Secara perlahan, setelah kepahitan bahkan kehancuran yang dialaminya karena J King. Juliet mulai mengerti dan memahami sisi lain kehidupan J yang membuatnya merasakan sesuatu untuk pria itu.
Diamnya seorang J King menunjukkan sisi lain J yang sebenarnya. Pria dengan masa lalu kelam yang tidak pernah terbayangkan oleh Juliet.
...
Romeo dan Juliet tidak pernah menemukan akhir yang bahagia. Kematian adalah akhir cerita cinta mereka.
Aku, J King tidak akan membiarkan Juliet kembali pada Romeo karena dia hanya milikku.
Bahkan jika nyawaku juga terancam, aku tidak peduli.
Aku tidak peduli jika Juliet menderita, selama bayangannya masih tertangkap dalam pandanganku, itu sudah cukup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyaeva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Love Of A Lifetime
Juliet Vetra Harrison
J King
💕💕💕
Ini saat yang tepat untuk mengatakan, kita akan melewati waktu bersama hari demi hari. Membuat harapan dan mengirimnya dalam doa.
Kita tahu semua impian akan menjadi nyata dan kita berbagi cinta. Kutemukan dirimu dalam hidupku, sebuah cinta untuk melewati kehidupan, selamanya di dalam hati.
'J King.'
...
Juliet merasa sangat bahagia saat ini, berada dalam dekapan tubuh tegap J membuatnya hanya mampu memejamkan mata sambil menikmati kecupan lembut di bahunya.
Pasangan tersebut berada di balkon kamar yang sekarang pintu dan jendelanya terbuka lebar seolah menunjukkan tidak ada lagi kegelapan yang melingkupi kehidupan keduanya.
Sebuah pertanda untuk membiarkan cahaya masuk ke dalam ruangan, memberi cahaya pada babak baru kehidupan dua orang yang saling mencintai.
J menikmati aroma tubuh Juliet di pagi hari yang terasa menenangkan. Ada aroma bedak yang sangat lembut. Tidak lupa perut besar yang begitu hangat.
"Kau wangi sekali, aku suka aroma tubuhmu ini," ucap J saat memeluk Juliet dari belakang.
Juliet tersenyum dan menyandarkan kepala di dada pria tampan tersebut. "Ingatlah aroma ini! Si kembar akan memiliki wangi yang sama," jawabnya.
"Ah, aku mengerti, kau menggunakan parfum bayi sekarang?" tanya J yang dijawab tawa renyah dari Juliet.
"Aku menyukainya," lanjut J.
"Kapan mereka akan lahir?" tanya pria itu kemudian.
"Sebenarnya perutku sudah sedikit sakit saat di kantor kemarin," jawab Juliet, itu benar dokter kandungan Juliet mengatakan dia akan melahirkan dalam beberapa hari dan itu terhitung sejak terakhir dia memeriksakan kandungan dua hari yang lalu.
"Apa? Kalau begitu kita harus secepatnya pergi ke rumah sakit!" J segera melepas pelukan dan membuat tubuh Juliet berbalik padanya, dia sangat terkejut dan terlihat panik.
"Tenanglah! Kata dokter jika rasa sakitnya sudah semakin sering makan mereka akan segera terlahir." Juliet berusaha menenangkan J walaupun sebenarnya dia juga gugup dan takut.
"Tidak, tidak. Aku tidak akan merasa tenang! Ayo, kita ke rumah sakit secepatnya, hm?!" bujuk J, sangat terlihat dia begitu cemas
"Aku- ... Aku akan berada di sisimu, Sayang!" J berkata dengan gugup, tentu hal itu baru baginya. J terlihat gelisah karena dia tidak tahu harus bersikap seperti apa.
Juliet sangat memahami, lagi dan lagi mungkin J teringat pada mendiang ibunya. Seketika wajah pria itu terlihat pucat
"J, aku akan berusaha hanya untukmu! Aku berjanji bayi kita akan terlahir dengan selamat dan mendapat cinta sepenuhnya dariku," kata Juliet sambil merangkum wajah suaminya itu.
Rupanya J tidak akan pernah bisa lupa tentang jati dirinya. Hal itu membuat Juliet sedikit tertekan, J tidak boleh menganggap Juliet sama seperti ibunya
"Maafkan aku, maafkan aku." J bersuara gugup.
"Aku tidak akan meragukanmu, Julie!"
"Kau harus bisa melewati ini, Aku akan memberikan semua untukmu," jawab Juliet.
"Ayo, kita pergi ke rumah sakit sekarang?!" ajak Juliet untuk meyakinkan suaminya itu. J hanya mengangguk kemudian dengan gegas menyiapkan semua keperluan yang akan dibutuhkan Juliet saat melalui proses persalinan.
...
J dan Juliet sudah bersiap untuk pergi ke rumah sakit, semua pelayan termasuk Corina ikut merasa cemas untuk majikan mereka.
Tidak pernah terbayangkan bahwa kehidupan sang tuan muda akan berubah. Jangankan tangisan seorang bayi, mereka bahkan tidak pernah membayangkan J akan memiliki keluarga.
Semua tidak lain berkat Juliet yang sudah mengubah hidupnya. Pasangan itu terlihat begitu serasi, terlebih karena mereka memang saling mencintai.
Saat hampir sampai di lantai bawah, mereka dikejutkan oleh kehadiran anggota keluarga lain. Diaval, Antonio, bahkan seorang pria tua dengan aura yang kelam.
Juliet merasakan sedikit ketakutan saat berhadapan langsung dengan legenda bangsawan yang ia kira sudah tidak ada sejak lama.
Archibald King dengan karismatik tingkat tinggi, tatapan tajamnya mampu membuat nyali sang lawan bicara menjadi ciut. Pantas saja jika ia menjadi sosok paling disegani.
Namun, hal itu tidak berlaku untuk keturunan aslinya yang tidak lain adalah J. Pria muda itu sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh kehadiran pria tua Archibald.
"Sedang apa kalian di rumahku?" geram J pada pria para tiga generasi tersebut.
"J, kau akan pergi?" tanya Diaval, dia membuka suara.
J terdiam tanpa berniat menjawab pun menanggapi kehadiran keluarganya sendiri. Dia lebih mencemaskan keadaan Juliet sekarang.
Sebelum keluar kamar, Juliet sudah mengeluh perut dan punggungnya sakit, sehingga J tidak bisa menunggu lagi untuk segera membawa calon ibu tersebut.
"Bukan urusanmu!" jawab J dingin, ia segera memapah Juliet yang sudah terlihat pucat.
"Tunggu, J! Kami ada sedikit urusan denganmu!" sergah Diaval pada sang kakak.
"Aku tidak punya waktu untuk omong kosong, Diaval!" J kembali bersikap arogan, baginya mereka hanya menghalangi saat ia akan pergi.
"Kau sangat tidak tahu diri, di sini ada kakek dan kau tidak menghormatinya sama sekali," ucap Diaval yang tentu saja memancing amarah seorang J King.
J tidak berniat untuk beramah tamah pada siapapun saat ini, karena keselamatan Juliet dan bayinya adalah hal yang utama.
"Ada hal penting yang ingin kuselesaikan sekarang juga. Aku akan menemui kalian nanti!" Sementara J sedang berdebat, Juliet merasakan perutnya semakin sakit padahal beberapa menit lalu rasa sakitnya tidak seberapa.
Empat pria beda usia saling berhadapan. J yang paling tersudutkan oleh tiga pria lainnya yang entah apa tujuan mereka datang di saat yang tidak tepat.
J segera pergi, kali ini dia memutuskan untuk menggendong Juliet karena tidak tega melihat istrinya itu kesakitan.
"Julie, tenanglah! Semua akan baik-baik saja!" ucap J tanpa melepas pelukan, dia meminta seorang supir untuk mengantar karena saat ini dia hanya ingin menjaga Juliet.
...
Setelah sampai di rumah sakit Juliet merasa tenang, karena setidaknya ada banyak tenaga medis di sana yang akan membantu proses persalinannya.
Namun, dia juga merasa cemas karena setelah ditempatkan di kamar khusus, J pamit sebentar untuk kembali menemui para pria arogan yang masih menunggu di rumah.
J menitipkan sang istri pada keluarganya yang kebetulan datang dengan cepat setelah ia menghubungi mereka.
Juliet yang ditemani sang ibu tidak bisa merasa tenang karena terus teringat pada J yang belum kembali, tetapi setelah lebih dari dua jam akhirnya J kembali ke rumah sakit.
"J!!" Juliet sangat senang saat J kembali. Dia menghambur ke pelukan pria itu.
Emma yang melihat itu hanya tersenyum kemudian pamit untuk memberi waktu pada pasangan tersebut.
J menuntun tubuh Juliet untuk duduk di tepi ranjang. "Kemarilah, Sayang!" ucapnya.
J duduk di tepi ranjang menarik tubuh Juliet untuk duduk di pangkuannya tidak lupa terus memberi usapan di perut wanita itu.
"Bagaimana rasanya? Apa begitu sakit?" tanya J sambil mengusap rambut Juliet di bagian belakang.
Hidung Juliet memerah dengan wajah yang sedikit pucat. "Kontraksinya sudah semakin cepat," jawabnya sambil terus memegang perut.
"Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu merasa lebih baik?" tanya J sambil memagut bibir Juliet dengan lembut.
Juliet membalas ciuman J yang justru memberi efek tersendiri pada tubuhnya. "Ciumanmu membuatku merasa lebih baik, J!" jawabnya sambil menikmati ungkapan cinta suaminya itu.
"Kalau begitu aku akan terus melakukannya untukmu," ucap J yang dijawab anggukan oleh Juliet di sela-sela pagutan mesra mereka berdua.
"Apa yang mereka inginkan darimu?" Juliet yang masih berada di pangkuan J mulai bertanya setelah pria itu menemui keluarganya tadi.
"Diaval menantangku untuk balapan," jawab J tentu Juliet yang mendengar itu sangat terkejut.
"Apa? Itu tidak bisa terjadi," protes Juliet, tentu dia tidak mau jika J pergi lagi sementara dirinya membutuhkan pria itu.
"Diaval menginginkannya malam ini," jawab J dengan tatapan sedih. Juliet merasa benci sekali pada keluarga suaminya itu. Apakah mereka sama sekali tidak punya hati?
Saat ini adalah saat yang penting dalam kehidupan J. Kenapa mereka masih saja mengusik kehidupan J yang tidak pernah menemukan kedamaian.
Juliet tahu sampai kapanpun mereka tidak akan membiarkan J hidup tenang dengan alasan karena dia yang menyebabkan Meredith alias ibu kejamnya itu meninggal.
"Aku ingin mengakhiri kegelapan dalam hidupku, Julie! Kematian Mama terus terbayang dan mereka selalu mengungkit hal itu." J menyandarkan kepala di bahu Juliet sebagai tanda ia sangat membutuhkan seseorang untuk memahaminya.
"J, itu bukan kesalahanmu, percayalah!" Juliet berusaha meyakinkan J bahwa yang ia pikirkan selama ini tidaklah benar, semua karena jalan takdir Tuhan, terutama takdir kematian.
Dengan cara apa manusia akan mati hanya Tuhan yang tahu. Seperti takdir Meredith yang mati dengan cara bunuh diri, wanita itu sudah mencapai batas usia karena jika Tuhan menginginkan maka dia bisa saja selamat seperti J.
"Aku ingin lepas dari mimpi buruk ini," ucap J kembali.
"Lalu, kau akan pergi?" tanya Juliet dengan kecewa.
"Aku bisa menemanimu ke sana, J" ujar Juliet yang tentu saja tidak disetujui suaminya itu.
J menggelengkan kepala. "Tidak, Roman, Fablo, dan Toddy akan membantuku. Aku ingin kau tetap di sini bersama keluargamu!"
Juliet terpaksa memenuhi permintaan J untuk pergi, walaupun hatinya begitu gelisah dan merasakan firasat buruk.
Setidaknya waktu kelahiran masih beberapa jam lagi. Ia hanya berharap J segera kembali dan menemaninya saat melahirkan nanti.
Dia sangat memaklumi, jika hal itu bisa membuat keluarga King berhenti mengganggu J, maka ia hanya perlu percaya dan berdoa supaya J berhasil melakukannya.
"Kami bertiga akan berdoa untukmu, Sayang!" Juliet mengecup kemudian memeluk J yang masih setia menopang tubuhnya.
"Ingatlah satu hal, semua cintaku hanya untukmu. Jadi kembalilah dengan selamat!" Pelukan keduanya semakin mengerat.
J memiliki penyemangat hidup sekarang, dan ia akan berusaha demi orang yang sangat percaya dan mencintainya.
...
Sementara J sedang pergi, Juliet ditemani keluarganya. Wanita itu tetap merasa cemas walaupun dokter mengatakan ia harus tenang dan tidak banyak pikiran.
Namun, seberapa besar pun ia berusaha tenang, tetap saja ia tidak bisa, terlebih setelah Corina mendatanginya dan memberi tahukan kabar buruk.
Seperti dugaannya Diaval merencanakan hal yang mengerikan untuk kakaknya sendiri.
"Aku harus pergi ke sana!" Juliet memutuskan untuk pergi menyusul J.
Corina memang mendengar adik dan ayah tiri J merencanakan untuk membuat J celaka, dia hanya kebetulan mendengar dan segera pergi ke rumah sakit.
Juliet tidak menghiraukan semua orang yang menghalanginya. Dia tetap pergi bahkan dengan mengenakan pakaian rumah sakit.
...
J kembali memacu kuda besinya dengan kecepatan penuh. Dia begitu percaya diri saat melesat jauh meninggalkan adiknya.
Diaval memang kalah telak karena tidak pernah bergelut di dunia balapan seperti J. Sang kakak adalah seorang pembalap liar, seperti yang semua orang ketahui selama ini. Sudah jelas kemampuan mereka berbeda jauh.
Namun, Diaval tidak terlihat gentar, bibirnya justru melukiskan senyum kecut dan getir. "Kau akan segera menyusul Mama, J!" ucapnya.
Diaval menitikkan air mata, selama ini dia merasa hidupnya hampa karena kurang kasih sayang dari sang ibu sejak kecil. Wanita itu menderita sakit jiwa karena J.
Diaval tidak akan pernah lupa saat setiap malamnya ia mendengar raungan meredith yang memaki J, sedangkan J sendiri hanya tidur di kamar mewahnya.
Diaval ingat Meredith tidak memberi perhatian penuh padanya, karena rasa benci Meredith pada J malah membuat wanita itu hanya fokus pada putra pertamanya.
Rasa benci Diaval semakin tumbuh karena setiap kali ia hanya melihat Meredith berinteraksi dengan J, walaupun yang ia lihat hanya kekejaman sang ibu pada kakaknya itu.
Seandainya J mati sejak kecil, atau pergi jauh dari kehidupannya bersama Meredith, mungkin sampai sekarang ibunya belum mati dan dia tidak akan merasa kesepian.
Atau seandainya akan lebih baik jika J tidak pernah ada, maka semua penderitaannya tidak akan pernah terjadi. Semua ia lihat dari sudut pandangnya selama ini.
J penyebab keluarga King hidup dalam kegelapan termasuk dirinya sendiri. Diaval ingin sekali mengutuk kakaknya itu.
Diaval tidak tahan, ayahnya yang seharusnya menjadi panutan juga malah sibuk dengan dunianya sendiri dan juga punya kehidupan yang menyimpang.
Benar, semua tidak lain karena J. Kakaknya yang sudah membuat keluarga King porak poranda. Kakek yang memalsukan kematian dan sering sakit-sakitan, Diaval melihat kehancuran keluarganya karena seorang seperti J--itulah yang ia pikirkan selama ini.
"Seharusnya kau memang tidak pernah ada di dunia ini!"
...
Juliet berjalan tergesa pada pintu masuk sirkuit balapan, kakinya yang hanya beralas sandal rumah sakit melangkah tanpa rasa ia menginjak bumi atau tidak.
Dia melihat ketiga teman J yang sedang menyaksikan dua mobil melesat saling menyusul.
"Tidak! J!!!"
Teriakkan Juliet mengejutkan ketiga pria muda yang menatap serius dua mobil tersebut.
Memang tidak ada penonton di sirkuit tersebut karena arena balapan hanya dibuka saat akhir pekan.
"Nona Juliet!!" Roman menahan tubuh Juliet yang hendak berlari ke arena balapan. Juliet meronta karena harus menghentikan J.
"Dia harus berhenti, ini hanya jebakan!!" Juliet meronta dan meraung sambil berusaha lepas dari rangkulan Roman Vonseca.
"Julie! Ada apa?" Toddy segera menghampiri dan bertanya karena Juliet begitu histeris.
"J akan terluka, tolong hentikan dia!" Air mata Juliet berderai membuat tiga orang pria itu menjadi panik.
J yang sedang memacu kendaraan pun dikejutkan oleh kehadiran Juliet yang berada di pinggir lintasan. Wanita itu terlihat mengulurkan tangan dan seperti memintanya untuk segera berhenti.
J bermaksud untuk berhenti karena merasa cemas melihat Juliet yang datang ke tempat tersebut. Ada apa?
Entah apa yang terjadi karena pedal rem yang ia injak seperti tidak bekerja. J menekan lebih keras tetapi semua hanya sia-sia.
J berusaha tenang saat kemudi mobilnya juga tidak stabil sampai ia benar-benar kesulitan mengendalikan mobilnya sendiri.
Diaval yang sudah tertinggal justru berhenti dan menyaksikan mobil sang kakak kehilangan kendali.
"J!!!" Juliet semakin berteriak ketika melihat kejadian itu. Ketiga pria muda teman J pun tidak percaya pada apa yang mereka lihat.
Mobil J berputar dan menabrak pinggiran lintasan sampai akhirnya mobil mewah itu berguling beberapa kali kemudian terpental cukup keras menimpa satu mobil lainnya.
Sesuatu yang tidak terduga pun terjadi, Diaval merasa terkejut saat tiba-tiba mobil J mendekat, dia tidak menyangka jika mobil sang kakak akan terpental begitu jauh setelah berguling.
Diaval yang masih berada di dalam mobil miliknya tidak sempat menghindar dan mobil J menghantam dengan cepat ke arahnya. Dan semua menjadi gelap.
...
"J!!!" Juliet dan ketiga temannya berteriak bersamaan saat kedua mobil tersebut sama-sama hancur.
Juliet yang terlepas dari rangkulan Roman hanya menatap tidak percaya. Langkah Juliet gontai dengan tatapan lurus ke arah pemandangan mengerikan tersebut.
"Julie!!" Toddy berteriak dan tidak bisa menghentikan Juliet karena wanita itu segera berlari menghampiri mobil yang sudah berasap.
"J!!" Juliet yang tidak kuasa menahan tangis hanya bisa meraung sambil berlari berharap ia masih punya harapan.
Juliet melihat tangan J yang terulur di jendela mobil hitam dengan dipenuhi darah. Dia segera mendekat dan setitik harapan masih ia rasakan.
J seperti berusaha untuk keluar dari mobil yang sudah terbalik. Dia bisa melihat dengan samar bahkan dengan suara yang tidak jelas. Seseorang berlari ke arahnya, rambut panjang terkena angin dan dia seperti penolong untuknya.
Dia ingat sebelumnya melihat Juliet dan dia yakin bahwa yang sedang berlari ke arahnya adalah wanita itu.
Semangat J untuk hidup bahagia bersama Juliet dan kedua anaknya semakin berkobar. Dengan rasa sakit yang begitu hebat dia berusaha menggapai impiannya itu walaupun dengan kaki yang terjepit bagian depan mobil.
"Julie!" Suara J terdengar lirih bahkan hampir tidak terdengar oleh dirinya sendiri. Seluruh tubuhnya mati rasa, tapi otaknya masih memerintah supaya ia menggerakan tubuh.
"J! Oh, Ya Tuhan!" Juliet tidak kuasa melihat pria yang ia cintai terlihat menderita.
"Roman, Fablo, Toddy tolong aku, tolong bantu J!!" Juliet berteriak putus asa pada ketiga teman suaminya itu.
Ketiga pria yang juga menyusul Juliet tadi segera bergerak untuk menolong sahabat mereka yang terjebak dalam mobil.
Berkat kerja sama ketiga pria itu dan semangat J untuk tetap hidup, ia bisa keluar walaupun dengan banyak luka di tubuhnya.
Tentu Juliet segera menghambur pada pria yang berusaha berdiri tegak walaupun begitu sulit, berkali-kali J terjatuh dan pada akhirnya pelukan Juliet mampu menyelamatkannya.
Tangisan Juliet semakin menjadi saat berada dalam rangkulan J. Dia tidak mau terjadi hal buruk yang menimpa J. Rasanya sakit luar biasa saat ia melihat J yang menderita.
...
J banyak kehilangan darah dan segera dilarikan ke rumah sakit, entah bagaimana nasib Diaval yang jelas ambulans juga datang untuk melihat keadaannya.
Juliet merasa putus asa karena keadaan J sangat kritis, dia banyak kehilangan darah serta tulang kaki yang patah.
Harapannya untuk ditemani saat melahirkan menjadi pudar dan ia marasakan ketakutan luar biasa.
Dia takut kehilangan, mereka punya harapan yang indah untuk masa depan. Tentu saja manusia hanya bisa berencana karena Tuhanlah penentu segalanya.
"Julie, kau harus segera ke ruang bersalin!" Emma berucap pada sang putri yang masih setia berada di depan ruang rawat J.
"Aku tidak bisa, Mama!" jawab Juliet tanpa mengalihkan perhatian dari kaca besar yang menjadi pembatas ruangan J dan tempat ia berada.
"Jika dia sadar dia pasti akan menemanimu, tapi sekarang hanya kau yang bisa menyelamatkannya. Kau bisa hadirkan sebuah kehidupan baru untuknya," ucap Emma berusaha mengingatkan putrinya sambil menyentuh perut Juliet yang sudah semakin sakit.
"Jangan lupa! Ada dua nyawa yang juga ingin memberi kehidupan baru pada J. Kau juga harus pikirkan mereka!" Juliet hanya bisa menangis sambil mengusap perut mereka.
Dia merasa sedih dan bahagia di saat yang bersamaan. Akhirnya Juliet mengikuti ucapan ibunya dan meninggalkan J seorang diri.
Namun, mata pria itu terlihat gelisah walaupun dalam keadaan yang terpejam. Jemari tangannya juga bergerak, dia mungkin tidak sadar, tetapi alam bawah sadarnya masih bisa mendengar dengan jelas percakapan dua wanita tersebut.
...
Juliet sudah berada di ruang bersalin dengan beberapa orang dokter yang menanganinya. Dia tidak bisa berhenti memikirkan keadaan J bahkan si kembar yang akan segera terlahir.
Dia harus berjuang seorang diri kali ini. Dia mengikuti beberapa instruksi saat melahirkan, semua teknik dan usaha bahkan tenaga ia keluarkan demi kehidupan barunya nanti.
Juliet mengerang saat berusaha mendorong bayi pertamanya. "Ayo berusahalah, Nyonya!" ucap seorang dokter yang menangani Juliet.
Brak...
Semua orang termasuk Juliet sendiri terkejut saat tiba-tiba pintu terbuka, menampilkan sosok pria yang terlihat lemah berdiri di ambang pintu.
"J!!" Suara Juliet langsung mengucapkan sebuah nama yang membuat ia menangis.
J berjalan dengan tertatih menghampiri wanitanya.
"Oh, Ya Tuhan! Cepat panggil dokter-...." Teriakkan dokter yang panik segera berhenti saat J memberi isyarat.
"Aku ingin menemaninya!" Suara J terdengar bergetar. Pria itu segera menghampiri sang istri.
"J, kau sudah sadar?" Juliet menerima pelukan sang suami yang terlihat lemah.
"Aku sudah berjanji dan aku harus menepatinya." Juliet tidak mampu berkata apapun, dia hanya bisa menggenggam tangan J dengan erat.
Para tenaga dokter wanita hanya menatap haru pada kejadian tersebut dan mereka juga ikut menangis saat menyaksikan kejadian langka tersebut.
Kekuatan cinta pasangan suami istri tersebut menguatkan satu sama lain. Percayalah hal itu benar adanya, J dan Juliet adalah contohnya. Saling memberi kehidupan dan juga saling melengkapi.
...
Dua bulan kemudian ...
Seorang pria muda menggeliat dalam tidur saat dia merasakan sentuhan di pipi. Sebuah tangan mungil terus membuatnya merasa ingin terus tertidur ditemani dua bayi kecil dalam pelukannya.
"Mm, Papa masih ngantuk, Ashley!" Suara parau khas orang mengantuk terdengar dari mulut pria tersebut. Kemudian dari arah belakangnya ia merasakan pelukan lain bahkan sebuah kecupan di pipinya.
"Bagaimana bisa kau tahu itu Ashley? Matamu terpejam, 'kan?" tanya sang istri yang tampaknya sudah membersihkan diri.
"Mm, tentu karena Ashley punya wangi yang sama denganmu, Sayang!" Pria muda itu membuka mata, dan benar saja bayi perempuan dalam pelukannya tampak memberi senyum malaikat.
J dan Juliet tersenyum. Sementara satu bayi laki-laki masih terlelap dengan wajah seperti pangeran.
"Putri Papa sangat perhatian, tapi lihatlah jagoan Papa masih terlelap dan terlihat malas!" Pasangan suami istri itu tertawa pelan karena takut jagoan kecil mereka akan terganggu.
J berbalik pada Juliet yang duduk di tepi ranjang kemudian terbangun dibantu oleh Juliet. "Maaf selalu merepotkanmu, Sayang!" ucapnya kemudian.
Juliet hanya menatap dan memberi sebuah gelengan kepala. Setelah dua bulan kesehatan J memang belum pulih sepenuhnya, terlebih karena tulang kakinya yang membutuhkan waktu lama untuk sembuh.
Juliet tidak akan lupa saat J jatuh tersungkur dan kembali tidak sadarkan diri setelah bayi kembar pasangan mereka terlahir ke dunia. Saat itu J hanya berusaha menepati janji meskipun dalam keadaan sekarat.
"Kau akan sembuh J. Demi mereka!" Suara lembut Juliet selalu membuat J merasakan kedamaian. Juliet begitu tulus dan ia tidak pernah membayangkan kehidupan yang baik akan menghampirinya.
"Aku berjanji-...." Ucapan J terhenti karena jari telunjuk Juliet berada di bibirnya.
"Kau tidak harus selalu berjanji, kami akan selalu percaya padamu. Kau adalah jantung bagi kami," ucap Juliet sambil menatap bayi kembar yang kembali tertidur.
"Casey, Ashley, dan juga diriku akan selalu menjadi cahaya bagi kehidupanmu!"
"Terima kasih, Julie!" Mereka berpelukan dengan cuaca pagi yang hangat, sehangat kisah cinta mereka yang pada awalnya begitu dingin dan gelap.
...
Dua orang pria berdiri di depan sebuah kamar ruangan khusus pasien VIP. Mereka hanya menatap kosong pada seseorang yang terbaring koma di atas ranjang.
"Diaval yang malang," ucap Antonio, dia merasakan sakit saat putranya harus menderita. Satu pria lainnya hanya bergeming dan terdiam.
"Keluarga King sudah terkena kutukan, sejak dia lahir dan sampai kapanpun aku tidak akan menerimanya," jawab pria tua tersebut.
Antonio terdiam, ucapan Archibald seperti sebuah mantra sihir yang diliputi kegelapan. Tidak ada yang bisa meluluhkan kerasnya hati seorang penguasa marga King.
Bahkan ketika cucu kesayangannya pun tengah sekarat.
...
Casey Harrison berada dalam pangkuan Molly, sementara Ashley Harrison berada di pangkuan Toddy. Kedua bayi tersebut tidak mewarisi nama sang ayah karena itu adalah keinginan J sendiri.
J menghapus nama King dari kehidupannya. Ia tidak ingin jika kutukan buruk keluarga itu meliputi kedua buah hatinya.
Sekarang ia sudah bahagia dengan kehidupan barunya, memiliki teman serta keluarga adalah anugrah yang tidak ternilai bagi seorang J.
Tidak semua masa lalu bisa dilupakan tetapi masa depan masih ada banyak harapan menanti jika seseorang bisa mengubah nasib dan melihat bahwa karunia Tuhan tidak terbatas.
"Apa kalian tidak punya rencana untuk memberikan adik baru pada si kembar?!" ujar Molly yang sukses membuat wajah Juliet merona.
Apa yang Molly pikirkan? Si kembar baru berusia tiga bulan, mereka baru terlahir dan belum sepenuhnya mendapat kasih sayang dari orang tua.
Saat ini J dan semua temannya sedang berkumpul di kediaman miliknya. Anggap saja itu adalah perayaan atas hidup baru mereka semua.
"Hari ini semua orang bahagia, tapi sebentar lagi Cherry akan kembali dari New Zeland dan kau harus bersiap, Julie!!" Kali ini Toddy mengeluarkan suara dan itu sukses membuat J menatap tajam dirinya.
"Masalah dan gangguan pasti ada selama kita hidup. Aku yakin cinta J dan Juliet bisa mengatasi itu semua," timpal Roman si pria dengan pembawaan yang tenang.
"Jangankan Cherry, jika Daisy juga datang aku tidak akan gentar menghadapi mereka," jawab Juliet sambil menatap J seolah memberi peringatan bahwa J tidak boleh macam-macam.
Semua kisah memang tidak perlu selesai antara tokoh satu dan lainnya. Semua orang punya kehidupan masing-masing. Satu hal yang perlu dijaga adalah kepercayaan untuk saling menjaga dan menghargai.
Tidak semua cerita yang berakhir dengan bahagia akan benar-benar sempurna. Tidak mudah mengubah sifat manusia dan keegoisan mereka.
"Kami akan pergi bulan madu. Si kembar akan kami bawa sekalian untuk berlibur," ungkap J sambil mengecup tangan Juliet serta tatapan pada kedua buah hatinya.
"Kalian semua akan kuundang karena kami akan melangsungkan pernikahan resmi," lanjut J.
Semua orang begitu senang mendapat kabar tersebut. J dan Juliet memang sudah tidak bisa terpisahkan, cinta Juliet sudah menyelamatkan hidup J begitupun sebaliknya.
Cinta J mengubah sudut pandang Juliet bahwa tidak boleh menilai seseorang dari penampilan. Dia belajar dari kisah hidup J yang gelap.
Segala hal akan terlewati dan itu sudah menjadi bagian dari hidup.
The End
Yoshh ...
Finally 😭😭😭 kisah ini berakhir juga, maaf jika endingnya kurang masuk dalam feel dan kurang memuaskan kalian para reader ...
Satu keterangan yang harus kalian tahu, cerita ini mungkin sedikit gantung karena alur yang cepat dan kurang detail ...
Aku memang membuatnya seperti itu karena selama hidup masalah akan selalu ada ... Pengalaman akan menjadi sebuah contoh yang akan menuntun pada keadaan yang lebih baik.
Seperti karakter Archibald King tidak kuubah menjadi baik karena dalam kenyataan pun sangat sulit untuk mengubah sifat bawaan seseorang karena itu sudah menjadi jati dirinya.
Lalu Cherry dan Daisy dikatakan akan kembali lagi karena percayalah wanita p*l*k*r tidak akan berhenti begitu saja.
Cherry yang ambisius dan bucin parah tidak mungkin menyerah. Sementara Daisy yang punya basic sakit jiwa bisa jadi seorang psikopat juga.
Jadi intinya, hal itu kembali lagi pada kekuatan keyakinan pada cinta J dan Juliet. Dengan bekal semua hal yang sudah dilewati mereka bisa menjadi kuat walau apapun yang terjadi.
Ok, Gaess!!
Gimana cukup jelas kan, maaf sekali lagi hanya itu yang bisa aku berikan untuk kalian semua.
Terima kasih karena sudah setia dari awal sampai akhir cerita ini ...
Sedih harus pisah 😭
Good bye for this story & i love you all ... ❤️❤️
❤️
Sampai jumpa dan jangan lupa baca juga cerita ku yang lain ya ... tinggal cek diberanda akun ku, ya?!!
terimakasih atas karya yg luar biasa ini, saya merasa terhibur, ending yg cukup membuat saya tercengang, tapi saya memahami itu, di dunia ini yg namanya masalah tidak akan pernah berhenti datang kecuali tokoh itu mati, dan sifat manusia sulit di rubah, dan dendam tidak akan bisa dilupakan begitu saja, cerita ini hidup, biarkan berkembang bebas dengan sendirinya,
terimakasih karyamu disukai banyak orang