NovelToon NovelToon
Enemy To Lovers: Tersangkut Cinta Musuh Bebuyutan

Enemy To Lovers: Tersangkut Cinta Musuh Bebuyutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Idola sekolah / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: theonlywaaannn_

Kiara cuma punya satu impian di sekolah barunya: lulus dengan tenang tanpa drama.

​Sayangnya, takdir malah melemparnya tepat ke lingkaran kehidupan Khafi Mahendra—cowok paling jahil, menyebalkan, dan susah ditebak di SMA Cahaya Permata.

​Dua kepala batu. Dua pendirian kuat. Satu hubungan tanpa komitmen yang dipenuhi provokasi. Ketika benci menjadi satu-satunya bahasa yang mereka pahami, seberapa jauh mereka bisa saling menghindar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon theonlywaaannn_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 : Mabal, Kejar-kejaran, Penggaris Kayu

   Hari Kamis pagi di kelas XI IPS 2 diawali dengan tradisi purba anak sekolah: kepanikan massal akibat tugas matematika wajib Bu Nunung yang belum diselesaikan hampir satu kelas.

​"HEH! SIAPA YANG UDAH BERES NOMOR LIMA SAMPAI SEPULUH?! BAGI CONTEKAN DONG!" teriak Ferdi berdiri di atas kursi sambil melambaikan buku tulisnya seperti bendera perang.

​"Gue baru nomor satu, itu juga dapet hasil minus lima puluh dua, padahal nyari umur orang!" sahut Kevin frustrasi dari pojok belakang.

​Di mejanya, Kiara sedang fokus menulis saat sebuah kotak susu cokelat dingin tiba-tiba mendarat tepat di samping bukunya. Ia mendongak dan menemukan Khafi berdiri bersedekap dengan wajah sok datarnya.

​"Nih," ucap Khafi singkat.

​Kiara menaikkan sebelah alisnya. "Ngapain ngasih susu?"

​"Biar otak lo nggak korslet ngerjain rumus. Lagian kaus basket gue sama hoodie kemarin udah lo cuci, kan?" sergah Khafi usil, memasukkan tangan ke saku celana. "Anggap aja itu upah nyuci."

​"Yeuuu! dikira babu apa ya gue nyuciin baju lo mulu," cetus Kiara sewot. "Lagian kaus lo itu gede banget, bisa buat tenda camping tau nggak!"

​"Kuntil, Kuntil... Nyuci baju doang serasa udah berjasa kepada bangsa." cibir Khafi asal menjatuhkan diri di kursi depan Kiara, membalikkan badannya menghadap cewek itu. "Tapi ya syukur deh kalau muat jadi tenda, berarti badan lo emang setipis triplek."

​"Khafi!" Kiara langsung mengambil penghapus karet di mejanya dan melemparnya tepat mengenai dada Khafi.

​"ADUH! KASAR BANGET!" seru Ferdi yang tiba-tiba melintas. "Khaf, lo diapain sama si Kia?! Parah banget Kia, anak orang lo zalimi! Tapi, btw, Kiara cantik dan kalem... bagi jawaban nomor tujuh dong, pliss demi kelangsungan hidup urang!"

​Neona yang baru kembali dari kantin langsung menepis tangan Ferdi. "Enak aja main nyontek! Ngerjain sendiri sana, Fer! Dasar beban kelompok!"

​"Aduh Mama Ona galak amat pagi-pagi," goda Kevin sambil tertawa ngakak dari mejanya. "Lihat tuh si Khafi, sengaja banget duduk di situ cuma buat nyari gara-gara sama Kia biar dicuekin Bu Nunung ntar."

​"Diem lo, Vin!" potong Khafi cepat. Tangannya bergerak cepat menyerobot pulpen bergambar kucing milik Kiara.

​"Khafi! Balikin pulpen gue!" seru Kiara berusaha meraih pulpennya, tapi Khafi malah mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Dengan perbedaan tinggi badan mereka yang jauh, Kiara jelas kalah telak.

​"Ambil kalau bisa," tantang Khafi dengan cengiran jail yang sangat menyebalkan—cengiran khasnya yang sudah lama tidak kelihatan.

​"Ih, tengil banget sih lo!" Kiara berdiri di atas tempat duduk kursi bangkunya demi menggapai tangan Khafi. "Balikin nggak?!"

​"Nggak mau. Wleee," Khafi malah makin membusungkan dada, sengaja memancing emosi Kiara.

​Tepat saat suasana kelas sedang heboh-hebohnya—Ferdi yang dikejar Neona pakai penggaris kayu panjang, Pandu dan Kevin yang ketawa-tawa di pojokan, serta Kiara yang masih berusaha merebut pulpen dari tangan Khafi—pintu kelas mendadak terbuka lebar.

​TAK! TAK! TAK!

​Suara ketukan pantofel Bu Nunung menggema. Kelas XI IPS 2 seketika hening seperti kuburan.

​"KIARA! KHAFI! FERDI! Kenapa itu ada yang berdiri di atas kursi?!" tegur Bu Nunung dengan kacamata yang sudah turun di ujung hidung.

​Khafi cepat-cepat menurunkan tangannya sambil pura-pura batuk kecil, sementara Kiara langsung duduk merosot ke kursinya dengan muka merah padam menahan malu.

​"Pelajaran Ibu baru mau mulai, kalian sudah bikin pasar!" lanjut Bu Nunung tegas. "Sebagai hukuman, yang tugasnya belum selesai, kerjakan di depan papan tulis!"

​Ferdi dan Kevin langsung lemas serentak, sementara Khafi melirik Kiara sambil menyenggol kaki cewek itu di bawah meja. Saat Kiara menoleh dengan tatapan tajam, Khafi hanya menaikkan alisnya sambil mengembalikan pulpen kucing tadi ke meja Kiara pelan-pelan.

​"Nih. Jangan cemberut terus, jelek," bisik Khafi tanpa suara, mengulaskan senyum tipis.

​Kiara memutar matanya malas, tapi bibirnya tak bisa menahan senyum tipis salah tingkahnya.

Suasana bising, ocehan teman-temannya, dan tingkah usil Khafi hari ini berhasil menyapu bersih sisa-sisa kesedihannya. XI IPS 2 memang tidak pernah tenang, tapi di situlah rumah bagi senyumnya yang kembali utuh.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

   Begitu bel istirahat kedua berbunyi, Kiara langsung berkacak pinggang di depan papan tulis. Matanya menyapu seluruh penjuru kelas XI IPS 2.

​"Ona! Liat Khafi nggak?!" tanya Kiara setengah berteriak.

​Neona yang sedang memakai lip balm mendongak. "Lah, bukannya tadi pas jam Pak Bambang dia udah ngacir ke belakang? Kan hari ini jadwal piket kalian."

​"Dasar Khafi tukang kabur!" gerutu Kiara kesal. Hari ini jadwal piketnya bersama Khafi, tapi cowok itu malah menghilang.

​Tiba-tiba Kevin dan Pandu masuk kelas sambil membawa es cekek plastik. "Kia, nyari si Khafi ya? Tadi gue liat dia lagi selonjoran di teras belakang dekat laboratorium fisika tuh, sama si Ferdi. Lagi udud tipis-tipis sambil main game." Kevin yang memang tidak setia kawan selalu jadi biang kompor kegaduhan Tom and Jerry IPS 2.

​"Oke, makasih, Vin!" Kiara langsung menyingsingkan lengan seragamnya dan melangkah cepat keluar kelas.

   ​Di teras belakang laboratorium fisika yang sepi, Khafi sedang asyik menatap layar ponselnya.

​"Woy Khaf, eta si Kia jalan ke sini!" bisik Ferdi panik tiba-tiba sambil menunjuk ke ujung lorong.

​Khafi mendongak dan seketika matanya membelalak melihat Kiara berjalan cepat dengan raut wajah berkilat emosi. Tanpa pikir panjang, refleks bertahan hidup Khafi langsung aktif. Ia bangkit dan melangkah seribu langkah.

​"KHAFI MAHENDRA! JANGAN KABUR LO!" teriak Kiara begitu melihat Khafi berbalik arah.

​Aksi kejar-kejaran pun pecah di koridor lantai dua. Khafi dengan langkah lebarnya berusaha menghindar, sementara Kiara mengejarnya pantang menyerah. Beberapa siswa yang nongkrong di depan kelas sampai geleng-geleng kepala melihat sepasang manusia yang tiada hari tanpa ribut itu.

​"Ra! Nanti aja napa piketnya! Gue lagi ada urusan!" seru Khafi sambil menengok ke belakang tanpa menghentikan larinya.

​"Urusan mata lo dua! Lo mau kabur kan?! Minggu kemarin gue udah ngerjain sendiri, sekarang giliran lo!" balas Kiara tak mau kalah.

​Kiara mengambil jalan pintas lewat lorong samping perpustakaan. Dan benar saja, begitu Khafi belok di sudut koridor, Kiara sudah berdiri menunggunya dengan tangan terlipat di dada.

​Brak! Khafi hampir saja menabrak tubuh mungil Kiara kalau tidak segera mengerem dadakan.

​"Kena lo!" seru Kiara puas sambil menarik kerah belakang kemeja Khafi.

​Khafi menghela napas pasrah, memegang dadanya yang naik turun. "Astaga, Ra... lo larinya cepat banget kayak dikejar satpol PP."

​"Banyak alasan. Balik ke kelas sekarang! Pulang sekolah piket!" tegas Kiara menarik lengan Khafi tanpa ampun. Khafi hanya bisa berdecak kesal sambil berjalan pasrah mengekor di belakang cewek mungil itu.

Namun sempat-sempatnya Kiara kembali ke teras belakang laboratorium fisika, Ferdi masih anteng menghembuskan kepulan asap sambil satu tangannya tetap scroll.

Tengkuknya merasa merinding karena di perhatikan, saat menoleh ia terperanjat kecil karena Kiara menatapnya tajam seraya menahan lengan Khafi.

"Terus aja ngebul kayak begitu. Sendirian nggak setia kawan banget ya, Lo! Balik sini nggak! Dari kemarin maball mulu kerjaan lo pada."

Ferdi meringis karena dia kebagian omelan itu, sehabis membuang sisa tembakaunya ia mengekori patuh di belakang Kiara yang masih menarik Khafi.

Di belakang tubuh mungilnya, dua pemuda jangkung itu saling melempar lirikan dan umpatan karena rencana mereka gagal.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

   ​Sore harinya, bel pulang sekolah sudah lama berbunyi. Anak-anak lain sudah bubar, menyisakan Kiara dan Khafi di dalam kelas XI IPS 2.

​Khafi memegang sapu dengan wajah paling cemberut dan tertekuk. "Ngapain sih harus piket sampai bersih banget? Besok juga kotor lagi."

​"Diem dan sapu yang bersih, Khaf! Jangan cuma digeser-geser doang debunya!" semprot Kiara yang sedang sibuk merapikan meja guru.

​Khafi menyapu asal-asalan, lalu perhatiannya tertuju pada penghapus papan tulis. Dengan jahil, ia mengetukkan penghapus itu ke pinggiran meja Kiara, membuat serbuk kapur terbang dan mengenai lengan seragam Kiara.

​"Khafi!" Kiara membalikkan badan, matanya melotot tajam.

​"Ups, sengaja," cengir Khafi tanpa dosa.

​Kesabaran Kiara habis. Ia mengambil penggaris kayu panjang milik guru di depan papan tulis dan mengarahkannya ke Khafi. "Balik bercanda lagi, gue sabet ya kaki lo!"

​"Ampun, Kanjeng Ratu," kekeh Khafi sambil mundur beberapa langkah.

​Kiara lalu berjalan mendekati papan tulis untuk menghapus sisa tulisan di bagian paling atas. Karena tubuhnya yang terbilang mungil, ia harus berjinjit sampai kakinya gemetar.

​Melihat itu, Khafi mendekat. Tanpa mengucap sepatah kata pun, ia berdiri tepat di belakang Kiara. Tangannya yang panjang terulur mengambil penghapus dari genggaman Kiara, lalu menghapus bagian atas papan tulis itu dengan sangat mudah.

​Aroma parfum maskulin bercampur keringat khas Khafi mendadak menguar mendominasi indra penciuman Kiara. Karena jarak mereka yang sangat dekat, Kiara juga bisa merasakan hangatnya dada Khafi yang hampir menempel di punggungnya.

​Kiara membeku di tempat. Jantungnya mendadak berdegup kencang tak karuan.

​"Makanya... kalau pendek tuh ngomong, jangan sok bisa," bisik Khafi pelan tepat di atas kepala Kiara.

​Kiara buru-buru memutar badan untuk memprotes, namun aksinya justru membuat kakinya tersandung ujung gagang sapu yang tergeletak di lantai.

​"Aah!" refleks Kiara memekik sambil kehilangan keseimbangan.

​Dengan gerak cepat, tangan kanan Khafi melingkar sempurna di pinggang Kiara, menahan tubuh cewek itu agar tidak jatuh menghantam lantai. Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa senti. Mata mereka saling mengunci dalam keheningan kelas sore itu.

​Tepat di saat suasana mendadak romantis dan canggung...

​Klek.

​Pintu kelas terbuka lebar. Pak Bon—penjaga sekolah—berdiri di ambang pintu sambil memegang serangkaian kunci.

​"Ehem! Permisi... ini udah sore, jam pulang sekolah malah pacaran dan pelukan di kelas!" tegur Pak Bon sambil menggeleng-gelengkan kepala.

​Seketika Kiara mendorong dada Khafi kuat-kuat hingga cowok itu mundur beberapa langkah. Muka Kiara mendadak merah padam sampai ke telinga, sementara Khafi salah tingkah dan buru-buru menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

​"N-nggak Pak! Ini tadi... ini tadi mau jatuh!" kilah Kiara terbata-bata sambil menyembunyikan wajah panasnya di balik penggaris kayu.

​Khafi berdehem keras, berusaha mengembalikan citra sok dinginnya. "Iya Pak... saya cuma nolong nih triplek jatuh."

​"Alasan anak muda zaman sekarang," kekeh Pak Bon menggelengkan kepala. "Cepat selesaikan piketnya, lalu kunci pintunya ya!"

​Setelah Pak Bon berlalu, suasana kelas menjadi sangat hening dan penuh dengan kecanggungan yang menggemaskan. Kiara berpura-pura sibuk menyapu, sementara Khafi senyum-senyum sendiri sambil membelakangi Kiara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!