Anaxa Daemyn Elrad, seorang mahasiswa psikologi, mulai menerima amplop cokelat berisi laporan penelitian yang menggambarkan kehidupan, kebiasaan, bahkan perilaku pribadinya secara terperinci.
Awalnya dia menganggapnya sebagai kebetulan. Namun, semakin banyak laporan yang muncul, semakin sulit baginya menyangkal satu kenyataan: seseorang sedang mengamati dirinya.
Di balik kehidupan kampus yang tampak biasa, tersembunyi sebuah proyek penelitian bernama EVA-213.
Siapa yang mengawasinya? Apa tujuan penelitian tersebut? Dan sejak kapan hidup Anaxa bukan lagi sepenuhnya miliknya?
Bagaimana jika seluruh hidupmu ternyata hanyalah data bagi seseorang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sara Zefa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKHIRNYA PUNYA KELOMPOK
"Eehh yeah. Terimakasih bu. Anaxa dengan cepat kembali ke tempat duduknya. Teman-teman nya banyak bersorak untuknya. Namun Anaxa hanya dapat membalas dengan garukan kikuk di belakang lehernya.
Waktu berlalu. Sudah memasuki fokus untuk belajar dan mengajar. Aglaea mulai mempresentasikan PowerPoint nya dan anak sekelasnya pada mencatat di buku binder, ponsel, bahkan laptop yang diletakkan didepan meja. Anaxa memilih mencorat-coret bebas di buku bindernya.
Aglaea menjelaskan tentang bobot penilaian untuk mata kuliah klinis ini. UTS, UAS, Tugas final secara berkelompok memiliki bobotnya masing-masing. Anaxa hendak berdiri untuk membicarakan permasalahan kelompoknya. Tadinya dia ingin mengerjakan secara mandiri seperti semester-semester sebelumnya.
"Ya, Anaxa?" Sambut Aglaea dengan senyum manisnya. "Apakah kamu ingin berdiskusi tentang kelompok tugas?"
Sekujur tubuh Anaxa langsung berhenti bergerak. Matanya agak melotot. Sama sekali tak menyangka jawaban dari dosennya.
"Tapi bu... Saya lebih nyaman kalau..."
"Iya saya tahu kamu lebih nyaman mengerjakan nya sendiri. Tapi sampai kapan? Bukan nya dengan mengerjakannya secara berkelompok, kamu dapat belajar team work, manajemen waktu, menyamakan pendapat, dan menjaga semua anggota kelompok untuk ikut berkontribusi?" Aglaea tersenyum sesudahnya. Lalu..." Kamu pasti bisa. Jika ada kesulitan, kamu bisa bertanya ke teman-teman mu atau bertanya kepada saya."
"Baik bu. " Wajah Anaxa menunduk. Dia telah kalah dari debat. Dan mau tak mau, dia mengiyakan permintaan dosennya. Berjalan gontai ke kursinya kembali.
Dan yang tak Anaxa duga, sudah ada beberapa murid yang berdiri tegak tepat di sekeliling kursinya. Anaxa hanya bisa menutup matanya dan refleks memijat kepalanya yang terasa pusing secara tiba-tiba. "Ada apa lagi ini!"
Para murid tersebut menatap Anaxa dengan sorot mata memohon. Ketika Anaxa sudah dekat kursinya, satu persatu dari mereka mulai bicara "Anaxa, bolehkah aku bergabung ke kelompok mu?" Atau "Aku juga mau gabung ke kelompok kamu. Kamu kan pintar orangnya"
Bahkan salah satu sirkel yang terkenal karena pertemanannya yang eksklusif, juga turut mengajak Anaxa untuk bergabung ke kelompok mereka.
Anaxa mengangkat kedua tangannya dengan pasrah "Ohh woah... Biar ku pikirkan."
Teman-teman Anaxa tatapan nya seketika jadi berbinar-binar penuh harapan.
"Satu. Aku tidak mau menjadi ketua kelompok. Aku terlalu malas untuk mengingat kan semua anggota untuk mengerjakan tugas."
"Noted!" Bahkan salah satu dari murid di sekeliling Anaxa mulai membuka notes dan mencatat apa yang Anaxa katakan.
"Dua. Jika ada kerja kelompok, biarlah dikerjakan di rumah ku. Biar hemat ongkos. Dan tolong bawa stok makanan agar tidak mati kering." Ucapan Anaxa mulai ngawur
"Oh siap bos, laksanakan!" Orang itu kembali mencatat dan memasang telinga terhadap omongan Anaxa selanjutnya
"Tiga. Setiap ada tugas, aku tidak mau ada keterlambatan sedikit pun. Semua bisa dicicil mulai dari hari ini" Tutup Anaxa.
Teman sekelilingnya mengangguk-angguk. Dan berakhirlah Anaxa, untuk pertama kalinya mempunyai kelompok tugas setelah bertahun-tahun menghadap dosen meminta agar tugasnya dapat dia kerjakan secara mandiri.
Nama kelompok Anaxa adalah ANAXA ASOY. Berisi 5 orang termasuk dirinya
Ada Ribka Nathania. Anaxa menilai dirinya sebagai perempuan cerewet karena sejak kali pertama bertemu, dia selalu dicecar pertanyaan dan diajak bicara meskipun hanya dibalas sesekali oleh Anaxa.
Anggota kedua bernama Dimas Prasetyo, dia orang yang dengan cepat mengambil takhta ketua kelompok dari Anaxa. Dan Dimas diam-diam kagum akan prestasi Anaxa.
Yang ketiga ada Keenan Arga. Telinga Anaxa seperti dibuat pengang oleh jokes-jokes nya yang gagal membuat Anaxa tertawa. Anaxa sama sekali tak mempan, padahal teman temannya yang lain sudah berteriak memegangi perut karena capek tertawa.
Terakhir Alya Kirana, dia gadis pendiam yang dulu nilainya selalu selalu tinggi walaupun tidak melebihi Anaxa. Dia bergabung hanya untuk belajar dari Anaxa, siapa tahu nilainya dapat meningkat.
Anaxa menuliskan nama dan nomor anggota kelompoknya di selembar kertas kemudian maju mengumpulkannya ke Aglaea. Dosen itu hanya tersentum tipis saja. Wajah Anaxa menunduk. Dan dia menyadari kalau omongan dosennya ada benarnya juga. "Makasih bu." ucapnya pelan lalu kembali ke tempat duduknya.
Kegiatan kelas di pagi hari pun berlanjut. Dan beberapa menit sebelum kelas berakhir, Aglaea memberikan tugas kelompok mencari satu studi kasus psikologi klinis, menganalisis dengan teori yang dipelajar, dan di presentasi minggu depan.
Banyak mahasiswa yang mengeluh karena awal kuliah sudah dikasih tugas presentasi. Tapi, ada juga yang bersemangat untuk mengerjakan yaitu Ribka Nathania. Dia segera menggandeng tangan Anaxa dan menyeretnya menuju perpustakaan.
"Ayo kita kerjain tugasnya di perpustakaan. Masih ada beberapa jam lagi sampai Kelas kedua mulai jam 1:20." Kata Ribka dengan penuh semangat.
"Ya... Yeah" Anaxa pasrah saja. Tak sanggup melawan ketika tubuhnya diseret memasuki perpustakaan. Sementara Dimas, Keenan, dan Alya mengikutinya dari belakang.
"Mendadak dia jadi seleb ya." Ucap Keenan sambil cengengesan.
"Dia memang seleb di kampus ini. Gue liat Wall of Fame, prestasinya gak main-main bro!" Jawab Dimas. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa takjub dari suaranya
"Cuma kurang bergaul aja sih..." Alya menambahkan.
Mereka berempat tertawa lepas. Sedangkan Anaxa masih terseret-seret oleh Ribka.
Sesampainya di perpustakaan, Anaxa langsung duduk di tempat yang bisa menampung sekaligus lima orang. Anaxa menaruh tasnya di dibawah dekat kursi
Dimas langsung buka laptop.
Ribka sibuk membagi makanan.
Keenan mulai ngelawak.
Alya sudah membuka jurnal.
Sedangkan Anaxa juga mengambil laptop kemudian membuat outline tugas
Anaxa membagi tugas setelah mengira-ngira kemampuan anggota kelompoknya bisa mengerjakan bagian mana saja. Sedangkan Anaxa kebagian tugas yang jauh lebih sulit karena Anaxa yang paling pintar disana.
"Oke. Saatnya mengerjakan tugas! Gue yang cari jurnal. Ribka yang buat slide presentasi. Keenan tolong cariin literatur pendukungnya dong jangan cengengesan terus. Alya tolong susun teori yang relevan. Sedangkan Anaxa, menganalisis studi kasus dan menyusun kerangka analisis."
Semua langsung setuju karena bagian Anaxa yang paling sulit. Dengan cepat mereka langsung mulai kerja, sedangkan Anaxa pamit ke rak jurnal untuk mencari-cari studi kasus.
Beberapa menit kemudian, Anaxa seperti tenggelam ke dunianya sendiri. Sibuk membaca studi kasus. Belum menemukan yang benar-benar cocok, maka Anaxa membaca studi kasus lain.
Sampai akhirnya, Anaxa membuka lembaran studi kasus. Pupil matanya langsung membesar ketakutan. "Format dalam studi kasus ini... Kenapa mirip dengan laporan yang meneror ku? " Pikir Anaxa dengan keras.
Anaxa tidak sadar berapa lama kah dirinya berdiri disana sampai Ribka menghampiri dirinya dan merebut buku yang dipegang oleh Anaxa. Ribka membaca judul bukunya "Catatan Observasi Longitudinal Perubahan Perilaku pada Mahasiswa Dewasa Awal..."
"EH! KOK INI BAGUS YA? Ayok pakai ini aja untuk kerjain tugas kita."
Ribka berkata, "Serius deh. Format observasinya rapi banget. Tinggal kita modifikasi dikit buat analisis kasus. Pakai ini aja, ya?" Mata Ribka seolah-olah berbinar.
"Jangan..." Lidah Anaxa rasanya kelu
Ribka bengong "Kenapa? "
Anaxa hanya bisa terdiam tidak tahu harus berkata apa. Dia sendiri juga tidak tahu harus memakai alasan apa agar bisa memakai buku referensi yang lain.
Keenan ikut nimbrung. "Kalau Anaxa aja yang bilang bagus, berarti kita aman."
Balas Dimas. "Gue setuju. Biar hemat waktu."
Sekarang Anaxa berada dalam posisi sulit.
Dia ingin menolak.
Tapi...
Dia tidak punya alasan logis.
Akhirnya dengan terpaksa, Anaxa mengiyakan. "Iya. Buku ini bagus untuk tugas."
Keenan langsung bersuka cita dan mengangkat kedua tangan nya ke langit "Selamat datang nilai bagus!"
"Yeah... Yeah.." Ucap Anaxa. Tersenyum canggung. Dia terpaksa.