NovelToon NovelToon
Obsession

Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi
Popularitas:794
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Bagaimana jika hidupmu seperti di neraka hanya karena sebuah kesalahpahaman yang sulit untuk dibuktikan?

Sienna Breezie Sinclair seorang wanita malang yang dituduh membunuh seorang konglomerat terpandang, harus menerima perlakuan tak adil sepanjang hidupnya. Bak angin lalu suaranya tak pernah didengar, ia justru dituntut untuk mengakui perbuatan bejat yang tidak pernah ia lakukan.

Bisakah Sienna membuktikan bahwa bukanlah dia pelaku pembunuhan itu? atau Selamanya namanya akan tercatat dan dikenang sebagai seorang pembunuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 15

Aroma antiseptik yang pekat menusuk tajam, merayap di sepanjang koridor steril VIP lantai tujuh Rumah Sakit Medika Vance. Pukul dua dini hari. Hujan di luar telah mereda menjadi gerimis tipis yang mengetuk kaca jendela dengan irama monoton yang dingin.

Di balik dinding kaca ruang perawatan intensif, monitor medis memancarkan pendar hijau yang redup. Grafiknya naik-turun dalam ritme yang lambat dan lamban, menandakan tubuh Sienna Sinclair masih terkunci rapat di dalam koma medis. Masker transparan yang menutup hidung dan mulutnya mengembun tipis setiap kali napas buatannya terhembus.

Di luar ruangan, Nico berdiri bagaikan patung yang tak tersentuh. Kemeja hitamnya kusam di bagian siku, dan bayangan kelelahan mulai membingkai sepasang mata kelabunya yang tajam. Sejak Dokter Leo meninggalkan ruangan untuk memeriksa sampel darah di laboratorium pusat, Nico tidak bergeser sedikit pun dari posisinya di depan pintu kaca.

Matteo melangkah pelan mendekati bosnya, memegang sebuah tablet digital yang layarnya terus menyala.

"Tuan Nicolas," bisik Matteo seraya menundukkan kepala. "Perawat jaga malam untuk ruang ICU VIP baru saja berganti sif. Sesuai prosedur keamanan yang Anda tetapkan, identitas perawat pengganti sudah diverifikasi oleh tim kita."

Nico tidak menoleh. Matanya tetap tertuju pada wajah pucat Sienna yang tenggelam di balik peralatan medis.

"Siapa perawat itu?" tanya Nico kaku, suaranya serendah guruh yang tertahan.

"Nama perawat itu Tiffany, Tuan. Dia sudah bekerja di unit penanganan kritis ini selama lima tahun dan tidak memiliki catatan keterikatan dengan pihak luar," jawab Matteo teliti.

"Saya sudah menempatkan James tepat di pintu masuk koridor laboratorium untuk memastikan tidak ada arus dokumen medis yang keluar tanpa izin."

Nico mengangguk tipis. "Pastikan Leo sendiri yang menangani setiap obat yang disuntikkan ke infus perempuan itu. Jangan biarkan tangan lain menyentuh kantung cairannya."

"Baik, Tuan."

Namun, di sudut lorong rumah sakit yang tersembunyi dari jangkauan kamera pengawas utama, sebuah skenario terlarang sedang dieksekusi dengan sangat rapi.

Seorang wanita berseragam perawat medis berwarna biru muda berjalan cepat menyusuri koridor servis khusus pegawai. Wajahnya tertutup masker medis putih tebal, dan topi perawatnya ditarik agak rendah hingga menutupi dahinya.

Di dalam saku celana seragamnya, tersembunyi sebuah botol kaca kecil berukuran lima mililiter berisi cairan bening tanpa aroma, sebuah racun saraf dosis rendah yang dirancang khusus untuk memicu kegagalan jantung bertahap tanpa meninggalkan jejak otopsi yang jelas.

Racun itu diselundupkan oleh jaringan pribadi Liam Vance hanya tiga puluh menit setelah ambulans tiba di rumah sakit.

Perawat yang menyamar itu, menggunakan nama palsu Tiffany berhenti di depan stasiun perawat lantai tujuh. Mata kecilnya melirik ke arah Matteo yang berdiri tegak beberapa puluh meter di depan ruang ICU.

Dengan gerakan yang sangat terlatih, ia mengeluarkan sebuah folder rekam medis resmi milik pasien lain dari rak penyimpanan, berpura-pura sedang mencatat instruksi Dosis Obat Harian.

Sementara itu, di dalam kegelapan komanya, Sienna merasa sedang tenggelam di dasar lautan yang hitam dan tak berujung.

Tidak ada suara. Tidak ada rasa sakit di rusuknya. Tidak ada rasa terbakar akibat detergen yang menyengat lukanya. Hanya ada keheningan pekat yang membelenggu jiwanya.

Di dalam ilusi mimpinya, Sienna melihat bayangan ayahnya, Edward Sinclair, berdiri di balik terali besi yang dingin. Wajah ayahnya tampak sangat tua, dipenuhi penyesalan dan duka yang tak terobati.

“Sienna... maafkan Ayah...” suara ayahnya bergema serak dari dalam kegelapan. “Ayah tidak pernah membunuh Nyonya Christina, Ayah dijebak, Nak. Jangan biarkan mereka menghancurkan hidupmu.”

"Ayah...!" jerit Sienna di dalam benaknya. Ia mencoba mengulurkan tangannya yang gemetar untuk menggapai terali besi itu, namun sosok ayahnya perlahan menguap menjadi abu hitam yang diterbangkan angin.

Lalu, kegelapan itu berganti menjadi bayangan Nico.

Pria itu berdiri di atasnya dengan mata kelabu yang membara oleh amarah dan kebencian. Tangan kekar Nico mencekik lehernya, mendorong tubuhnya ke dalam jurang yang tak berdasar seraya terus membisikkan kata-kata yang mematikan, “Kau dan ayahmu adalah pembunuh, kau akan membayar setiap detik penderitaanku...”

"T-tidak... Tuan Vance, bukan saya..." bisik Sienna di alam bawah sadarnya.

Di dalam ruang ICU, garis grafik pada monitor detak jantung Sienna mendadak melonjak secara tidak teratur.

Bip... bip-bip... bip...

Bunyi indikator medis itu memotong kesunyian malam.

Nico tersentak dari diamnya. Mata kelabunya menyipit kencang saat melihat tubuh Sienna di atas tempat tidur medis mulai bergetar pelan. Kelopak mata gadis itu terpejam rapat, namun jemari tangannya yang terikat kabel sensor tampak mencengkeram sprei putih dengan amat kuat.

Pintu ganda ICU mendadak terbuka dari dalam. Perawat Tiffany yang ditugaskan untuk bertugas malam itu, keluar dengan raut wajah cemas yang dibuat-buat.

"Tuan Nicolas! Tekanan darah pasien mendadak melonjak tajam dan aktivitas gelombang otaknya menunjukkan tanda-tanda kejang parsial!" lapor Tiffany terburu-buru.

"Di mana Leo?!" bentak Nico, suaranya menggelegar menembus lorong.

"Dokter Leo sedang berada di laboratorium lantai bawah untuk mencocokkan hasil analisis darah, Tuan, saya akan menghubungi beliau sekarang-"

"Panggil dia ke sini detik ini juga!" perintah Nico kaku seraya melangkah masuk melewati batas pintu steril tanpa memedulikan prosedur isolasi.

Nico mendekati tempat tidur medis Sienna. Ia menatap wajah gadis itu yang kini dibasahi keringat dingin. Bibir Sienna yang membiru bergerak-gerak cepat di balik masker oksigen, memancarkan keputusasaan yang begitu nyata dari balik komanya.

Nico membungkukkan tubuhnya, menahan kedua bahu Sienna yang gemetar dengan telapak tangannya yang besar dan hangat.

"Sienna," desis Nico, suaranya dalam dan bergetar oleh amarah yang bercampur dengan kebingungan yang asing. "Buka matamu, Sienna!"

Sienna tidak membuka matanya, namun bisikan halus kembali lolos dari celah bibirnya di balik masker.

"S-saya tidak membunuhnya..." bisik Sienna serak, air mata bening meluncur dari sudut matanya yang terpejam, membasahi bantal medis yang putih bersih. "T-Tuan Vance ampuni saya..."

Nico membeku. Cengkeramannya pada bahu Sienna perlahan mengendur.

Kata-kata kepasrahan itu menghantam dada Nico bagaikan pukulan telak. Di saat terdekatnya dengan kematian, di saat jiwanya sedang bertarung di batas antara hidup dan mati, kata-kata yang diucapkan gadis ini bukanlah makian atau kutukan, melainkan permohonan ampun.

Sebelum Nico sempat mencerna pergolakan di dalam dadanya, pintu ICU kembali terdorong terbuka dengan hentakan keras.

Dokter Leo berlari masuk seraya membawa lembaran kertas hasil laboratorium. Wajah dokter muda itu tampak sangat pucat, dan matanya memancarkan kemarahan luar biasa.

"Tuan Nicolas, keluar dari ruangan ini sekarang!" seru Dokter Leo tegas.

Nico memutar tubuhnya, menatap Leo dengan kilatan mata yang berbahaya. "Ada apa dengan grafik otaknya?!"

Dokter Leo tidak menjawab pertanyaan Nico secara langsung. Ia membalikkan tubuhnya menuju tiang infus di samping tempat tidur Sienna, merebut kantung cairan salin yang sedang menetes ke dalam pembuluh darah Sienna, lalu memotong selangnya dengan gunting steril secara mendadak.

Cairan bening tersemprot keluar membasahi lantai marmer.

Nico dan Matteo yang berdiri di pintu membelalakkan mata melihat aksi drastis Dokter Leo.

"Apa yang kau lakukan, Leo?!" bentak Nico.

Dokter Leo mengangkat selang infus yang terputus, menunjuk sebuah mikrokapsul suntikan kecil yang menancap di bagian atas kateter infus.

"Seseorang baru saja memasukkan zat penghambat asetilkolin ke dalam kantung infus ini sepuluh menit yang lalu," kata Dokter Leo dengan suara bergetar oleh kemarahan medis. "Jika cairan ini meresap sepuluh mililiter lagi ke dalam aliran darahnya, jantungnya akan berhenti berdetak dalam waktu tiga menit akibat serangan jantung buatan."

Atmosfer di dalam ruang ICU seketika berubah menjadi medan perang.

Aura membunuh yang amat pekat dan mengerikan meluap dari tubuh Nico Vance. Sepasang mata kelabunya berubah menjadi kegelapan murni yang sanggup meremukkan apa saja di hadapannya.

Siapa yang berani menyentuh tawanannya di bawah pengawasan ketatnya sendiri?

"Matteo!" suara Nico begitu rendah dan bergetar, bagaikan raungan serigala di tengah malam.

Matteo melangkah maju dengan wajah pucat pasi, menyadari kegagalan fatal tim keamanannya. "S-siap, Tuan Nicolas!"

"Kunci seluruh gedung rumah sakit ini sekarang juga!" perintah Nico, setiap kata yang keluar dari bibirnya dipenuhi ancaman kematian. "Tidak ada satu orang pun yang boleh keluar dari gedung ini, termasuk dokter, perawat, dan pengunjung. Periksa seluruh rekaman kamera pengawas dalam dua jam terakhir, temukan siapa yang menyentuh lorong ini atau aku sendiri yang akan menghabisi seluruh tim keamananmu malam ini!"

"Baik, Tuan Nicolas. Segera dilaksanakan!" Matteo berbalik dan berlari keluar ruangan seraya mencabut senjata api rahasianya, memanggil seluruh personel barikade untuk mengepung setiap pintu keluar Rumah Sakit Medika Vance.

Sementara itu, di lantai dasar area parkir ambulans, perawat penyamar kiriman Liam yang beridentitas palsu sebagai Tiffany sedang berjalan terburu-buru menuju sebuah mobil sedan hitam yang terparkir di sudut remang.

Jantung perawat wanita itu berdegup sangat kencang. Ia baru saja melepaskan jarum suntiknya di ruang persiapan ICU sebelum Dokter Leo datang. Ia yakin racun itu sudah mulai bekerja di dalam tubuh Sienna.

Namun, tepat saat tangannya menyentuh gagang pintu mobil sedan hitam itu, lampu sorot berdaya tinggi mendadak menyala dari segala arah, menyilaukan pandangannya seketika.

BZZZZT!

Suara sirene keamanan internal rumah sakit menggelegar nyaring. Pintu gerbang otomatis basemen menutup rapat dengan hentakan besi yang berat.

Dua puluh pengawal berjas hitam pimpinan Matteo melompat keluar dari balik pilar-pilar beton, menodongkan senjata api berperedam suara tepat ke arah perawat penyamar tersebut.

"Jangan bergerak!" bentak James dengan suara menggelegar seraya menerjang maju, mengunci kedua tangan perawat wanita itu ke atas kap mobil hingga terdengar bunyi kemeretak yang menyakitkan.

"Aaggh...!" perawat itu meringis kesakitan, mencoba melepaskan diri namun cengkeraman James bagaikan jepitan baja.

Matteo melangkah mendekat seraya mencabut masker dari wajah perawat wanita itu. Wajah di balik masker itu bukanlah Tiffany yang asli atau staf rumah sakit mana pun yang terdaftar, melainkan seorang wanita asing berusia tiga puluhan dengan tato kecil bergambar cakar elang di leher belakangnya.

Mata Matteo menyipit tajam saat mengenali tato tersebut. Itu adalah lambang dari kelompok tentara bayaran privat yang sering disewa secara rahasia oleh keluarga Ophelia, keluarga asal Claudia.

Matteo merogoh saku seragam perawat itu dan menemukan sebuah botol kecil kosong bertuliskan zat kimia beracun.

"Bawa dia ke ruang interogasi basemen sekarang," perintah Matteo dingin pada anak buahnya. "Tuan Nicolas sendiri yang akan menguliti wanita ini."

...****************...

Satu jam kemudian. Pukul tiga lewat tiga puluh menit pagi.

Di dalam ruang interogasi kedap suara yang terletak di lantai bawah tanah rumah sakit, suasana begitu gelap dan mencekat. Hanya sebuah lampu gantung tunggal yang menyinari sebuah kursi besi di tengah ruangan.

Wanita penyamar itu terikat erat di kursi besi dengan kedua tangan dan kakinya dirantai rapat. Wajahnya memar akibat pukulan awal dari James selama proses pemeriksaan identitas.

Pintu besi tebal ruangan itu terdorong terbuka.

Nico melangkah masuk. Pria itu telah melepaskan jasnya, menyisakan kemeja hitam yang lengannya tergulung hingga siku. Sepasang mata kelabunya memancarkan aura kegelapan yang begitu pekat hingga hawa di dalam ruangan itu serasa merosot ke titik beku.

Di belakang Nico, Matteo berdiri kaku seraya memegang sebuah koper kecil berisi alat-alat interogasi fisik.

Nico melangkah pelan, berhenti tepat di hadapan wanita yang terikat itu. Ia menatap wanita itu dari atas tanpa sedikit pun selapis emosi kemanusiaan.

"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Nico, suaranya pelan dan datar, namun membawa bobot intimidasi yang sanggup meremukkan mental siapa pun.

Wanita itu meludah ke lantai, menyunggingkan senyum menantang walau sudut bibirnya berdarah. "Aku... aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, Tuan Vance. Aku hanya seorang pekerja independen..."

Nico tidak membuang waktu untuk berdebat. Ia memberi isyarat kecil dengan sudut matanya kepada James.

James melangkah maju, mencengkeram jemari tangan kanan wanita itu lalu mematahkannya ke arah belakang dengan satu hentakan cepat.

KLEK!

"AAAGHHH...!" jerit wanita itu melengking memenuhi ruangan kedap suara, tubuhnya bergetar hebat menahan rasa sakit yang membakar.

Nico membungkuk, menatap lurus ke dalam mata wanita yang sedang menangis kesakitan itu.

"Aku tidak punya kesabaran malam ini," desis Nico kaku, suaranya begitu dekat di telinga wanita itu. "Kau mencoba membunuh barang milikku di dalam rumah sakitku sendiri. Sebutkan satu nama, sebelum aku menyuruh James mematahkan setiap sendi di tubuhmu satu per satu."

Wanita itu terengah-engah, air mata ketakutan meledak melintasi wajahnya yang memar. Ia menyadari bahwa pria di hadapannya ini bukanlah manusia biasa yang bisa digertak, Nicolas Vance adalah seorang iblis yang tidak akan ragu menghabisi nyawanya tanpa meninggalkan jejak.

"L-Liam...!" jerit wanita itu serak, tak sanggup lagi menahan siksaan mental dan fisik. "Tuan Liam Vance yang membayarku. Nyonya Claudia yang mengatur jalur masuknya. Mereka menyuruhku memastikan gadis itu tidak pernah bangun lagi."

Suasana di dalam ruang interogasi mendadak menjadi hening total.

Matteo dan James menahan napas mereka. Konfirmasi nama Liam dan Claudia sebagai otak di balik percobaan pembunuhan Sienna di dalam fasilitas Vance adalah sebuah pernyataan perang terbuka di dalam struktur tertinggi keluarga Vance.

Nico perlahan menegakkan kembali tubuhnya. Wajahnya membeku kaku, namun di balik sepasang mata kelabunya, api kebencian yang baru kini membakar dengan sangat hebat.

Bukan lagi sekadar dendam pada keluarga Sinclair, melainkan amarah murni atas pengkhianatan busuk dari ibu tiri dan saudara tirinya yang telah berani melangkahi otoritas mutlaknya.

"Bawa wanita ini ke lokasi rahasia di luar kota," perintah Nico kaku pada Matteo. "Jaga dia tetap hidup. Dia akan menjadi saksi utamaku saat aku menghancurkan Liam dan Claudia di hadapan Ayah minggu depan."

"Baik, Tuan Nicolas!"

Nico berbalik dan melangkah keluar dari ruang interogasi, meninggalkan lorong basemen yang dingin menuju ruang perawatan Sienna di lantai atas.

Pukul lima pagi. Garis fajar mulai membiaskan pendar kebiruan di ufuk timur ibu kota.

Di dalam ruang ICU yang kini dijaga oleh empat pengawal bersenjata lengkap di dalam dan di luar ruangan, Dokter Leo baru saja selesai mengganti seluruh sistem infus dan menyuntikkan cairan penetral racun ke dalam tubuh Sienna.

Garis grafik pada monitor medis Sienna perlahan-lahan kembali stabil. Ritme detak jantungnya kembali berdenyut teratur, dan napas buatannya mulai selaras dengan dorongan mesin pemacu.

Nico melangkah masuk ke dalam ruangan yang steril itu. Ia berjalan perlahan hingga berhenti di samping tempat tidur medis Sienna.

Ia menatap wajah Sienna yang kini tampak sedikit lebih tenang. Rona merah akibat demam tinggi mulai mereda, menyisakan warna kulit yang pucat namun segar. Jemari tangan Sienna yang sempat membiru kini kembali dialiri darah hangat.

Nico mengulurkan tangannya yang besar. Jemarinya yang kaku melayang sejenak di udara sebelum akhirnya perlahan hinggap di atas dahi Sienna. Kulit gadis itu tidak lagi membara seperti lahar, suhunya kini mulai turun mendekati ambang batas normal.

Nico memejamkan matanya rapat-rapat.

Ia menyadari sebuah kenyataan pahit yang kini membentang di hadapannya, Sienna Sinclair bukan hanya sekedar seorang pembunuh ibunya. Gadis ini telah menjadi pusat dari konspirasi berdarah yang dirancang oleh Claudia dan Liam untuk meruntuhkan posisinya. Jika Sienna mati, Claudia menang. Jika Sienna tetap hidup dan menderita di tangannya, Nico tetap memegang kendali penuh atas permainan ini.

Nico membuka matanya kembali, menetapkan tatapannya yang tajam pada wajah Sienna yang masih terlelap.

"Kau tidak boleh mati Sienna," bisik Nico kaku, suaranya serendah ikrar dingin yang terpatri di dalam kegelapan. "Kau adalah milikku. Kehidupanmu, penderitaanmu, dan nafasmu hanya aku yang berhak menentukan kapan semuanya berakhir."

Di balik masker oksigennya, Sienna melenguh pelan dalam tidurnya. Kelopak matanya bergetar halus, sebuah tanda kecil bahwa jiwanya yang hancur perlahan-lahan mulai merayap kembali dari batas kematian menuju sangkar emas yang makin dipenuhi oleh racun, dendam, dan ikatan kekuasaan yang tak terputuskan.

...Bersambung......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!