Pada malam ketika sebuah bintang jatuh menghantam bumi, takdir sebuah kerajaan berubah selamanya.
Ditemukan di dalam bola perak misterius dan dibesarkan sebagai pangeran, ia dianggap sebagai kegagalan karena tak memiliki mana di dunia yang menjadikan sihir sebagai segalanya.
Namun, di balik kelemahan itu tersembunyi kekuatan kosmik yang jauh melampaui sihir.
Kini, ia hanya ingin hidup normal sebagai siswa Akademi Sihir. Sayangnya, ketika kegelapan mengancam dunia yang telah menjadi rumahnya, pemuda dari bintang-bintang itu tak punya pilihan selain melepaskan kekuatan sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dorin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 — Neraka di Tengah Festival!
Suasana jalanan ibu kota Kerajaan Nivalis masih diliputi riuh kemeriahan festival. Bahkan setelah rombongan tamu agung terakhir melintasi gerbang utama, jalan-jalan kota masih tampak dipadati lautan manusia.
Orang-orang berdansa riang di Plaza, keluarga-keluarga berkumpul menikmati malam, anak-anak berlarian saling mengejar sambil tertawa lebar, sementara para penduduk bersantai di kafe dan bar yang buka selama 24 jam penuh demi menyambut festival.
Pengeras suara dan radio-radio di setiap kedai terus menyala—semua orang tengah menantikan pengumuman pewaris sah takhta Kerajaan Nivalis yang akan disiarkan secara publik menjelang penutupan The Grand Masquerade.
Malam itu, ibu kota diselimuti pendaran cahaya harapan, dipenuhi gelak tawa dan kehangatan seluruh warganya.
Namun... di balik kemeriahan pesta yang memanjakan mata, terselip sebuah bayangan kelam yang diam-diam mengintai dari balik kegelapan.
Sebuah bahaya laten yang siap mengubah keceriaan malam ini menjadi teror berdarah yang tak akan pernah bisa dibayangkan.
Di salah satu sudut kota yang terasing dari keramaian—sebuah gang sunyi yang gelap dan mencekam—seorang pria berbalut jubah hitam berlutut di atas jalan berbatu.
Jemarinya dengan cermat mengukir sebuah pola rumit di atas tanah. Sebuah lingkaran sihir kuno... yang digambar menggunakan tinta darah murni.
Pria itu segera mengatupkan kedua tangannya layaknya tengah berdoa, lalu mulai merapalkan mantra terlarang dengan suara tertahan. Kian detik, pendar cahaya merah pekat memancar merembes menyaliri celah-celah ukiran sihir darah tersebut.
Namun, tepat saat ia hendak menyelesaikan bait mantra terakhirnya—
CHOK!
Suaranya terhenti seketika.
Kerongkongannya terasa dicekik oleh tekanan fisik yang mahadahsyat. Rasa nyeri yang membakar langsung menjalar ke seluruh tubuhnya, seolah ia baru saja dihantam oleh godam raksasa.
Ketika ia mendongakkan kepala dari balik tudung hitam yang menyembunyikan parasnya, matanya membelalak penuh horor.
Sesosok pemuda berambut emas tampak melayang dengan tenang di udara. Cengkeraman satu tangan pemuda itu pada lehernya begitu kokoh dan dominan—tak memberi ruang sedikit pun bagi sepatah kata pun untuk lolos.
Tatapan mata pemuda itu menghujam tajam, dipenuhi oleh aura haus darah murni yang begitu pekat hingga membuat pria berjubah itu kian kesulitan meraup oksigen.
“Siapa kau?” tanya Edward dengan suara sedingin es.
“Aku hanya butuh jawaban dari apa yang kutanyakan. Jika kau berani mengoceh hal lain atau mencoba merapalkan mantra... kupastikan batang lehermu ini akan patah saat ini juga.”
Namun, bukannya menjawab atau memohon ampun, pria berjubah itu justru tertawa lebar secara abnormal.
KREK!
Tanpa ragu sedikit pun, Edward menggerakkan tangannya—mematahkan batang leher pria itu seketika.
Suara tawa gila itu terhenti mendadak. Tubuh si pria misterius langsung ambruk kaku ke tanah, tak lagi bernyawa.
Edward memperhatikan mayat di bawah kakinya sejenak, sebelum pandangannya beralih meneliti lingkaran sihir bertintakan darah di atas batu. Namun, tepat di saat fokus Edward teralihkan...
Kengerian yang sesungguhnya baru saja dimulai.
SZZZT—!
Tubuh pria yang seharusnya sudah tewas itu mendadak bangkit secara mengerikan!
Dengan posisi kepala yang terkulai patah mendongak ke atas, mulut mayat itu secara otomatis merapalkan sisa bait mantra terakhir yang tadi sempat terputus!
Sial, sihir Mayat Hidup?!, batin Edward.
Edward terlambat menyadarinya. Tepat saat bait terakhir bergema, tubuh mayat itu kembali roboh membusuk. Lingkaran sihir darah di bawahnya meledak dengan pendaran cahaya merah pekat yang menyilaukan!
DUAAAAARRR—!!
Ledakan dahsyat tercipta!
Gelombang hantaman fisik dan api sihir beradius 300 meter seketika melumat gang gelap dan meremukkan bangunan-bangunan di sekitarnya hingga rata dengan tanah!
Kemeriahan festival yang menghiasi ibu kota runtuh dalam sekejap mata.
Siren kepanikan meledak di seluruh penjuru kota. Gelak tawa berubah menjadi jeritan histeris yang membelah malam. Warga berlarian tak berarah, meninggalkan meja-meja pesta dan tempat tinggal mereka. Tangisan anak-anak dan raungan kesakitan bersahut-sahutan menyayat hati.
BAM!
Edward sendiri terhempas jauh akibat dorongan ledakan hingga menabrak dinding gedung berlantai enam, meretakkan tembok batu tempat ia mendarat.
Begitu ia membuka mata dan menyapu pandangan ke pusat kawah ledakan... seekor makhluk mengerikan muncul dengan raungan yang memekakkan telinga!
Itu bukanlah sihir pemanggilan suci yang mendatangkan roh Surgawi. Sihir berbasis Mana Hitam terlarang ini telah merobek batas dimensi, memanggil monster kuno yang bersemayam di kedalaman Abyss tergelap!
Wujudnya menyerupai hewan amfibi raksasa bertubuh ramping dengan empat kaki berselaput. Namun, di punggungnya membentang sepasang sayap burung yang legam, serta kobaran api hitam pekat yang menyala liar di bagian kepala dan ujung ekornya.
ROAAAAAR—!
Saat monster itu meraung murka, puluh lingkaran sihir Hitam baru bertumpuk-tumpuk muncul di sekelilingnya.
Dari dalam lingkaran-lingkaran sihir tersebut, ratusan monster humanoid berdatangan—kepala mereka terbalut kobaran api hitam yang sanggup menyemburkan radiasi pembakar ke segala arah!
Edward menyipitkan mata, rahangnya mengeras tatkala mengenali entitas purba di hadapannya.
“Sialan... Kukira makhluk itu cuma ada dalam buku legenda kuno.”
Edward merenggangkan tubuhnya, melayang kembali ke udara dengan tatapan penuh intimidasi.
“Salamander dari Neraka... Amorfos.”
ROOOAAAAAAAAAR—!
Edward segera melesat ke udara, menciptakan ledakan sonic boom yang menggelegar!
BOOOMM!
Dalam sekejap mata, kepalan tangannya yang terangkat sudah berada tepat di depan wajah sang Salamander Neraka. Tanpa memberi kesempatan bagi monster itu untuk bereaksi—
BUAK!!
Pukulan berdaya hancur mahadahsyat itu menghantam telak moncong Amorfos, melempar tubuh raksasa makhluk itu meluncur deras menembus batas kota!
BAM! BAM! BAM!
Sang Salamander tersungkur keras di area luar ibu kota, meraung kesakitan sembari menancapkan cakarnya ke tanah. Manik matanya membelalak lebar—seolah tak percaya ada sosok manusia yang sanggup melukainya hanya dengan satu hantaman fisik murni.
Edward tak menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut.
Sebelum Amorfos bangkit kembali, sang Pangeran bergerak secepat kilat menyisir reruntuhan kota, mengevakuasi para penduduk yang terjebak dan terluka. Setiap kali ada monster humanoid api yang mendekat, Edward langsung melenyapkannya—menghancurkan mereka dengan satu pukulan telak atau menembakkan laser energi dari matanya hingga musuh meleleh tak tersisa.
Di sudut jalan lain, dua orang gadis kecil berlari histeris sembari berteriak memanggil ibu mereka.
Tanpa mereka sadari, struktur bangunan di atas kepala mereka telah retak parah dan runtuh seketika!
Sang kakak yang menggandeng erat tangan adiknya hanya bisa terdiam pasrah, memejamkan mata menanti bongkahan beton raksasa menimpa mereka—
BAM!
Namun, rasa sakit itu tak pernah datang.
Edward telah berdiri di hadapan mereka, menahan bongkahan puing bangunan yang teramat berat itu hanya dengan satu tangan kosong!
Ia lalu menurunkan beton tersebut secara perlahan ke tanah agar tidak menimbulkan kehancuran atau guncangan baru.
“Ayo, kita temukan orang tua kalian,” ujar Edward lembut.
Edward memejamkan matanya sejenak. Ia mengasah ketajaman indra pendengarannya—memilah ribuan gelombang suara ketakutan di seluruh penjuru kota. Tepat saat jeritan sepasang suami istri yang menyebutkan nama kedua gadis kecil itu tertangkap oleh pendengarannya, Edward segera membuka mata.
Ia merengkuh kedua anak itu ke dalam dekapan hangatnya, lalu melesat terbang membelah langit malam.
Tak butuh waktu lama bagi Edward untuk menemukan pasangan suami istri yang tengah panik tersebut. Ia mendarat dengan anggun tepat di depan mereka dan menurunkan kedua anak gadis itu.
““Mama! Papa!”” seru kedua gadis kecil itu serentak, berlari hambur ke pelukan orang tua mereka.
“Oh, anak-anakku! Kalian selamat!” sang Ibu menangis haru, memeluk erat kedua buah hatinya.
Sang ayah ikut merengkuh keluarga kecilnya, lalu mendongak menatap Edward dengan mata berkaca-kaca dipenuhi rasa syukur yang teramat mendalam.
“Terima kasih banyak, Yang Mulia Pangeran! Terima kasih... Semoga Para Dewa selalu memberkati Anda!” ucap sang Ayah tulus.
Edward menyunggingkan senyum menenangkan.
“Segera tinggalkan area ini dan bergegaslah menuju area istana. Pasukan pengawal akan melindungi kalian di sana.”
Keluarga kecil itu membungkuk penuh rasa terima kasih, sebelum akhirnya berlari cepat menyelamatkan diri ke arah kompleks istana kerajaan.
Edward menatap punggung keluarga kecil yang kian menjauh itu, memastikan mereka telah berada di jarak yang relatif aman sebelum berniat kembali menyisir area lain untuk mengevakuasi para korban.
Namun, fokusnya yang sempat teralih menjadi celah bagi musuh.
Salah satu monster humanoid api berhasil menyelinap tanpa suara. Makhluk itu merangkak seperti laba-laba, menempel erat di dinding bangunan tepat di atas posisi Edward berdiri.
Dengan gerakan lambat dan mematikan, monster itu mengambil ancang-ancang... lalu menerjang deras mengincar leher sang Pangeran dari udara!
WUUUSH—!
Namun, tepat sebelum cakar berapinya menyentuh Edward—
BAM!
Sebuah bongkahan pasir padat mendadak melesat dari samping, menghantam telak tubuh monster itu di udara!
Tak berhenti sampai di sana, gumpalan pasir itu seketika merekah dan mengurung sang monster. Pasir-pasir misterius itu berputar dengan kecepatan perputaran ekstrem yang dahsyat—mengikis, meremukkan, dan menghancurkan wujud makhluk itu hingga tak tersisa sedikit pun bahkan sampai ke abu-abunya!
Edward menoleh santai ke arah datangnya serangan tersebut.
Sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya saat mengenali sosok penolongnya. Pemuda berkulit cokelat eksotis dengan aura disiplin yang kental—sang Pangeran dari Benua Selatan.
Pangeran Azaran melayang mendekat ke arah Edward dengan mengendarai gumpalan awan pasir yang memadat di bawah pijakan kakinya. Wajahnya tetap kalem dan tenang, seolah pertempuran di sekeliling mereka hanyalah angin lalu.
“Jangan lengah, Pangeran Edward. Kau hampir saja bergabung menjadi mayat tadi,” ujar Azaran datar, nada suaranya sedingin biasanya.
Edward terkekeh pelan sembari menyunggingkan seringai tipis.
“Bahkan tanpa bantuanmu pun... aku akan baik-baik saja.”
WUUUSH—!
Dua monster humanoid lain mendadak menerjang dari puncak dua gedung berbeda, mengincar posisi Edward dan Azaran dari udara.
Namun, sebelum kedua makhluk itu sempat mendekat—
FWOOOSH!!
Gumpalan badai api raksasa melahap tubuh kedua monster itu seketika, membumihanguskan mereka hingga tak menyisakan sebutir abu pun di udara.
Dengan melayang menggunakan pancaran dorongan api di bawah pijakan kakinya, Pangeran Judas mendarat perlahan mendekati mereka. Kedua tangannya bersilang di dada dengan raut wajah keras.
Rambut merah belah tengahnya menyala-nyala terang dengan gradasi warna kuning keemasan, persis seperti kobaran api yang tengah mengamuk.
“Pertama dengan seenaknya mengajak Tuan Putri berdansa, dan sekarang mencoba menarik hatinya lagi dengan menjadi pahlawan sendirian dan mencuri panggung di tengah kekacauan ini? Sangat klasik, Edward!” desis Judas dengan nada suara penuh dengki.
“Jangan kira hanya karena kau beraksi sok heboh lalu bisa menutupi fakta bahwa kau ini hanyalah pangeran tanpa Mana!”
Edward menoleh santai, menatap Judas dingin.
“Bisa tutup mulutmu sebentar?” balas Edward pedas tanpa ragu.
“Daripada terus berbicara omong kosong di tengah bencana seperti ini, lebih baik gunakan otak kacangmu itu untuk hal lain yang lebih berguna.”
Zzzzst—!
“K-kau... kurang ajar!”
Ujung jubah kebesaran Judas mendadak meletupkan percikan api liar seiring dengan amarahnya yang membumbung tinggi.
“Cukup!”
Suara tegas Azaran memotong pertikaian itu, membelah tensi yang hampir meledak di tengah kehancuran kota.
“Kalian berdua adalah para Putra Mahkota dari kerajaan besar. Bersikaplah sebagaimana mestinya!”
Azaran kemudian mengalihkan pandangan tajamnya, mengunci netra Judas.
“Dan untukmu, Pangeran Judas... berhenti memprovokasi Pangeran Edward dan menciptakan keributan di tengah situasi seperti ini. Berapa kali lagi kau akan mencemarkan nama keluarga dan kerajaanmu?”
Gigi Judas bergemeretak keras. Tangannya mengepal erat hingga bukunya memutih.
Ia tahu betul bahwa meladeni Azaran saat ini hanya akan berujung sia-sia—ia tak akan pernah bisa menang berdebat, apalagi bertarung melawan sang Grandmaster dari Selatan itu. Judas hanya bisa terdiam dengan napas memburu menahan murka.
“Baiklah,”
Edward tiba-tiba mengambil alih pembicaraan, menarik atensi penuh dari kedua pangeran di hadapannya.
“Aku punya sebuah rencana... tapi kalian harus mendengarkan aku.”
Jangan lupa ke naskah aku juga ya