NovelToon NovelToon
Adik Angkatku Bukan Manusia

Adik Angkatku Bukan Manusia

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Anak Genius / Crazy Rich/Konglomerat / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Eidolon

Satu keputusan membawa Elara masuk ke keluarga Halvar. Gadis yang ditemukan di sebuah desa mati itu tidak banyak bicara. Ia hanya tahu bahwa dirinya kini memiliki rumah, keluarga, dan kehidupan yang jauh berbeda dari sebelumnya.

Namun, sejak Elara datang, sesuatu mulai terasa tidak biasa. Gadis itu terkadang mengatakan sesuatu sebelum hal itu terjadi, menghilang tanpa jejak lalu muncul tiba-tiba. Dan seolah mengetahui rahasia yang bahkan belum pernah diceritakan.

Semakin keluarga Halvar mengenalnya, semakin mereka menyadari satu hal… gadis yang mereka bawa pulang mungkin bukanlah gadis biasa.

Lalu, siapa Elara sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eidolon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bel pulang akhirnya berbunyi. Suasana sekolah yang semula tenang perlahan berubah riuh. Para siswa mulai berhamburan keluar kelas, sebagian bercanda bersama teman-temannya, sementara yang lain langsung bergegas menuju pintu keluar.

Di lorong lantai dua, Leonard dan Lionel berjalan berdampingan menuju kelas Elara.

“Aku lapar,” keluh Lionel sambil mengusap perutnya.

“Kau ini lapar terus,” sahut Leonard tanpa menoleh.

“Ya memang.” Lionel mendengus. “Pelajaran Fisika tadi benar-benar menguras tenaga dan pikiran.”

Leonard terkekeh kecil. “Yang menguras tenaga itu bukan pelajarannya. Kamu saja yang dari tadi tidak berhenti mengeluh.”

“Beda.” Lionel langsung membela diri. “Apalagi ditambah rasa penasaranku tadi pagi. Elara benar-benar tidak mau mengatakannya.”

“Memangnya kamu pikir dia akan berubah pikiran hanya karena kamu terus bertanya?”

“Aku kan hanya penasaran, bagaimana dia bisa menemukan wanita itu dengan mudah. Padahal sebelumnya Kak Faresta dan Kak Lucas sampai hampir putus asa mencarinya."

Leonard hanya menggeleng pelan.

Namun, baru saja mereka sampai di depan kelas, Elara terlihat keluar dari dalam. Langkah gadis itu jauh lebih lambat dari biasanya.

“Elara,” panggil Leonard.

Elara berhenti dan menoleh. Kedua saudara kembar itu langsung memperhatikan wajahnya.

Untuk sesaat, tidak ada yang mengatakan apa-apa.

Wajah Elara terlihat pucat. Mata hijaunya yang biasanya tampak jernih kini terlihat sayu, sementara bibirnya juga kehilangan warna.

Leonard segera mendekat. “Kamu kenapa?”

“Aku nggak apa-apa.”

“Bohong,” sahut Lionel cepat. Ia ikut mendekat dan memperhatikan wajah Elara dari dekat. “Wajahmu seperti orang belum makan seminggu.”

Elara menghela napas pelan. “Aku cuma lelah, Lio.”

“Kalau begitu, aku gendong sampai parkiran ya," tawar Leonard.

Elara langsung menggeleng. “Tidak usah. Aku masih bisa jalan.”

Ia pun melangkah lebih dulu, gadis itu tidak ingin membuang sisa tenaganya untuk berdebat dengan kedua saudaranya.

“Lihat, keras kepala,” gumam Lionel.

Leonard hanya menghela napas sambil mempercepat langkahnya agar tetap berada di sisi Elara.

“Sudah, jangan banyak bicara. Temani saja dia.”

“Aku memang mau menemani.”

Lionel berjalan di sisi satunya. Sesekali ia melirik Elara yang masih berjalan dengan langkah pelan.

Meski Elara terus mengatakan dirinya baik-baik saja, keduanya tahu kondisi gadis itu tidak seperti biasanya.

Dan kali ini, mereka tidak berniat membiarkannya berjalan sendirian.

“Paman, pulangnya hati-hati. Elara sepertinya sedang tidak enak badan,” ujar Leonard sambil melihat ke arah mobil yang mulai bergerak.

Paman Surya mengangguk dari balik kemudi. “Baik, Tuan Muda. Anda tenang saja. Saya akan memastikan Nona Elara sampai di rumah dengan selamat.”

Leonard membalas anggukan itu. Ia baru berbalik setelah mobil yang ditumpangi Elara benar-benar keluar dari halaman sekolah.

“Sekarang bagaimana?” tanya Lionel yang sudah berdiri di samping motornya.

Leonard tidak langsung menjawab. Tatapannya masih mengikuti arah mobil yang membawa Elara pergi.

“Apa tidak apa-apa kita pergi sekarang?” tanya Leonard sambil menoleh kepadanya. “Kondisi Elara sepertinya tidak baik-baik saja.”

Lionel terdiam sejenak. Ia juga memikirkan hal yang sama. Wajah Elara yang pucat tadi masih terbayang di kepalanya.

“Tapi kita sudah janji dengan Aldo dan Dimas,” ujarnya kemudian. “Kalau kita langsung membatalkan, mereka pasti protes.”

“Kalau begitu, kita kasih tahu Mama dulu. Sekalian minta izin kalau pulang sedikit terlambat.” Leonard langsung mengeluarkan ponselnya.

“Sudah?” Lionel mendekat sambil melirik layar ponsel kakaknya.

“Hm.” Leonard memasukkan kembali ponselnya ke saku. “Mama sudah tahu.”

“Kalau begitu ayo.”

Keduanya segera menaiki motor masing-masing. Sebelum menyalakan mesin, Lionel sempat menoleh ke arah gerbang sekolah.

“Semoga Elara benar-benar cuma kelelahan.”

Leonard tidak menjawab. Ia hanya menyalakan mesin motornya.

Tak lama kemudian, kedua saudara kembar itu bergegas menuju tempat biasa mereka berkumpul bersama Aldo dan Dimas.

***

Langit perlahan berubah jingga, lalu berganti menjadi semburat oranye kemerahan yang menandakan senja telah tiba.

Baru menjelang malam, Leonard dan Lionel akhirnya kembali ke kediaman Halvar.

“Ma, kami pulang!” seru Lionel begitu memasuki rumah.

Namun, tidak ada jawaban.

Lionel yang semula hendak meletakkan tasnya langsung berhenti. Suasana rumah terasa jauh lebih sunyi dari biasanya.

Beberapa detik kemudian, Livia berjalan tergesa-gesa dari ruang keluarga. Wajahnya tampak cemas.

“Kalian hanya berdua?” tanyanya. Matanya langsung mencari seseorang di belakang mereka. “Elara tidak ikut pulang?”

Leonard mengerutkan kening. “Tidak, Ma. Bukannya Elara sudah pulang duluan? Tadi aku juga sudah bilang lewat pesan.”

“Belum.”

Jawaban singkat itu membuat Leonard dan Lionel saling pandang.

“Belum?” ulang Lionel pelan.

Livia menggeleng. “Elara belum pulang sampai sekarang.”

Kening Lionel perlahan berkerut. “Bukannya tadi Paman Surya sudah mengantar Elara.”

“Tapi sampai sekarang mereka belum pulang, Lio.” Livia meremas ponselnya. “Mama sudah menghubunginya berkali-kali, tapi tidak bisa.”

Leonard dan Lionel langsung saling pandang. Keduanya kemudian menoleh ke arah pintu utama ketika terdengar langkah kaki dari sana.

Danendra datang bersama Faresta.

“Ada apa?” tanya Danendra begitu melihat wajah Livia yang terlihat cemas.

“Papa...” Livia segera menghampirinya. “Elara belum pulang.”

Danendra langsung mengernyit. “Belum pulang?”

“Iya.” Livia mengangguk cepat. “Mama sudah menghubungi Paman Surya berkali-kali, tapi tidak bisa. Ponselnya juga tidak terhubung.”

Wajah Danendra seketika berubah tegang. Ia menoleh kepada Faresta.

“Sial...” gumamnya. “Jangan sampai terjadi apa-apa dengan putriku.”

Faresta yang sudah memahami maksud ayahnya langsung mengangguk.

“Aku akan menghubungi orang-orangku.”

“Iya, cepat suruh mereka mencari Elara sekarang," ujar Danendra tegas.

Faresta baru saja hendak mengeluarkan ponselnya ketika suara mesin mobil terdengar dari arah halaman.

Semua orang langsung menoleh.

Sebuah mobil keluarga Halvar yang biasa mengantar dan menjemput Elara perlahan memasuki halaman.

“Paman Surya...” ucap Livia lega.

Untuk sesaat, ketegangan di wajah mereka sedikit menghilang. Mereka semua menunggu sampai mobil itu berhenti di depan rumah.

Namun, rasa lega tersebut tidak bertahan lama.

Pintu mobil terbuka. Paman Surya turun dengan tergesa-gesa. Wajahnya terlihat pucat, bahkan napasnya terdengar tidak beraturan.

Livia langsung berjalan menghampirinya.

“Paman, kamu dari mana saja?” tanyanya panik. Matanya segera mencari ke arah mobil. “Di mana Elara?”

Paman Surya menundukkan kepala. Tangannya terlihat gemetar.

“Tuan, Nyonya... maaf.”

Faresta yang berdiri tidak jauh dari sana langsung melangkah maju.

“Ada apa?”

Paman Surya menarik napas dalam sebelum akhirnya mengangkat wajahnya.

“Saya tidak bisa menemukan Nona Elara, Tuan.”

Semua orang langsung terdiam.

“Apa maksudmu?” suara Faresta terdengar semakin tegas.

Paman Surya menelan ludah.

“Nona Elara... hilang, Tuan.”

Mata Danendra langsung membesar. “Apa?”

Lionel yang sejak tadi berdiri di samping Leonard ikut membeku.

“Elara hilang?”

Kali ini, tidak ada satu pun dari mereka yang mampu berkata-kata.

Karena tidak ada seorang pun yang tahu... ke mana Elara pergi.

1
lily
menarik.. semoga sampai tamat
Pawon Ana
elara ini lempeng ya ekspresinya....kayak tidak punya emosi🤔
terbiasa hidup sendiri dia...jadi belum dieksplor emosinya🤔
Nonik Anda Swl
next please Thor, seru dan keren, semangat💪💪
Queen AL
👍
Yani
lanjut Thorrr 🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!