Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.
Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."
Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.
Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Malam Sebelum Pernikahan
Begitu masuk ke kamar, Aynara menutup pintu perlahan. Ia berdiri beberapa saat di balik pintu, seolah membutuhkan waktu untuk mencerna semua yang baru saja terjadi.
Besok ia akan menikah dengan pria yang bahkan tidak dicintainya.
Aynara segera merogoh ponsel dari saku bajunya. Tangannya sedikit gemetar saat mencari satu nama yang paling ingin ia hubungi saat ini.
Langlang.
Ia menekan tombol panggil. Nada sambung terdengar beberapa kali sebelum akhirnya tersambung.
"Halo, Nara?"
Mendengar suara itu, pertahanan Aynara yang sejak tadi ia bangun runtuh seketika. "Lang..."
Mendengar suara Aynara yang bergetar, Langlang mengerutkan dahi. "Iya. Kenapa, Ra?"
Aynara menarik napas dalam-dalam. "Aku harus ngomong sesuatu."
"Ada apa?" tanya Langlang. 'Kamu kedengarannya gak baik-baik saja."
Aynara duduk di tepi tempat tidur. "Ayah baru saja ngasih tahu aku, kalau aku akan menikah."
"Menikah?" ulang Langlang setelah sempat terdiam sejenak.
"Iya," jawab Aynara pelan.
"Sama siapa?" Langlang menggenggam ponselnya lebih erat.
Aynara menunduk. "Cucu Pak Wicaksono." Aynara memejamkan matanya. "Aku akan menikah besok."
"Apa?" Nada suara Langlang berubah. "Besok? Maksudmu... besok kamu nikah sama orang lain?"
Air mata mulai menggenang di sudut mata Aynara. "Aku juga baru tahu hari ini."
"Tapi kenapa?"
Aynara kemudian menceritakan semuanya. Tentang perjanjian kedua kakek mereka, denda lima miliar rupiah, hingga ancaman bahwa keluarga mereka tidak akan mampu membayar jika pernikahan itu dibatalkan.
Langlang mendengarkan tanpa menyela. Setelah Aynara selesai, terdengar embusan napas panjang dari seberang telepon. "Jadi... kalau kamu batalin pernikahan itu, keluargamu harus membayar lima miliar?"
"Iya."
Langlang terdiam.
Aynara menggigit bibir bawahnya. "Lang, aku gak mau nikah sama dia." Suara Aynara semakin lirih. "Aku mencintaimu."
Untuk beberapa saat, tidak ada jawaban, kemudian Langlang berkata dengan suara berat, "Aku juga mencintaimu, Nara."
Air mata Aynara akhirnya jatuh. "Terus kita harus gimana?"
"Ra," kata Langlang dengan suara rendah. "Aku belum punya pekerjaan tetap. Gak punya tabungan miliaran rupiah. Bahkan untuk membangun kehidupan sederhana sama kamu, aku masih belum mampu. Tapi aku juga gak sanggup kehilangan kamu. Kalau aku punya uang sebanyak itu..." suaranya terdengar getir. "Aku pasti datang jemput kamu sekarang."
Aynara menutup mulutnya menahan tangis. "Jangan bilang gitu."
"Aku serius, Nara."
"Aku tahu." Aynara mengangguk meski Langlang tak bisa melihatnya.
"Kalau saja aku punya sesuatu yang bisa membuat keluargamu gak perlu membayar denda itu..." Langlang terdiam sejenak. "Kamu gak perlu nikah karena terpaksa."
Aynara mengusap air matanya. "Aku harus gimana, Lang?"
"Kalau kamu nolak..." Langlang berhenti sebentar. "Aku takut kamu dan keluargamu bakal makin susah."
"Aku tahu."
Tiba-tiba tak ada lagi yang bersuara. Hingga beberapa saat kemudian, Langlang akhirnya bertanya dengan nada suara pelan. "Orang itu... dari kota?"
"Iya."
Langlang kembali bertanya, kali ini dengan nada hati-hati. "Keluarganya sangat kaya?"
Aynara terdiam sejenak. "Iya. Kenapa?"
"Gak apa-apa." Langlang segera menjawab. "Aku cuma pengen tahu seperti apa keluarga yang akan ngambil kamu dariku."
Aynara mengembuskan napas panjang. "Lang..."
"Hmm?"
"Kalau besok aku benar-benar menikah dengannya..." Suara Aynara kembali bergetar. "Kamu jangan membenciku, ya."
Langlang memejamkan mata. "Aku gak bakal benci sama kamu."
"Kamu janji?"
"Janji."
Aynara menangis dalam diam.
Di sisi lain telepon, Langlang menggenggam ponselnya erat. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar takut kehilangan Aynara.
Namun, ada sesuatu yang tidak pernah Aynara ketahui. Langlang tidak hanya takut kehilangan wanita yang dicintainya. Ia juga takut kehilangan kehidupan yang selama ini diam-diam ia impikan bersama wanita itu.
***
Malam itu, sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah Jayadi. Bersama anak dan istrinya, pria paruh baya itu langsung pergi ke ruang tamu.
Tak lama kemudian, seorang pria turun dari kursi depan sambil membawa beberapa kotak dan sebuah garment bag.
"Permisi. Saya membawa beberapa keperluan untuk pernikahan Nona Aynara besok."
"Silakan masuk," kata Cepi ramah. "Keperluan pernikahan?" tanyanya setelah pria itu masuk.
"Iya, Bu." Lelaki itu kemudian menyerahkan beberapa barang yang sudah dikemas rapi.
Tidak banyak. Namun, begitu satu per satu dibuka, mata Cepi dan Caca langsung membesar.
Sebuah gaun pengantin terlipat rapi di dalam kotak khusus. Modelnya sederhana, tetapi terlihat elegan dengan bahan yang halus dan jahitan yang begitu rapi.
"Ini untuk Nona Aynara," kata pria tersebut, kemudian membuka sebuah kotak lain.
Di dalamnya terdapat satu set perhiasan berlian yang terdiri dari kalung, sepasang anting, dan gelang.
Caca sampai mendekat tanpa sadar. "Wow..."
Cepi tidak kalah tertegun.
Pria itu kemudian menyerahkan sebuah kotak sepatu. "Ini juga untuk melengkapi gaunnya."
Caca menatap sepatu tersebut dengan mata berbinar. "Berapa harganya?" tanyanya spontan.
Lelaki itu hanya tersenyum sopan. "Maaf, saya kurang tahu, Nona."
"Jangan norak." Cepi segera menyikut lengan putrinya. Padahal matanya sendiri masih terpaku pada perhiasan di atas meja.
"Besok pagi akan ada perias yang datang ke sini," lanjut pria tersebut. "Beliau akan merias Nona Aynara sebelum kami menjemput keluarga."
"Baik," jawab Jayadi.
"Kalau begitu, saya permisi," pamit pria itu setelah memastikan semua barang telah diterima.
Jayadi mengangguk. "Terima kasih."
Tak lama kemudian mobil itu meninggalkan halaman rumah Jayadi.
Jayadi hanya bisa memandangi barang-barang yang tersusun di atas meja. Ia tidak terbiasa melihat perhiasan, gaun, dan sepatu dengan kualitas seperti itu. Dari penampilannya saja, ia tahu semua pemberian tersebut bukan barang murah.
Sementara itu, Aynara justru terdiam. Tatapannya tertuju pada gaun pengantin yang sederhana tetapi terlihat begitu anggun, lalu beralih pada kotak perhiasan yang berisi satu set berlian.
Bukannya merasa senang, Aynara malah merasa semakin gugup. Semua benda itu membuat pernikahan yang awalnya terasa seperti sesuatu yang jauh kini menjadi nyata di depan matanya. Besok ia benar-benar akan menjadi istri Aksa Wicaksono.
Jayadi mengembuskan napas pelan. "Keluarga Wicaksono benar-benar serius dengan pernikahan ini."
Aynara tidak menjawab. Jemarinya perlahan menggenggam ujung bajunya. Di tengah kemewahan yang diberikan keluarga Wicaksono, pikirannya justru tertuju pada satu nama.
Langlang.
Cepi dan Caca masih berdiri memandangi barang-barang yang baru saja datang.
"Bagus banget..." gumam Caca.
Cepi tidak menanggapi. Tatapannya masih terpaku pada perhiasan yang berkilauan di dalam kotak.
"Aku boleh pinjam dulu buat bikin konten, ya?" Caca tiba-tiba mengulurkan tangan ke arah kotak perhiasan.
"Jangan!"
...🔸🔸🔸...
..."Tidak semua kemewahan mampu membuat hati bahagia. Sebab ketika cinta harus ditinggalkan, gaun terindah sekalipun terasa seperti pakaian untuk sebuah kehilangan."...
..."Hidup tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan, tetapi setiap keputusan tetap memiliki konsekuensi yang harus kita hadapi dengan berani."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Asti tidak menjawab pertanyaan Regan tentang Aksara Group.
Gunadi yang melihat Tuan Mudanya ada di taman dan terlihat sedih, merasa khawatir.
Gunadi berdiri di samping kursi tempat duduk Regan.
Tuan Mudanya bertanya pada Gunadi kenapa mamanya menangis ketika bertanya kenapa nama perusahaan Aksara Group.
Tuan Muda Arsa di mana ? Atau dia Regan ?
Regan tahu ada salah satu berkas yang harus dicek ulang oleh bagian keuangan.
Gunadi merasa heran, tuan mudanya bisa menemukan masalah tersebut.
Gunadi semakin heran dengan Aksa yang sekarang. Aksa lebih teliti.
Gunadi masih antara yakin dan tidak yakin, yang ada di rumah sakit itu Tuan Muda atau orang lain.
Regan minta sama Gunadi mengirimkan berkas-berkas yang perlu dia kerjakan di rumah sakit.
Nanti kalau ada yang perlu ditandatangani bagaimana. Lupa juga tanda tangannya.
Juga tentang ayahnya Aksa, Aditya Wicaksono tak luput dari pemberitaan. Mempunyai anak diluar pernikahan.
Berita unggahan tentang kecelakaan yang menimpa Aksa, juga tentang Aditya yang mempunyai anak diluar penikahan sudah sampai kepada Aksa, Gunadi dan Asti
Diiih orang yang sudah meninggal diusik juga. Ayahnya sendiri juga.
Kelakuan jahat Doni akibat sakit hati tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.
Doni nanti musuhnya Regan. G
Gunadi menanyakan kondisi Aksa setelah kecelakaan.
Dokter dengan sabar menjawab semua pertanyaan Gunadi, dan memberikan penjelasannya.
Semua perbedaan Aksa yang dirasakan Gunadi ditanyakan kepada dokter.
Perubahan Aksa secara medis masih dianggap normal.
Penjelasan dari dokter, Aksa berubah setelah kecelakaan, semua masuk akal.
Gunadi masih merasa ada yang ganjil.
Keturunan Wicaksono yang ada kini tinggal dua anak dari dua gundik Ayahnya Aksa.
Kalau Aynara nanti menikah ulang dengan Aksa palsu, kalau sampai hamil tentunya bukan keturunan Wicaksono.
Gunadi setelah selesai berinteraksi secara langsung dengan Aksa, pamit akan kembali ke kantor.
Gunadi pikirannya terus terganggu dengan perubahan Aksa.
Gunadi menuju ruang dokter sebelum kembali ke kantor. Sebelum menyimpulkan apapun, Gunadi harus mendapatkan jawaban yang masuk akal.
Gunadi seperti nggak yakin , apa cedera kepala dan amnesia bisa mengubah seseorang sampai sejauh itu.
Gunadi belum bertemu Aksa sejak mulai sadar. Gunadi nanti kalau bertemu dan berinteraksi dengan Aksa kemungkinan juga merasakan ada yang janggal.
Perasaan itu hilang sejak melihat Aksa setelah kecelakaan. Tidak ada raaa kesal, tidak berusaha menhaga jarak karena muak. Tapi ada rasa aneh yang sulit dijelaakan.
Aynara belum sadar saja kalau yang sedang dihadapi memang bukan Aksa.
Aynara selalu menepisnya - jangan-jangan karena amnesia.
Aynara sepakat untuk mulai dari awal. Dengan syarat tetap tinggal terpisah. Hubungan mereka dilihat perkembangannya. Di jalani seperti teman dulu.
Setelah satu tahun baru diambil keputusan, mau mempertahankan pernikahan atau bercerai.
Apa yang dikatakan Aynara, Regan setuju.
Hubungan di kantor mereka profesional. Interaksi mereka sebagai atasan dan bawahan.
Regan setuju dengan semua syarat yang dikatakan Aynara.
Wajah Regan bisa ya mirip sekali dengan wajah Aksa. Pengenalan wajah di layar ponsel Aksa utidak menolak wajah Regan.
Regan sebagai Aksa mengetik permintaan maaf atas semua sikapnya dulu yang sudah menyakiti Aynara.
Aynara tidak menyangka Aksa minta maaf.
Aynara memaafkan Aksa.
Regan mulai komunikasi sama Aynara dengan mengetik kalimat di ponselnya. Ia menunjukkan kepada Aynara.
Aynara mau menceritakan semuanya pelan-pelan.
Setelah Aynara menceritakan semuanya, apa yang akan dilakukan Regan nanti.
Aynara mulai menceritakan kenyataan yang ada.
Mendengar perlakuan dan hinaan Aksa terhadap Aynara, Regan punya penilaian lagi tentang Aksa. Jauh lebih buruk.
Aynara menyelesaikan ceritanya.
Regan baru tahu bahwa orang yang wajahnya hampir sama dengannya, saat sebelum kecelakaan terjadi, baru saja bertengkar hebat dengan istrinya.
Joseph sudah mendapatkan informasi tentang Aksa Wicaksono. Tentang nama-nama mereka. Kakeknya, Ayahnya, Ibunya, juga dua gundik Ayahnya Aksa yang masing-masing juga punya anak tapi tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.
Komplit sekali informasi yang di dapat Joseph.
Sampai tentang Aksa yang dijodohkan dengan Aynara.
Juga tentang pekerjaan Aksa.
Pembicaraan belum selesai, suara air dari kamar mandi berhenti. Aksa memutuskan sambungan.
Apa mobil Wicaksono yang mengalami kecelakaan juga Doni pelakunya ?
Kondisi Aksa dalam pemeriksaan secara medis baik semua. Dokter minta pasien tetap diobservasi.
Regan tahu kalau dokter merasa ada yang janggal.
Regan benar-benar mendalami perannya. Beberapa pertanyaan dokter dijawab dengan menggeleng.
Mendengar nasehat dari dokter, Regan menjawabnya mengangguk pelan.
Asti dan Aynara jadi memperkenalkan diri biar Aksa yang amnesia tahu siapa kedua wanita itu.
Dokter memeriksa Aksa. Ketika ditanya oleh dokter, jawabnya hanya mengangguk dan diam.
Bikin Asti khawatir saja nih.
Pura-pura panik, tidak tahu harus bicara apa.
Aynara terkejut melihat Aksa yang cuma membuka mulut, ngga ada suara yang keluar.
Aynara dan Asti memang orang asing bagi Aksa palsu. Aman saat ini Aksa menjadi tidak ingat sama mama dan istrinya.
Aksa hilang ingatannya serta suaranya. Itu yang Aynara tahu saat ini.
Suara jadi berbeda juga kalau Aksa bicara.
Regan membuat hidupnya rumit sendiri.