DI ANTARA DUA BAYANGAN
Kebangkrutan bisnis sang ayah memaksa Aira—gadis SMA yang polos, penakut, dan penurut—menjadi jaminan utang keluarga. Ia diserahkan ke kediaman megah keluarga Pradipta dan dijodohkan dengan Vino, pewaris tunggal yang arogan, playboy, dan tak segan mengintimidasinya. Bagi Vino, Aira tak lebih dari benalu dan pelayan terhormat. Di sekolah maupun di rumah, Aira harus menelan bulat-bulat rasa malu saat Vino terang-terangan memamerkan kemesraan dengan Caren, kekasihnya.
Di tengah kehempaan dan rasa takut yang menghimpit, muncul Darel. Sepupu Vino yang baru pulang dari luar negeri itu hadir bak pahlawan. Dengan tutur kata lembut, perhatian manis, dan senyum hangatnya, Darel menjadi satu-satunya tempat Aira bersandar.
Namun, Aira tak menyadari bahwa keselamatan yang ia rasakan hanyalah ilusi. Di balik topeng sempurnanya, Darel menyimpan obsesi gelap dan jiwa psikopat yang siap menghancurkan siapa saja. Saat Vino perlahan mulai menyadari perasaannya dan melihat bahaya ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Aira yang Terisolasi
Aira menerima gelas susu hangat itu dengan canggung. Rasa tidak enak hati pada Darel—yang selama ini selalu bersikap bak pelindung di rumah Pradipta—membuatnya tidak sanggup menolak terus-menerus.
"Makasih, Kak..." bisik Aira pelan. Tanpa rasa curiga sedikit pun, Aira meminum beberapa tegukan susu hangat itu hingga tersisa setengah.
Darel memperhatikan setiap tegukan Aira dengan binar mata yang kian pekat. Setelah Aira meletakkan gelas kembali di atas nampan, Darel menyunggingkan senyuman yang mendadak berubah sangat dingin.
"Bagus," gumam Darel singkat.
Belum sempat Aira bertanya maksud ucapan Darel, kesadarannya mendadak mengayun hebat. Kepala Aira terasa amat berat, penglihatannya kabur, dan pandangannya berbayang. Kelopak matanya terasa sangat tebal bagaikan ditimpa beban berat.
"Kak... Darel... ini..." desah Aira dengan suara yang teramat serak dan lemah. Tubuhnya melemas seketika, ambruk ke depan.
Dengan sigap, Darel menangkap tubuh Aira yang sudah kehilangan kesadaran penuh. Darel merengkuh cewek itu ke dalam pelukannya, mengusap helai rambut Aira dengan kelembutan yang sangat obsesif.
"Tenang ya, Aira... Kamu aman sama saya," bisik Darel rapat di telinga Aira yang sudah tak mampu merespons.
Tanpa membuang waktu lagi, Darel memapah tubuh Aira yang lunglai keluar dari kamar, membawanya turun lewat tangga belakang yang sepi menuju area garasi bawah tanah. Ia membaringkan Aira di kursi penumpang belakang mobil mewahnya, memasangkan sabuk pengaman, lalu memasukkan koper hitam serta paspor ke dalam bagasi.
Darel menyalakan mesin mobil. Suara deru mesin menggema halus di garasi yang remang-remang. Ia menatap pantulan Aira di kaca spion tengah dengan rasa puas yang luar biasa.
"Vino... kamu sudah terlambat," desis Darel sinis.
Mobil hitam itu perlahan bergerak meluncur keluar dari gerbang kediaman Pradipta, membelah jalanan kota yang sepi di tengah pekatnya malam, membawa Aira yang terisolasi menuju tempat yang jauh dari jangkauan siapa pun.
Darel merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel milik Aira yang sempat ia ambil dari meja kamar cewek itu. Dengan tenang, Darel menonaktifkan daya ponsel Aira, mencabut kartu SIM-nya, lalu membuangnya ke sudut garasi yang gelap.
Tak berhenti di situ, Darel menyambar ponsel pribadinya sendiri, mengetikkan satu pesan singkat yang dipenuhi manipulasi dingin dan ditujukan langsung ke nomor Vino:
"Kamu sudah kalah, Vino. Aira ikut saya secara sukarela. Jangan pernah cari kami lagi kalau kamu gak mau hal buruk terjadi sama dia."
Setelah menekan tombol kirim, Darel melilitkan rantai gembok pada pintu garasi belakang untuk memperlambat akses siapa pun yang mencoba menyusul. Ia menginjak pedal gas, membawa mobilnya membelah malam menuju sebuah vila terisolasi milik keluarga Pradipta di kawasan lereng bukit luar kota—sebuah tempat yang tak pernah diketahui oleh anggota keluarga lainnya.
Di dalam mobil yang melaju kencang menerobos kegelapan malam, Aira terbaring tak berdaya dalam pengaruh obat tidur, sepenuhnya terisolasi dan berada di bawah kendali penuh seorang sosiopat.
...****************...
Aira terbangun dengan rasa pening yang amat menyengat di kepalanya. Kelopak matanya terasa amat berat, sementara tenggorokannya kering bagai terletak pasir. Ketika ia mencoba menggerakkan tangannya, ia menyadari pergelangan tangannya telah terikat erat dengan tali kain di sandaran kursi kayu.
Suasana di sekelilingnya remang-remang. Hanya ada sebuah lampu gantung tua yang memancarkan cahaya kuning redup, menerangi sebuah ruangan berbau kayu lembap. Ini bukan rumah Pradipta. Ini adalah sebuah bangunan terisolasi di tengah hutan rimba.
"Sudah bangun, Aira?"