Dipaksa menjadi pengantin pengganti demi melunasi utang lima miliar keluarga angkatnya, Kiyora Aleena pasrah dibawa oleh penguasa mafia Italia yang paling ditakuti—Salvatore.
Namun, alih-alih dijadikan tawanan atau simpanan, pria dingin nan kejam itu justru memperlakukannya bagai seorang ratu. Puncaknya terjadi saat sebuah bisikan misterual membakar ingatan masa lalunya.
"Aku tidak pernah salah mengenali milikku," bisik Salvatore rendah, menatap gelang perak berbandul merah di pergelangan tangan Kiyora.
"Kamu adalah Istriku. Ratu dari seluruh kerajaanku ... Alaura."
"N-Nama aku Kiyora, Om Tuan Mafia! Salah orang kali!" pekik Kiyora panik dengan mata bulatnya yang berbinar kaget.
Siapa sebenarnya Alaura? Dan mengapa takdir mempertemukannya kembali dengan Salvatore di tengah ancaman perang berdarah antar-klan mafia yang siap membongkar rahasia besar tentang identitas aslinya?
Terlebih, ada bocil cadel menggemaskan yang merecoki kisah percintaan mereka.
"Ini Mama Milooo!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perlahan Demi Perlahan
Di ruang kerjanya yang bernuansa mahoni gelap, Salvatore duduk mematung di balik meja besar. Benaknya berkecamuk hebat, berputar di antara potongan memori belasan tahun lalu dan kenyataan di hadapannya. Sampel darah serta beberapa helai rambut Kiyora sudah dikirim ke laboratorium internal untuk tes DNA, tetapi rasa cemas dan keraguan yang menggerogoti dadanya tak kunjung surut. Setiap detik terasa begitu menyiksa.
Cklek.
Pintu ruang kerja terbuka perlahan. Thomas, melangkah masuk membawa beberapa dokumen penting.
"Don Salvatore, saya ingin melaporkan perkembangan mengenai garis pertahanan sektor selatan wilayah mafia kita. Ada pergerakan mencurigakan dari klan musuh di perbatasan," ujar Thomas dengan suara tegas dan profesional.
Namun, Thomas menghentikan laporannya. Ia menyadari sang atasan sama sekali tidak menyimak ucapannya. Tatapan mata Salvatore kosong, menerawang jauh menembus kaca jendela besar tanpa fokus. Thomas menghela napas pelan. Jarang sekali melihat bosnya yang terkenal dingin dan berdarah dingin ini kehilangan ketenangan.
"Tuan ... Anda tampak tidak fokus. Apakah ada hal lain yang mengganggu pikiran Anda?" tanya Thomas memberanikan diri.
Salvatore terdiam sejenak sebelum akhirnya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kulit. Ia memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. "Aku ragu, Thomas. Gadis itu ... Kiyora. Aku sangat yakin dia adalah Alauraku. Tapi beberapa detail kecil terasa bertolak belakang. Bagaimana jika aku salah? Bagaimana jika harapanku selama belasan tahun ini ternyata salah besar?"
Thomas mendengarkan dengan saksama. Sebagai orang yang mendampingi perjalanan Salvatore membangun kekaisaran bisnis dan dunia bawahnya dari nol, ia tahu betul betapa berartinya sosok Alaura bagi pria tersebut. Thomas berpikir sejenak, menimbang saran terbaik untuk majikannya.
"Tuan, boleh saya memberi saran?" ucap Thomas sopan. Salvatore mengangguk pelan, memberinya izin.
"Selama ini Anda mendekatinya sebagai Don Mafia yang biasa menuntut dan memegang kendali penuh. Namun, bagaimanapun juga, Nona Kiyora hanyalah seorang gadis muda berusia sembilan belas tahun yang tumbuh dalam tekanan keluarga angkatnya," jelas Thomas hati-hati. "Jika Anda terus menekannya dengan paksaan, seperti pemeriksaan medis mendadak tadi ... saya khawatir tindakan itu justru akan membuatnya trauma dan semakin menutup diri. Jika pada akhirnya terbukti bahwa dia memang Nona Alaura yang asli, Anda sendiri yang akan sangat menyesal karena telah menakut-nakutinya."
Salvatore menaikkan sebelah alisnya, mendengarkan saran asistennya itu dengan cermat.
"Lakukanlah pendekatan secara perlahan, Tuan. Buat dia merasa aman dan nyaman di samping Anda. Ketika seorang wanita sudah merasa sepenuhnya aman, dengan sendirinya dia akan membuka hatinya dan menyerahkan dirinya secara sukarela kepada Anda," lanjut Thomas.
Salvatore terdiam, mencerna setiap kata yang diucapkan Thomas. Jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu. Tiba-tiba, sudut bibirnya terangkat tipis dan tatapannya berubah intens.
"Maksudmu ... menidurinya?" tanya Salvatore dingin dan berterus terang.
Thomas tersenyum tipis dan membungkukkan badannya sedikit. "Tuan tentu lebih tahu apa yang saya maksudkan."
Sepeninggal Thomas, pikiran Salvatore semakin riuh. Saran sang asisten terus berputar di kepalanya. Pria tegap itu akhirnya memutuskan keluar dari ruang kerja untuk mencari udara segar. Langkah kakinya membawa tubuh tingginya menyusuri koridor panjang hingga secara tak sengaja melewati area teras belakang mansion yang berbatasan langsung dengan taman luas.
Hujan deras tengah mengguyur bumi sore itu. Suara gemuruh air yang menghantam tanah dan kilatan petir beberapa kali menyambar di langit malam yang gelap. Namun, sebuah pemandangan di sudut teras seketika menghentikan langkah kaki Salvatore.
Di atas ubin teras yang basah terkena cipratan air, tampak Kiyora tengah berjongkok sendirian. Baju dan rambutnya sudah setengah basah kuyup karena ia sengaja mengulurkan tangannya menikmati bulir-bulir hujan yang dingin. Anehnya, gadis itu sama sekali tidak takut pada gemuruh petir atau dinginnya angin malam. Matanya yang polos menatap lurus ke depan, menikmati momen hening di tengah riuhnya suara hujan.
Salvatore berdiri membeku sejenak, teringat kembali pada perkataan Thomas beberapa saat lalu. "Buat dia merasa nyaman,"
Tanpa membuat suara, Salvatore melangkah mendekati gadis itu. Langkah kakinya yang mantap akhirnya menyadarkan Kiyora. Sebelum gadis itu sempat berdiri atau bertanya, Salvatore sudah lebih dulu merengkuh tubuh mungilnya dan mengangkatnya ke dalam gendongan bridal style dengan sangat mudah.
"Eh?! Om?!" pekik Kiyora terkejut setengah mati.
Kiyora refleks mengalungkan kedua lengan mungilnya di sekeliling leher kokoh Salvatore agar tidak terjatuh. Pandangan mereka bertemu dalam jarak yang sangat dekat. Tatapan mata hitam Salvatore terasa begitu dalam dan pekat, mengunci manik mata Kiyora yang membulat indah. Untuk pertama kalinya, tidak ada tatapan mengintimidasi dari pria itu, melainkan sebuah kehangatan yang asing.
Salvatore membalikkan badan dan membawa Kiyora melangkah masuk ke dalam mansion, menerobos koridor hangat menuju kamar utama. Di sepanjang perjalanan, Kiyora yang mendadak merasa takut dan canggung hanya bisa menyembunyikan wajahnya di dada bidang Salvatore, mencengkeram erat rompi kemeja mahal yang dikenakan pria itu. Ia bisa merasakan detak jantung Salvatore yang berembus stabil di balik dadanya.
Pintu kamar utama terbuka dan Salvatore melangkah masuk. Dengan sangat hati-hati dan lembut, seolah sedang memegang barang porselen yang sangat rapuh. Lalu, Salvatore menurunkan Kiyora dan mendudukkannya di tepi ranjang king size.
Kiyora masih mencengkeram kain rompi Salvatore, menatap pria tegap di hadapannya dengan raut wajah sedikit cemas dan bibir yang agak gemetar karena dinginnya air hujan.
Menyadari ketakutan dan tubuh gemetar gadis kecilnya, raut wajah Salvatore melunak. Jemari kekarnya yang biasanya memegang senjata kini terangkat lembut, mengusap helai rambut basah yang menempel di dahi Kiyora.
"Ganti pakaianmu," ucap Salvatore dengan suara yang amat pelan dan dalam, bernada menenangkan. "Kamu bisa masuk angin kalau membiarkan bajumu basah seperti ini."
Kiyora tertegun di tempatnya, menatap wujud sang Don Mafia yang mendadak berubah menjadi sosok yang begitu penuh perhatian.
"Di baik-baikin hari ini, apa besok mau kena sembelih buat makan piranha kata Milo tadi? Hais, atau anak kecil itu hanya menakutiku saja? Tapi jujur saja, aku tak bisa menebak apapun yang ada di otak om tua ini," batin Kiyora penuh curiga
____________
gak sabar lihat salvatore di tinggal kabur sama kyora😂😂