"Arman itu sekarang makin tidak perhatian sama Ibu," tulis pesan dari Ibu Lestari dalam tangkapan layar tersebut. "Setiap bulan uang belanja selalu berkurang. Pasti uangnya dipakai untuk hal-hal yang tidak jelas. Beda sekali sama Yoga. Tapi Yoga juga sama saja, makin ke sini makin tunduk sama Isma. Apa-apa selalu Isma yang didahulukan, sampai-sampai ibunya sendiri sering dilupakan."
Pesan berikutnya memperlihatkan balasan dari Aini yang terkesan memprovokasi, "Sabar ya, Bu. Aini sama Mas Arman selalu usahakan yang terbaik buat Ibu. Kalau Mas Yoga mungkin repot karena harus mengurus Kak Isma juga."
Dan balasan terakhir dari Ibu Lestari membuat napas Isma tertahan: "Repot bagaimana? Anak saja belum punya sampai sekarang. Sudah lima tahun menikah tapi belum ada tanda-tanda. Ibu ini makin tua, ingin menimang cucu dari anak sulung. Tapi kalau rahimnya memang mandul, mau bagaimana lagi. Kasihan Yoga, hidupnya habis cuma buat membiayai perempuan yang tidak bisa memberikan keturunan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JEJAK DIGITAL YANG TERKUAK
Deru mesin mobil yang familier terdengar berhenti di halaman depan saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Yoga telah kembali dari bengkel membawa mobilnya yang sudah selesai diperbaiki. Langkah kakinya terdengar ringan saat melintasi ruang tamu, mengabaikan sapaan singkat ibunya yang sedang menonton televisi.
Pintu kamar terdorong pelan. Yoga melangkah masuk dengan senyum sumringah yang mengembang lebar di wajahnya—sebuah pendar kebahagiaan yang sangat kontras dengan raut lelah yang biasa ia perlihatkan beberapa minggu terakhir ini. Pria itu tampak begitu bersemangat, seolah-olah baru saja mendapatkan hadiah besar.
Isma yang sedang melipat pakaian di tepi kasur melirik sekilas, menyadari perubahan aura suaminya dengan cermat. Senyuman cerah itu jelas bukan lahir dari lelahnya jam kerja kantor atau kepuasan melihat mobilnya sembuh dari bengkel, melainkan dari sisa-sisa euforia makan siang romantisnya bersama Gladis di restoran mewah tadi.
"Mas mandi dulu ya, Isma," ucap Yoga ramah, bahkan terdengar terlalu ceria. Ia meletakkan ponselnya begitu saja di atas meja rias, lalu mengambil handuk dan melangkah santai menuju kamar mandi di dalam kamar mereka.
Begitu pintu kamar mandi tertutup dan suara gemericik air terdengar membasahi lantai, atmosfer kamar seketika berubah tegang.
Isma meletakkan lipatan pakaiannya. Dengan gerakan tenang dan tanpa suara, ia bangkit berdiri mendekati meja rias. Matanya tertuju pada ponsel Yoga yang layarnya masih redup. Mengandalkan ingatan akan kata sandi suaminya yang tak pernah diubah sejak dulu, Isma membuka kunci layar dengan sekali usapan.
Jemari Isma bergerak cepat membuka aplikasi pesan singkat. Ia mencari nama "Gladis" di bilah pencarian kontak maupun daftar obrolan teratas. Niatnya ingin melihat sejauh mana interaksi mereka setelah pertemuan siang tadi.
Namun, dahi Isma berkerut tipis. Tidak ada nama "Gladis" di sana. Bilah pencarian nihil, dan obrolan terakhir yang tertera hanyalah grup kantor serta kontak rekan kerja pria lainnya.
Isma menyunggingkan senyum dingin di balik keheningan kamar mandi. Yoga rupanya bermain lebih rapi daripada yang ia perkirakan—menyimpan nomor itu dengan nama samaran atau sengaja menghapus seluruh jejak percakapan sebelum menginjakkan kaki di rumah. Sebuah taktik klasik yang justru makin menegaskan bahwa ada kebohongan besar yang sedang disembunyikan rapat-rapat oleh suaminya.
Isma tak sedikit pun kehilangan akal. Jika riwayat percakapan di aplikasi pesan singkat bisa dihapus bersih dalam hitungan detik, maka jejak di media sosial sering kali meninggalkan kecerobohan yang tak disadari. Dengan ketenangan yang terlatih, Isma menggeser jarinya dan membuka aplikasi Instagram di ponsel Yoga.
Ia langsung mengarah ke kolom pencarian dan daftar akun yang diikuti suaminya. Tak butuh waktu lama bagi Isma untuk menemukan sebuah akun dengan foto profil yang begitu mencolok.
Isma mengetuk nama akun tersebut. Benar saja, di sana terpampang sosok wanita yang sangat familier—Gladis. Namun, penampilan wanita itu di dunia maya benar-benar bertolak belakang dengan citra rekan kerja berbusana rapi yang diperlihatkan kemarin. Foto profil dan deretan unggahannya memperlihatkan Gladis dalam balutan bikini minim berwarna cerah, secara terbuka memamerkan lekuk tubuh, belahan dada, serta paha mulusnya yang terekspos tanpa canggung.
Isma memperhatikan deretan tombol di bawah unggahan tersebut. Hampir di setiap foto seksi yang diunggah Gladis, nama akun Yoga bertengger manis di daftar pemilih tanda suka, lengkap dengan beberapa komentar emotikon yang ditinggalkan suaminya.
Dada Isma berdesir dingin. Rasa jijik dan muak bercampur menjadi satu, melihat betapa murahan dan rendahnya standar moral pria yang selama lima tahun ini ia layani dengan penuh kesabaran. Di rumah, Yoga selalu menuntut Isma untuk menjadi istri yang penurut dan tertutup, sementara di luar, suaminya justru sibuk mengagumi kebebalan tubuh wanita lain yang tak berbusana lengkap.
Suara gemericik air dari dalam kamar mandi mendadak berhenti, menandakan Yoga sudah selesai membersihkan diri.
Dengan gerakan yang sangat cekatan namun tenang, Isma mengambil ponsel pribadinya, mengabadikan seluruh bukti unggahan, komentar, dan nomor identitas akun tersebut melalui beberapa kali jepretan kamera. Setelah memastikan semua bukti tersimpan aman di folder rahasia miliknya, Isma menutup aplikasi Instagram, meletakkan kembali ponsel Yoga persis di posisi semula, dan kembali melipat pakaian seolah tak pernah terjadi apa-apa.