WARNING!! HANYA UNTUK DEWASA!!
Cecilia tidak menyangka, baru saja pindah jiwa ke tubuh wanita lain malah terjebak jadi simpanan Tuan Douglas yang dingin.
Cecilia pun berpikir untuk bisa kabur dari jeratan Tuan Douglas, semakin Cecilia menjauh maka semakin kuat juga Tuan Douglas ingin memilikinya.
"Kau hanya milikku sayang, sampai kapanpun akan tetap menjadi milik ku!" Douglas
"Enak saja! Lebih baik aku mati saja daripada jadi simpanan!" Cecilia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cecilia Yang Baru
Di sebuah private room restoran mewah bernuansa klasik, Douglas dan Adara tengah menikmati santap siang bersama. Sejak hidangan pertama disajikan, Adara terus saja mengoceh dengan antusias tanpa henti, membahas berbagai detail rumit mengenai konsep dan tema pernikahan impian mereka yang akan diselenggarakan akhir tahun nanti.
Namun, alih-alih mendengarkan ocehan sang tunangan, pikiran Douglas justru melayang jauh meninggalkan ruangan itu. Bayangan tentang Cecilia, gadis cerewet yang beberapa hari ini mengisi hari-harinya dengan penuh warna dan perdebatan terus berkecamuk di dalam benaknya.
"Sayang, bagaimana kalau dekorasi altar bunganya nanti kita padukan antara mawar putih dan... ehm, Douglas? Kamu mendengarkanku tidak sih?" protes Adara kesal saat melihat pria di hadapannya melamun.
Douglas tersentak kecil dari lamunannya. "Ah... iya, Cecilia," jawab Douglas tanpa sadar, lidahnya terpleset menyebut nama yang sejak tadi mendominasi isi kepalanya.
Seketika itu juga, suasana di meja makan mendadak hening. Adara menyipitkan kedua matanya tajam, menatap Douglas dengan sorot penuh curiga.
"Cecilia?" ulang Adara dengan nada suara yang meninggi dan menusuk.
"Siapa itu Cecilia, Douglas? Kenapa tiba-tiba nama perempuan itu yang keluar dari mulutmu saat kita sedang membahas pernikahan kita?!"
Douglas langsung mengerjap, menyadari kebodohannya sendiri yang keceplosan. Otaknya berputar cepat mencari alibi untuk menutupi situasi darurat ini.
"Bukannya siapa-siapa," jawab Douglas berusaha setenang mungkin, memasang wajah sedatar mungkin.
"Cecilia itu... asisten baru di perusahaan. Kalau Logan sedang sibuk menangani proyek di luar kota, kadang dia yang menggantikan tugas administrasi kantor."
Adara menatap Douglas lekat-lekat, menyelidik setiap gerak-gerik pria itu, mencoba mencari kebohongan.
"Awas saja kalau sampai aku tahu kamu berani bermain-main atau berselingkuh di belakangku, Douglas!" ancam Adara tajam dengan nada angkuh.
"Aku tidak akan tinggal diam! Keluargaku dan keluargamu pasti akan sangat kecewa berat!"
Douglas hanya tersenyum masam, mengangguk sekadarnya untuk meredakan amarah sang tunangan. Di dalam hatinya, ia justru merasa jengah. Ironis sekali, raga dan waktu fisiknya sedang duduk di sini menemani Adara merencanakan masa depan, tetapi jiwa dan pikirannya justru sibuk mengkhawatirkan wanita lain yang sedang ia kurung di mansion.
Sore harinya, Douglas melangkah masuk ke dalam mansion dengan beban pikiran yang cukup berat. Hari ini ia merasa sangat bingung dan canggung, bagaimana cara ia harus berbicara dengan Cecilia secara benar tanpa tersulut emosi dan kemarahan seperti hari-hari sebelumnya?.
Namun, baru saja pintu utama dibuka, sebuah suara riuh rendah menghentikan langkah kakinya.
"Hahaha!"
Suara tawa renyah yang sangat ceria bergema dari arah area dapur mansion. Douglas membeku di tempatnya.
"Apa aku tidak salah dengar?" batinnya tertegun. Ia sangat mengenal suara tawa itu, itu adalah suara tawa milik Cecilia, suara yang sudah berhari-hari hilang dan tidak pernah ia dengar lagi sejak tragedi malam kelam itu.
Dengan langkah cepat, Douglas berjalan mendekat ke arah sumber suara. Ia berhenti tepat di ambang batas lorong menuju dapur yang luas.
Di hadapannya, sebuah pemandangan yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan terpampang nyata. Cecilia berdiri di tengah-tengah para pelayan, tertawa terbahak-bahak sambil dengan sengaja melemparkan segenggam tepung putih ke arah beberapa pelayan yang membalasnya dengan candaan serupa.
Douglas terpaku menontonnya. Sepasang netra birunya lekat-lekat mengamati binar kebahagiaan, senyuman lebar, dan suara tawa yang meluncur indah dari bibir Cecilia. Dan tanpa ia sadari, sudut bibir Douglas ikut terangkat membentuk senyuman kecil yang sangat tulus.
Cecilia-nya... sudah kembali? Gadis itu sudah bisa tersenyum lepas lagi?.
Hingga pada detik berikutnya, tanpa sengaja manik mata mereka saling beradu pandang.
Seketika itu juga, suasana berubah dalam sekejap. Sisa-sisa tawa itu menguap hilang. Tidak ada lagi senyuman ceria di wajah Cecilia, ekspresinya mendadak berubah datar, dingin, dan kaku menjalankan rencana bermain cantik yang sudah ia susun di kepalanya pagi tadi.
Dengan langkah pasti namun anggun, Cecilia berjalan mendekati Douglas yang masih berdiri mematung di tempatnya.
Tanpa diduga, Cecilia langsung merentangkan tangan dan memeluk tubuh tinggi Douglas erat-erat.
"Selamat sore, Douglas. Selamat datang kembali di rumah," sapa Cecilia dengan nada suara yang dibuat-buat semanis dan selembut mungkin.
Douglas tertegun hebat. Sentuhan lembut itu membuatnya kehilangan kata-kata. Namun, kesadarannya segera pulih, dan perlahan-lahan ia membalas pelukan Cecilia dengan erat, menyalurkan rasa rindu yang diam-diam menyiksa batinnya.
Douglas menunduk, mengecup puncak kepala Cecilia sekilas, lalu tangannya terulur untuk membersihkan sisa-sisa bedak tepung putih yang sempat menghiasi pipi dan ujung hidung gadis itu.
"Kamu... sudah membaik?" tanya Douglas pelan, suaranya terdengar lembut, sangat kontras dengan nada dingin biasanya.
Cecilia mendongak, lalu melirik sekilas ke arah jas kerja mahal milik Douglas yang kini sudah dipenuhi bercak-bercak tepung putih dari wajah dan tangan gadis itu.
"Ih, jas mahal mu jadi kotor semua tuh," gerutu Cecilia. Ia pun berniat melepaskan pelukannya dan mundur beberapa langkah.
Namun, Douglas justru semakin mempererat dekapannya, enggan melepaskan wanita itu barang sedetik pun. Pelukan yang terlalu posesif dan erat itu membuat dada Cecilia terasa sesak.
"Lepaskan, Douglas... Aduh, dadaku sesak!" protes Cecilia kesal, mendorong-dorong dada bidang pria itu.
Mendengar keluhan itu, Douglas akhirnya mengendurkan pelukannya dan melepaskan Cecilia dengan tidak rela.
Cecilia langsung mengerucutkan bibirnya, memasang wajah sebal yang tampak begitu menggemaskan di mata sang CEO.
"Dasar menyebalkan! Kalau meluk orang jangan pakai tenaga kuli dong! Sesak tahu!" omel Cecilia blak-blakan dengan nada cerewetnya yang khas.
"Baju mahal mu itu kotor semua kan gara-gara kamu sendiri yang keras kepala tidak mau lepas!"
Para pelayan yang berdiri di sudut dapur sontak meringis ngeri dan menahan napas mendengar omelan berani itu. Mereka tidak habis pikir; bagaimana bisa wanita itu dengan santainya memarahi Tuan besar mereka dengan begitu frontal?.
Tetapi, yang terjadi selanjutnya justru membuat para pelayan semakin terkejut luar biasa.
Douglas sama sekali tidak marah! Pria berdarah dingin itu tidak membentak, tidak mencengkeram rahang, dan tidak mengeluarkan ancaman apa pun.
Douglas justru berdiri tertegun di tempatnya, terpesona dalam diam, membiarkan matanya fokus menatap setiap gerak-gerik bibir mungil Cecilia yang sedang asyik mengomelinya panjang lebar.
Bagi Douglas, melihat Cecilia kembali cerewet, kembali mengomel, dan kembali menunjukkan emosi hidup di depannya adalah hal paling indah yang pernah ia saksikan setelah berhari-hari hidup dalam bayang-bayang rasa bersalah.
"Sudah ngomelnya?" tanya Douglas dengan suara bariton yang lembut, menyunggingkan senyuman tipis di bibirnya.
Cecilia mengerjap kaget, menghentikan omelannya seketika. Ia menatap Douglas dengan kening berkerut curiga.
"Ada apa dengan pria ini? Kenapa dia tidak marah saat aku omeli? Jangan-jangan kepalanya benar-benar terbentur sesuatu di kantor tadi!" batin Cecilia bingung, merasa rencana manisnya mendadak mendapat rintangan tak terduga dari sikap aneh sang CEO.
Bersambung...
Semoga kalian suka ya, jangan lupa untuk tinggalkan jejak.
ati2 cecil🤭🤭🤭
ati2 doughlas klo cecilia kabur🤣🤣🤣🤣
thor plis kasih doughlas pelajaran dong,jdi gemes nih🤣🤣🤣🤣
mungkin methong kedua kali cil baru bebas