NovelToon NovelToon
Terpaksa Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

“Jadi ini wanita yang akan menjadi istri ku?” Suara nya rendah penuh cemooh. “Ayah benar benar berhasil menemukan wanita yang paling membosankan untuk ku”

Dreven Orsley Dastan, pewaris keluarga Dastan, dikenal sebagai pria kasar, pengacau, sekaligus cassanova yang tak pernah serius pada wanita mana pun. Namun, sebuah kecelakaan membuatnya harus duduk di kursi roda—tanpa sedikit pun mengubah sifat liarnya.

Sampai akhirnya, sang ayah menjodohkannya dengan Elnara Sevana, gadis dingin dan cerdik yang terkenal mampu membungkam siapa pun dengan tatapan dan kata-katanya. Ia bukan wanita yang mudah dipermainkan. Setiap serangan lawan selalu dipatahkan sebelum sempat menjadi ancaman.

Elara diminta untuk melahirkan pewaris untuk keluarga Dastan , dan sebagai gantinya Saham perusahaan.

Elara terkekeh sinis, "Sepertinya tidak adil. Bagaimana jika kesepakatannya begini. Aku rubah putramu menjadi anak anjing penurut dan hadiahnya adalah perceraian untukku. Ini terdengar menguntungkan bagiku"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

"N-Nyonya, akhirnya Anda datang," Marta mendekatinya dengan wajah pucat. "Tuan Dreven... dia benar-benar di luar kendali."

Elara tidak menjawab. Matanya menyapu ruangan yang berantakan, pecahan kaca berserakan di lantai, kursi terbalik, dan beberapa pelayan terlihat gemetar di sudut ruangan.

"Dimana dia?" tanyanya dengan suara datar.

"Di kamar mandi, Nyonya. Dia mengunci diri di dalam."

Elara menghela napas dan berjalan menuju kamar mandi utama. Sesampainya di depan pintu, dia mengetuk pelan.

"Dreven."

Tidak ada jawaban.

Elara mencoba memutar kenop pintu, namun terkunci.

"Dreven, buka pintunya."

Masih tidak ada jawaban, hanya suara napas berat yang terdengar dari dalam, disusul dengan suara benturan benda keras.

Tanpa ragu, Elara menendang pintu dengan keras. Seketika, pintu terbuka, memperlihatkan pemandangan yang membuatnya terkejut.

Dreven tergeletak di lantai kamar mandi, kursi rodanya terbalik di sampingnya, air dari shower masih mengalir membasahi seluruh lantai. Wajahnya pucat, ada luka di dahinya yang mengeluarkan darah, dan tangannya tampak memar. Di sudut ruangan, beberapa botol obat berserakan—obat-obatan yang tampaknya telah dia lempar dengan marah.

Pria itu mendongak, menatap Elara dengan tatapan kosong dan senyum miring yang aneh.

"Akhirnya kau pulang," katanya, suaranya serak dan penuh amarah. "Kau membuatku menunggu terlalu lama, istriku."

Elara merinding setiap kali Dreven memanggilnya seperti itu.

Tapi melihat keadaan pria itu, Elara memilih untuk diam dan berusaha membantunya bangkit. Dengan susah payah, dia membantu Dreven duduk bersandar di dinding kamar mandi.

"Apa yang kau lakukan, Dreven?" tanyanya dengan suara terkendali, meskipun matanya menunjukkan kekhawatiran.

Dreven mendengus, menatap tangannya yang memar. "Aku mencoba berjalan, Elara. Ternyata kakiku masih tidak mau bekerja sama. Bodoh, bukan?"

Elara menatapnya dalam-dalam. "Kau jatuh."

"Kau sangat jeli, istriku. Apakah kau ingin medali?" sindirnya dengan getir.

Elara mengabaikan sarkasmenya. Tanpa berkata apa-apa, dia meraih handuk bersih dan mulai membersihkan luka di dahi Dreven dengan hati-hati. Pria itu awalnya ingin menepis tangannya, tetapi Elara langsung menahannya dengan tatapan tajam.

"Jika kau ingin mati, lakukan di luar rumah ini. Aku tidak ingin membersihkan darahmu," katanya dingin.

Dreven terkekeh, tapi kali ini tawanya lebih lemah. "Kau benar-benar tidak punya belas kasihan, Elara."

"Belas kasihan tidak akan membuat kakimu berjalan," balasnya sambil terus membersihkan luka. "Dan juga tidak akan membuatmu menjadi kurang bodoh."

Dreven menatapnya dengan saksama, matanya tak berkedip saat wanita itu dengan cekatan membersihkan lukanya. Tangannya sedikit gemetar—entah karena marah, atau karena kelelahan usai mencoba berjalan.

"Apa kau tidak bertanya mengapa aku melakukan ini?" suara Dreven terdengar pelan, nyaris seperti bisikan.

Elara tidak menjawab, hanya terus membersihkan luka di dahinya.

Dreven tertawa sinis, lalu mencondongkan tubuhnya lebih dekat, membuat Elara akhirnya berhenti sejenak. "Apa kau tidak penasaran, istriku?"

Elara menatapnya sekilas, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. "Aku sudah tahu kalau kau keras kepala dan tidak mau menerima kenyataan. Jadi, ini bukan hal yang mengejutkan."

Senyuman di wajah Dreven semakin lebar, tetapi matanya tetap gelap. "Kau benar, aku memang tidak mau menerima kenyataan."

Dia tiba-tiba menangkap pergelangan tangan Elara, membuat wanita itu akhirnya menatapnya langsung.

"Tapi kau tetap di sini," gumamnya, suaranya lebih lembut dari sebelumnya. "Itu berarti kau masih peduli padaku, kan?"

Elara menahan napas sejenak, sebelum akhirnya menarik tangannya dari genggaman pria itu.

"Jangan terlalu percaya diri, Dreven. Aku hanya tidak ingin menjadi janda dalam waktu dekat. Terlalu merepotkan."

Dia merapikan kembali handuk yang digunakan, lalu membantunya duduk dengan lebih nyaman di kursi roda yang dibalikkan.

"Kalau kau sudah selesai menghancurkan kamar mandi ini, aku sarankan kau juga yang membereskannya."

Elara berbalik, hendak meninggalkan ruangan. Namun sebelum dia bisa melangkah keluar, suara Dreven kembali terdengar—lebih rendah, lebih berbahaya.

"Aku tidak suka menunggu, Elara."

Elara berhenti, tapi tidak menoleh.

Dreven menyeringai. "Jangan membuatku marah lagi."

Elara menaikkan alisnya, dia sama sekali tak pernah membuat pria itu marah. Jadi.. apa yang salah?

Tapi dia tak ingin banyak bertanya, dengan tenang dia berkata, "Dokter terapis mu sebentar lagi tiba. Tunggulah sampai kau tenang."

Mata Dreven menyipit mendengar ucapan Elara.

"Dokter terapis?" suaranya rendah, nyaris terdengar seperti geraman.

Elara mengangguk santai, berbalik dan menatapnya dengan ekspresi datar. "Tentu saja. Bukankah kau memang memiliki terapis pribadi untuk kakimu? Orang yang mencoba berjalan sendiri dan menghancurkan kamar mandi jelas butuh bantuan profesional."

Dreven terkekeh, suara tawanya pelan namun penuh bahaya. "Jadi kau tahu."

Elara hanya mengangkat bahu. "Aku tahu lebih banyak daripada yang kau pikirkan."

Pria itu menatapnya beberapa detik sebelum tiba-tiba mendorong kursi rodanya mendekat, menghentikannya tepat di hadapan Elara.

"Apa yang kau lakukan?" Elara bertanya tanpa sedikit pun mundur.

Namun secara tiba-tiba Dreven meraih tangannya dan menariknya ke pangkuannya. Elara terkejut dan hampir jatuh, tetapi pria itu dengan cepat menstabilkannya.

"Lepaskan aku, Dreven!" Elara berusaha melepaskan diri, namun pria itu justru semakin mempererat pelukannya.

Dreven menundukkan wajahnya ke bahu Elara, suaranya rendah dan terdengar berbahaya. "Aku marah, Elara."

Elara berusaha mendorong dadanya, namun Dreven dengan mudah menahannya. "Itu bukan urusanku!"

Dreven mendengus pelan, lalu mengeratkan pelukannya. "Duduk diam," katanya tenang, seolah-olah wanita di pangkuannya tidak sedang mencoba membunuhnya dengan tatapan.

Elara mengepalkan tinjunya, menahan dorongan untuk menghantam wajah pria itu. "Dasar keras kepala! Apa maumu?"

Dreven menatapnya lekat-lekat, sorot matanya gelap dan dalam. "Aku hanya butuh kau di sini sebentar. Aku tidak suka menjadi lemah di depan orang lain. Hanya kau."

Elara ingin membalas, tetapi sebelum dia sempat berbicara, Dreven menundukkan kepalanya dan menyandarkan wajahnya ke bahu Elara, menghela napas panjang.

Elara terdiam.

Biasanya, Dreven penuh dengan kesombongan dan sikap menyebalkan. Tapi kali ini... ada sesuatu yang berbeda.

Sejenak, Elara bisa merasakan kelelahan dalam dirinya. Pria ini tidak suka menjadi lemah. Tidak pernah. Dan mencoba berjalan sendiri—meskipun tubuhnya belum siap—adalah caranya melawan rasa tidak berdaya itu.

Tapi itu tidak akan membuatnya luluh begitu saja.

"Lain kali, cukup katakan kalau kau ingin seseorang menemani. Tidak perlu melukai dirimu sendiri," gumamnya datar.

Dreven terkekeh pelan. "Tapi aku memang suka menyakitkan diriku sendiri."

Elara mendesah panjang. "Itu bukan sesuatu yang membanggakan."

---

"Dia tertidur?" tanya Elara pada dokter yang telah memberikan obat penangan pada Dreven.

Dokter yang sudah menangani Dreven sejak kecelakaan itu hanya tersenyum, "Sudah, nyonya. Sepertinya beliau nyaman tidur di pundak anda tadi."

Elara memutar matanya malas, "Seberapa parah kondisi kejiwaannya? Apa dia benar-benar di tahap orang gila karena kakinya?"

Dokter itu tersenyum bahkan hampir mengeluarkan tawanya karena pertanyaan lucu istri tuannya itu, "tidak separah itu untuk dikatakan gila, nyonya."

"Lalu?"

"Tuan Dreven mengalami depresi dan gangguan emosi yang cukup serius akibat kecelakaan yang melumpuhkan kakinya. Dia masih bisa berpikir jernih—hanya saja, ada kalanya emosinya meledak tanpa kendali, terutama saat dia merasa tidak berdaya."

Elara menyilangkan tangan di dada. "Jadi kau bilang dia bukan gila, tapi juga bukan normal?"

Dokter itu tersenyum tipis. "Bisa dibilang begitu. Tuan Dreven hanya membutuhkan pengendalian diri yang lebih baik, serta seseorang yang bisa menenangkannya. Dan dari yang saya lihat, Anda sangat berpengaruh padanya, Nyonya."

Elara mengangguk mengerti, "okey. Apa dia juga bisa melukai dirinya sendiri lebih parah saat emosi? Aku masih baru menjadi istrinya, hanya mendengar beberapa masalah kejiwaan yang dialami olehnya."

Dokter itu menghela napas pelan sebelum menjawab, "Tuan Dreven tidak akan sengaja melukai dirinya sendiri untuk bunuh diri, Nyonya. Tapi dia memiliki kecenderungan untuk memaksakan diri melebihi batas—seperti mencoba berjalan padahal kakinya belum pulih. Akibatnya, dia jatuh dan melukai dirinya sendiri. Ini adalah bentuk frustasi karena dia tidak mau menerima keterbatasannya."

Elara yang mendengar itu sedikit lega, setidaknya pria itu masih bisa dia kendalikan.

"Apa aku boleh meminta obat penenangnya?"

Dokter itu menatap Elara dengan tatapan dalam, tapi bibirnya masih tersenyum. "Sayangnya tidak, karena hanya dokter ahli yang tahu dosisnya."

Elara diam-diam berpikir keras, dia harus mendapatkan obat penenang pria itu untuk berjaga-jaga.

"Kami akan pergi ke villa untuk beberapa hari ke depan. Dan tidak mungkin dalam jarak yang jauh aku menghubungimu jika ada hal genting terjadi."

Dokter itu tersenyum tipis, seolah sudah menduga alasan Elara mengajukan permintaan tersebut. "Jika begitu, saya akan memberikan resep dengan dosis ringan. Tapi saya harap Anda menggunakannya dengan bijak, Nyonya Dastan."

Elara mengangguk pelan, "Tentu saja."

Dia mengambil resep yang diberikan dokter dengan tenang, lalu dengan senyum tipis dia mengantar dokter itu pergi. Begitu menutup pintu, Elara menyeringai.

"Obat ini akan aku gunakan untuk mengendalikannya," gumamnya dengan seringaian tipis.

Kemudian dia melirik ke arah Dreven yang masih terlelap di sofa, dengan perlahan dia mendekati tubuh pria itu dan duduk di sana.

Dengan lembut dia menyentuh garis wajah pria itu yang tegas, "sayang sekali pria setampan ini memiliki ego yang terlalu tinggi. Andai kau mau menerima bantuan sedikit, mungkin aku bisa mempertimbangkanmu," katanya sambil tersenyum simpul.

Dia bangkit dari sofa dan merapikan gaunnya, karena sudah terlanjur berada di ruang kerja pria itu lebih baik dia mencari rahasianya.

Dia harus mengumpulkan banyak kelemahan musuh agar tidak jatuh ke dalam perangkapnya.

Elara mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Meja kerja Dreven tampak rapi, terlalu rapi untuk seseorang dengan sifat liar seperti dirinya. Dia pasti menyembunyikan sesuatu.

Dengan hati-hati, dia mulai membuka laci satu per satu. Kebanyakan hanya berisi dokumen bisnis, laporan keuangan, dan beberapa surat penting. Biasa saja.

Namun, saat tangannya menyentuh bagian bawah salah satu laci, dia merasakan sesuatu yang tidak biasa—sebuah lapisan ganda.

Elara menyeringai. Ketemu.

Dia mencari sesuatu untuk membuka bagian tersembunyi itu dan akhirnya menemukan kunci kecil di salah satu tumpukan kertas. Dengan cepat, dia memasukkannya ke dalam celah yang nyaris tak terlihat, lalu memutarnya.

Klik.

Laci itu terbuka lebih dalam, memperlihatkan beberapa dokumen yang terlihat lebih pribadi. Elara mulai membacanya, namun tak ada sesuatu yang bisa dia gunakan untuk mengancam pria itu jika terdesak.

"Hm, apakah tidak ada rahasia lain?" gumam Elara penasaran.

Hingga dia melihat ponsel yang ada di atas meja, namun ponsel itu sepertinya korban bantingan Dreven hingga layarnya terlihat sedikit retak.

Dengan penasaran dia mengambil ponsel itu dan segera menghampiri Dreven yang tertidur untuk mendapatkan sidik jarinya agar kunci terbuka.

Setelah terbuka, Elara duduk di bawah sambil menyender di sofa yang ditiduri oleh Dreven.

"Apa ini?!"

Bersambung

1
Arni Arlinawati Pratiwi💃
iya tau kok emak.. dia lagi cemburu, hanya saja dia sendiri pun gak sadar sama perasaan nya, ego nya aja yang di duluin.. kan ngenes, makin mnedihkan aja lu drev! udah lum*** juga!!! coy.. coy.. takut kualat emak, 🗿😭
naws
bodo amat. elara juga cuma manfaatin lu biar lepas dari keluarga palsunya kok /Smug/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
cembukur nih pasti perkara elara sama leo.. /Facepalm/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
nyari penyakit lu drev.. 🗿
Alia Chans
😭😭😭 Elara bisa yok
꧁𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱𝓡𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲꧂
Dreven kayaknya udah mulai nyaman dengan Elara, tapi gengsi untuk mengakui🤭
Alia Chans: yakin nyaman doang kk🤭🤭
total 1 replies
Syahira🌹
pasti dia tidak Terima saat dia di bilang lemah, egonya pasti sangat tersenggol🤣
Alia Chans: kalo gak ego tinggi gak cowok namanya🤣🤣🤣
total 1 replies
Mingyu gf😘
di keluarga dastan kamu seperti ratu ya
Mingyu gf😘
dihh modus lu😆
Miranda.
kritik sedikit ya thor. mungkin bisa sedikit membantu dan membangun.

karaktermu ini duduk di kursi roda loh. kurang-kurangi memakai kalimat yang merepresentasikan bahwa dia bisa berjalan dong. biar ga cacat logika./Frown/
Alia Chans: emang dia beneran lumpuh kk🤭🤭
total 1 replies
Miranda.
cara menasehatinya nusuk banget yaa/Frown/
My_Lucia
Edeh... deh... apa dia penganut sex menyimpang 🤣
Alia Chans: eitss belum pasti ye👑🔥
total 1 replies
My_Lucia
what?? serem amadt🫣
Miranda.
bapak mertua mulai berharap pada elara nih yee🤭🤭
Miranda.
ehm... logikanya ini gimana thor? menggandeng? mungkin lebih tepatnya "meletakkan tangan elara ke dorongan kursi roda untuk membantunya bergegas"/Slight/
Alia Chans: kan tinggi Elara gak setinggi menara Eiffel juga kk😭😭
dimana " cowok kan, you know lah☺
total 1 replies
Miranda.
eughhh alasan yang tidak begitu logis
naws
punya kekurangan gini, sombongnya masih selangit
Alia Chans: 😭😭😭 masa harus merendah mulu, kan gak Dreven dong🤣🤣
total 1 replies
🦋Little Butterfly🦋
emang boleh/Slight/
Alia Chans: boleh "🤭🤭
total 1 replies
🦋Little Butterfly🦋
what? bisa bisanya knpa coba😯
Alia Chans: semedi kak😭😭🤣
total 1 replies
Arni Arlinawati Pratiwi💃
yeee.. kalo suka ya dari dulu lah bambang! 🗿
Alia Chans: pen tak jedotin dianya mak🤣😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!