Handoko Priambodo dan Mellisa Ariani pernah saling mencintai saat masih kuliah. Namun, impian mereka kandas ketika Handoko melanjutkan studi S2 ke luar negeri, memaksa mereka berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing.
Puluhan tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di acara lamaran putra Handoko dengan putri Mellisa. Pertemuan itu membangkitkan kembali cinta lama yang seharusnya telah terkubur.
Di balik status mereka sebagai calon besan, terjalin kembali hubungan terlarang yang mengancam menghancurkan rumah tangga, melukai anak-anak mereka, dan mengoyak dua keluarga sekaligus.
Akankah mereka memilih cinta masa lalu, atau mempertahankan kebahagiaan anak-anak mereka?
Karena terkadang, **besan adalah maut**.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Pria Misterius
Hari itu, Pratiwi baru saja selesai mengajar. Setelah memastikan semua mahasiswa keluar dari kelas, ia merapikan beberapa buku dan berkas yang masih tersisa di atas meja, lalu melangkah keluar menuju ruangannya yang berada di ujung koridor.
Koridor kampus siang itu cukup ramai. Beberapa mahasiswa tampak berjalan berkelompok, sebagian lainnya sibuk dengan ponsel masing-masing. Pratiwi baru beberapa langkah meninggalkan kelas ketika tiba-tiba seorang mahasiswi yang kebetulan juga merupakan tetangganya menghampiri.
"Bu Tiwi, apa kabar?”
Pratiwi menoleh dan tersenyum. "Alhamdulillah, kabar baik. Kamu sendiri?”
"Baik, Bu.”
Mereka berjalan beriringan beberapa langkah sebelum mahasiswi itu tiba-tiba bertanya. "Bu Tiwi, kemarin Ibu makan di Resto Alam Pasundan, ya?”
Pratiwi langsung mengernyitkan dahi. "Ibu? Ia bahkan menunjuk dirinya sendiri, memastikan bahwa pertanyaan itu memang ditujukan kepadanya. “Nggak ah. Kemarin Ibu malah makan di kantin kampus. Di sini.”
"Oh, ya?” Mahasiswi itu tampak sedikit terkejut. “Soalnya saya kemarin lihat Pak Handoko makan di sana. Saya kira sama Ibu.”
Langkah Pratiwi sempat terhenti sepersekian detik. "Pak Handoko?”
"Iya, Bu. Saya lihat sendiri. Terus saya juga lihat Mas Raka makan di sana sama calon istrinya.”
"Oh...” Pratiwi kembali berjalan, berusaha terdengar biasa saja. “Kalau Pak Handoko, memang kemarin katanya ada janji makan dengan klien. Tapi beliau nggak bilang makannya di Resto Alam Pasundan.”
Ia kemudian mengangguk kecil seolah baru mengingat sesuatu. "Kalau Raka memang di sana. Sama Kania. Mereka habis foto prewedding.”
" Oh gitu, Bu. Makanya saya kira semuanya makan bareng.”
"Nggak. Sepertinya beda meja atau beda urusan.”
"Oh, begitu.” Mahasiswi itu kemudian melihat jam di ponselnya. "Ya sudah, Bu. Saya pulang dulu.”
"Iya, Nak. Hati-hati di jalan!”
"Iya, Bu. Assalamualaikum.”
"Wa'alaikumsalam.”
Pratiwi melanjutkan langkahnya menuju ruangannya. Namun, baru beberapa meter berjalan, pikirannya mulai terusik oleh percakapan tadi.
*Mas Handoko makan di Resto Alam Pasundan?*
Ia mengernyitkan dahi. *Kenapa semalam dia nggak bilang, ya?*
Pratiwi teringat percakapan mereka semalam. Raka sempat bercerita bahwa ia bertemu Mellisa di restoran itu. Bahkan, Handoko sendiri mengatakan bahwa ia sedang makan dengan seorang teman lama.
Pratiwi berhenti di depan pintu ruangannya.
*Atau jangan-jangan...*
Pikiran itu muncul begitu saja. Jangan-jangan teman lama yang dimaksud Handoko adalah Mellisa.
Namun, Pratiwi segera menggelengkan kepala.
"Tapi nggak mungkin, ah." Ia buru-buru menepis prasangka itu.
Bukankah Raka sendiri mengatakan bahwa ia bertemu Mellisa di sana? Dan Mellisa datang bersama seorang temannya. Setidaknya begitulah yang ia pahami dari cerita Raka.
Lagipula, Handoko tidak pernah mengatakan bahwa ia bertemu Mellisa. Ia hanya bilang makan dengan seorang teman lama.
Pratiwi mengembuskan napas pelan, lalu membuka pintu ruangannya. "Ah, gak mungkin sama dia, kalau sama dia pasti kan ngomong." Mellisa tersenyum, merasa lucu.
***
Sore itu, seperti biasa, Pratiwi kembali menjalankan praktiknya. Ruang konsultasinya terasa lebih ramai dari biasanya karena sebagian besar klien yang datang adalah remaja. Ada yang datang dengan wajah murung, ada yang lebih banyak diam, dan beberapa lainnya tampak gelisah sejak pertama kali duduk di kursi.
Pratiwi menghadapi mereka dengan sabar. Ia tidak pernah terburu-buru menggali masalah yang mereka bawa. Baginya, membuat seorang remaja merasa aman dan didengarkan jauh lebih penting sebelum mengajak mereka berbicara lebih dalam.
Satu per satu sesi berlangsung. Sesekali terdengar tawa kecil dari dalam ruangan ketika Pratiwi berhasil mencairkan suasana, tetapi lebih sering percakapan berlangsung serius. Tentang tekanan sekolah, hubungan dengan orang tua, pertemanan, hingga persoalan hati yang bagi mereka terasa begitu berat.
Hingga menjelang akhir jam praktik, seorang pria datang dan mengetuk pintu ruangannya. Pratiwi yang sedang merapikan catatan klien segera mempersilakannya masuk.
Namun begitu pria itu melangkah ke dalam ruangan, langkahnya mendadak terhenti.
Tatapannya tertuju pada sebuah foto keluarga berukuran besar yang terpampang di dinding belakang meja Pratiwi—foto dirinya, Handoko, dan Raka.
Pria itu terdiam cukup lama, seolah sedang berhadapan dengan sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia duga akan ditemuinya.
"Maaf, Bu… itu foto Pak Handoko, ya?”
Pratiwi yang semula sedang merapikan beberapa berkas di atas meja mengangkat wajahnya. Ia mengikuti arah pandangan pria itu yang masih terpaku pada foto keluarganya.
"Betul. Bapak kenal dengan suami saya?”
"Iya. Baru dikenalin kemarin,” jawab pria itu sambil tersenyum tipis. “Beliau suami Ibu?”
"Iya.”
Pria itu kembali menatap foto tersebut. Ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat Pratiwi sedikit heran, meskipun ia tidak ingin terlalu memikirkannya.
"Keluarga yang bahagia,” ucapnya pelan.
Pratiwi tersenyum kecil, lalu mengaminkan. "Aamiin, ya Rabbal'alamiin.”
Ia kemudian mempersilakan pria itu duduk di kursi di hadapannya. "Oh iya, maaf, saya malah belum sempat menanyakan nama Bapak. Bapak siapa, dan apa yang bisa saya bantu?”
Pria itu duduk, menarik napas sebentar, lalu memperkenalkan diri.
"Saya Randy Wijaya. Saya datang untuk konsultasi.”
"Baik, Pak Randy. Konsultasi mengenai apa?”
Randy tampak sedikit ragu sebelum akhirnya menjawab. "Masalah percintaan saya, Bu.”
Pratiwi mengangguk profesional, kemudian mengambil pena dan membuka lembar catatan baru.
"Baik. Silakan diceritakan dari awal. Saya akan mendengarkan.”
"Baik, Bu. Saya akan menceritakan masalah pribadi saya.”
Randy menundukkan wajahnya. Kedua tangannya saling bertaut di atas pangkuan, sementara dadanya naik turun perlahan. Ia seperti sedang mengumpulkan keberanian untuk membuka sesuatu yang selama ini disimpannya seorang diri.
Pratiwi memperhatikannya sejenak, kemudian kembali pada sikap profesionalnya. Ia mengambil pulpen dan selembar kertas di atas meja. Sebagai seorang psikolog, ia sudah terbiasa berhadapan dengan berbagai macam persoalan. Ada klien yang datang sambil menangis, ada yang marah, ada pula yang begitu sulit mengungkapkan apa yang sebenarnya mereka rasakan.
Dan kali ini, Randy tampaknya termasuk yang terakhir. Pratiwi tidak mendesaknya. Ia hanya menunggu.
"Tidak perlu terburu-buru, Pak Randy,” ucapnya lembut. “Ceritakan saja apa yang menurut Bapak perlu saya ketahui. Saya di sini untuk mendengarkan.”
Randy mengangguk pelan. Namun ia masih diam.
Tatapannya jatuh ke lantai. Sesekali ia mengusap kedua telapak tangannya sendiri, seperti seseorang yang sedang berusaha menenangkan kegelisahan yang sejak tadi memenuhi pikirannya.
Pratiwi tetap tenang. Pena di tangannya sudah siap mencatat setiap hal penting yang akan disampaikan pria itu.
Baginya, Randy hanyalah seorang klien yang datang membawa persoalan dalam hubungan percintaannya. Sama seperti klien-klien lain yang pernah duduk di kursi itu, ia tidak ingin membuat asumsi sebelum mendengar seluruh ceritanya.
Tetapi ada sesuatu dari pria itu yang membuatnya sedikit penasaran. Bukan karena penampilannya. Bukan pula karena caranya berbicara.
Melainkan karena sejak pertama kali memasuki ruangan, Randy sempat menatap foto keluarganya dengan tatapan yang sulit diartikan. Tatapan seseorang yang seolah-olah baru saja melihat sesuatu dari masa lalu yang pernah begitu dekat dengannya.
Pratiwi sempat bertanya-tanya dalam hati, tetapi segera menepisnya. Mungkin ia hanya terlalu memperhatikan.
Randy kembali menarik napas panjang. "Masalah ini sebenarnya sudah lama sekali saya simpan, Bu.”
Pratiwi mengangkat wajahnya, menatap Randy dengan penuh perhatian.
"Kalau begitu, kita bisa mulai dari bagian yang paling mudah Bapak ceritakan.”
Randy mengangguk. Bibirnya sempat terbuka, tetapi tak ada satu kata pun yang keluar. Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Di luar ruangan, terdengar samar suara kendaraan yang melintas. Sementara di dalam, Pratiwi masih menunggu dengan sabar, tanpa sedikit pun memaksanya.
Randy akhirnya mengangkat wajah. Tatapan mereka bertemu. Ada kegelisahan, keraguan, sekaligus sesuatu yang belum mampu Pratiwi baca dari sorot mata pria itu.
"Saya ingin menceritakan semuanya, Bu,” katanya akhirnya. “Tentang seseorang yang sampai hari ini masih belum bisa saya lupakan.”
Tangan Pratiwi yang semula siap menulis berhenti sejenak. Ia menatap Randy. Lalu menunggu kalimat berikutnya. Namun siapa sebenarnya Randy Wijaya?
Dan siapa perempuan yang membuat seorang pria datang ke ruang praktik seorang psikolog hanya untuk membicarakan kisah cinta yang belum selesai?
Jawabannya mungkin akan membuka kembali sebuah cerita lama—cerita yang selama ini terkubur dan tidak pernah Pratiwi sangka akan kembali mengetuk kehidupannya.
Hrsnya gak begini
Lawan dong...tolong
Masa...waktu.. sdh berganti
Pikirkan anak² kalian
Alihkan rasa cinta menjadi persaudaraan
Bisa...bisa kok
Asal kalian lakukan dg sadar...ikhlas
smoga kalian psangan yg tak tau diri... mnyesal krna tak dpt brfikir jernih... lbh mnfedepsmkam nafsu... shingga tak memikirkn ank" kalian yg skn mnikah....
sebaiknya secptnya trbongkar.... ank" tak jdi.mnikah akn lbh baik... biar ank" mmbenci kelakuan tak patut kalian... handoko dan melisa🙄🙄🙄🙄
prtemuanmu dgn melisa bukanlah cinta tpi hnya rasa penasaranmu krna km tk mnikah dgnnya saat dulu....
tpi kelak... saat km merealisasikn mnikahi melisa.... km akn tau rsanya mnyesali tindakn bodohmu...