NovelToon NovelToon
Penguasa Di Balik Bayangan

Penguasa Di Balik Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Action / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Cardannak23

Darius Evandra Adhitama adalah putra tertua Keluarga Adhitama yang hidup susah bersama ibunya. Di usia 18 tahun, ibunya meninggal dan ia dicampakkan kekasihnya.

Darius lalu masuk militer, bangkit menjadi "Dewa Perang" legendaris dalam 6 tahun, hingga menguasai bisnis global, lalu menjadi pembunuh bayaran paling ditakuti.

Saat pulang untuk hidup tenang, keluarga Adhitama memaksanya kembali tanpa tahu identitas aslinya.

Darius lalu mendapati mantan kekasihnya telah dinikahi sang adik tiri, dan dirinya justru dijadikan tumbal pernikahan politik dengan Adelina Atmadja demi menyudahi perseteruan berdarah.

Diremehkan dan terjebak pernikahan paksa, Darius hanya menatap dingin. Mereka tidak tahu bahwa "anak buangan" ini sanggup meratakan kedua keluarga besar tersebut hanya dengan satu jentikan jari.

Saat naga yang tertidur akhirnya membuka mata, seluruh kota akan gemetar di bawah kakinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cardannak23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Di sana, telah berkumpul seluruh anggota Keluarga Adhitama. Di kursi utama, duduk seorang pria tua berambut putih dengan tongkat berkepala naga. Dialah sang pemimpin keluarga, Hardiman Adhitama.

Di dekatnya, duduk seorang wanita paruh baya berpakaian glamor bersama dua gadis muda berpakaian modis. Mereka adalah ibu tiri Darius, Miranti Adhitama, serta kedua adik tiri perempuannya, Savina dan Kiara.

Namun, perhatian Darius langsung tertuju pada sesosok pria paruh baya yang berdiri tegak di tengah ruangan. Begitu melihat Darius masuk, mata pria itu berkaca-kaca. Dialah sang Ayah, Surya Adhitama.

"Darius... anakku," suara Surya Adhitama bergetar hebat.

Ia langsung melangkah maju dan tanpa ragu memeluk Darius. Pelukan yang penuh dengan rasa bersalah dan kerinduan. "Maafkan Ayah, Nak... Ayah baru bisa membawamu pulang sekarang."

Darius tidak membalas pelukan itu, namun tidak juga menolaknya. Ia membiarkan ayahnya melepaskan kerinduan, sebelum akhirnya Surya Adhitama mengurai pelukan itu dengan senyum haru.

Tepat di samping tempat ayahnya berdiri tadi, seorang pemuda melangkah maju. Pemuda itu memiliki pembawaan yang jauh lebih hangat dan ramah.

"Selamat datang kembali, Kak Darius," ucap pemuda itu dengan tulus sambil mengulurkan tangannya. "Aku William, adikmu."

Darius menatap uluran tangan William sejenak, lalu menyambut jabat tangan itu dengan anggukan pelan. "Terima kasih, William."

Namun, suasana hangat dan penuh haru itu langsung dirusak oleh dehaman keras dari arah sofa.

"Cukup dramanya, Surya," suara berat Tuan Besar Hardiman menginterupsi dengan dingin.

Beliau menatap Darius dengan tatapan meremehkan, memperhatikan pakaian Darius yang tampak sangat kontras dengan kemewahan ruangan itu.

"Jadi, ini anak yang kamu tangisi selama belasan tahun itu? Penampilannya sama sekali tidak mencerminkan darah Adhitama." ujar Tuan Besar Hardiman dengan suara yang sarat akan intimidasi.

"Ayah, jaga ucapan Ayah! Darius baru saja tiba!" bela Surya Adhitama dengan nada tegas, mencoba melindungi putranya.

Mendengar hal itu, Miranti Adhitama hanya terkekeh sinis. "Sudahlah, Mas Surya. Apa yang dikatakan Ayahmu benar. Lihat pakaiannya, sangat sederhana."

"Ih, iya, Mah. Kak William jauh lebih keren dan berpendidikan. Malu-maluin aja kalau temen-temenku lihat punya kakak udik begini," bisik Savina dengan suara yang sengaja dikeraskan.

Sementara itu, Kiara hanya mendengus setuju sambil sibuk memainkan ponsel mahalnya.

Darius tetap berdiri dengan sangat tenang. Caci maki dan pandangan rendah dari Kakek dan Ibu Tirinya sama sekali tidak mengusik dirinya.

"Sudah, jangan ribut. William, panggil istrimu. Katakan padanya bahwa kakak tertuamu sudah tiba," perintah Surya Adhitama kepada anak keduanya itu.

"Baiklah, Ayah. Aku panggil Violetta dulu di kamar atas," jawab William dengan ramah sebelum berbalik dan melangkah menaiki tangga menuju lantai dua.

Mendengar nama yang disebutkan oleh William, detak jantung Darius mendadak berdesir.

'Violetta? Apakah hanya kebetulan nama mereka sama?' batin Darius.

Tak lama kemudian, William tampak berjalan turun sambil menggandeng mesra tangan seorang wanita yang mengenakan gaun anggun berwarna biru pastel.

Begitu wanita itu melangkah sepenuhnya ke aula utama, seluruh ruangan seolah membeku bagi Darius.

Wajah itu. Kedua mata itu. Sosok yang sebelas tahun lalu meninggalkannya di bawah guyuran hujan. Dia adalah Violetta, mantan kekasihnya.

Saat mata Violetta berbenturan dengan mata dingin milik Darius, tubuh wanita itu seketika menegang sempurna. Wajahnya yang semula merona mendadak berubah menjadi pucat.

Pegangan tangannya pada lengan William mengendur secara perlahan. Matanya bergetar dan berkaca-kaca menahan syok yang luar biasa.

"D-Darius...?" bisik Violetta dengan suara yang hampir tidak keluar dari tenggorokannya.

William yang tidak menyadari ketegangan di antara keduanya, langsung merangkul pundak Violetta dengan bangga. "Kak Darius, kenalkan, ini Violetta, istriku. Kami baru menikah setahun yang lalu."

Darius menatap Violetta lekat-lekat. Ia bisa melihat dengan jelas kepedihan, rasa bersalah, dan cinta yang mendalam yang masih tersirat di balik mata wanita itu.

Ia lalu menarik napasnya dalam-dalam, mencoba mengumpulkan kembali serpihan ketenangan yang sempat hilang.

"Senang bertemu denganmu," ucap Darius dengan suara berat dan datar.

"Hmph, sudahlah! Karena semua orang sudah berkumpul, mari kita bicarakan alasan utama mengapa anak ini dipanggil pulang!" ujar Tuan Besar Hardiman dengan suara menggelegar.

Beliau kemudian mengetukkan tongkatnya ke lantai. "Darius, dengarkan baik-baik. Kamu dipanggil pulang bukan untuk menikmati fasilitas Keluarga Adhitama."

Surya Adhitama tampak menundukkan kepalanya dengan rasa bersalah yang mendalam, tidak berani menatap mata Darius.

"Keluarga Adhitama dan Keluarga Atmadja telah sepakat melakukan pernikahan demi menghentikan perseteruan berdarah yang telah memakan banyak korban," lanjut Tuan Besar Hardiman dengan otoriter.

Miranti Adhitama langsung menyahut dengan senyum penuh kemenangan. "Tadinya, Kakekmu ingin William yang menikah dengan putri Keluarga Atmadja itu."

"Tapi tentu saja, sebagai ibu, aku tidak akan membiarkan anak kesayanganku melakukannya!" lanjut Miranti Adhitama dengan nada ketus.

Kiara kemudian ikut menimpali sambil terkekeh-kekeh. "Makanya, pas banget kau pulang! Jadi kau yang maju sebagai tumbal pernikahan ini menggantikan Kak William!"

William tampak terkejut ketika mendengar ucapan ibu dan adiknya. "Ibu! Dek! Jangan bicara seperti itu pada Kak Darius! Ini tidak adil untuknya!"

Ia lalu menatap Darius dengan rasa tidak enak yang besar. "Kak, maafkan mereka..."

Darius mengangkat tangan kanannya sedikit, memberi kode pada Willliam agar adiknya itu tidak perlu merasa bersalah.

Ia kemudian menatap sang Kakek dan Ibu Tirinya dengan tatapan yang sangat datar, seolah sedang melihat dua badut yang sedang melawak.

"Jadi... kalian memanggilku pulang hanya untuk menjadikanku tumbal kedamaian?" tanya Darius dengan nada yang sangat tenang.

"Benar! Dan kamu tidak punya hak untuk menolak! Pernikahanmu dengan Adelina Atmadja akan dilangsungkan dalam lima hari ke depan!" ucap Tuan Besar Hardiman dengan tegas dan angkuh.

Surya Adhitama kemudian menatap Darius dengan mata berkaca-kaca. "Darius... Ayah mohon, Nak. Tolong terima pernikahan ini. Ayah tahu ini tidak adil untukmu, tapi ini satu-satunya cara..."

Darius terdiam sejenak. Di dalam kepalanya, isi surat mendiang ibunya berputar kembali.

‘Hormati dan patuhilah semua keputusan ayahmu... Lakukanlah ini demi ketenangan jiwa Ibu, Darius.’

Ia menatap ayahnya lekat-lekat sebelum akhirnya mengangguk, menerima segala keputusan yang telah dibuat. "Baiklah. Aku menyetujui pernikahan ini."

Mendengar jawaban Darius, Violetta yang berdiri di samping William seketika menutup mulutnya, air matanya hampir saja tumpah.

Hatinya terasa hancur berkeping-keping melihat pria yang masih ia cintai harus dikorbankan dalam pernikahan politik.

"Bagus. Setidaknya kau tahu diri dan sadar posisi," cetus Tuan Besar Hardiman dengan senyum meremehkan.

Miranti Adhitama melirik jam tangan emasnya, lalu berdiri dari sofa. "Karena masalah ini sudah selesai, sebaiknya kita makan malam. Anak buangan ini pasti kelaparan?"

Mendengar ucapan ibunya, Savina dan Kiara langsung terkekeh geli, sambil melirik sinis ke arah pakaian Darius yang sederhana.

Surya Adhitama mengembuskan napas lega yang sarat akan kepedihan. Ia lalu menepuk bahu Darius dengan lembut. "Ayo, Nak. Kita ke ruang makan."

1
Akang
up lagi thor
Glastor Roy
makasih torku update ya
Cardannak: Sama²
total 1 replies
Julia thaleb
Thor.
up nya yg banyak..
jgn satu.
KLO up nya 1 aja seperti makan krupuk seribuan, 1 menit SDH ludes.
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Julia thaleb
Thor..
aku suka.
up terus yg banyak ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
tor update ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya torku
Glastor Roy
torku update ya lgi dong
Glastor Roy
update lgi
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
makasih torku update ya
Muhamad U Fadillah Udwm
bguss
Muhamad U Fadillah Udwm
lqnjut
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!