NovelToon NovelToon
SEBATAS KONTRAK DI ATAS RANJANG

SEBATAS KONTRAK DI ATAS RANJANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Menyembunyikan Identitas / Orang Disabilitas / Nikah Kontrak
Popularitas:52.9k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ares Sudibyo, pewaris keluarga kaya, tidak pernah percaya pada perempuan. Sejak ibunya meninggalkan ayahnya demi pria yang lebih kaya, ditambah pengkhianatan yang dialami pamannya dan dirinya sendiri, Ares memilih menjauh dari pernikahan.

Namun, pertemuannya dengan Alisha Prameswari secara tidak sengaja mengubah sesuatu dalam dirinya. Aroma tubuh Alisha justru membuatnya penasaran karena tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan, sensasi yang tak pernah ia rasakan dari perempuan lain.

Ketika mengetahui Alisha membutuhkan biaya pengobatan untuk adiknya, Ares menawarkan sebuah kontrak: menanggung seluruh biaya pengobatan, dengan syarat Alisha bersedia memenuhi kebutuhan biologisnya. Setiap kali bersama Ares, Alisha harus menutup mata, sebuah aturan yang tak pernah dijelaskan.

Ares yakin hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Namun ketika ketergantungan mulai tumbuh, sanggupkah ia melepaskan Alisha yang memilih mengakhiri kontrak dan mencari pendamping baru dalam hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Seseorang Sedang Mencarimu

Reki membuka pintu ruang meeting. Semua kepala langsung menoleh. Ares masuk beberapa langkah kemudian.

Seketika suasana ruangan berubah. Percakapan kecil yang sebelumnya terdengar langsung terhenti.

Ares berjalan menuju ujung meja panjang itu dan langsung mengambil tempat di kursi utama.

Di sisi kanan dan kirinya duduk beberapa staf pria yang bertugas mempresentasikan laporan. Sementara para staf perempuan memilih tempat di sekitar ujung meja yang berseberangan dengan Ares, sejauh mungkin dari posisinya.

Bukan karena ada aturan tertulis. Semua orang di perusahaan sudah tahu alasannya.

Jika harus menghadiri meeting bersama Ares, jangan memakai parfum yang terlalu menyengat.

Semakin jauh dari Ares, semakin kecil kemungkinan aroma parfum mengganggunya.

Tak seorang pun ingin menjadi penyebab meeting berhenti hanya karena Ares tiba-tiba tidak tahan dengan aroma tubuh seseorang.

Ares duduk. “Mulai.”

Reki membuka dokumen di tabletnya. Rapat berjalan seperti biasa. Sampai sebuah laporan ditampilkan di layar.

Ares menatap angka-angka itu beberapa detik. “Ini salah.”

Staf yang bertanggung jawab langsung menegakkan punggung.

“Maaf, Tuan. Saya akan—”

“Bukan cuma bagian itu.” Ares menunjuk layar. “Proyeksi kuartal ketiga juga pakai data lama.”

Wajah pria itu langsung pucat.

Biasanya pada titik seperti ini, suara bentakan Ares sudah terdengar. Kadang sebuah berkas bahkan melayang ke atas meja.

Namun kali ini Ares hanya menyandarkan punggungnya. “Perbaiki.”

Staf itu sempat terdiam. “Tuan?”

“Revisi semuanya. Tiga jam.”

Reki yang berdiri di samping layar ikut mengangkat alis.

Tiga jam?

Biasanya Ares hanya memberikan waktu satu jam.

Ares melanjutkan, “Kalo masih salah, kita bahas lagi.”

Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Tidak perlu. Semua orang di ruangan sudah tahu maksudnya.

Beberapa staf menarik napas lega, meski tidak berani terlalu menunjukkannya.

Namun rasa lega itu tidak berlangsung lama. Tiga jam justru terasa seperti ujian yang lebih berat.

Reki memerhatikan atasannya dari samping. Ada yang berbeda. Ares masih dingin. Masih tegas. Tetapi sejak tadi tidak ada satu pun suara meninggi.

Bahkan ketika salah satu staf kembali menunjukkan angka yang keliru, Ares hanya meminta bagian itu diperiksa ulang.

Reki tanpa sengaja memerhatikan kerah kemeja Ares. Ada sedikit kemerahan di dekat leher yang nyaris tertutup kerah.

Reki mengedip. Ia melihat lagi. Sedikit. Sangat sedikit. Namun cukup membuat sudut bibirnya hampir terangkat.

"Jangan-jangan..." Reki segera menundukkan wajah agar ekspresinya tidak terbaca. "Pantas."

Ia kembali menatap layar. Selama ini Ares bisa kehilangan kesabaran hanya karena laporan terlambat beberapa menit. Hari ini, beberapa kesalahan berlalu tanpa satu pun berkas terbang.

Ada sesuatu yang berubah. Dan Reki punya dugaan yang sangat kuat mengenai penyebabnya.

“Lanjutkan,” ujar Ares.

Reki segera kembali fokus pada meeting. Para staf kembali membuka laptop masing-masing.

Tidak ada yang berani bersantai. Kelonggaran Ares pagi ini memang membuat mereka bernapas sedikit lebih lega. Tetapi justru karena itulah mereka tahu satu hal.

Kalau sampai tiga jam diberikan dan hasilnya masih berantakan, mereka tidak ingin tahu apa yang akan terjadi setelahnya.

Ares melirik jam tangannya. “Waktu kalian sudah berjalan.”

Jari-jari para staf langsung bergerak lebih cepat di atas keyboard.

***

Sementara itu, di perusahaan tempat Alisha bekerja...

Staf yang mendampingi Arga menurunkan ponselnya. “Maaf, Pak. Bu Alisha hari ini izin gak masuk.”

Arga yang sedang membolak-balik dokumen berhenti. “Sakit?”

“Iya, Pak," jawab staf itu. "Katanya gak enak badan.”

Arga mengangguk pelan. “Cukup parah?”

“Sepertinya enggak. Beliau hanya diminta beristirahat.”

“Begitu.” Arga kembali menatap dokumen di depannya. Namun kali ini ia tidak langsung membacanya. Jarinya mengetuk permukaan meja satu kali. Kemudian berhenti.

Dimas yang duduk di sebelahnya memerhatikan dari sudut mata.

“Kalo ada bagian yang perlu dikonfirmasi, saya bisa hubungi Bu Alisha lewat pesan,” ujar staf itu.

Arga mengangkat wajah. “Nggak perlu. Kalo dia sedang sakit, biarkan istirahat.”

Nada suara Arga terdengar wajar. Terlalu wajar. “Kalau begitu kita lanjutkan saja.”

Staf tersebut mengangguk dan kembali menjelaskan beberapa poin kerja sama.

Arga mendengarkan. Setidaknya tubuhnya berada di ruang meeting, tetapi pikirannya sudah berada di tempat lain.

Kurang enak badan.

Kemarin perempuan itu masih terlihat baik-baik saja. Bahkan sempat berjalan tergesa ketika menghindarinya.

 

Setelah meeting selesai, mereka masuk ke mobil.

Setelah memasang sabuk pengaman, Arga menyandarkan punggung. “Dimas.”

“Ya?”

“Nanti kirimkan data kontak Bu Alisha yang dipakai untuk urusan kerjaan.”

Dimas menoleh. “Nomor kantornya?”

“Yang bisa dipakai untuk menghubunginya mengenai kerja sama.”

Dimas mengangguk. “Baik.”

Dimas baru membuka laptop ketika Arga kembali bertanya, “Kamu tau dia tinggal di mana?”

Dimas berhenti mengetik. "Bu Alisha?"

Arga menatap ke luar jendela. “Siapa lagi?”

“Saya cuma tau data yang berhubungan sama kerjaan.”

Arga mengalihkan pandangan. “Cari tau.”

Dimas terdiam sebentar. “Untuk urusan kerja sama?”

Tatapan Arga langsung beralih kepadanya.

Dimas buru-buru kembali menatap laptop. “Baik.”

Namun beberapa detik kemudian Arga berkata, “Jangan langgar privasinya. Aku cuma mau tau, apa ada cara yang pantas untuk menyampaikan dokumen kalo memang dibutuhkan.”

Dimas mengangguk. “Dimengerti.”

Arga tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia tahu dirinya sedang mencari alasan.

Dan ia juga tahu, semakin ia mencoba menyangkalnya, semakin jelas rasa penasarannya terhadap perempuan itu.

Mobil mulai bergerak. Arga menyandarkan kepalanya. Ia tidak tahu satu hal. Alamat yang ingin dicarinya memang ada.

Tetapi perempuan yang ingin ditemuinya tidak sedang berada di sana.

Alisha justru sedang berada di rumah pria yang sejak awal sudah memperingatkannya untuk menjauhi Arga.

Dan jika Arga terus mencari jalan untuk mendekatinya, cepat atau lambat, jalan mereka akan kembali bertemu.

Masalahnya, kali ini Ares mungkin tidak akan tinggal diam.

 

...✨“Rasa penasaran bisa membuat seseorang mencari tahu lebih banyak, tetapi ketika rasa ingin memiliki mulai mengabaikan batas orang lain, perhatian perlahan berubah menjadi ancaman.”✨...

.

To be continued

1
Cicih Sophiana
ahkir nya aq iket Lega Al... semoga gak ada gangguan lagi... ayo langsung ke dokter lg periksa baby nya😄
anonim
Alisha tidak mau menerima panggilan telepon dari Ares. Pesannya juga tidak dibalas. Salahmu sendiri Ares. Nikmati saja kegelisahanmu sekarang.

Panggilan telepon dari pak Darto juga tidak diangkat.

Ares semakin tidak tenang, tidak tahu di mana Alisha sekarang.

Ares tidak ingin kehilangan Alisha. Alisha mengerti kalau kehidupan bersamanya dipenuhi rahasia, aturan, dan penantian tanpa kepastian.

Namun permasalahannya malam ini Alisha sangat kecewa dengan Ares.
anonim
Masih saja di suruh menutup mata. Alisha bukannya menutup matanya, tapi kini menutup hatinya untuk mengabaikan pesan-pesan dari Ares.

Begitu kecewanya Alisha, sampai tidak mau mengangkat panggilan telepon dari Ares.

Ares bingung sendiri. Dadanya sesak memikirkan bakal ditinggalkan Alisha.
anonim
Alisha hanya membaca pesan dari Ares. Tidak membalas pesan itu.

Terlambat. Ares datang, Alisha sudah pergi naik taksi.

Reki selalu menyadarkan Ares dengan kata-kata yang masuk akal.

Reki sampai berani berkata kepada Ares - Malam ini, anda melakukan kesalahan besar, Tuan.

Ares tidak bisa menghampiri Alisha karena tubuhnya tidak sanggup. Ares bisa memanggil Alisha, untuk datang. Masalahnya Ares masih belum mau wajahnya dilihat Alisha, Reki.

Reki terus mengucapkan kata-kata tentang kemungkinan-kemungkinan buruk.

Alisha berhenti berharap, dan memilih pergi dari Ares.
anonim
Reki saja panggil Alisha nyonya. Pria itu belum tahu siapa suami Alisha. Reki memberi ancaman pada pria itu.

Pria itu menganggap gurauan. Padahal dia jelas menghina Alisha.

Arga ini apa urusannya kalau Alisha istri Ares.

Alisha tidak menuruti kata Reki untuk tetap menunggu di mobil.
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana.. Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Yaaa, kalau kamu nggk mau kecewa sendirian, maka aja saja Ares, Alisha... 😂😂😂 Dengan begitu kan, kami kecewanya nggk sendirian Alisah... 😂😂😂 Ada yang menemani Ke Kecewaanmu... 😁😁😁
Fadillah Ahmad
Iyaaa maka dari itulah Alisha... Kalau Raka tidak mengerti maka, kamu harus menjelaskan kepada Raka, sampai Rala mengerti Alisha... 😂😂😂 Kamu saja belum pernah menjelaskan kepada Raka, Alisha... Yaaa manalah Raka bisa mengerti Alisha... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Apa yang di kstakan Adikmu Raka itu ada benarnya Alisha... Kamu jangan keras kepala dong Alisha... 😁😁😁 Mau sampai kapan kamu terus menyiksa dirimu Alisha? ha? 😂😂😂
anonim
Ares yang tak berdaya dengan tubuh mulai kehilangan keseimbangan, hanya bisa menahan amarahnya.

Ares tidak kuat melangkah, pandangannya berkunang-kunang. Keinginannya menghajar pria itu tak kesampaian.

Reki menolong Alisha dengan mengambil taplak meja di dekatnya. Tidak peduli apa yang ada di atas meja itu berjatuhan. Berantakan.

Reki segera membentangkan taplak untuk menutupi tubuh Alisha. Reki berusaha menyelamatkan Alisha dari tatapan orang-orang.

Amarah Alisha sedikit mereda saat menyadari Reki sedang berusaha melindunginya dari tatapan orang-orang.

Reki berbalik menghadap pria yang menghina Alisha dan menatap tajam, pria itu keder tentunya.
anonim
Ini ada pria hidung belang melecehkan Alisha dengan kata-kata yang tak pantas didengar. Mata jalangnya tanpa sungkan mengamati tubuh Alisha.

Masih juga mengeluarkan kata-kata yang sangat menghina Alisha.

Kapuoook kau pria hidung belang, tamparan dari tangan Alisha mendarat dengan keras di pipinya.

Malu juga tuh pria, dilihat para tamu yang berada di sekitar mereka.

Alisha tidak terima dihina sedemikian rupa. Pria itu pun nggak terima ditampar pipinya, padahal jelas kalimatnya penuh hinaan, pelecehan juga tuh.

Alisha nggak takut sedikitpun sama pria yang nggak tahu diri itu. Dia lawan pria itu .
anonim
Alisha memandang Ares yang juga sedang memandangnya. Alisha tahu Ares sedang tidak baik-baik saja kondisinya. Ares tampak menahan sakit, bahkan kesulitan bernapas.

Alisha dan Ares sama-sama saling mengkhawatirkan kondisi mereka.

Alisha mengkuatirkan Ares yang terlihat sakit, Ares juga mengkuatirkan keadaan Alisha yang pasti malu dengan gaun basah tampak garis tubuhnya.
anonim
Dalam kondisi tubuhnya yang kian memburuk Ares tak berdaya menghampiri Alisha untuk menolongnya.

Reki berjalan menuju Alisha. Ares hanya bisa memandang Alisha.

Arga kecewa tidak sesuai yang diharapkan. Ares tidak menghampiri Alisha sendiri, tapi menyuruh Reki untuk melindungi.

Arga melihat kondisi Ares yang tampak buruk, namun perhatiannya tetap tertuju kepada Alisha.
Oma Gavin
nah kan kalau saling jujur dan terbuka kan lebih enak sekarang baik" kalian berdua turunin ego masing" saling melengkapi saling percaya dan Inga musuh terbesar kalian arga yg pasti tidak akan menyerah setelah tau hubungan kalian berdua
Sri Kadek
lanjut
Septi Wijaya
bapak Ares, bagaimana tanggapan anda? atas kehamilan istri anda
Eka Burjo
terimakasih update nya, oke lanjut 👍👍
+1
noted🌚
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak... Ceritanya makin seru Kak 😁😁😁🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!