Ares Sudibyo, pewaris keluarga kaya, tidak pernah percaya pada perempuan. Sejak ibunya meninggalkan ayahnya demi pria yang lebih kaya, ditambah pengkhianatan yang dialami pamannya dan dirinya sendiri, Ares memilih menjauh dari pernikahan.
Namun, pertemuannya dengan Alisha Prameswari secara tidak sengaja mengubah sesuatu dalam dirinya. Aroma tubuh Alisha justru membuatnya penasaran karena tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan, sensasi yang tak pernah ia rasakan dari perempuan lain.
Ketika mengetahui Alisha membutuhkan biaya pengobatan untuk adiknya, Ares menawarkan sebuah kontrak: menanggung seluruh biaya pengobatan, dengan syarat Alisha bersedia memenuhi kebutuhan biologisnya. Setiap kali bersama Ares, Alisha harus menutup mata, sebuah aturan yang tak pernah dijelaskan.
Ares yakin hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Namun ketika ketergantungan mulai tumbuh, sanggupkah ia melepaskan Alisha yang memilih mengakhiri kontrak dan mencari pendamping baru dalam hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Seseorang Sedang Mencarimu
Reki membuka pintu ruang meeting. Semua kepala langsung menoleh. Ares masuk beberapa langkah kemudian.
Seketika suasana ruangan berubah. Percakapan kecil yang sebelumnya terdengar langsung terhenti.
Ares berjalan menuju ujung meja panjang itu dan langsung mengambil tempat di kursi utama.
Di sisi kanan dan kirinya duduk beberapa staf pria yang bertugas mempresentasikan laporan. Sementara para staf perempuan memilih tempat di sekitar ujung meja yang berseberangan dengan Ares, sejauh mungkin dari posisinya.
Bukan karena ada aturan tertulis. Semua orang di perusahaan sudah tahu alasannya.
Jika harus menghadiri meeting bersama Ares, jangan memakai parfum yang terlalu menyengat.
Semakin jauh dari Ares, semakin kecil kemungkinan aroma parfum mengganggunya.
Tak seorang pun ingin menjadi penyebab meeting berhenti hanya karena Ares tiba-tiba tidak tahan dengan aroma tubuh seseorang.
Ares duduk. “Mulai.”
Reki membuka dokumen di tabletnya. Rapat berjalan seperti biasa. Sampai sebuah laporan ditampilkan di layar.
Ares menatap angka-angka itu beberapa detik. “Ini salah.”
Staf yang bertanggung jawab langsung menegakkan punggung.
“Maaf, Tuan. Saya akan—”
“Bukan cuma bagian itu.” Ares menunjuk layar. “Proyeksi kuartal ketiga juga pakai data lama.”
Wajah pria itu langsung pucat.
Biasanya pada titik seperti ini, suara bentakan Ares sudah terdengar. Kadang sebuah berkas bahkan melayang ke atas meja.
Namun kali ini Ares hanya menyandarkan punggungnya. “Perbaiki.”
Staf itu sempat terdiam. “Tuan?”
“Revisi semuanya. Tiga jam.”
Reki yang berdiri di samping layar ikut mengangkat alis.
Tiga jam?
Biasanya Ares hanya memberikan waktu satu jam.
Ares melanjutkan, “Kalo masih salah, kita bahas lagi.”
Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Tidak perlu. Semua orang di ruangan sudah tahu maksudnya.
Beberapa staf menarik napas lega, meski tidak berani terlalu menunjukkannya.
Namun rasa lega itu tidak berlangsung lama. Tiga jam justru terasa seperti ujian yang lebih berat.
Reki memerhatikan atasannya dari samping. Ada yang berbeda. Ares masih dingin. Masih tegas. Tetapi sejak tadi tidak ada satu pun suara meninggi.
Bahkan ketika salah satu staf kembali menunjukkan angka yang keliru, Ares hanya meminta bagian itu diperiksa ulang.
Reki tanpa sengaja memerhatikan kerah kemeja Ares. Ada sedikit kemerahan di dekat leher yang nyaris tertutup kerah.
Reki mengedip. Ia melihat lagi. Sedikit. Sangat sedikit. Namun cukup membuat sudut bibirnya hampir terangkat.
"Jangan-jangan..." Reki segera menundukkan wajah agar ekspresinya tidak terbaca. "Pantas."
Ia kembali menatap layar. Selama ini Ares bisa kehilangan kesabaran hanya karena laporan terlambat beberapa menit. Hari ini, beberapa kesalahan berlalu tanpa satu pun berkas terbang.
Ada sesuatu yang berubah. Dan Reki punya dugaan yang sangat kuat mengenai penyebabnya.
“Lanjutkan,” ujar Ares.
Reki segera kembali fokus pada meeting. Para staf kembali membuka laptop masing-masing.
Tidak ada yang berani bersantai. Kelonggaran Ares pagi ini memang membuat mereka bernapas sedikit lebih lega. Tetapi justru karena itulah mereka tahu satu hal.
Kalau sampai tiga jam diberikan dan hasilnya masih berantakan, mereka tidak ingin tahu apa yang akan terjadi setelahnya.
Ares melirik jam tangannya. “Waktu kalian sudah berjalan.”
Jari-jari para staf langsung bergerak lebih cepat di atas keyboard.
***
Sementara itu, di perusahaan tempat Alisha bekerja...
Staf yang mendampingi Arga menurunkan ponselnya. “Maaf, Pak. Bu Alisha hari ini izin gak masuk.”
Arga yang sedang membolak-balik dokumen berhenti. “Sakit?”
“Iya, Pak," jawab staf itu. "Katanya gak enak badan.”
Arga mengangguk pelan. “Cukup parah?”
“Sepertinya enggak. Beliau hanya diminta beristirahat.”
“Begitu.” Arga kembali menatap dokumen di depannya. Namun kali ini ia tidak langsung membacanya. Jarinya mengetuk permukaan meja satu kali. Kemudian berhenti.
Dimas yang duduk di sebelahnya memerhatikan dari sudut mata.
“Kalo ada bagian yang perlu dikonfirmasi, saya bisa hubungi Bu Alisha lewat pesan,” ujar staf itu.
Arga mengangkat wajah. “Nggak perlu. Kalo dia sedang sakit, biarkan istirahat.”
Nada suara Arga terdengar wajar. Terlalu wajar. “Kalau begitu kita lanjutkan saja.”
Staf tersebut mengangguk dan kembali menjelaskan beberapa poin kerja sama.
Arga mendengarkan. Setidaknya tubuhnya berada di ruang meeting, tetapi pikirannya sudah berada di tempat lain.
Kurang enak badan.
Kemarin perempuan itu masih terlihat baik-baik saja. Bahkan sempat berjalan tergesa ketika menghindarinya.
Setelah meeting selesai, mereka masuk ke mobil.
Setelah memasang sabuk pengaman, Arga menyandarkan punggung. “Dimas.”
“Ya?”
“Nanti kirimkan data kontak Bu Alisha yang dipakai untuk urusan kerjaan.”
Dimas menoleh. “Nomor kantornya?”
“Yang bisa dipakai untuk menghubunginya mengenai kerja sama.”
Dimas mengangguk. “Baik.”
Dimas baru membuka laptop ketika Arga kembali bertanya, “Kamu tau dia tinggal di mana?”
Dimas berhenti mengetik. "Bu Alisha?"
Arga menatap ke luar jendela. “Siapa lagi?”
“Saya cuma tau data yang berhubungan sama kerjaan.”
Arga mengalihkan pandangan. “Cari tau.”
Dimas terdiam sebentar. “Untuk urusan kerja sama?”
Tatapan Arga langsung beralih kepadanya.
Dimas buru-buru kembali menatap laptop. “Baik.”
Namun beberapa detik kemudian Arga berkata, “Jangan langgar privasinya. Aku cuma mau tau, apa ada cara yang pantas untuk menyampaikan dokumen kalo memang dibutuhkan.”
Dimas mengangguk. “Dimengerti.”
Arga tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia tahu dirinya sedang mencari alasan.
Dan ia juga tahu, semakin ia mencoba menyangkalnya, semakin jelas rasa penasarannya terhadap perempuan itu.
Mobil mulai bergerak. Arga menyandarkan kepalanya. Ia tidak tahu satu hal. Alamat yang ingin dicarinya memang ada.
Tetapi perempuan yang ingin ditemuinya tidak sedang berada di sana.
Alisha justru sedang berada di rumah pria yang sejak awal sudah memperingatkannya untuk menjauhi Arga.
Dan jika Arga terus mencari jalan untuk mendekatinya, cepat atau lambat, jalan mereka akan kembali bertemu.
Masalahnya, kali ini Ares mungkin tidak akan tinggal diam.
...✨“Rasa penasaran bisa membuat seseorang mencari tahu lebih banyak, tetapi ketika rasa ingin memiliki mulai mengabaikan batas orang lain, perhatian perlahan berubah menjadi ancaman.”✨...
.
To be continued
Raka pengertian, kakaknya di suruh sering-sering tidur di rumah, tidak perlu nungguin dirinya.
Alisha jadi bisa punya waktu untuk suaminya, kalau tidak bisa nungguin Raka. Tidak harus cari alasan kalau Raka tanya-tanya.
Alisha setelah sarapan pergi ke rumah sakit.
Raka sudah dipindahkan ke ruang lain, masih di lantai yang sama.
Ares tetap memikirkan kenyamanan Raka dan Alisha dengan memindahkan ruang rawat serta ada sofa.
Pak Darto pengurus rumah memberikan sebuah kartu akses untuk masuk rumah kepada Alisha. Dan memberi tahu Alisha kalau pakaian sudah disiapkan di lemari, termasuk perlengkapan mandi, dan makeup atas perintah Ares.
Ares baik sekali. Alisha juga disediakan sopir untuk mengantarnya pergi. Tapi Alisha memilih naik ojek online.
Ares juga menuruti kemauan Alisha untuk tidak memindahkan adiknya ke kamar perawatan VIP.
Ares memberikan surat pernikahan mereka setelah mendengar penjelasan Alisha kenapa sampai minta surat itu.
Ares tak lupa mengelupas foto dirinya terlebih dahulu, sebelum memberikan surat itu kepada Alisha.
Sampai segitunya, biar Alisha benar-benar nggak mengenal wajahnya.
kalo iya, itu sangat berbahaya, dalam kondisi tertentu, dia bisa berbuat nekat....
semoga Alisa dan Raka masih dalam pengawasan orang-orangnya Ares
cukup mantan mu si Reni yg ribet
kamu jangan ikutan res
Semangat Kak Nana.. Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
kacau ini orang 🤣🤣
takut ga bisa tanggung jawab sama tatapan mu.
pengecut dia takut kalah sama rasa bersalah nya🫣😔