Kalau seorang suami yang dikenal sebagai laki- laki romatis terhadap istrinya, sayang terhadap anaknya dan patuh kepada kedua orang tuanya saja bisa membuat noda hitam di dalam perkawinannya, lalu laki- laki yang seperti apa yang bisa dipercaya untuk menjaga kesetiaan rumah tangga...? Lalu apakah hati seorang istri yang sudah retak akibat pengkhinantan suami bisa pulih kembali, hanya dengan kata ''maaf...?"...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Ngambek
Bagas terus menyalahkan Suzan karena menurutnya dia lebih mementingkan pekerjaan dari pada memprioritaskan keluarga. Dan Suzan yang merasa bersalah pun terus meminta maaf walaupun Bagas sepertinya masih belum mau memaafkannya.
Dan malam ini Bagas tidur sambil membelakangi Suzan hingga pagi menjelang. Dan ketika mereka sarapan bersama keluarga di meja makan, mereka saling diam. Bahkan ketika pak Hartanto menanyakan tentang pekerjaan Bagas di Surabaya, Bagas hanya menjawab seperlunya saja. Dan Bagas langsung pamit berangkat ke kantor lebih dulu tanpa mengajak Suzan untuk berangkat bersama seperti biasanya.
Suzan yang menyadari jika sang suami masih ngambek hanya bisa menghela nafas melihat kepergian sang suami.
"Ada apa dengan Bagas...?'' tanya tuan Hartanto sambil menyuapkan makanannya ke dalam mulut.
"Ehm... Mas Bagas ada keperluan pah, makanya dia berangkat ke kantor lebih awal..." jawab Suzan yang selalu saja menutup- nutupi jika mereka sedang ada masalah.
"Keperluan apa...?'' tanya tuan Hartanto.
"Ehm... Itu pah, mas Bagas ingin menyelesaikan laporan tentang perusahaan cabang Surabaya. Katanya masih ada sedikit kekurangan..." jawab Suzan terus mencari jawaban yang tepat agar tuan Hartanto tidak curiga bahwa sebenarnya Bagas sedang ngambek.
Mendengar jawaban Suzan, tuan Hartanto terlihat tidak percaya begitu saja. Dan dia hanya tersenyum sambil menggeleng- gelengkan kepalanya lalu melanjutkan makannya.
"Kenapa pah...?'' tanya nyonya Hartanto heran melihat sikap aneh sang suami.
Tuan Hartanto menghela nafas lalu meletakkan sendok dan garpunya di atas piring. Kemudian dia mengusap bibirnya menggunakan tisu.
"Mah, bilangin mantumu itu..." ucap tuan Hartanto sambil melirik sekilas pada Suzan.
"Jangan suka menyembunyikan sesuatu dari papah, hanya karena ingin membela suaminya..." lanjut tuan Hartanto.
Nyonya Hartanto pun menoleh ke arah Suzan. Sedangkan Suzan terdiam, tak berani bicara apapun lagi karena kebohongannya telah diketahui oleh papa mertuanya.
"Apa yang kamu sembunyikan dari papa...?'' tanya nyonya Hartanto.
"Ehm..." Suzan nampak bingung harus menjawab apa.
"Sampai kapan kamu akan terus menutup- nutupi sikap kekanak- kanakan suamimu , Suzan...?'' tanya tuan Hartanto.
"Ada apa sih...?'' nyonya Hartanto yang tidak tahu apa- apapun jadi penasaran apa sebenarnya yang terjadi pada Suzan dan Bagas.
"Mamii...Varo sudah selesai makan..." ucap Alvaro yang sejak tadi fokus makan di samping Suzan.
"Oh, sudah selesai ya...minum dulu sayang..." Suzan memberikan segelas air putih pada putra semata wayangnya.
"Ayo mami, antar Varo ke sekolah..." ucap Alvaro yang sudah siap dengan seragam sekolah taman kanak- kanak.
"Ehm... Alvaro berangkat sama sus Yani dan pak Qodir ya... Mama masih ada urusan sama oma dan opa..." sahut Suzan sambil mengusap pipi Alvaro.
Alvaro pun mengangguk. Suzan lalu memanggil sus Yeni untuk mengantar Alvaro ke sekolah dan pak Qodir yang akan menyetir. Tak lupa Alvaro pamit pada oma dan opanya.
Setelah Alvaro berangkat ke sekolah, Suzan melanjutkan untuk bicara dengan kedua mertuanya.
"Katakan sama mama, apa kamu sedang ada masalah sama Bagas...? Mama juga lihat ada yang aneh dengan sikap Bagas yang lebih banyak diam saat sarapan tadi...?'' tanya nyonya Hartanto sambil menatap ke arah Suzan.
"Nggak sih mah, bukan masalah besar. Hanya saja tadi malam Suzan pulang terlambat , jadi mas Bagas merasa kecewa karena saat dia pulang dari Surabaya aku tidak menyambutnya. Padahal sebelumnya Suzan sudah janji akan menyambut mas Bagas ketika dia pulang..." Suzan akhirnya cerita yang sebenarnya.
"Tapi sebenarnya kami sudah baik- baik saja kok mah, pah, Suzan sudah minta maaf sama mas Bagas. Dan tadi mas Bagas berangkat lebih awal karena dia akan mengecek laporan yang kemarin..." sambung Suzan lagi- lagi menutup- nutupi sikap Bagas yang pergi lebih dulu karena dia tidak ingin berangkat ke kantor bersamanya.
"Apa yang mau dicek, Fikri sudah mengirim laporannya kemarin kok. Dan papa yakin, selama di Surabaya, Fikri yang bekerja keras menyelesaikan masalah perusahaan. Bukan Bagas..." sahut tuan Hartanto yang sudah paham dengan sikap Bagas.
Suzan kembali diam karena tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Pah, jangan suudzon begitu dong sama Bagas. Dia sudah bekerja keras menyelesaikan masalah di perusahaan cabang, tapi papa malah memuji Fikri..." nyonya Hartanto tidak terima jika anak kesayangannya selalu saja diremehkan oleh papanya sendiri.
"Kamu juga Suzan, ya wajarlah Bagas kecewa sama kamu karena kamu tidak ada di rumah saat dia pulang. Kamu itu istrinya, prioritas utama kamu ya suamimu. Jangan karena perkerjaan kantor, kamu malah jadi mengabaikan suamimu..." sambung nyonya Hartanto menyalahkan Suzan.
"Sudahlah kamu diam saja ...!" ucap tuan Hartanto dengan ketus kepada sang istri.
"Kamu tahu apa soal Bagas...? Kamu hanya bisa memanjakan Bagas. Lihatlah sekarang, akibat kamu yang tidak becus mendidiknya dan selalu saja memanjakannya, Bagas tumbuh menjadi pemalas dan tidak bertanggung jawab dalam urusan pekerjaan..." sambung tuan Hartanto menyalahkan balik sang istri.
"Lho, kok papa jadi menyalahkan mama sih...? Mama kan lagi menasehati menantu kita agar dia lebih perhatian sama suaminya. Jangan hanya sibuk terus di kantor, suaminya jadi nggak keurus...." nyonya Hartanto tidak terima disalahkan.
"Lagian papa juga sih, ngapain coba kasih jabatan tinggi buat Suzan. Lihat sekarang pah, waktu Suzan lebih banyak di kantor di bandingkan di rumah mengurus anak dan suami. Apa papa nggak kasihan sama Alvaro yang sering terlihat sedih karena mamanya jarang di rumah..." sambung nyonya Hartanto.
"Sudahlah pah, mending jabatan Suzan dialihkan ke Bagas, agar dia lebih banyak waktu di rumah dan biarkan Bagas yang di kantor..." ujar nyonya Hartanto.
"Kasih dong Bagas kepercayaan, biar dia percaya diri. Papa ini aneh, masa lebih percaya pada menantu dari pada sama anak sendiri. Sebenarnya sikap pilih kasih papa lah yang membuat Bagas tidak punya rasa percaya diri..." sambung melirik Suzan.
"Kamu ngerti apa soal urusan perusahaan...! Apa kamu tidak lihat bagaimana anakmu yang tidak bisa diandalkan....? Papa juga maunya Bagas yang megang kendali perusahaan karena dia anak satu- satunya. Tapi apa...? Anakmu itu tidak bisa dipercaya, dia tidak ada serius dalam bekerja dan cepat bosan...." sahut tuan Hartanto kembali kesal pada sang istri.
"Kalau Bagas memegang kendali perusahaan, bisa- bisa perusahaan papa yang sudah papa bangun dengan susah payah bangkrut dalam waktu singkat..." sambung tuan Hartanto terlihat emosi.
Melihat perdebatan kedua mertuanya, tentu saja Suzan menjadi tidak enak hati.
"Pah, mama hanya kasihan sama Bagas, dia selalu saja diperlakukan secara tidak adil oleh papa... Papa seolah tidak perduli dengan perasaan anak sendiri..." nyonya Hartanto tak mau kalah.
"Apa...? Apa mama bilang...? papa tidak perduli sama Bagas...? Jadi menurut mama, apa yang sudah papa lalukan untuk Bagas tidak ada artinya...? Selama ini papa berusaha menggembleng Bagas agar jadi laki- laki yang kuat dan penuh tanggung jawab. Tapi apa yang dia lakukan, dia selalu berbuat seenaknya...!" sahut tuan Hartanto terlihat semakin emosi pada sang istri.
"Dan itu semua karena siapa...? Karena kamu mah... Kamu yang tidak becus mendidik anak...!" seru tuan Hartanto sambil menunjuk wajah sang istri.
"Sudahlah.. percuma ngomong sama kamu, otak kamu nggak akan sampai kalau diajak ngomong..." tuan Hartanto bangun dadi duduknya kemudian dia keluar rumah dan meminta supir untuk mengantarnya ke kantor.
Melihat ibu mertua yang sedih karena perkataan sang suami, tentu saja Suzan merasa tidak tega. Biar bagaimana pun juga perdebatan kedua mertuanya disebabkan oleh permasalahannya dan Bagas.
"Mah... Mama yang sabar ya... Perkataan papa jangan diambil hati. Mungkin papa sedang banyak pikiran, jadi dia terbawa emosi..." Suzan mengusap lengan nyonya Hartanto.
Sedangkan nyonya Hartanto menangis karena sakit hati. Iya, ini bukan kali pertama nyonya Hartanto mendapatkan hinaan dari sang suami. Tuan Hartanto adalah pria yang keras, dia akan berkata sesuai dengan apa yang dia pikirkan tanpa memikirkan apakah orang yang mendengarnya akan tersinggung atau tidak.
Namun yang jelas, tuan Hartanto selalu bicara fakta. memang di antara tuan dan nyonya Hartanto sering terjadi perdebatan mengenai cara mendidik Bagas sejak kecil. Tuan Hartanto mendidik Bagas cukup keras dengan tujuan agar Bagas tumbuh menjadi laki- laki kuat dan penuh tanggung jawab. Namun di sisi lain, nyonya Hartanto justru selalu mematahkan didikan sang suami.
Sejak Bagas kecil, nyonya Hartanto selalu memanjakannya. Bahkan ketika Bagas bersalah yang seharusnya ditegur, ataupun diberi hukuman, nyonya Hartanto justru selalu membelanya. Bahkan ketika Bagas bertengkar dengan temannya ketika di sekolah, nyonya Hartanto justru menyalahkan teman Bagas walaupun jelas- jelas Bagas yang salah.
Tak heran jika sekarang Bagas tumbuh menjadi pria egois, bersikap semaunya sendiri dan kurang bertanggung jawab.
"Sampai kapan mama harus terus bersabar mengahadapi suami yang tidak punya hati... hik...hik..." ucap nyonya Hartanto sambil terisak.
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
Setelah menenangkan nyonya Hartanto dan mengantarnya ke dalam kamar, Suzan pun bersiap untuk pergi ke kantor. Namun ketika Suzan hendak naik ke mobilnya, tiba- tiba mbak Marti salah satu asisten rumah tangganya datang menghampiri.
"Nyonya Suzan..." panggil mbak Marti setengah berlari mengejar Suzan.
"Iya..." Suzan mengehentikan langkahnya dan menoleh ke belakang di mana Marti berdiri memegang sesuatu di tangannya.
"Ada apa Marti...?'' tanya Suzan.
"Ehm... Ini nyonya... " Marti memberikan kotak perhiasan berukuran kecil berbentuk hati.
"Apa ini...?'' tanya Suzan menatap benda tersebut.
Lalu Marti memberitahu Suzan bahwa dia menemukan benda tersebut di saku celana Bagas saat dia hendak mencuci pakaian Bagas yang dipakai saat dia di Surabaya.
Suzan lalu membuka kotak tersebut. Dan Suzan tersenyum melihat cincin berlian cantik berada di dalam kotak tersebut.
"Ya ampun sayang... Aku baru tahu kenapa kamu sampai ngambek sama aku karena aku pulang terlambat. Jadi kamu mau ngasih kejutan ini sama aku... sayang... maafkan aku ya..." ucap Suzan dalam hati sambil mengambil cincin berlian itu dari tempatnya.
Sebenarnya Suzan ingin memasangkan cincin tersebut ke jari manisnya, namun dia urungkan. Karena Suzan ingin Bagas yang akan memasangkan cincin itu langsung ke jari manisnya. Suzan yakin setelah suaminya tidak ngambek lagi, dia akan memberikan kejutan itu padanya.
Suzan lalu mengembalikan cincin itu kembali ke kotaknya, dan menutupnya rapat- rapat.
"Marti, tolong kamu simpan cincin ini di kamar, nanti kalau tuan pulang, kamu bilang padanya kalau kamu menemukan cincin itu di saku celana dan menyimpannya di kamar. Dan ingat, kamu jangan memberitahu tuan kalau saya sudah tahu soal cincin itu. Saya juga nanti pura- pura nggak tahu soal cincin itu, kan cincin itu kejutan..." ucap Intan sambil tersenyum bahagia.
"Baik nyonya... Nyonya tenang saja, saya nggak akan bilang ke tuan kok..." sahut Marti sambil mengacungkan ibu jarinya.
"Nyonya, tuan itu romantis banget ya, jarang lho ada suami yang seromantis tuan. Nyonya sangat beruntung..." ucap Marti sambil tersenyum.
"Dan tuan juga beruntung punya istri secantik dan sebaik nyonya Suzan. Kalian berdua pasangan yang serasi... Semoga tuan dan Nyonya selalu bahagia..." sambung Marti dengan sopan.
"Aminnn... Makasih doanya Marti... Oya, saya berangkat ke kantor dulu ya..." sahut Suzan.
"Baik nyonya... Hati- hati di jalan..." jawab Marti sambil mengangguk sopan.
Bersambung....