NovelToon NovelToon
Milik Sang Iblis Sisilia

Milik Sang Iblis Sisilia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / CEO / Tamat
Popularitas:46
Nilai: 5
Nama Author: Kakamy

Andrea hanya gadis yatim piatu yang hidup menumpang di rumah bibinya, dijadikan pembantu, dihina, dan diajari untuk tidak berharap apa pun. Sampai suatu malam di Catania, tatapan seorang pria mengubah segalanya.

Fabrizio Lutero, Don mafia Sisilia yang dijuluki Sang Iblis, bisa membuat musuhnya memohon mati hanya dengan satu perintah. Tidak ada yang berani menolak, tidak ada yang berani melawan. Namun di depan gadis kecil bermata ketakutan itu, pria paling dingin di Sisilia justru kehilangan kendali.

Dia menginginkannya. Dia akan menjaganya. Dan siapa pun yang berani menyentuhnya akan menyesal pernah dilahirkan.

Tapi dunia Fabrizio berlumuran darah, penuh pengkhianat, dan musuh yang mengintai dari balik bayang-bayang. Bisakah Andrea bertahan di sisi pria yang memilikinya sepenuhnya, dan menjadi ratu di dunia yang tak kenal ampun?

Posesif. Berbahaya. Panas. Dan tak ada jalan keluar.

"Dia milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kakamy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3

Aku pulang dari rumah Sara dengan perasaan segar kembali. Aku tidak menceritakan kejadian dengan sepupuku Richard. Aku malu. Aku tahu bukan aku yang salah, tapi aku marah dan malu pada diriku sendiri karena tidak berani melawan. Sampai di rumah, hari hampir pukul 18.00. Aku bergegas ke dapur menyiapkan makan malam. Makan malam kami biasanya ringan, karena semua orang di rumah itu rajin ke pusat kebugaran dan ingin menjaga bentuk tubuh. Jadi aku selalu membuat sup bergizi. Aku tidak ingin melihat wajah siapa pun. Selesai membuat sup, aku makan sedikit lalu naik ke kamar.

Hari-hari berlalu tenang, sampai suatu hari sepupuku pulang dengan riang.

"Mama, Mama..."

"Ada apa, Nak? Kenapa teriak-teriak?"

"Ric (Ricardo Solano) akhirnya menerima ajakanku! Besok dia datang makan malam di sini!"

"Aduh, Sayangku, selamat! Mama sudah tahu kamu pasti bisa memancing ikan kakap itu."

Bagi mereka itu kabar bahagia, dan bagiku berarti kerja tambahan, pikirku.

"Kita butuh baju baru dan makan malam yang istimewa."

"Tentu, Sayangku."

"Suruh anak tidak berguna itu membersihkan peralatan makan dan memasak seolah hidupnya bergantung pada itu."

Aku kan belum bilang apa-apa...

Ricardo Solano

Namaku Ricardo Solano, umurku 30 tahun. Aku dikenal sebagai playboy Catania. Aku berkencan dengan banyak perempuan, dan aku biasa mendapatkan apa pun yang kuinginkan, kapan pun aku mau. Sudah enam bulan aku berpacaran dengan Ester. Dia lumayan menggoda, tapi aku tidak menginginkan hubungan serius dengannya.

Ayahku bersikeras aku harus menikah dan memberiku tenggat satu tahun. Kalau tidak, dia akan memotong semua fasilitasku. Aku akui situasi itu membuatku tidak nyaman, tapi kubilang padanya aku akan menikah. Aku akan mengulur waktu si tua itu selama mungkin. Bayangkan, playboy Catania menikah, hahaha. Maaf, Ayah, tapi itu tidak akan terjadi.

Tapi ayahku bukan orang bodoh. Dia pasti menyelidiki apakah aku menepati janji. Untuk sementara, aku akan memakai si Ester yang menggoda itu untuk memuaskan ego ayahku. Dia terus-terusan merengek minta aku makan malam di rumahnya. Aku tidak pernah mau, karena tahu itu artinya meresmikan hubungan kami. Tapi setelah ancaman ayahku, aku terpaksa melakukan pengorbanan ini, hahaha.

Ester dan Pilar pulang dari mal dengan banyak kantong belanja. Pilar menghampiriku dan menyerahkan salah satu kantong.

"Ini untukmu."

"Untukku, Bi? Terima kasih banyak!"

Aku membuka kantong itu dengan gembira, dan saat mengeluarkan isinya, aku ternganga.

"Kamu kira aku akan membiarkan kamu melayani makan malam besok dengan kain lusuh yang kamu sebut pakaian itu? Tidak mungkin."

Mereka bahkan tidak menunggu jawabanku. Keduanya pergi dengan riang membawa baju-baju yang baru mereka beli.

Seragam pelayan! Yang benar saja?! Aku sakit hati, tapi tidak berani berkata apa-apa. Dengan lesu aku naik ke kamar.

Keesokan paginya aku bangun pagi dan meregangkan badan di kasur, ingin tidur sebentar lagi. Tapi aku langsung ingat makan malam terkutuk itu. Aku menarik napas dalam-dalam dan berpikir,

Semangat, Andrea. Harimu akan panjang.

Aku membersihkan diri, memakai baju santai, dan turun menyiapkan sarapan. Setelah sarapan siap, aku langsung membereskan rumah dan menanyakan menu makan malam pada Bibi.

"Begini, untuk hidangan utama aku mau spaghetti carbonara. Pendampingnya keju, daging olahan, stik wortel dan seledri, kacang-kacangan, roti panggang kecil, antipasti, dan bruschetta, tentu saja ditambah chardonnay. Aku mau semuanya siap pukul 18.30. Makan malam disajikan pukul 19.00, dan kamu harus sudah siap melayani kami."

Ya ampun, apa aku sanggup mengerjakan semua ini? Karena tidak punya pilihan, aku langsung turun tangan, secara harfiah.

Setelah semuanya siap, aku melirik jam dan melihat sudah pukul 18.20.

Astaga, pas sekali. Aku naik ke kamar untuk mandi, meletakkan seragam sialan itu di kasur, lalu berlari ke kamar mandi.

Keluar dari kamar mandi, aku menatap seragam biru dongker itu. Tidak ada pilihan lain, jadi aku mengenakannya dan bercermin. Seragam itu terdiri dari blus putih, rok biru dongker yang makin menyempit sampai ke lutut, dan rompi yang juga biru dongker. Aku menyanggul rambutku, memasang jaring rambut agar sanggulnya rapi, menarik napas dalam-dalam, lalu turun.

Aku mulai menata meja di ruang makan, sementara bibi dan sepupuku bersemangat menunggu di ruang tamu, menanti si hartawan itu.

Bel pintu berbunyi. Mereka langsung melompat-lompat kegirangan. Aku mengambil posisi dan menunggu pertunjukan dimulai.

"Apa lagi yang kamu tunggu, dasar tidak berguna? Buka pintunya!"

Aku memutar bola mata dan berjalan ke pintu. Sepupuku merapikan gaunnya, menghapus kerutan yang tidak kelihatan, sementara bibiku mencubit pipinya supaya merona. Menurutku itu berlebihan.

Kubuka pintu dan berhadapan dengan seorang pria berkulit putih, tingginya kira-kira 1,90 meter, bermata cokelat terang, bertubuh agak kekar, rambut cokelatnya disisir ke belakang. Sejujurnya, menurutku dia tidak setampan itu.

"Selamat malam, Tuan Ricardo. Silakan masuk. Bibi dan sepupu saya menunggu Anda di ruang tamu."

Saat itu Ricardo menatapku dari atas ke bawah, menggigit bibir, lalu melangkah masuk. Hawa dingin merayap di tulang punggungku. Aku menutup pintu dan menyusulnya masuk.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!