Amanda yang seorang guru, dihadapkan pada lika-liku sekolah yang semakin hari semakin kehilangan arahnya.
Beban tanggung jawabnya sebagai wali kelas 1A benar-benar tak mudah, karena ia juga mendapatkan tekanan dari berbagai sisi, hingga membuatnya stress dan frustasi.
Disaat Amanda sedang pusing menghadapi berbagai masalah dalam sekolah tempatnya mengajar dan juga masalah bersama sang mantan yang masih kekeh meminta balikan dengannya.
Pertemuanya yang tak terduga dengan Reihan yang merupakan kakak dari salah satu muridnya menambah drama baru dihidupnya.
Membangkitkan kembali kenangan masa kecil yang telah terkubur lama ditambah bayang-bayang masa lalu antara dirinya dan Aqila, teman Reihan membuat hubungan mereka jadi penuh drama.
Kira-kira apa yang terjadi di antara mereka? Apa yang membuat Amanda sampai terlibat dengan Reihan dan Aqila?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biru_Muda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belum Usai
Masalah ini belumlah berakhir, penyelesaian yang di harapkan tak kunjung terlaksana dengan lancar. Mengeluarkan mereka yang bersalah juga tidaklah se sederhana itu. Terlebih, terbentur oleh status kuasa dari salah satu orang tua murid yang mengancam akan melaporkan sekolah. Hingga terjadilah drama yang panjang untuk menyelesaikan masalah ini.
Membuat situasi semakin runyam akibat salah satu orang tua yang masih ngotot tak terima anaknya dikeluarkan dari sekolah. Memaksa Dewi Rosita, selaku direktur yayasan sekolah, menangguhkan sementara rapat komite disiplin. Meminta para orang tua untuk pulang lebih dulu dan meminta murid yang bersalah untuk tak datang kesekolah sementara waktu sampai di adakannya kembali rapat komite disiplin.
Selama masa jeda, kegiatan belajar mengajar di SMA Mutiara tetap berlanjut seperti biasanya, meski situasi disekolah menjadi semakin gaduh akibat di adakannya rapat komite disiplin. Saat ini, semua perhatian mengarah pada nasib murid yang sedang disidang untuk mempertanggung jawabkan kesalahannya.
Interogasi besar-besaran juga terjadi dalam internal sekolah yang disinyalir ada indikasi kecurangan yang merugikan sekolah. Terlebih perihal aliran uang yang diberikan oleh beberapa wali murid yang tak pernah diterima ataupun diketahui oleh Dewi Rosita sebelumnya.
Setelah rapat yang menyulitkan itu, kembali kerumah dalam keadaan yang melelahkan bagi Dewi Rosita. Ia tak menyangka bahwa akan mendapatkan perlawanan yang keras dari beberapa wali murid, terlebih ia juga tak bisa mendisiplinkan murid yang bermasalah se enaknya begitu saja seperti sebelum-sebelumnya.
"Padahal, dulu tidak separah dan sesusah ini."
Dewi Rosita merasa masalah kali ini jauh lebih besar dan tak mudah untuk dihadapi dibanding awal-awal ia mendirikan sekolah. Dulu, yang ia hadapi adalah tentang bagaimana caranya sekolah yang ia dirikan bisa mendapatkan banyak peminat untuk mau masuk kesekolahannya.
Terlebih membangun citra sekolah agar dipandang baik sangatlah tidak mudah, begitupun dengan membangun fasilitas dalam sekolah juga selalu mendapatkan tantangan akibat beban biaya yang tak murah.
Namun, ia berhasil membangun citra itu dengan baik dan membuat sekolah yang ia dirikan mendapatkan banyak peminat dan menjadi salah satu sekolah khusus perempuan yang berakreditasi A. Setiap tahun selalu ada perbaikan, baik penambahan dan perbaikan bangunan sekolah, juga pembenahan sistem agar sekolah semakin bagus kedepannya.
Mendirikan sekolah memang tidaklah mudah, ada kewajiban yang harus dilakukan agar sekolah bisa berjalan ke arah yang lebih baik dan menjadi tempat yang paling nyaman dan aman bagi murid untuk kegiatan belajar.
10 tahun tak pernah ada kendala serius yang menimpa sekolah. Semua taat pada peraturan sekolah yang sudah ditentukan dan diterapkan sejak awal. Hingga terbentuklah rasa aman dan nyaman bagi semua murid di dalam sekolah.
Hanya saja, situasi berubah hanya dalam satu tahun belakangan ini. Aturan yang sudah ditegakkan bertahun-tahun mendadak jadi longgar. Menodai citra baik yang sudah dibangun dengan susah payah oleh Dewi Rosita.
Kasus perundungan yang dulu berhasil dicegah dan di atasi, kini justru menjadi ancaman yang nyata bagi sekolah. Kegiatan belajar mengajar menjadi tak tenang dan murid tak lagi merasa nyaman untuk datang kesekolah. Lubang besar begitu nyata dalam internal sekolah. Membuat Dewi Rosita, terpaksa harus membereskan kesalahan yang hampir menghancurkan nama baik sekolah yang sudah ia jaga selama bertahun-tahun ini.
....
Waktu terus berputar, kegiatan belajar mengajar terus berjalan, dan Amanda yang sudah tak mengajar disekolah juga masih terus melanjutkan hidupnya. Walau ada kekosongan karena kesehariannya berubah, Amanda tidak mau berlarut dalam masalah dan memilih untuk terus mencari solusinya.
Ia menyibukan diri dengan mengikuti berbagai kegiatan sosial dan mengunjungi beberapa panti asuhan sambil memikirkan jalan untuk mencari pekerjaan yang baru demi melanjutkan hidupnya.
Tak hanya itu, ia juga masih terus berusaha untuk mendatangi rumah bu Rosita, direktur yayasan tempatnya mengajar dulu. Meski lagi-lagi belum ada hasil positif, karena ia selalu tertahan di gerbang tak bisa masuk kedalam area kompleks perumahannya dan hanya bisa menitipkan pesannya kembali pada security, yang kali ini semoga segera tersampaikan dengan baik pada beliau.
Hari ini ia mendatangi kembali Dewi yang masih dirawat dirumah sakit. Dan, masih belum tahu perihal sekolah yang mengadakan rapat komite disiplin guna memulihkan statusnya.
"Bu, Amanda." panggil seseorang saat Amanda baru saja selesai menjenguk Dewi. Langkahnya berhenti dan mencoba mencari sumber suara. Yang ternyata itu berasal dari Raisa, salah satu muridnya.
"Apa kabar, bu?" sapa Raisa yang langsung menghampiri Amanda dan langsung salim padanya dengan penuh hormat.
"Kabar ibu baik." jawab Amanda tersenyum melihat kedatangan Raisa.
"Apa bu Amanda habis menjenguk Dewi?" Raisa menebak Amanda habis mengunjungi Dewi.
"Iya, benar. Apa kamu juga mau menjenguk Dewi?" tanya Amanda pada Raisa yang datang kerumah sakit masih dengan seragam sekolahnya.
"Tadi aku sudah ketemu sama Dewi kok, bu. Aku juga sudah melihat keadaanya yang semakin baik." ucap Raisa yang ternyata sudah menjenguk Dewi.
"Iya, kamu benar. Syukurlah Dewi sudah semakin baik kondisinya." Amanda juga ikut merasa senang dengan keadaan Dewi yang semakin membaik setelah dua hari dirawat dirumah sakit.
"Apa bu Amanda sekarang mau pulang?" tanya Raisa.
"Iya, ibu harus pulang, karena ibu sudah lama disini, kamu sendiri bagaimana?" jawab Amanda
"Duh, sayang banget padahal kita baru saja bertemu." Raisa merasa menyayangkan pertemuan mereka yang singkat. "Tapi, saya juga harus bertemu kakak sih, jadi mau gimana lagi." ujarnya lagi pasrah.
"Apa kakak kamu dirawat disini?" Amanda mengira kakak Raisa sedang dirawat dirumah sakit.
"Ah, bukan. Dia salah satu dokter disini, dan saya cuma mau ketemu sama kakak kok, bu." sanggah Raisa cepat.
"Oh, begitu." entah mengapa Amanda jadi lega mendengarnya.