Bisu, tuli, dan dianggap aib keluarga. Amara diperlakukan lebih buruk dari hewan di mansionnya sendiri. Puncaknya, ia dibuang ke halaman belakang yang dingin membeku tanpa diberi makan sedikit pun saat pesta bisnis ayahnya berlangsung.
Di tengah keputusasaannya, muncul Gabriel—CEO muda paling ditakuti dengan tato bunga mawar di lehernya.
Melihat Amara yang terkulai lemas menahan lapar, pria dingin itu melepaskan jasnya dan merangkul sang gadis.
"Mulai malam ini, siapa pun yang menyakitimu... akan kuhancurkan."
Ketika sang Putri yang Dibuang dilindungi oleh Pria Paling Berkuasa, pembalasan dendam pun dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kilau Kasih Sang Pelindung
"Sayang, boleh tutup matamu lagi?" pinta Gabriel lembut, menatap lekat paras cantik istrinya yang masih merona di bawah pendar lampu taman.
Amara mengerjapkan matanya yang jernih, menatap Gabriel dengan binar polos dan penuh rasa ingin tahu. "U-untuk apa?"
"Tutup saja dulu, Sayang," bujuk Gabriel dengan nada bariton yang begitu hangat dan memanjakan.
Amara mengangguk pasrah seraya tersenyum tipis. "I-iya..." cicitnya pelan, lalu perlahan memejamkan kedua matanya rapat-rapat.
Melihat istrinya yang begitu patuh, Gabriel menahan senyum bahagianya. Pria itu menaruh piring kecil berisi kue tadi di atas meja dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Lalu, ia merogoh saku dalam jas mewahnya, mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna hitam pekat dan membukanya.
Di dalamnya, terbaring sebuah kalung emas putih nan sangat cantik dengan liontin berlian berbentuk tetesan air yang berkilau indah diterpa cahaya malam.
Gabriel berdiri dari kursinya, melangkah perlahan ke belakang kursi Amara. Dengan jemari kokohnya yang bergerak amat telaten, ia menyingkap rambut panjang Amara ke satu sisi, menyingkap leher jenjang istrinya yang mulus. Gabriel kemudian melingkarkan kalung itu dan memasangkannya di leher sang istri.
Sensasi dingin dari logam mulia yang menyentuh kulit lehernya membuat Amara sedikit tersentak pelan.
"G-Gabriel? A-apa ini?" tanya Amara berbisik, jemari mungilnya refleks terulur hendak menyentuh lehernya.
"Jangan dibuka dulu matanya, Ratu kecilku," tahan Gabriel lembut. Pria itu menunduk, mendaratkan ciuman hangat di tengkuk leher Amara hingga sang istri kegelian pelan.
Gabriel kembali melangkah ke hadapan Amara, menggenggam kedua tangan mungil istrinya dengan erat. "Sekarang, buka matamu, Sayang."
Amara perlahan membuka kelopak matanya. Pandangannya langsung tertuju pada liontin berkilau yang kini melingkar indah di dadanya. Matanya membelalak tak percaya, berbinar-binar menatap keindahan perhiasan tersebut.
"G-Gabriel... ini... ini cantik sekali..." bisik Amara bergetar, meraba liontin berlian itu dengan jemarinya yang gemetar. "T-tapi ini pasti sangat mahal..."
Gabriel terkekeh renyah, berlutut di samping kursi Amara agar tingginya sejajar dengan sang istri. Ia menyusupkan tangannya untuk mengusap lembut perut buncit empat bulan Amara.
"Tidak ada yang terlalu mahal untukmu, Amara," ujar Gabriel mantap, menatap lurus ke dalam manik mata istrinya dengan binar penuh keposesifan dan cinta. "Berlian di kalung ini dirancang khusus, tidak ada kembarannya di dunia ini. Sama seperti dirimu yang tiada duanya di hatiku."
Air mata haru kembali menggenang di sudut mata Amara. Ia merengkuh rahang tegas suaminya dengan kedua tangan mungilnya, menatap Gabriel penuh rasa syukur yang membuncah.
"T-terima kasih, Gabriel..." cicit Amara penuh kehangatan, suaranya terdengar begitu merdu. "K-kamu selalu tahu cara membuatku merasa disayangi..."
"Karena membahagiakanmu adalah tujuan hidupku sekarang, Sayang," balas Gabriel seraya menunduk, mengecup bibir Amara dengan lembut dan lama.
"Aku benar-benar s-sangat bahagia, Gabriel," cicit Amara lirih dengan binar mata yang memancarkan ketulusan sempurna. Jemari mungilnya semakin erat mencengkeram rahang tegas sang suami.
Gabriel tersenyum amat tampan. Ia menggenggam jemari Amara yang berada di pipinya, mengecup telapak tangan hangat itu berkali-kali dengan penuh kelembutan.
"Aku jauh lebih bahagia karena bisa melihat senyuman ini lagi, Sayang," bisik Gabriel penuh penekanan. "Semua penderitaanmu di masa lalu sudah berakhir. Mulai sekarang, hanya ada aku, kamu, dan anak kita."
Amara mengangguk anggun. Ia menunduk sebentar, memandangi liontin berlian nan indah yang melingkar cantik di dadanya, lalu beralih mengusap lembut perut buncit empat bulannya.
"A-aku... dulu sempat berpikir kalau dunia ini tidak adil," tutur Amara pelan, suaranya terdengar makin tenang dan tertata. "T-tapi ternyata... Tuhan menyuruhku bertahan hanya untuk bertemu denganmu."
Dada Gabriel berdesir hebat mendengar penuturan jujur dari wanita yang paling dicintainya itu. Tanpa menunggu lama, pria itu berdiri lalu mengangkat tubuh ringan Amara ke dalam bopongannya secara perlahan dan penuh kehati-hatian.
"G-Gabriel! Nanti jatuh!" pekik Amara kaget, refleks melingkarkan kedua tangannya di leher kokoh Gabriel.
"Tidak akan pernah," balas Gabriel tertawa renyah, menatap dalam mata istrinya. "Aku tidak akan pernah membiarkan Ratu kecilku jatuh atau terluka lagi. Sekarang, mari kita kembali ke kamar. Udara malam mulai terlalu dingin untukmu dan bayi kita."
Amara menyandarkan kepalanya di dada bidang Gabriel, mendengarkan detak jantung suaminya yang berpacu kuat dan menenangkan.
"J-jangan pernah tinggalkan aku ya, Gabriel..." bisik Amara manja saat mereka berjalan melintasi lorong taman menuju ke dalam mansion.
"Sampai hembusan napas terakhirku pun, aku akan tetap di sisimu, Amara," janji Gabriel mantap, mendaratkan ciuman hangat di kening sang istri di sepanjang langkah mereka.
untung nyonya Eleanor cepat sadar yx ,, dn bnr2 berubah kepada Amara ,,