Revano, seorang penulis, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Vian-tokoh yang ia ciptakan sendiri.
Sialnya, tubuh itu rapuh, keluarganya berantakan, dan hidupnya jauh berbeda dengan apa yang ia tulis.
Revano mencoba memperbaiki semuanya. Namun semakin lama ia hidup sebagai Vian, semakin banyak rahasia yang terkuak.
Hingga perlahan, satu kebenaran menghantamnya:
Vian bukan sekadar karakter.
Dan mungkin... ia bahkan tidak benar-benar memasuki raga Vian.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dopamine girl's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Suasana kantin menyambut Vian dan Leo. Aroma minyak dan gorengan menguar menyatu dengan keramaian.
Leo merangkul tubuh Vian dengan akrab . Sepanjang perjalanan banyak mata yang memperhatikan. Namun seperti biasa mereka tidak peduli.
"Woyy!!"seru Leo tiba-tiba. Mengalihkan perhatian sebagian pengunjung. Leo menyeret Vian menuju ke arah beberapa pemuda di sana yang asik dengan permainan di gawai nya. "Hei bro !! Main apa nihh join dong" ucapnya akrab.
Vian yang sedikit gugup mengikuti Leo seperti anak itik. Dia diam patuh saat Leo asik berkomunikasi dengan mereka. " Lo kemana aja selama seminggu?" Tanya sala satu dari mereka.
"Biasalah ,gue mah sibuk . Gak seperti Lo pada" ejeknya.
"Heh anak anj, sibuk apa Lo !! , gue lihat-lihat keseharian Lo cuman nyolong mangga tetangga" timpal sala satu nya." Heh .. itu yang kalian lihat. Itu usaha bro jangan ubah katanya jadi nyolong , jadi kesan nya terlihat jahat"
" Apa bedanya dodol" ucapnya , mereka tertawa serempak menyisakan Vian yang tersenyum kikuk. Tak tau harus berekspresi apa. Leo yang menyadari itu . Merangkul Vian dengan akrab " Lo pada tau gak anak nih?" Tanya nya pada mereka.
"Ya tau lah , satu SMP tau dia " ucap mereka. Leo mengangguk "Vian kenalin diri Lo gihh" ucap Leo.
"Emm... Hai, aku Alvian Dharmawangsa,salam kenal" ucapnya gugup. Ia tersenyum berusaha tetap tenang . Walaupun detak jantungnya berdetak lebih cepat. Apalagi saat para pemuda di depan nya melihat nya dengan intens.
"Gimana menurut Lo pada tentang Vian?" Tanya Leo tiba-tiba. Mereka makin menatap intens membuat Vian mengalihkan pandangannya. Dia tak bisa berkontak mata lama.
"Dia terlihat culun dan ... Payah "
" Hmm iya , dia juga kecil ke kurang nutrisi gitu . Dan dia terlihat seperti mayat dari pada murid"
Leo menepuk kasar kepala ke 2 pemuda itu. Dia melotot dengan sorot penuh ancaman"jangan gitu ,gak sopan " sedangkan Vian . Dia tersenyum walaupun sedikit sakit tapi itulah kenyataan.
"Hehe maafinn kami ya " ucap sala satu kepada Vian. Vian mengangguk kecil dengan senyuman yang tak pernah luntur.
"Dia beda dari rumor, kaya anak baik-baik dan gak keliatan manja" ucapnya sedikit waras.
"Nahh Lo bener Al . Dia memang anak baik-baik tapi dia mungkin gak sengaja nyinggung mereka " ucapnya . Altan ,atau kerap di panggil Al mengangguk. Menatap Vian dengan prihatin " sabar ya " ucapnya tiba-tiba.
Ke 2 pemuda di sampingnya Azka dan nio . Mengangguk membenarkan." Iya , kalau di lihat-lihat Lo emang kelihatan lemah tapi gak terlihat manja." Ucap Nio di anggukin Azka.
Leo menatap Vian. Mendekatkan diri nya dan sedikit berbisik." Hal pertama yang harus kamu lakukan saat ber adaptasi adalah berbicara – bicaralah, bicara apapun. Jika tidak siap aku akan membantu mu" ucapnya. Dengan senyuman yang mana membuat Vian nyaman.
"Lo semua gak mau inisiatif gitu kenalan sama nih bocah" ucap Leo pada mereka ber tiga. Mereka bertiga melihat satu sama lain sebelum mengangguk setuju.
" Hai gue Azka , salam kenal" dan pemuda di sampingnya "gue nio , yang ini altan " ucapnya.
Vian mengangguk ,gak tau harus berbicara apalagi.
Karena dia tipe orang introvert yang harus di tanya dulu. Dan juga tipe manusia yang susah bergaul.
" Kalian coba dekatkan diri dulu. Tanya-tanya gitu karena dia tipe orang pendiam" ucap Leo. Mereka bertiga mengangguk kembali .
"Lo beneran keluarga Dharmawangsa ya…? " Tanya nya. Vian mengiyakan dengan senyuman yang masih sama." Tapi kenapa Lo gak pernah di kenal publik ?" Tanya nya tiba-tiba dan mendapati tepukan keras dari Azka.
"Maaf ,si Nio emang orang nya ceplas-ceplos"
Vian terlihat tenang,sama sekali tidak terusik dengan perkataan nio" gak papa kok, itu juga bukan informasi yang sensitif. Sebenarnya dulu aku di rawat di luar negri. Karena itu aku jarang pulang ke negara ini" ucapnya .dan tersenyum kecil.
" Kamu sakit apa kalau boleh tau?" Ucap Alta tiba-tiba. Vian terdiam memikirkan apa yang harus di jawab" hehe rahasia " aslinya dia juga gak tau dia sakit apa.
"Sekarang gimana , udah sembuh " ucap nio. " Ya , gitu dehh" ucap Vian . Mereka mengangguk. Seolah paham bahwa itu tidak boleh di gali kembali
" Sekarang giliran kamu yang bertanya.Kamu bisa tanya kita apa aja?" Alta melihat Vian sebelum mengangguk kecil dengan perkataan Azka. Vian terlihat kebingungan untuk beberapa waktu . Namun mereka dengan sabar menunggu nya.
"Kalian udah kenal dekat ya sama Leo?" Tanya nya.
" Dari sekian banyak nya orang kenapa harus si Leo!!" Ucap Nio tiba-tiba. Azka menyikut . Dengan mata yang merotasi malas."gak papa dia emang orang nya dramantisan."
" Iya kita kenal , dari TK malah " ucap Azka. Leo hanya diam mengamati dengan tangan yang tidak segan membawa beberapa cemilan milik mereka" heh! , jangan mencuri " ucapnya dan di hiraukan oleh nya.
"Wahh , lama banget . Kalian pasti akrab "
Mereka tertawa serempak "yoi , dulu pas SD kita di kenal sebagai 4 serangkai. Tapi sekarang si Leo menghianati kami" ucap Nio dramatis.
"Najis !!" Hardik Leo. Mereka tertawa kembali kali ini Vian juga tertawa kecil melihat tingkah mereka.
Azka menggeleng kecil melihat interaksi para sahabatnya. " Iya , tetapi karena masing-masing dari kami punya kesibukan. Kadang ingin dekat seperti ini juga susah. Contohnya si Leo. Dia selalu beralasan ini lah itu lah dan banyak lagi bacotnya." Ucap Azka minimpali.
Leo merotasi matanya malas. Mengalihkan pandangannya pada Vian sebelum mengedipkan sebelah mata nya.
***
Setelah menyelesaikan waktu makannya di kantin, dan sedikit berbincang dengan teman Leo, Vian memutuskan untuk kembali ke kelas bersama Leo. Suara riuh para siswa masih terdengar samar di belakangnya, bercampur dengan aroma makanan yang belum sepenuhnya hilang dari udara.
Ia berjalan pelan, menatap lantai koridor yang memantulkan cahaya matahari dari jendela. Di sampingnya, Leo melangkah tenang dengan kedua tangan di dalam saku.
“Lo lihatkan?, kadang manusia lebih sering menilai seseorang berdasarkan ucapan yang beredar, entah benar atau salah, mereka gak peduli,” ucap Leo tiba-tiba.
" jadi karena itu Lo harus membantah dengan pembuktian yang nyata. tunjukan bahwa rumor itu salah dengan perbuatan bukan perkataan"
Vian melirik sekilas lalu menunduk lagi. “Kayak mereka... Mereka berbeda,” gumamnya pelan, tapi cukup jelas untuk didengar Leo.
Leo tersenyum tipis, merangkul Vian dengan akrab. “Lo ngerti kan sekarang? Mereka bukan benci. Mereka cuma menilai lo dari apa yang mereka dengar. Kalau lo tetep nunjukin siapa lo sebenarnya, lama-lama mereka bakal ngerti mana yang bener, mana yang salah.”
Vian mengangguk kecil, membenarkan kata-kata Leo dalam diam.
“Makasih ya, entah kenapa kamu mau repot-repot bantu aku” ucapnya
Dia menghimpit leher Vian semakin dekat , membuat Vian sedikit kesusahan “ yahh jangan gitu dong , kita ketempat selanjutnya yok . “
Vian menepuk keras lengan Leo. Leo yang mengerti tersenyum “maaf” ucapnya cengengesan.
“Baiklah kita ke misi no 2 dalam pelajaran adaptasi ala Leo !!” Teriaknya . Ia mengacungkan tangan nya yang terkepal di udara. Dengan penuh semangat yang membara.
“lets go…!!!”