Ada pertemuan yang terjadi karena kebetulan.
Ada pula pertemuan yang telah direncanakan jauh sebelum kedua insan itu saling mengenal.
Aluna tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berubah sejak malam ketika ia bertemu seorang pria asing bernama Niel.
Di balik sosok pria yang tampak tenang itu, tersimpan rahasia yang mampu mengubah hidup banyak orang.
Namun, Niel bukan satu-satunya yang menyimpan masa lalu.
Ketika satu demi satu kebenaran terungkap, keduanya menyadari bahwa mereka bukan sekadar dipertemukan oleh takdir.
Mereka adalah bagian dari Permainan Takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Simbol yang Terlupakan
Hujan turun sejak sore.
Tetesannya membasahi kaca jendela ruang kerja Niel, menciptakan suara yang menenangkan. Namun pikirannya justru semakin kacau.
Di atas meja, selembar foto simbol jam pasir berwarna hitam masih tergeletak.
Tatapannya tak lepas dari simbol itu.
Semakin lama ia melihatnya...
Semakin kuat rasa asing yang terasa begitu akrab.
Tok... tok...
"Tuan."
Darren masuk membawa hasil penyelidikan terbaru.
"Ada informasi tambahan."
Niel mengangkat kepala.
"Apa?"
"Kami sudah mencoba melacak simbol ini."
"Hasilnya?"
"Tidak ditemukan di perusahaan mana pun, organisasi resmi, atau komunitas yang terdaftar."
Niel mengernyit.
"Artinya?"
"Orang-orang yang menggunakan simbol ini sengaja menyembunyikan identitas mereka."
Ruangan kembali sunyi.
Darren kemudian meletakkan sebuah foto lain.
"Itu ditemukan di lokasi yang sama."
Niel mengambil foto tersebut.
Sebuah gantungan kunci logam berbentuk jam pasir.
Sayangnya, benda itu sudah dibawa seseorang sebelum tim keamanan tiba.
"Hanya ini?"
"Ya."
Niel menarik napas panjang.
"Terus cari."
"Jangan berhenti sampai kita tahu siapa mereka."
"Baik, Tuan."
________________________________________
Di toko buku...
Aluna sedang menyampul beberapa buku baru yang baru datang dari penerbit.
Siska datang membawa dua gelas cokelat hangat.
"Nih."
"Makasih."
"Kamu kelihatan capek."
Aluna tersenyum kecil.
"Mungkin karena semalam kurang tidur."
"Masih kepikiran mimpi?"
Aluna mengangguk pelan.
"Iya."
Ia tidak tahu mengapa.
Semakin ingin melupakan mimpi itu...
Justru semakin sering suara pria tersebut terdengar di kepalanya.
"Jangan pernah berhenti mencariku."
Kalimat itu terasa begitu nyata.
Bahkan terkadang...
Ia merasa suara itu sangat mirip dengan suara Niel.
Namun ia segera menggeleng.
"Itu cuma kebetulan."
gumamnya pelan.
"Apa?"
"Nggak apa-apa."
Bel pintu toko berbunyi.
"Ting..."
Aluna menoleh.
"Niel?"
Pria itu berdiri di depan pintu dengan payung yang masih dipenuhi tetesan hujan.
"Aku mengganggu?"
Aluna tersenyum hangat.
"Tentu tidak."
Niel masuk sambil melipat payungnya.
Hari itu wajahnya tampak sedikit lebih lelah.
"Kamu habis lembur lagi?"
tanya Aluna.
"Sedikit."
"Bukan sedikit, ya?"
Niel tertawa pelan.
"Kelihatan sekali?"
"Iya."
Aluna kemudian berjalan ke belakang meja kasir dan mengambil sebuah kotak kecil.
"Ini buat kamu."
Niel menerimanya dengan heran.
"Apa ini?"
"Buka saja."
Perlahan Niel membuka kotak itu.
Di dalamnya terdapat sebuah pembatas buku dari kayu yang diukir tangan.
Di bagian atasnya tertulis satu kalimat.
"Untuk orang yang mulai mencintai buku."
Niel tersenyum tanpa sadar.
"Ini buatanmu?"
Aluna mengangguk.
"Iseng waktu toko lagi sepi."
"Terima kasih."
"Aku suka."
Senyumnya kali ini jauh lebih tulus daripada biasanya.
Melihat itu, Aluna ikut tersenyum.
Entah kenapa...
Ia merasa puas hanya karena berhasil membuat Niel tersenyum.
_________________________________________
Tak jauh dari sana...
Seorang pria duduk di dalam mobil berwarna abu-abu.
Melalui kamera kecil, ia memotret momen ketika Aluna memberikan hadiah kepada Niel.
Klik.
Klik.
Setelah itu, ia mengirimkan foto-foto tersebut kepada seseorang.
Tak lama kemudian, balasan datang.
"Hubungan mereka berkembang sesuai perkiraan."
Pria itu mengetik singkat.
"Apakah tahap kedua dimulai?"
Balasan berikutnya muncul beberapa detik kemudian.
"Belum."
"Buat mereka semakin sulit untuk saling menjauh."
Pria itu tersenyum tipis.
"Baik."
Sore menjelang malam.
Niel berpamitan pulang.
Namun sebelum masuk ke mobil, ia kembali menoleh ke arah Aluna yang masih berdiri di depan toko.
"Aluna."
"Ya?"
"Besok..."
"Apa?"
"Mau makan malam bersama?"
Aluna sedikit terkejut.
"Makan malam?"
"Iya."
"Bukan karena ada urusan."
"Bukan karena buku."
"Hanya..."
Niel menarik napas pelan.
"...aku ingin menghabiskan waktu bersamamu."
Wajah Aluna memerah.
Ia tidak menyangka Niel akan mengatakannya sejujur itu.
Setelah beberapa detik terdiam, Aluna tersenyum.
"Baik."
"Aku mau."
Mendengar jawaban itu, Niel merasa ada kelegaan yang sulit dijelaskan.
Seolah ia baru saja mendapatkan sesuatu yang selama ini hilang.
Namun saat mobil mulai melaju meninggalkan toko...
Sebuah pesan masuk ke ponsel Niel dari nomor tak dikenal.
"Datanglah ke makan malam itu."
"Karena setelah besok..."
"...kamu mungkin tidak akan pernah bisa bertemu dengannya lagi."
Senyum di wajah Niel perlahan menghilang.
Tatapannya berubah tajam.
Ia langsung menghubungi Darren.
"Darren."
"Ya, Tuan."
"Batalkan semua jadwalku besok."
"Lalu?"
"Kita tidak hanya akan menghadiri makan malam."
Niel mengepalkan ponselnya.
"Kita akan menjebak orang yang selama ini mempermainkan kami."
Di tempat lain, pria misterius itu menatap layar monitor yang menampilkan lokasi ponsel Niel.
Senyumnya perlahan melebar.
"Kalau begitu..."
"Selamat datang di tahap kedua."
Permainan yang selama ini berlangsung di balik bayangan...
Akhirnya akan mempertemukan pemburu dan orang yang diburu dalam satu tempat yang sama.
___________________________________________
Malam itu, hujan kembali turun.
Mobil Niel melaju perlahan meninggalkan toko buku, sementara pesan anonim yang baru diterimanya masih terpampang di layar ponsel.
"Datanglah ke makan malam itu. Karena setelah besok... kamu mungkin tidak akan pernah bisa bertemu dengannya lagi."
Niel menghapus layar ponselnya, tetapi isi pesan itu sudah terpatri di benaknya.
"Tuan."
Suara Darren memecah keheningan.
"Apakah ancamannya berkaitan dengan Nona Aluna?"
Niel mengangguk pelan.
"Mereka sengaja ingin aku panik."
"Kalau begitu, sebaiknya makan malam itu dibatalkan."
Niel terdiam beberapa saat.
"Tidak."
"Tapi, Tuan—"
"Kalau aku membatalkannya, mereka akan tahu aku mengikuti permainan mereka."
Tatapan Niel berubah tajam.
"Justru besok... aku ingin mereka percaya bahwa semuanya berjalan sesuai rencana."
Darren memahami maksud atasannya.
"Berarti kita akan memasang pengamanan?"
"Bukan hanya pengamanan."
Niel menatap ke luar jendela.
"Aku ingin tahu siapa orang yang cukup berani mengancamku secara langsung."
___________________________________________
Di sisi lain, Aluna baru saja tiba di rumah.
Ia meletakkan tasnya di sofa, tetapi senyumnya belum juga hilang sejak menerima ajakan makan malam dari Niel.
Ibunya yang melihat perubahan wajah putrinya langsung tersenyum geli.
"Kelihatannya ada yang sedang bahagia."
Aluna langsung salah tingkah.
"Ah, Ibu..."
"Ibu benar, ya?"
Aluna hanya tertawa kecil sambil memeluk lengan ibunya.
"Nanti besok... aku mau makan malam sama teman."
"Teman?"
Ibunya mengangkat sebelah alis.
"Teman atau seseorang yang spesial?"
Wajah Aluna langsung memerah.
"Belum... belum seperti itu."
Ibunya tersenyum hangat.
"Kalau begitu, semoga besok berjalan lancar."
"Aamiin."
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Aluna menantikan hari esok dengan perasaan berdebar.
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa seseorang sedang mengawasi rumahnya dari dalam sebuah mobil yang terparkir di ujung jalan.
Pria itu menurunkan sedikit kaca mobilnya sambil berbicara melalui alat komunikasi kecil di telinganya.
"Target sudah pulang."
Suara dari seberang terdengar tenang.
"Terus awasi."
"Jangan lakukan apa pun malam ini."
"Biarkan mereka menikmati harapan mereka..."
"...karena besok malam, semuanya akan mulai berubah."
Pria itu mematikan alat komunikasinya, lalu menatap rumah Aluna dalam diam.
Di balik senyum tipisnya, sebuah rencana besar telah menunggu untuk dijalankan.
Dan tanpa disadari oleh Niel maupun Aluna...
Makan malam yang seharusnya menjadi awal dari kebahagiaan mereka justru akan menjadi pintu masuk menuju permainan yang jauh lebih berbahaya.
— Bersambung —