Maryati meninggal di malam hujan, membeku di gang sempit, setelah ketiga anaknya menolak membuka pintu.
Seumur hidup dia mengabdi. Gaji suaminya — Hartono — dia yang kelola supaya cukup untuk makan sekeluarga. Menantu pertamanya, Watini, menampar dan memaki sesuka hati. Anak sulungnya, Darmanto, bungkam saja. Anak keduanya, Bagus, cuma datang kalau butuh uang. Satu-satunya yang sayang — Lestari, anak perempuannya — justru dibuang ke kampung terpencil dan mati muda.
Lalu Tuhan memberi kesempatan kedua.
Maryati membuka mata dan mendapati dirinya kembali ke usia lima puluh tahun. Kali ini, dia bukan lagi ibu yang menunduk. Kali ini, dia melawan.
Hari pertama: dia menampar balik Watini dan merebut seluruh gaji keluarga. Hari kedua: dia mengusir siapa pun yang berani menginjak harga dirinya. Dan tujuan terbesarnya? Menyelamatkan Lestari sebelum terlambat — naik kereta sendirian ke kampung terpencil, menghadapi keluarga preman yang menyandera anaknya, dan membawa Lestari pulang dengan tangannya sendiri.
Tapi membebaskan anak perempuannya baru permulaan.
Maryati harus berhadapan dengan suami yang lebih memilih selingkuhan daripada istri, menantu yang licik di balik senyum manisnya, dan anak-anak yang menganggap pengorbanan ibu adalah hal yang wajar. Ketika cukup sudah — **dia menggugat cerai di usia lima puluh tahun, keluar dari rumah dengan satu tas kecil, dan membuktikan bahwa hidup seorang perempuan tidak berakhir setelah ditinggal suami.
Dari buruh pabrik tekstil biasa, Bu Yati naik menjadi ketua serikat pekerja wanita. Dia mendirikan asrama perlindungan untuk pekerja perempuan korban kekerasan. Dia menemukan kakak kandung yang terpisah sejak kecil. Dan satu per satu, perempuan-perempuan di sekitarnya — Wulandari si anak yang dikorbankan untuk adik laki-laki, Ayu yang dijual untuk dinikahkan, Ningsih yang tertipu laki-laki brengsek — bangun dari tidur panjang mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19: Kekerasan di Perumahan
Dan Bu Yati tahu, anak keduanya tidak pernah berhenti menghitung.
Namun sebelum ia sempat membongkar hitungan Bagus, Pak Tono pulang.
Ia muncul tiga hari kemudian dengan motor penuh debu dan wajah yang dibuat lebih menderita daripada kenyataannya. Di tangannya ada tas kecil. Dari cara ia melangkah masuk, jelas ia berharap semua orang berhenti bekerja, menatapnya, lalu merasa bersalah.
Yang terjadi, Guntur hanya mengangkat kepala dari buku.
"Pak pulang?"
Tari sedang menjemur baju Melati. Ia menoleh sopan, tetapi tidak berlari menyambut. Bagus bahkan tidak ada di rumah, katanya mengantar pesanan. Bu Yati duduk di meja, menghitung uang belanja.
Pak Tono berdiri di ambang pintu, menunggu.
Tidak ada yang menjemput tasnya.
"Anto mana?" tanyanya akhirnya.
"Di rumah Prawiro," jawab Bu Yati.
"Ngapain?"
"Tinggal di sana."
Tas kecil Pak Tono jatuh ke lantai. "Apa maksudmu tinggal di sana?"
Bu Yati menutup buku catatan. "Aku sudah memisahkan mereka. Barangnya juga sudah diantar."
Wajah Pak Tono berubah merah. "Kamu berani mengusir anak pertama saat aku tidak ada?"
"Kamu pergi saat rumah sedang kacau. Jangan berharap rumah menunggu izin dari orang yang kabur."
"Aku ini bapaknya!"
"Bapak yang pergi tiga hari karena malu pada Sri."
Kalimat itu menampar lebih keras daripada tangan. Pak Tono menunjuk Bu Yati, tetapi jarinya gemetar.
"Kamu sudah keterlaluan, Maryati."
Bu Yati berdiri. "Kamu pergi, tidak ada yang menahan. Kamu pulang, jangan berharap semua kembali seperti sebelum kamu lari."
Pak Tono hendak membentak lagi, tetapi dari luar terdengar keributan.
Bu Sari berlari ke halaman. Napasnya terputus-putus. "Yati! Rumah Pak Kasan ribut lagi. Kali ini parah."
Bu Yati langsung mengambil kerudung. "Tari, jaga Melati. Tur, ikut aku."
Pak Tono masih ingin membicarakan Anto, tetapi Bu Yati sudah melewatinya seolah ia hanya kursi rusak di tengah jalan.
Rumah Pak Kasan berada di gang belakang. Selama ini, orang-orang sudah tahu Budi, anak Pak Kasan, sering memukul istrinya, Marni. Tapi di kampung, tahu tidak selalu berarti bertindak. Orang menutup pintu. Orang berkata urusan rumah tangga. Orang menasihati perempuan agar sabar karena suami sedang banyak pikiran.
Hari itu pintu rumah Pak Kasan terbuka lebar.
Di halaman, Budi duduk di lantai dengan wajah pucat, memegangi tubuhnya dan berteriak kesakitan. Beberapa laki-laki menahannya agar tidak bangkit. Marni berdiri di dekat dapur, tangannya kosong, matanya kering. Di lantai ada pisau dapur yang sudah ditendang jauh oleh tetangga.
Bu Yati tidak mendekati pisau. Ia mendekati Marni.
"Marni."
Perempuan itu menoleh. Bibirnya pecah lama, bukan luka baru. Di lengannya ada bekas biru yang sudah menguning. Wajahnya sangat tenang sampai menakutkan.
"Saya pernah ke Puskesmas," kata Marni tiba-tiba, seolah menjawab pertanyaan yang belum keluar. "Perawat tanya jatuh dari mana. Saya bilang tangga. Pak Kasan berdiri di belakang saya. Saya takut."
Bu Yati menahan napas.
"Saya juga pernah bilang ke Bu Kasan," lanjut Marni. "Katanya suami keras itu biasa, asal masih kasih makan. Saya bilang ke tetangga, mereka suruh saya sabar demi nama keluarga."
Beberapa tetangga yang berdiri di halaman langsung menunduk. Kata sabar yang biasanya terdengar suci mendadak tampak seperti kain kotor untuk menutup luka.
Bu Yati merasakan telinganya panas. Berapa kali dulu ia juga diberi kain kotor bernama sabar?
Ia tidak pernah lupa.
"Saya sudah bilang berhenti," katanya pelan. "Dia tertawa. Katanya perempuan kalau dipukul baru ingat suami."
Bu Sari menutup mulut.
Pak Kasan berteriak dari teras. "Perempuan gila! Anak saya kamu rusak!"
Marni tertawa pendek. "Bertahun-tahun saya rusak, Pak. Tidak ada yang teriak."
Kalimat itu membuat halaman sunyi.
Tidak lama kemudian polisi datang. Ada yang menelepon setelah melihat Budi terluka serius. Petugas meminta semua orang mundur. Marni tidak melawan saat tangannya dipegang. Ia hanya mengambil jilbab dari kursi dan memakainya rapi, seperti akan pergi ke pasar.
Saat melewati Bu Yati, ia berhenti.
"Ibu," katanya.
Bu Yati menatapnya.
"Ibu yang kasih saya keberanian."
Dada Bu Yati seperti dipukul. "Aku tidak pernah menyuruhmu melukai orang."
"Saya tahu." Marni tersenyum, kecil dan anehnya lega. "Tapi saya melihat Ibu berani bilang tidak. Saya baru ingat, saya juga manusia."
Polisi membawanya pergi. Di wajah Marni tidak ada kemenangan, hanya kelelahan panjang yang akhirnya menemukan pintu keluar. Orang-orang berbisik. Ada yang menyalahkan Marni. Ada yang menyalahkan Budi. Ada yang tiba-tiba mengaku sudah lama kasihan tetapi tidak tahu harus apa.
Bu Yati berdiri di tengah halaman, memandangi punggung perempuan itu.
Ia teringat dirinya yang dulu. Bukan karena Pak Tono sering memukul seperti Budi. Pak Tono lebih halus. Ia tidak memecahkan tulang, tetapi memindahkan beban. Ia tidak mengunci pintu, tetapi membuat Bu Yati percaya bahwa keluar rumah adalah dosa. Ia tidak selalu berteriak, tetapi setiap diamnya membuat Bu Yati menanggung seluruh keluarga sendirian.
Orang bisa dihancurkan tanpa luka yang terlihat.
Guntur berdiri di sampingnya. Anak itu tidak bicara lama.
"Mak," katanya akhirnya, "kalau orang sudah menderita lama, kenapa tetangga baru ribut setelah ada darah?"
Bu Yati menatap putranya. Pertanyaan itu terlalu besar untuk anak SMP, tetapi mungkin dunia memang memaksa beberapa anak cepat tua.
"Karena banyak orang lebih takut pada keributan daripada pada penderitaan diam-diam."
Guntur mengerutkan kening, menyimpan kalimat itu.
Malamnya, Bu Yati pulang dengan kepala berat. Pak Tono duduk di ruang tengah, tampak ingin melanjutkan pertengkaran soal Anto. Namun ponselnya menyala lebih dulu. Nama Sri muncul di layar.
Bu Yati melihatnya.
Pak Tono panik dan mencoba membalik ponsel.
Terlambat.
Bu Yati mengambil ponsel itu dari tangannya. Di layar ada pesan: Pak, saya takut. Semua orang menjauhi saya.
Bu Yati menatap suaminya. "Setelah semua itu, kamu masih mau jadi pahlawan untuk dia?"
"Dia cuma takut."
Tamparan Bu Yati membuat kepala Pak Tono miring.
"Marni dibawa polisi hari ini karena bertahun-tahun tidak ada yang menolong. Kamu masih sibuk menolong perempuan yang menolak kerja dan mengambil uang istri orang?"
Pak Tono memegang pipi, tidak berani membalas.
Guntur melihat dari pintu kamar. Tari memeluk Melati di sudut, menutup mata anak itu. Rumah kembali sunyi, tetapi kali ini sunyinya lebih tajam.
Larut malam, Bu Yati berbaring di tikar. Pak Tono tidur membelakanginya, pura-pura tidak sakit hati. Dari luar, suara jangkrik dan motor jauh terdengar bergantian.
Bu Yati menatap langit-langit.
"Suatu hari, aku juga akan pergi," bisiknya.
Tapi bukan hari ini.
Masih terlalu banyak yang harus ia selamatkan.