Hakim Agung Damon Bradfort dikenal dingin, tak bisa disuap, dan tak punya satu pun alasan untuk mempercayai siapa pun. Selama lima tahun ia membongkar jaring hukum yang melindungi Cosa Nostra, tanpa seorang pun di Roma tahu darah siapa yang mengalir di nadinya.
Felipa Bianchi, 25 tahun, mahasiswi hukum yang menanggung adik kecilnya dan ayah yang kejam, butuh uang dan jalan keluar. Tawaran itu datang dari tempat yang paling ia takuti: magang di Mahkamah Agung, dengan satu syarat tak tertulis. Ia harus mengawasi sang hakim.
Hari pertamanya berakhir dengan bentakan dan tumpukan fotokopi. Namun sang hakim yang menyebalkan itu ternyata adil, teliti, dan sesekali menjadi satu-satunya orang yang melihat bahwa Felipa tidak baik-baik saja. Semakin dekat Felipa dengan pria yang seharusnya ia khianati, semakin sulit ia membedakan tugas dari perasaan.
Ketika kebenaran terbongkar, Damon harus memilih: hukum yang selama ini ia pegang, atau perempuan yang tak bisa lagi ia lepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 - Tempat Harga Diriku Berdarah
Felipa
Aku menggeser dudukku di jok, mencoba membiasakan diri dengan jarak sedekat ini. Mobil ini terasa terlalu sempit. Seharusnya aku tak menerima tumpangan ini, tapi aku harus mendekatinya.
Aroma tubuhnya ada di mana-mana.
Di jok, di AC, di ruang di antara kami. Wangi yang lembut sekaligus membekas. Kupejamkan mata sedetik, menarik napas dalam, sebelum mengalihkan perhatianku ke jendela.
Dia menyetir dengan fokus, jari-jarinya mantap di kemudi. Dia tak tampak terburu-buru, bahkan ketika hujan mulai deras.
"Rumahku agak jauh," kataku, memecah hening.
"Tidak masalah."
Suara beratnya membuatku menoleh.
Hakim Bradfort tetap menatap jalan, seakan jawaban itu cukup untuk menutup pembicaraan.
Dan mungkin memang cukup.
Masalahnya, hening yang menyusul terasa terlalu berat.
Gerimis menguat jadi hujan deras. Tetesnya menghantam atap dan kaca depan begitu keras sampai aku nyaris tak bisa melihat jalan. Damon memperlambat laju mobil, memusatkan seluruh perhatian pada jalan.
Seharusnya aku tenang.
Tapi aku tidak.
Ada sesuatu yang aneh di antara kami. Mungkin karena untuk pertama kalinya tak ada meja, tumpukan dokumen, atau tugas.
"Alamatnya, Felipa?"
Kusebutkan di mana aku tinggal dan kujelaskan rutenya dengan hati-hati.
Dia mendengarkan tanpa menyela dan menghafal informasinya. Setelah aku selesai, Damon hanya mengangguk dan kembali menatap jalan.
Tanpa satu pun pertanyaan.
Tanpa satu pun komentar.
Hanya hening.
Hujan terus menghajar kaca depan, dan wiper bergerak ke kiri dan kanan dalam irama tetap. Aku diam saja, memandangi jalanan basah lewat jendela.
Sesekali aku ingin melirik dia.
Aku tak melirik.
Aku merasa kalau mata kami bertemu lagi, keheningan di antara kami bisa membuka hal-hal yang tak satu pun dari kami siap ucapkan.
Tapi aku merasakannya.
Tatapannya.
Karena Damon Bradfort memang menatapku.
Tidak terus-menerus. Hanya sesekali, seakan sedang menimbang perlu tidaknya mengatakan sesuatu.
Pada kali pertama, aku pura-pura tak sadar.
Pada kali kedua, mata kami bertemu.
Dia menahan pandangannya beberapa detik sebelum kembali ke jalan.
Jantungku berdegup lebih cepat.
Aku merasa ada pertanyaan di mata itu.
Atau mungkin sesuatu yang ingin dia katakan.
Perlahan, hujan melemah hingga tinggal beberapa tetes yang tersebar di kaca depan. Malam sudah menguasai jalanan, membuat lampu jalan dan lampu mobil terpantul di aspal yang masih basah.
Aku mengenali jalannya dan sadar kami sudah dekat rumahku.
Aku lega.
Setelah berpuluh menit terjebak dalam hening itu, perasaan hampir sampai tujuan membawa sedikit ketenangan.
Saat itulah suaranya memecah sunyi.
"Rumahmu jauh sekali, Felipa."
Aku menoleh padanya.
Matanya tetap di jalan, tapi ekspresinya lebih serius dari tadi.
"Tidak aman pulang melewati jam kerjamu."
"Aku bisa jaga diri," jawabku.
Kali ini, dia menoleh.
Matanya bertemu mataku dan bertahan di sana beberapa detik. Ada intensitas di tatapan itu yang membuatku, sesaat, lupa jawaban yang hendak kuberikan.
"Dunia itu kejam, Felipa."
Suaranya pelan, tapi tegas.
Dia kembali menatap jalan sebelum melanjutkan.
"Terutama bagi gadis muda yang berjalan sendirian."
Sang hakim menghentikan mobil di depan rumahku.
Beberapa detik aku diam di jok, menatapnya. Lalu aku berbalik ke arahnya dan tersenyum. Senyum tulus, jenis yang lolos tanpa perlu dipikirkan.
"Terima kasih banyak atas tumpangannya, Hakim Bradfort."
Dia menatapku sekilas.
"Kamu tidak perlu berterima kasih, Felipa."
Aku melambai sekali dan membuka pintu.
Aku turun dari mobil dan bergegas ke gerbang, mencoba menghindari sisa-sisa tetes hujan. Begitu membuka pintu rumah, aku menoleh ke belakang.
Mobil itu sudah tak ada.
Damon pergi tanpa menunggu aku masuk.
Aku tak sempat memikirkannya.
"Kak Fe!"
Enzo berlari di koridor ke arahku, girang sekali.
"Lihat mainan dari Kak Henry!"
Dia mengangkat mobil-mobilan itu di depan wajahku, bangga dengan miliknya yang baru.
Aku tersenyum padanya.
"Bagus sekali, Enzo."
Dia mulai menjelaskan sesuatu tentang mobil-mobilannya, tapi perhatianku teralih saat Henry mendekat.
"Bisa kita bicara, Felipa?"
Senyumku hilang.
Kupandang dia beberapa detik sebelum menjawab:
"Kita nggak punya apa-apa untuk dibicarakan."
Suasana langsung menjadi berat.
Sebelum Henry sempat bicara, suara Ayah bergema di seisi rumah.
"Bukan begitu didikan ibumu padamu, Felipa."
Aku memejamkan mata sesaat.
Aku baru saja pulang dan sudah merasa malam ini jauh lebih panjang dari seharusnya.
"Permisi."
Aku mencoba menjauh, tapi segera sadar itu sia-sia. Ayah menyusulku di koridor.
"Kembali ke sini, Felipa."
Aku berhenti, tapi tidak langsung berbalik.
"Setidaknya perlakukan tamu Ayah dengan baik. Rumah ini milik Ayah."
Amarah naik ke dadaku. Aku berbalik dan menatapnya.
"Aku tahu betul itu. Tapi aku bukan milik Ayah hanya karena rumah ini milik Ayah. Aku berhak membuat pilihanku sendiri, dan aku nggak mau bicara dengan tamu Ayah."
Tamparan itu mendarat di wajahku.
Sesaat, semuanya hening.
Tubuhku mundur karena refleks sampai punggungku menyentuh dinding. Kuangkat tangan ke pipi, merasakan panasnya menyebar di kulit.
Tapi bukan rasa sakit fisik yang paling menghantamku.
Melainkan harga diriku.
Penghinaan karena berdiri di depan ayahku sendiri dan sadar dia lebih memilih membungkamku daripada mendengar apa yang ingin kukatakan.
Aku tak berkata apa-apa lagi.
Aku berbalik dan berjalan cepat ke kamar. Masuk, menutup pintu, dan menguncinya.
Baru saat itu kubiarkan mataku dipenuhi air mata.
Kusandarkan punggung di pintu dan bertahan di sana beberapa detik, mencoba bernapas dan menelan gumpalan yang terbentuk di tenggorokanku.