Arya Arsyad Sikumbang adalah seorang pemuda perantauan.Ia mengadu nasib di Kota besar dan akhirnya dia terjerumus ke dalam Sindikat Para Mafia Internasional.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UJIAN SEMINGGU - PANDE SIKEK 1975
Waktu di kaki Bukit Singgalang berjalan dengan cara yang aneh. Jika bagi orang kota waktu dihitung dengan detik dari jam dinding dan tanggal dari kalender robek, maka bagi anak-anak Pande Sikek waktu dihitung dengan berapa kali embun pagi turun di pucuk daun bawang dan berapa kali suara azan maghrib menggema dari surau kayu di Pos Satu. Seminggu terasa seperti sekejap, namun bagi Arya Arsyad Sikumbang, seminggu itu terasa seperti setahun penuh yang ia habiskan di dalam dunia yang lain.
Tujuh hari yang lalu, tepat di ruangan yang sama, ia telah membuat seluruh dewan guru SMP Negeri Pande Sikek terdiam karena mampu mengerjakan soal Ujian Akhir Kelas 3 SMP dengan nilai 85 persen, padahal ia baru saja diterima sebagai siswa Kelas VII dan umurnya baru 10 tahun. Saat itu, Bapak Drs. Syafrianto memberinya tantangan yang lebih gila: tiga buku pelajaran SMA Kelas 10 dan 11 untuk dipelajari dalam waktu seminggu. Tidak ada yang menyangka anak itu akan kembali.
Dan ia kembali.
Tepat tujuh hari setelah tantangan itu diberikan, pada hari Senin pagi jam tujuh tepat, kabut masih tebal menggantung di jalan setapak menuju sekolah. Udara Pande Sikek masih menusuk tulang. Arya Arsyad Sikumbang sudah berdiri rapi di depan pintu ruang Kepala Sekolah yang terbuat dari kayu surian tua. Ia mengenakan seragam putih biru yang sudah disetrika licin oleh ibunya, Siti Aminah Sikumbang, dengan setrika arang yang bara apinya harus dikipas-kipas dulu. Celana birunya sedikit kependekan di mata kaki, karena itu adalah celana warisan dari kakaknya, Arlan Rasyad Sikumbang, yang sudah dijahit ulang di bagian pinggang agar pas.
Di punggungnya tergantung tas punggung karung goni yang sudah dijahit ulang oleh ibunya menjadi tas ransel, tas yang sama yang ia pakai sejak tahun 1971. Tas itu terlihat berat, sangat berat, sampai pundak kecilnya sedikit miring ke kiri. Matanya sedikit sembab, merah dan berkantung hitam karena kurang tidur seminggu penuh. Seminggu ini ia hampir tidak pernah tidur lebih dari tiga jam sehari.
Di dalam tas karung goni itu bukan lagi buku tulis MPLS yang berisi yel-yel dan tata tertib sekolah. Di dalamnya terdapat tiga buku pelajaran SMA pinjaman dari perpustakaan SMA Negeri 1 X Koto yang harus ia bawa dengan surat jaminan dari Ibu Gusni. Buku Fisika Kelas 10 karangan Sutrisno, buku Kimia Kelas 11, dan buku Biologi Kelas 10. Sampul buku-buku itu sudah lecek di ujungnya, sobek sedikit di bagian punggung karena terlalu sering dibuka tutup di bawah cahaya lampu petromaks yang panas. Di setiap halamannya penuh dengan coretan pensil merah miliknya, garis bawah pakai penggaris kayu surian yang ia buat sendiri, dan catatan kecil di setiap pinggir halamannya dengan tulisan tangan yang rapat, miring, dan sangat kecil agar muat.
Di dalam ruangan, suasana sudah jauh berbeda dari seminggu yang lalu. Jika minggu lalu hanya ada empat orang guru yang menguji dengan santai, hari ini hampir seluruh dewan guru senior berkumpul dengan wajah tegang. Ada Bapak Drs. Syafrianto selaku Kepala Sekolah yang duduk di tengah dengan peci beludru hitamnya, Ibu Gusni yang adalah saudari sepupu jauh dari Siti Aminah Sikumbang yang duduk sambil meremas sapu tangan, Ibu Rina guru IPA SMP, Bapak Asril guru Fisika SMA yang sengaja diundang langsung dari SMA Negeri 1 X Koto dengan sepeda motor Honda 70-nya, dan Ibu Defi guru Kimia SMA yang terkenal sangat galak dan tidak pernah memberi nilai di atas 70.
Mereka semua duduk melingkar di kursi kayu yang berderit, bukan untuk mengintimidasi, melainkan karena rasa penasaran yang sudah memuncak dan tidak bisa ditahan lagi. Lampu petromaks tidak ada di sini, karena ruangan Kepala Sekolah adalah satu-satunya ruangan di SMP Negeri Pande Sikek tahun 1975 yang sudah pakai listrik diesel dari kantor kecamatan yang hanya hidup dari jam tujuh pagi sampai jam dua siang. Bau solar dari mesin diesel itu masih tercium samar.
Bapak Syafrianto mempersilakan Arya duduk di sebuah kursi kecil di tengah lingkaran itu. Tanpa banyak basa-basi dan tanpa senyum, Bapak Asril yang badannya tinggi besar langsung meletakkan sebuah amplop cokelat besar yang diikat dengan karet gelang dua buah di depannya. Amplop itu terlihat tebal dan berat.
"Arya," kata Bapak Asril dengan suara berat dan dalam, khas guru Fisika yang tidak suka basa-basi. "Minggu lalu kamu mengerjakan soal SMP. Hari ini kami tidak akan main-main lagi. Ini bukan lagi soal pilihan ganda SMP yang bisa kamu tebak-tebakan. Ini adalah paket soal Ulangan Harian Asli Kelas 10 dan 11 SMA. Ada soal tentang Hukum Kekekalan Energi Mekanik, ada soal Stoikiometri tentang mol dan persamaan reaksi yang banyak anak SMA pun pusing, dan ada soal tentang Pembelahan Mitosis dan Meiosis yang harus digambar. Kalau minggu lalu kami memberimu buku, minggu ini kami ingin tahu apa yang benar-benar tinggal di kepalamu, bukan di buku itu. Kerjakan sebisamu. Tidak ada batas waktu. Kalau haus, minum. Kalau capek, istirahat."
Arya menarik napas panjang, napas yang ia ambil dari perut seperti yang diajarkan Mamaknya, Usman Bin Rauf Sikumbang, saat latihan kuda-kuda Silek Tuo Harimau di lereng bawah. Ia membuka amplop itu dengan tangan yang tidak lagi gemetar seperti minggu lalu. Seminggu ini ia telah hidup bersama buku-buku itu. Ia telah menjadi bagian dari buku itu.
Seminggu itu adalah seminggu yang tidak akan pernah dilupakan oleh Siti Aminah dan Abdullah bin Rais Payobadar. Setiap malam, setelah ayahnya pulang dari sawah pusako dengan lumpur sampai ke lutut dan setelah ibu selesai menjahit baju tetangga, rumah papan mereka yang diterangi satu buah lampu petromaks yang harus dipompa dulu agar terang, menjadi kelas pribadi. Arya duduk bersila di atas tikar pandan, dikelilingi buku SMA, sementara kakaknya, Arlan Rasyad Sikumbang yang berusia 12 tahun, duduk di sampingnya menemani, membantu mengerjakan hitungan yang sulit dengan lidi di lantai tanah. Ia tidur dengan rumus gerak jatuh bebas $v \= g.t$ di kepala, ia mimpi tentang rantai makanan dan reaksi redoks sambil mendengarkan suara jangkrik sawah milik ayahnya dan suara desis petromaks.
Ia mulai menulis dengan pensil 2B yang diraut runcing pakai pisau dapur milik ibunya, pensil yang baru dibeli dari hasil jual cengkeh pertama ayahnya di Pasar Atas Bukittinggi.
Keajaiban kedua terjadi di ruangan Kepala Sekolah itu.
Selama tiga jam penuh, tidak ada satu pun guru yang beranjak dari kursinya, bahkan untuk ke kamar kecil sekalipun. Tidak ada yang berbicara. Hanya terdengar suara goresan pensil Arya di atas kertas folio bergaris yang disedikan, suara derit kursi kayu saat Bapak Asril mengubah posisi duduk, dan suara mesin diesel di luar yang berdengung pelan. Mereka hanya melihat seorang anak kelas 1 SMP yang baru seminggu lalu diterima, yang umurnya baru 10 tahun, yang tasnya masih karung goni, dengan lancar dan tanpa ragu menjelaskan perbedaan antara kecepatan dan percepatan.
Ia tidak menjelaskannya dengan bahasa buku, ia menjelaskannya dengan contoh gerobak dorong ayahnya, Abdullah bin Rais Payobadar, yang membawa karung cengkeh dari kebun di lereng Singgalang ke bawah. "Kalau gerobak didorong pelan tapi terus, itu kecepatan, Pak. Tapi kalau gerobak didorong dari diam sampai laju karena jalannya menurun, itu percepatan," tulisnya.
Ia menghitung mol suatu senyawa kimia bukan dengan rumus hafalan, tapi dengan logika lidi yang diajarkan ayahnya saat menghitung berapa ikat padi yang didapat dari sawah pusako. Logikanya sangat sederhana namun tepat dan mengena. Dan ia menggambar proses fotosintesis jauh lebih detail daripada yang ada di buku, lengkap dengan kloroplas dan cahaya matahari yang ia gambar seperti matahari pagi di atas sawah ayahnya.
Ketika lembar jawaban terakhir ia kumpulkan, tangannya yang kecil hitam karena arang pensil, Bapak Asril dan Ibu Defi langsung memeriksanya bersama-sama di meja kayu yang catnya sudah mengelupas dan penuh dengan goresan nama-nama siswa nakal angkatan lama. Mereka memeriksa dengan kacamata yang sama-sama tebal.
Wajah mereka berubah pucat karena takjub, bukan karena marah. Ibu Defi yang terkenal tidak pernah memberi nilai di atas 80 untuk siswa SMA-nya, beberapa kali mengangkat alis dan bergumam, "Mustahil... ini mustahil."
Nilai Arya tidak sempurna, tentu saja. Itu yang membuat nilainya jujur. Ada beberapa hitungan Fisika kelas 11 tentang gerak parabola yang masih keliru karena konsep akar dan integral memang belum pernah ia pelajari sama sekali. Ada satu soal Kimia tentang larutan penyangga yang jawabannya kosong karena ia memang belum sampai ke bab itu dalam seminggu. Tapi untuk anak yang hanya belajar seminggu secara otodidak di bawah lampu petromaks yang mendesis dan harus dipompa setiap dua jam, nilainya mencapai 78.
Nilai 78. Nilai yang bahkan untuk siswa SMA reguler di Bukittinggi yang sudah les privat dan belajar dengan listrik terang pun sudah termasuk kategori sangat baik dan membanggakan.
Bapak Drs. Syafrianto berdiri perlahan dari kursi kebesarannya. Ia melepas kacamatanya yang berembun, mengusap matanya dengan sapu tangan putih, lalu mengusap keningnya yang berkeringat. Ia berjalan mendekati Arya dengan langkah pelan dan meletakkan kedua tangannya yang besar, kasar dan kapalan karena dulu juga pernah menjadi guru olahraga, di pundak kurus anak itu yang masih bergetar karena menahan dingin.
"Arya Arsyad Sikumbang," ucapnya dengan suara bergetar, namun tegas, lantang dan bisa didengar semua guru di ruangan itu, bahkan oleh penjaga sekolah yang mengintip dari jendela kayu. "Demi Allah, saya sebagai Kepala Sekolah SMP Negeri Pande Sikek, bersaksi bahwa kamu bukan siswa biasa. Kamu adalah anugerah, titipan Allah untuk sekolah kecil di lereng gunung ini. Mulai hari ini, saya berjanji akan memasukkan kamu langsung ke Kelas VII Unggulan. Kelas khusus yang isinya hanya 10 orang anak paling pintar se-Kecamatan X Koto. Kamu tidak perlu belajar dengan cara biasa. Kamu akan saya beri kunci perpustakaan, kunci laboratorium. Dan tahun depan, 1976, kamu akan langsung saya daftarkan untuk Olimpiade Sains tingkat Kabupaten Tanah Datar, melawan anak-anak SMA. Kamu pantas berada di depan, Nak."
Satu ruangan terdiam seribu bahasa. Janji itu adalah sebuah kehormatan yang luar biasa, sebuah lompatan sejarah. Dari siswa baru yang hampir tidak diterima karena berkas terlambat dan hampir dikembalikan ke SD karena umur terlalu muda, langsung masuk kelas unggulan yang disiapkan untuk lomba. Sebuah kehormatan yang belum pernah terjadi dalam sejarah SMP Negeri Pande Sikek selama 30 tahun berdiri sejak tahun 1945. Semua guru mengangguk setuju dengan mata berkaca-kaca. Bahkan Ibu Gusni yang merupakan saudari sepupu jauh Siti Aminah sampai meneteskan air mata haru, membayangkan betapa bangganya keluarga besar Sikumbang-Payobadar di Pande Sikek.
Semua orang di ruangan itu, termasuk Bapak Asril yang keras, mengira Arya akan langsung meloncat kegirangan, bersujud syukur di lantai semen itu, dan menerima tawaran emas itu dengan kedua tangan.
Tapi seperti biasa, Arya Arsyad Sikumbang, anak bungsu dari Siti Aminah dan Abdullah bin Rais Payobadar itu, melakukan hal yang tidak pernah diduga oleh siapa pun di ruangan itu.
Ia terdiam sejenak, cukup lama, hampir satu menit. Ia menundukkan kepalanya, menatap sepatu Bata-nya yang baru, sepatu pertama dalam hidupnya yang dibeli dari hasil panen cengkeh ayahnya, yang masih mengkilap. Lalu ia mengangkat wajahnya, menatap satu per satu guru yang ada di sana dengan sorot mata yang sangat dewasa, jauh melampaui usianya yang baru 10 tahun, mata yang sudah ditempa oleh kerasnya hidup di sawah dan kerasnya latihan Silek Tuo Harimau di Pos Satu.
"Terima kasih banyak, Pak. Terima kasih banyak atas kepercayaan Bapak dan Ibu guru semua kepada saya, kepada anak petani ini," kata Arya dengan suara pelan namun jelas, dengan logat Minang yang masih kental. "Tapi... maafkan saya, Pak. Maafkan saya sebesar-besarnya. Saya harus menolak kelas unggulan itu."
Ruangan yang tadinya hening karena takjub, kini hening karena terkejut dan bingung. Bapak Syafrianto mengernyitkan dahi, kacamatanya hampir jatuh. "Menolak? Kenapa, Nak? Ini kesempatan emas yang tidak datang dua kali. Banyak anak yang memimpikan kunci perpustakaan itu."
Arya tersenyum tipis, senyum yang sangat mirip dengan senyum kakaknya, Arlan Rasyad Sikumbang, senyum yang sabar dan tekun.
"Karena saya tidak ingin berlari sebelum bisa berjalan dengan benar, Pak," jawab Arya dengan kalimat yang ia dapat dari ayahnya. "Seminggu ini saya memang bisa menghafal rumus SMA, tapi saya sadar, fondasi saya masih bolong-bolong, seperti pematang sawah ayah saya yang masih bocor kalau tidak ditambal pelan-pelan. Saya belum pernah merasakan bagaimana rasanya belajar bersama teman-teman sekelas di kelas tujuh yang normal. Saya belum pernah merasakan piket menyapu kelas pakai sapu ijuk sampai debu beterbangan, upacara bendera hari Senin sebagai siswa SMP yang sesungguhnya dengan sepatu mengkilap, dan belajar berkelompok untuk tugas prakarya membuat pot bunga dari tanah liat. Kalau saya langsung ke kelas unggulan, saya akan kehilangan masa itu, Pak. Masa yang tidak akan bisa saya ulang lagi."
"Dan yang paling penting, Pak," ia melanjutkan dengan suara sedikit bergetar menahan haru, "Saya akan kehilangan kebersamaan dengan kakak saya, Arlan Rasyad Sikumbang. Kami satu rumah, satu ayah, satu ibu, satu sawah pusako, satu lampu petromaks. Kami berdua sama-sama Kelas 6 SD kemarin, kami ranking satu dan dua sekecamatan kemarin, kami ingin tetap sama-sama di Kelas VII biasa. Saya tidak ingin dipisah. Arlan adalah yang selalu menemani saya belajar di bawah petromaks, yang selalu meminjamkan pensilnya kalau pensil saya patah."
Ia berhenti sejenak, menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan kalimat yang membuat semua guru di ruangan itu merinding dan membuat Ibu Gusni menangis terisak-isak.
"Lagipula, Pak, tujuan saya belajar bukan untuk naik kelas dengan cepat dan dapat ijazah lebih dulu. Tujuan saya belajar bukan untuk piala atau piagam. Tujuan saya belajar adalah karena saya memang suka belajar. Saya bahagia ketika saya mengerti sesuatu yang kemarin tidak saya mengerti. Bahagia itu seperti bahagia ayah saya, Abdullah bin Rais Payobadar, ketika melihat sawah pusakonya yang dulu terbengkalai, ditumbuhi rumput, kini bisa panen dua kali setahun karena ia tekun kembali bersawah sejak tahun 1974, tidak lagi merantau. Ayah saya pernah berkata, 'Di rantau orang kito hanyo jadi kuli, di kampuang surang tanah kito nan jadi raja.' Ayah tidak ingin jadi raja di rantau, ia ingin jadi petani yang bahagia di tanah sendiri. Saya juga begitu, Pak. Saya ingin jadi murid yang bahagia di kelas saya sendiri."
"Jadi, kalau Bapak dan Ibu guru benar-benar ingin membantu saya..." Arya melanjutkan sambil menatap tumpukan buku SMA di tas karung goninya yang sudah lusuh, "Jangan beri saya kelas khusus, Pak. Beri saya buku saja. Saya menolak masuk kelas unggulan. Tapi bolehkah buku-buku pelajaran IPA SMA kelas 12 dan buku-buku ensiklopedia IPA yang ada di lemari kaca perpustakaan yang dikunci itu, untuk saya pinjam dan saya bawa pulang? Untuk saya pelajari pelan-pelan di rumah di bawah lampu petromaks, sambil tetap duduk di kelas tujuh biasa bersama kakak saya Arlan dan sepupu saya Ibrahim Sulaiman? Saya janji akan saya jaga, tidak akan sobek, akan saya kembalikan tepat waktu."
Tangis Ibu Gusni pecah di ruangan itu, tidak bisa ditahan lagi. Bapak Asril guru Fisika SMA yang terkenal keras, yang tidak pernah memuji murid, bahkan harus memalingkan wajahnya ke jendela karena matanya berkaca-kaca dan ia tidak ingin terlihat menangis oleh murid 10 tahun.
Bapak Drs. Syafrianto tidak langsung menjawab. Ia berjalan pelan ke jendela kayu yang catnya mengelupas, menatap lapangan sekolah yang becek karena hujan semalam, tempat ratusan siswa sedang berolahraga dengan baju yang masih kebesaran. Lama ia menatap, lalu ia kembali dengan langkah mantap dan memeluk Arya dengan erat, pelukan seorang ayah kepada anaknya.
"Baik, Nak. Baik," bisiknya dengan suara yang juga bergetar. "Permintaanmu dikabulkan. Mulai hari ini, perpustakaan ini terbuka untukmu. Semua buku IPA SMA kelas 12, semua buku ensiklopedia, semua alat laboratorium, adalah milikmu untuk dipelajari. Kamu tetap di kelas tujuh biasa, bersama kakak kandungmu Arlan. Kamu akan tetap menjadi Arya Arsyad Sikumbang siswa kelas VII yang umur 10 tahun, anak petani cengkeh, tapi dengan otak dan hati seorang ilmuwan sejati. Hari ini, kami yang tua-tua ini yang akan belajar banyak darimu tentang apa artinya rendah hati dalam ilmu, seperti ayahmu Abdullah yang rendah hati kembali bersawah dan berkebun."
Hari itu, tepat jam sepuluh pagi, Arya Arsyad Sikumbang pulang berjalan kaki bersama kakaknya Arlan Rasyad Sikumbang yang sudah menunggunya di bawah pohon beringin depan sekolah dengan cemas. Mereka berdua menyusuri jalan setapak Pande Sikek yang berkabut dan licin setelah hujan, jalan yang sama yang dulu mereka lalui dengan terompah kayu. Di punggung Arya ada tas karung goni yang jauh lebih berat dari pagi tadi, karena sekarang berisi tambahan buku-buku SMA kelas 12 dan sebuah ensiklopedia IPA bergambar yang dijanjikan Kepala Sekolah, buku yang beratnya hampir dua kilo.
Di bawah jalan setapak itu, terlihat hamparan sawah pusako milik ayahnya, Abdullah bin Rais Payobadar, yang menguning keemasan, siap panen kedua tahun ini, hasil dari ketekunannya yang tidak lagi merantau. Sawah itu berkilau diterpa matahari yang baru muncul dari balik Gunung Singgalang.
Arya menolak jalan pintas yang lebih cepat menuju puncak, karena ia memilih untuk menikmati setiap anak tangga pendakian yang licin bersama kakaknya, sambil bercerita tentang soal Stoikiometri yang baru saja ia kerjakan.