Alexander "Alex" Ar-Rasyid (30 Tahun)
Seorang CEO muda yang dingin, perfeksionis, dan workaholic. Ia memegang kendali penuh atas Ar-Rasyid Group, sebuah konglomerat raksasa di bidang properti dan investasi. Baginya, pernikahan adalah bentuk kerja sama bisnis yang tidak penting, hingga sebuah perjodohan keluarga memaksa hidupnya jungkir balik.
Keisha Azalea Pramesti (25 Tahun)
Seorang fashion designer berbakat, mandiri, dan memiliki idealisme tinggi. Ia pemilik butik haute couture Azalea Label. Di balik senyum lembutnya, Keisha adalah wanita tangguh yang menolak dipandang sebelah mata dan sangat mencintai dunianya—sketsa, kain, dan jarum jahit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Cahaya lampu meja kerja eksekutif di lantai lima puluh Ar-Rasyid Tower memancarkan pendar kuning redup yang memecah keheningan dini hari. Pukul dua pagi, namun Alexander Ar-Rasyid sama sekali belum memejamkan matanya. Di atas meja marmer hitam di hadapannya, berlembar-lembar dokumen rahasia perusahaan, grafik analisis pasar modal, serta transkrip investigasi aliran dana Meridian Capital berserakan tanpa aturan.
Alex duduk tegak dengan kancing atas kemejanya yang terbuka, lengan kemejanya tersingsing hingga siku, memperlihatkan otot lengan yang menegang. Pikirannya berputar cepat, menganalisis setiap celah dari ancaman yang dibawa oleh Julian Pramana beberapa jam lalu. Penangkapan kilat Julian dan penyerahan aset perusahaan cangkang itu ke tangan otoritas hukum memang melumpuhkan langkah awal mereka, namun Alex tahu betul bahwa Julian hanyalah pion kecil yang digerakkan oleh pemain jauh lebih besar di balik bayang-bayang korporasi internasional.
Pintu ruang kerja terketuk dua kali dengan pelan. Siska melangkah masuk membawa secangkir kopi hitam panas, meletakkannya di sudut meja dengan gerakan hati-hati.
"Tuan Alexander, laporan audit forensik tambahan dari tim keuangan Swiss baru saja masuk melalui jalur terenkripsi," lapor Siska dengan suara rendah. "Ternyata, dana sepuluh juta dolar yang menyokong Meridian Capital tidak berasal dari dalam negeri. Sumber utamanya terhubung langsung dengan sebuah konsorsium energi multinasional berbasis di Zurich yang dipimpin oleh seorang spekulan global bernama Richard Vance."
Mendengar nama belakang Vance, manik mata kelam Alexander langsung menyipit tajam. Alisnya berkerut dalam. "Vance? Apakah dia memiliki hubungan keluarga dengan Theodore Vance?"
"Bukan sekutu, Tuan," jawab Siska tegas. "Richard Vance adalah sepupu jauh Theodore Vance yang telah lama diasingkan dari garis utama keluarga besar Vance Global Holdings karena catatan kriminal dan praktik monopoli energi ilegal di Eropa. Ia berniat merebut dominasi pasar energi hijau di Asia Tenggara dengan cara menjatuhkan Ar-Rasyid Group melalui tender proyek strategis nasional bulan depan."
Alex terdiam sesaat. Rahang tegasnya mengeras, membentuk garis lurus yang kaku. Teka-teki itu kini mulai menemui titik terang. Julian Pramana dan Meridian Capital ternyata hanyalah alat perpanjangan tangan dari Richard Vance untuk melumpuhkan posisi tawar Alexander di sektor energi terbarukan—proyek terbesar yang akan menentukan dominasi ekonomi regional selama dekade mendatang.
"Bajingan itu bermain jauh dari kandangnya," geram Alex dingin, suaranya bagaikan desisan angin malam yang membekukan. "Ia pikir dengan bersembunyi di balik konsorsium Eropa, ia bisa menyentuh proyek kita di Indonesia?"
"Apa instruksi selanjutnya, Tuan? Apakah kita akan membuka investigasi publik dan mengekspos hubungan Richard Vance dengan jaringan Julian Pramana ke hadapan media?" tanya Siska.
Alex menggelengkan kepalanya perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang berbahaya. "Tidak perlu mengeksposnya ke media sekarang. Richard ingin bermain kotor di balik layar bursa saham dan tender tertutup? Baiklah, kita akan sambut dia di arena permainannya sendiri. Siapkan tim hukum dan divisi investasi kita pagi ini juga. Kita akan beli seluruh saham minoritas perusahaan cangkang miliknya di pasar terbuka, lalu kita hancurkan likuiditas mereka sebelum tender resmi dimulai."
"Baik, Tuan! Saya akan segera koordinasikan dengan direktur investasi," jawab Siska mantap sebelum membungkuk hormat dan meninggalkan ruangan.
Sementara itu, di lantai dasar penthouse utama, suasana terasa jauh lebih tenang meskipun pancaran sinar matahari pagi mulai menembus tirai kaca kamar tidur.
Keisha Azalea Pramesti terbangun dari tidurnya. Ia meraba sisi ranjang sebelah kanannya, dan mendapati tempat tidur itu sudah kosong dan dingin. Ia tahu suaminya pasti kembali menghabiskan malam di ruang kerja pribadinya lantai atas demi menyelesaikan masalah ancaman korporat yang baru saja terjadi.
Keisha bangun dari tempat tidurnya, mengenakan jubah tidur sutra panjang, lalu berjalan pelan menaiki tangga spiral menuju ruang kerja utama. Begitu ia membuka pintu kayu mahoni berat tersebut, ia mendapati Alex sedang memijat pelipisnya dengan mata tertutup rapat di balik meja kerjanya yang dipenuhi tumpukan kertas.
Keisha melangkah masuk tanpa suara, membawa secangkir teh chamomile hangat yang baru saja ia seduh di dapur. Ia berjalan mendekat, lalu meletakkan cangkir itu perlahan di dekat tangan suaminya.
Alex membuka matanya, menoleh ke samping, dan mendapati senyuman lembut istri tercintanya berdiri di sisinya. Ketegangan di wajah lelah Alex seketika mencair, digantikan oleh kehangatan yang luar biasa dalam manik matanya.
"Kau belum tidur sama sekali, Alexander," ucap Keisha lembut, jemari lentiknya terulur merapikan rambut hitam suaminya yang sedikit berantakan.
Alex meraih tangan Keisha, mengecup telapak tangan wanita itu lama sekali, lalu menariknya pelan hingga Keisha duduk di pangkuannya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu istrinya, menghirup aroma wangi vanila dan sabun lembut yang selalu berhasil menenangkan saraf-saraf kepalanya yang tegang.
"Bagaimana aku bisa tidur, Ratu-ku, ketika ada musuh tua yang mencoba mengganggu ketenangan hidup kita?" bisik Alex parau, suaranya terdengar lelah namun penuh determinasi. "Richard Vance... sepupu Theodore Vance yang membiayai Julian Pramana dari Eropa. Ia mengincar proyek tender energi kita bulan depan."
Keisha mengelus punggung lebar suaminya dengan penuh kasih sayang. Ia sama sekali tidak menunjukkan rasa takut atau cemas; sebaliknya, sorot mata cokelatnya memancarkan ketegasan baja yang sama seperti suaminya.
"Aku sudah menduga masalah ini belum selesai sejak Julian menyelinap ke galeri kemarin," ucap Keisha tenang. "Tapi dengar, Alexander... kita sudah melewati intrik Victor Ar-Rasyid, kita sudah meruntuhkan rencana busuk Marc Laurent di Paris. Apakah kau pikir seorang Richard Vance dari Eropa bisa merobohkan apa yang sudah kita bangun dengan air mata dan darah?"
Alex mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata istrinya yang begitu jernih dan penuh keyakinan mutlak. Senyuman tipis akhirnya terukir di bibir pria itu—senyuman tulus yang membuat ketampanannya terlihat begitu memukau di tengah temaram lampu subuh.
"Tidak," jawab Alex tegas. "Tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa meruntuhkan kita. Karena kau adalah kekuatan terbesar di dalam hidupku, Keisha."
Mereka berdua menyatukan bibir dalam sebuah ciuman pagi yang manis, penuh rasa cinta, kesetiaan, dan tekad baja untuk menghadapi badai apa pun yang menghadang di depan mata.
Tiga minggu kemudian, di gedung utama Bursa Efek Indonesia, suasana terasa sangat riuh dan penuh ketegangan. Hari ini adalah hari pengumuman resmi pemenang tender proyek konsorsium energi hijau nasional senilai triliunan rupiah—proyek terbesar yang diperebutkan oleh korporasi-korporasi raksasa regional, termasuk Ar-Rasyid Group dan konsorsium internasional Meridian-Vance Capital.
Di ruang auditorium utama lantai sepuluh, jajaran direksi, para investor asing, serta para pengamat ekonomi duduk berbaris rapi menanti pembukaan amplop hasil evaluasi akhir penawaran tender oleh komite pengawas pemerintah.
Alexander Ar-Rasyid duduk di barisan meja kehormatan dengan postur tegap tanpa cela. Setelan jas bespoke hitam Italia yang dikenakannya memancarkan wibawa dominan mutlak. Di samping kanannya, Keisha duduk anggun mengenakan setensor blazer profesional berwarna navy dark dengan aksen perak, mendampingi suaminya sebagai salah satu pemegang saham strategis korporasi.
Beberapa meter dari tempat mereka duduk, di barisan sisi seberang, seorang pria asing berambut pirang kelabu dengan setelan jas abu-abu mahal—Richard Vance—duduk bersama para pengacaranya dengan senyuman arogan tersungging di bibirnya. Ia melirik ke arah Alexander dengan tatapan meremehkan, seolah-olah kemenangan tender tersebut sudah berada di dalam genggamannya.
Pukul 10.00 pagi tepat, ketua komite tender melangkah ke podium utama, mengetuk mikrofon, lalu membuka amplop resmi hasil keputusan akhir.
"Selamat pagi para hadirin yang terhormat," suara ketua komite menggema ke seluruh penjuru ruangan. "Setelah melalui audit independen yang ketat terkait integritas finansial, stabilitas korporasi, serta rekam jejak kepatuhan hukum, komite pengawas proyek energi hijau nasional telah mengambil keputusan mutlak."
Suasana di auditorium seketika terhening. Ratusan pasang mata tertuju tajam ke arah podium. Richard Vance menegakkan tubuhnya, senyuman penuh kemenangan semakin mengembang di wajahnya.
"Berdasarkan hasil evaluasi menyeluruh," lanjut sang ketua komite dengan suara tegas, "terdapat temuan audit mendadak pagi ini di mana salah satu konsorsium peserta tender—yakni Meridian-Vance Capital—dinyatakan gugur secara otomatis dan didiskualifikasi dari seluruh proses hukum akibat pelanggaran berat transaksi keuangan lintas negara, pencucian dana gelap, serta manipulasi dokumen bursa saham!"
Seketika, ruangan auditorium meledak dalam riuh rendah bisikan keterkejutan yang luar biasa.
Wajah Richard Vance berubah pucat pasi seketika. Senyuman arogan di wajahnya lenyap tanpa sisa, digantikan oleh kepanikan luar biasa yang membuat sekujur tubuhnya bergetar hebat. Ia bangkit berdiri dari kursinya, mencoba memprotes dengan suara keras. "Ini tidak masuk akal! Keputusan ini curang! Kami menuntut audit ulang!"
"Protes Anda ditolak, Tuan Vance," suara dingin ketua komite memotong protes tersebut dengan telak. "Otoritas pengawas keuangan telah membekukan seluruh aset perusahaan cangkang Anda pagi ini juga."
Belum sempat Richard memulihkan diri dari keterkejutannya, dua orang petugas penegak hukum divisi kejahatan ekonomi melangkah masuk ke dalam auditorium, berjalan lurus menuju ke arah tempat Richard berdiri untuk menyampaikan surat perintah penyelidikan resmi.
Di kursi kehormatan, Alexander Ar-Rasyid tidak bergeming sedikit pun. Ia menoleh perlahan ke arah Richard Vance, melemparkan tatapan dingin penuh kemenangan yang langsung membuat buronan internasional itu tertunduk malu di bawah tekanan kekuasaan mutlak sang CEO.
Ketua komite mengetuk palu sidang satu kali, lalu mengumumkan hasil akhirnya dengan suara lantang. "Dengan ini, proyek konsorsium energi hijau nasional secara resmi dimenangkan oleh... Ar-Rasyid Group!"
Dentuman tepuk tangan gemuruh langsung meledak di seluruh penjuru ruangan. Para direksi dan investor berdiri memberikan penghormatan mutlak kepada Alexander.
Alex perlahan berdiri, lalu merangkul pinggang Keisha dengan erat, menarik istrinya berdiri bersamanya di hadapan ratusan orang yang memberikan penghormatan.
"Kita menang lagi, Alexander," bisik Keisha lembut dengan binar mata bahagia yang sempurna.
Alex menatap istrinya lekat-lekat, senyuman paling tulus dan hangat terukir di bibirnya. "Kita tidak pernah kalah, Keisha. Karena di setiap langkah yang kita ambil, kita berjalan sebagai satu kekuatan yang tak terkalahkan."
Di bawah sorotan lampu terang auditorium dan tepuk tangan meriah yang tak kunjung berhenti, imperium keluarga Ar-Rasyid mengukuhkan diri di puncak kejayaan dunia—membuktikan bahwa cinta sejati, integritas, dan kerja sama mutlak adalah benteng terkuat yang tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh badai mana pun di dunia ini.