SANG NAGA PURBA (Garis Darah yang Terbuang)
Di Benua Canglan, garis darah adalah segalanya. Terlahir dari pasangan prajurit kuat Klan Chi, bayi Chi Tian justru dibuang ke kasta terendah karena Altar Naga tidak memberikan respon sedikit pun. Dianggap sampah tak berguna, ia ditinggalkan untuk mati.
Belasan tahun berlalu, Chi Tian kembali menyamar di balik jubah hitam dan zirah perak, siap membalas dendam di Arena Penyisihan.
Namun, empat klan agung tak pernah menyadari kebenaran mengerikan ini: Altar Naga hari itu bukannya mati, melainkan darah Chi Tian terlalu tinggi dan agung untuk dijangkau oleh altar biasa.
Mereka pikir telah membuang sebuah sampah, tanpa tahu telah melepaskan seekor Naga Purba yang siap meruntuhkan seluruh takhta kesombongan benua!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UJIAN TANPA AKHIR
Entah sudah berapa lama Tian Xue dan Lu Shi terus melangkah.
Waktu seolah kehilangan maknanya di tempat itu. Matahari tidak pernah bergeser, langit tetap membentang biru tanpa perubahan, sementara Istana Leluhur di kejauhan masih tampak begitu megah – seolah tidak pernah benar-benar mendekat.
Tubuh keduanya dipenuhi luka. Pakaian mereka robek di berbagai bagian akibat hujan batu es dan terpaan badai sebelumnya. Darah yang telah mengering menempel di kulit, meninggalkan bekas kemerahan yang jadi saksi kerasnya ujian yang baru saja mereka lalui.
Namun...
Tidak satu pun dari mereka menghentikan langkah.
Tian Xue mengangkat kepalanya perlahan. Napasnya masih berat, tapi tatapannya tetap setenang biasanya. Ia melirik ke arah gadis di sampingnya.
"Lu Shi..."
Suara Tian Xue terdengar pelan, namun jelas di tengah keheningan yang menyelimuti tangga raksasa itu.
"Apakah kau masih sanggup?"
Lu Shi yang sedang mengusap peluh di dahinya langsung mendengus pelan. Ia menoleh dengan wajah kesal, lalu menyilangkan kedua tangan di depan dada.
"Cih... kau pikir aku gadis lemah?"
Senyum tipis muncul di sudut bibir Tian Xue. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia kembali mengalihkan pandangannya ke depan.
Mereka melangkah bersamaan. Langkah itu akhirnya membawa mereka menuju anak tangga ke-501.
Begitu kaki Tian Xue menyentuh permukaannya...
BOOOOOOM!
Seluruh ruang bergetar hebat. Tekanan yang jauh lebih mengerikan dibanding sebelumnya menghantam tubuh mereka dari segala arah. Lu Shi spontan menahan napas.
"Ugh...!"
Kakinya hampir tertekuk. Bahkan Tian Xue yang selama ini mampu menjaga keseimbangan terpaksa mundur setengah langkah untuk menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.
Namun yang membuat mereka benar-benar terkejut bukanlah tekanan itu. Melainkan pemandangan di depan mata.
Anak tangga berikutnya...
Telah berubah. Bukan lagi sebuah pijakan.
Di hadapan mereka berdiri dinding batu putih yang menjulang tinggi hingga menghilang di balik awan. Jarak menuju anak tangga ke-502 kini mencapai puluhan meter.
Lu Shi membelalakkan mata.
"Apa-apaan ini?"
Ia mendekati tepi anak tangga, lalu mendongak ke atas.
"Dari mana kita harus melangkah? Itu bukan anak tangga lagi!"
Tian Xue menyipitkan mata. Ia mengamati setiap sisi dinding batu itu dengan saksama. Tidak ada retakan. Tidak ada jalur. Tidak ada pegangan. Semuanya tampak mustahil untuk dipanjat.
"Entahlah..." Tian Xue mengembuskan napas pelan. "Aku juga tidak menemukan jawabannya."
Keheningan kembali menyelimuti mereka. Namun...
Keheningan itu hanya berlangsung sesaat.
GROOOAAARRR!!
Raungan mengerikan mengguncang udara. Tanah di bawah kaki mereka mulai bergetar. Lu Shi segera memutar tubuhnya. Tatapannya langsung membeku.
Di belakang mereka...
Puluhan pasang mata merah mulai bermunculan dari kabut. Lalu puluhan lagi. Kemudian ratusan.
Satu demi satu Beast Peringkat Tiga keluar dari balik kabut putih. Serigala bertanduk. Harimau bersisik. Beruang bercakar baja. Ular raksasa. Jumlah mereka terus bertambah tanpa henti.
Lu Shi menelan ludah.
"Ini... terlalu banyak."
Tian Xue perlahan menarik pedangnya. Sorot matanya berubah dingin.
"Sepertinya..." ia mengarahkan ujung pedangnya ke depan. "...ujian berikutnya telah dimulai."
Belum sempat kata-katanya selesai...
ROOOAAARRR!!
Ratusan Beast menyerbu secara bersamaan. Getaran langkah mereka membuat seluruh tangga berguncang.
"Tian Xue!"
"Aku tahu."
Keduanya bergerak hampir bersamaan.
Sret!
Tubuh Tian Xue melesat lurus ke depan. Pedangnya menebas seekor Harimau Bersisik.
Sraak!
Darah muncrat memenuhi udara.
Sebelum bangkai Beast itu menyentuh tanah, dua Serigala Bertanduk telah menerkam dari sisi kanan. Tian Xue memutar tubuhnya.
Trang!
Cakar tajam berbenturan dengan pedangnya, memercikkan bunga api.
Di sisi lain...
Lu Shi menerjang tanpa rasa takut.
"Haaa!"
Tinju kanannya menghantam wajah seekor Beruang Bercakar Baja.
BOOOM!
Tubuh Beast itu terlempar hingga menghantam kawanan di belakangnya.
Namun...
Belum sempat mereka menarik napas. Beast lain kembali bermunculan. Gelombang pertama. Gelombang kedua. Gelombang ketiga. Seolah tidak akan pernah berakhir.
Setiap kali satu Beast tumbang...
Dua Beast baru muncul menggantikannya.
Keringat mulai membasahi wajah Tian Xue. Untuk pertama kalinya sejak memasuki Istana Leluhur, bahkan dirinya mulai merasakan tekanan psikologis.
Musuh di hadapan mereka...
Tidak pernah habis.
Namun, di tengah pertarungan itu, Tian Xue sempat melirik ke arah bangkai Beast yang berserakan di sekitar anak tangga. Satu... dua... puluhan... Jumlahnya terus bertambah.
Ia belum menyadarinya. Tetapi tanpa sengaja, bangkai-bangkai Beast itu mulai bertumpuk, perlahan membentuk jalur yang semakin tinggi menuju dinding batu di hadapan mereka.
Pertarungan itu terus berlanjut. Raungan Beast bersahut-sahutan, bercampur dentingan senjata dan suara benturan yang mengguncang seluruh tangga batu. Kabut putih yang sebelumnya tenang kini berubah menjadi lautan darah dan debu.
Tian Xue mengayunkan pedangnya tanpa henti.
Sraaak!
Seekor Harimau Bersisik terbelah menjadi dua.
Belum sempat tubuh Beast itu jatuh ke tanah, seekor Ular Raksasa sudah menyemburkan taringnya dari samping. Tian Xue memiringkan tubuhnya. Taring tajam itu hanya berjarak beberapa jari dari lehernya.
Dalam satu putaran, pedangnya kembali bergerak.
Crass!
Kepala ular itu terlepas dari tubuhnya.
Di sisi lain, Lu Shi bertarung dengan cara yang jauh lebih brutal. Ia menerjang langsung ke tengah kawanan Beast.
"Datanglah!"
Tinju kanannya menghantam rahang seekor Beruang Bercakar Baja.
BOOOM!
Tubuh Beast itu terpental dan menabrak tiga Beast lain di belakangnya.
Namun...
Jumlah musuh sama sekali tidak berkurang. Kabut di kejauhan kembali bergolak. Puluhan Beast baru keluar tanpa henti.
Lu Shi mulai terengah-engah.
"Kapan mereka akan habis?!"
Suara gadis itu terdengar di sela-sela napasnya yang berat.
Tian Xue menebas seekor Serigala Bertanduk yang hendak menerkamnya sebelum menjawab singkat.
"Entahlah." Ia kembali menghindari cakar seekor Beast. "Fokus bertahan."
Pertarungan kembali meledak. Darah memenuhi anak tangga. Bangkai Beast terus bertambah.
Tanpa mereka sadari, tubuh-tubuh Beast yang berserakan mulai saling bertumpuk. Seekor Beast mati. Disusul Beast berikutnya. Lalu puluhan lainnya. Sedikit demi sedikit, tumpukan bangkai itu menjadi semakin tinggi.
Namun tidak ada satu pun dari mereka yang memperhatikannya. Yang ada di benak Tian Xue hanyalah bertahan hidup. Sedangkan Lu Shi mulai mengumpat setiap kali kawanan baru bermunculan.
"Dasar monster menyebalkan!"
Ia memutar tubuhnya. Kakinya menghantam dada seekor Serigala hingga Beast itu terlempar ke belakang.
Belum sempat ia menarik napas, seekor Harimau Bersisik melompat dari atas.
Brak!
Tubuh Lu Shi terpental beberapa meter. Ia berguling di atas anak tangga sebelum akhirnya berhasil menghentikan tubuhnya. Darah tipis mengalir dari sudut bibirnya.
Tian Xue melihat itu dari kejauhan. Matanya sedikit menyipit.
"Lu Shi!"
"Aku masih hidup!"
Lu Shi menghapus darah di bibirnya menggunakan punggung tangan. Kemudian...
Ia tersenyum lebar.
"Kalau cuma begini, mereka belum bisa membunuhku!"
Mendengar jawaban itu, Tian Xue menghela napas pelan. Tanpa membuang waktu, ia kembali menerjang ke tengah kawanan Beast.
Pertarungan terus berlangsung. Entah berapa jam. Atau mungkin... berhari-hari. Tidak ada yang tahu. Yang mereka rasakan hanyalah rasa lelah yang terus menumpuk.
Lengan Tian Xue mulai terasa berat. Napas Lu Shi semakin kasar. Namun tidak satu pun dari mereka berniat mundur.
Di tengah kekacauan itu...
Tian Xue tiba-tiba menghentikan langkahnya. Tatapannya tertuju ke arah dinding batu yang sebelumnya mustahil dijangkau.
Kini...
Sesuatu telah berubah. Dinding itu tidak lagi terlihat setinggi sebelumnya. Di bawahnya, bangkai Beast telah bertumpuk membentuk gundukan raksasa. Semakin lama mereka bertarung... semakin tinggi pula gundukan tersebut.
Mata Tian Xue sedikit membelalak.
"Aku mengerti..."
Lu Shi yang baru saja menghancurkan seekor Beast menoleh ke arahnya.
"Mengerti apa?!"
Tian Xue menunjuk ke arah tumpukan bangkai.
"Ujian ini bukan meminta kita mengalahkan semua Beast." Tatapannya menjadi semakin tajam. "Melainkan menggunakan hasil pertarungan untuk terus mendaki."
Lu Shi mengikuti arah jarinya. Beberapa saat kemudian, kedua matanya membesar.
"Jadi... selama ini..." Ia melihat tumpukan bangkai yang kini hampir menyentuh bagian atas dinding. "Itulah anak tangga kita?"
Tian Xue mengangguk singkat.
"Naik!"
Tanpa ragu, keduanya langsung berlari menuju tumpukan Beast. Di belakang mereka...
Raungan kembali menggema. Gelombang Beast berikutnya telah datang.
Mereka tidak memiliki waktu untuk berhenti. Tian Xue melompat ke atas bangkai pertama. Kemudian bangkai kedua. Ketiga. Keempat.
Tubuh Beast yang licin karena darah membuat pijakan mereka berkali-kali hampir tergelincir. Namun mereka terus memanjat.
Seekor Beast melompat dari bawah. Lu Shi segera berbalik.
BOOOM!
Satu tendangan keras menghantam kepala Beast itu hingga jatuh kembali ke bawah bersama puluhan monster lainnya.
"Terus naik!" teriaknya.
Tian Xue tidak menjawab. Ia hanya terus memanjat. Semakin tinggi. Semakin cepat.
Akhirnya...
Mereka mencapai bagian paling atas tumpukan bangkai. Di hadapan mereka terbentang sebuah anak tangga batu.
Tian Xue mengangkat kepalanya perlahan. Ukiran kecil di permukaan batu itu membuat napasnya sejenak terhenti.
Lu Shi juga membeku.
"Hanya... tinggal satu?"
Belum sempat mereka melangkah...
Seluruh dunia mendadak menjadi sunyi. Raungan Beast menghilang. Kabut berhenti bergerak. Angin pun lenyap. Keheningan menyelimuti segala penjuru.
Sesaat kemudian...
Suara tua yang dipenuhi wibawa bergema dari langit.
"Tekad yang tidak menyerah..." Suara itu mengguncang jiwa mereka. "Keberanian yang tidak gentar menghadapi kemustahilan..."
Tian Xue dan Lu Shi berdiri tegak. Keduanya menatap ke langit tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Kalian tidak mencari jalan yang mudah."
"Kalian menciptakan jalan dengan tangan kalian sendiri."
Suara itu berhenti sejenak. Kemudian terdengar jauh lebih berat.
"Selamat."
"Kalian telah lulus ujian ketiga."
Begitu kalimat itu selesai diucapkan...
Anak tangga terakhir yang selama ini tersembunyi perlahan muncul di hadapan mereka. Sebuah anak tangga batu giok yang memancarkan cahaya keemasan.
Suara tua itu kembali bergema.
"Naiklah."
"Warisan sejati Istana Leluhur sedang menunggu pewaris yang layak."
Tian Xue menarik napas panjang. Ia menoleh ke arah Lu Shi. Tatapan keduanya bertemu.
Tak ada kata-kata. Tak ada senyum. Namun keduanya memahami isi hati satu sama lain.
Mereka telah sampai sejauh ini. Dan kini...
Hanya tersisa satu langkah lagi sebelum rahasia terbesar Istana Leluhur terungkap.