahwa Satria, kakaknya baru saja bertemu dengan Nadia.
Sinta segera menutup pintu kamarnya rapat sesaat setelah Nadia masuk ke dalam kamar. Pembicaraan mereka tidak boleh ada yang mendengar.
“Aku telah melepaskannya Sin.”
"Maksudmu mas Satria?" dari dulu Sinta tahu jika sahabatnya memiliki perasaan khusus pada kakaknya.
"Tidak hanya tentang mas Satria. Aku melepaskan semua tentang rasa."
Sinta hanya bisa memandang sahabatnya dengan sendu. banyak hal yang terjadi padanya. Begitu banyak luka yang telah temannya itu dapatkan. Namun sayangnya ia tidak mampu berbuat banyak untuk membantunya. Kini, yang bisa ia lakukan hanyalah memberinya semangat dan dukungan. Apapun langkah yang akan diambilnya....
*
*
*
Yuk kasih Like 👍