NovelToon NovelToon
Hanya Istri Sementara

Hanya Istri Sementara

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Rumah Tangga
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Selama dua bulan, Ainun hanya menjadi Istri Sementara.

Ia pikir semua akan berakhir saat kakaknya pulang. Namun, takdir justru menghadiahkannya dua garis merah di alat tes kehamilan.

Ketika wanita yang seharusnya menjadi istri Sagara benar-benar kembali, mampukah Ainun melepaskan pria yang perlahan mulai ia cintai... atau justru kehilangan segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lina: Neraka yang Sama

Seminggu telah berlalu sejak Ainun pergi meninggalkan rumah.

Namun, kepergian wanita itu justru membuat hari-hari Sagara semakin kacau. Bahkan pekerjaan pun tidak lagi berjalan seperti biasanya.

Sagara menjadi lebih mudah tersulut emosi. Masalah kecil yang sebelumnya bisa ia selesaikan dengan kepala dingin kini cukup untuk membuat rahangnya mengeras dan suaranya meninggi. Beberapa karyawan bahkan harus menerima amarahnya hingga salah seorang dari mereka berakhir di rumah sakit.

Malam itu, pelampiasan yang sama kembali terjadi.

Di sebuah klub malam, suara musik yang menghentak terdengar samar dari balik ruangan. Namun, Sagara tidak lagi peduli dengan suara di sekelilingnya.

Brugh!

Kepalan tangannya menghantam wajah seorang pria di hadapannya.

Pria itu terhuyung, tetapi Sagara kembali menerjangnya.

Brugh!

“Mati! Mati saja sana!” bentaknya sambil melayangkan pukulan berikutnya.

Napas Sagara memburu. Urat di lehernya menegang, sementara kedua tangannya terus mengepal.

“Berengsek!”

Namun, pria itu rupanya belum menyerah.

Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, ia mendorong tubuh Sagara hingga pria itu kehilangan keseimbangan dan jatuh terlentang.

Bruk!

Sagara belum sempat bangkit ketika sebuah kepalan tangan melayang ke arah wajahnya.

“Rasakan ini!”

Bugh!

Kepalan tangan pria itu berhasil mendarat tepat di wajah nya hingga berkali-kali.

Namun, pukulan itu tidak pernah sampai.

Seseorang tiba-tiba menarik pria tersebut dari atas tubuhnya hingga terlempar ke samping.

Sagara membuka mata.

Pandangannya sempat berkunang-kunang sebelum akhirnya menangkap sosok yang berdiri di hadapannya.

Liam.

Asistennya itu berdiri dengan napas berat, sementara tangannya masih mengepal.

Sagara mengusap sudut bibirnya yang terasa perih. Namun, rasa sakit itu tidak seberapa dibandingkan dengan kekosongan yang sejak seminggu terakhir terus menghantam pikirannya.

Bayangan Ainun kembali melintas.

“Ainun...” lirihnya.

Suara itu nyaris tenggelam di antara dentuman musik.

“Kembali kepadaku,” gumamnya. “Aku tidak akan melepaskan mu lagi. Jangan pergi... tetap di sisiku.”

“Pak, ayo kita ke rumah sakit.”

Sagara menatapnya sekilas.

Rasa ngilu menjalar dari pipi hingga rahangnya. Ada rasa asin yang terasa di sudut bibirnya.

Ia mengusapnya dengan punggung tangan.

Darah.

Sagara perlahan bangkit. Lututnya sempat goyah, tetapi ia memaksa tubuhnya berdiri tegak.

Liam kembali mengulurkan tangan.

“Pak, setidaknya biarkan saya mengantar—”

Sagara menepis tangan itu.

“Menjauh!”

Liam terdiam.

Sagara tidak lagi peduli pada pria yang tadi ia pukul, luka di wajahnya, ataupun orang-orang yang mulai memperhatikannya.

Ia hanya ingin keluar dari tempat itu.

Dengan langkah gontai, Sagara berjalan meninggalkan ruangan. Setiap langkah terasa berat, tetapi ia tetap memaksakan diri menuju pintu keluar.

. . .

Begitu keluar dari klub malam, Sagara tidak berhenti untuk melihat ke belakang. Langkahnya terus membawa tubuhnya menuju area parkir yang mulai sepi.

Liam berjalan beberapa langkah di belakangnya.

Sagara membuka pintu mobil, lalu masuk ke kursi belakang. Tubuhnya langsung bersandar pada jok. Rasa nyeri di pipi dan rahangnya kembali terasa ketika ia menggerakkan wajah.

Pintu mobil tertutup.

Sagara memejamkan mata. Napas panjang keluar dari hidungnya.

Beberapa detik kemudian, pintu di sisi depan kembali terdengar tertutup. Liam sudah berada di kursi pengemudi.

Sagara tidak membuka mata.

“Sudah seminggu,” ucapnya pelan. “Apa belum ketemu?”

Liam terdiam sesaat sebelum menjawab.

“Saya sudah meminta beberapa orang untuk mencari, Pak. Saya juga sudah mencoba melacak keberadaan Bu Ainun.”

Sagara membuka mata perlahan.

“Lalu?”

“Belum ada hasil.” Suara Liam terdengar hati-hati. “Keberadaan Bu Ainun sangat sulit diketahui. Bahkan, GPS yang sebelumnya terhubung dengan barang milik beliau masih menunjukkan titik di kediaman Anda, Pak.”

Rahang Sagara mengeras.

“Di rumah?”

“Iya, Pak.”

Sagara mendengus pelan. Jemarinya mengepal di atas pahanya.

“Seharusnya aku memasang alat pelacak di setiap pakaian wanita itu. Karena wanita itu membawa semua baju-bajunya.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Tujuh hari. Sudah tujuh hari ia tidak melihat Ainun. Namun, tidak satu pun jejak wanita itu berhasil ditemukan.

Jemari Sagara kembali mengepal. Tatapannya mengeras.

“Jalan.”

“Baik, Pak.”

Liam segera menyalakan mesin.

Deru kendaraan terdengar memenuhi kabin. Tidak lama kemudian, mobil bergerak meninggalkan pelataran klub malam dan memasuki jalan raya yang diterangi lampu-lampu kota.

Sagara kembali menyandarkan kepalanya pada jok. Matanya menatap lurus ke depan.

Sementara itu, di tempat lain, suasana di kediaman keluarga Dirgantara masih belum sepenuhnya tenang.

Lampu ruang tamu menyala terang. Bastian duduk di salah satu sofa dengan tubuh bersandar, sementara seorang pria berdiri beberapa langkah di hadapannya. Sebuah laporan baru saja disampaikan kepadanya.

Bastian menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

“Jadi, wanita itu sudah pergi sejak seminggu yang lalu?” tanyanya sambil menatap serius pria di hadapannya.

“Iya, Pak.”

Sudut bibir Bastian terangkat.

“Bagus.”

Pria itu tampak ragu sebelum kembali membuka suara.

“Tapi, Pak... sejak wanita itu pergi, Tuan Sagara justru semakin tidak stabil. Emosinya mudah meledak dan beberapa kali melampiaskannya kepada orang-orang di sekitarnya.”

Senyum Bastian perlahan menghilang.

Ia terdiam sejenak. Tatapannya berubah tajam, tetapi tidak menunjukkan kekhawatiran.

“Begitu, ya...”

Bastian menyandarkan tubuhnya kembali.

“Biarkan saja. Mungkin dia emosi karena wanita itu sudah terlalu banyak menyita waktunya.”

“Mungkin saja, Pak Bastian.”

Sebelum percakapan itu berlanjut, terdengar suara langkah dari arah lorong.

“Mas...”

Bastian segera menoleh. Tatapannya menemukan Lina yang berjalan mendekat.

Bastian kembali menatap pria di depannya.

“Kita bicarakan ini besok,” ujar Bastian kepada pria di hadapannya.

“Baik, Pak.”

Pria itu membungkuk singkat sebelum berbalik dan meninggalkan ruang tamu.

Pintu utama tertutup.

Bastian mengalihkan pandangan kembali kepada istrinya yang kini berdiri tidak jauh darinya.

“Kemari,” panggilnya sambil menepuk pahanya.

Lina tidak langsung menurut.

Ia hanya berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada. Tatapannya tajam mengarah kepada Bastian.

Bastian mengangkat alis. “Ada apa cemberut begitu?” tanyanya.

Lina tetap diam.

Bastian bangkit dari sofa. Langkahnya perlahan mendekati istrinya hingga berhenti tepat di hadapannya.

Tangannya terangkat, lalu dua jarinya mencengkeram dagu Lina dan mengangkat wajah wanita itu.

“Kenapa menatapku begitu?” bisiknya.

Lina segera menepis tangan tersebut.

“Jangan sentuh aku.”

Bastian justru terkekeh. Ia kembali duduk di sofa, kemudian menarik pinggang Lina agar wanita itu duduk di sebelahnya.

“Ayah dan anak sama-sama berengsek,” gerutu Lina.

Bastian tertawa kecil.

“Sagara memang anakku.” Tangannya masih melingkar di pinggang Lina. “Kalau sifat berengseknya berasal dariku, berarti aku berhasil mendidiknya.”

Lina melirik tajam.

“Kamu masih mau mendukung pernikahan Sagara dan Liona setelah semua uang yang harus dikeluarkan?”

Bastian mengangkat bahu. “Apa ada yang salah?”

Plak!

Kepalanya seketika menoleh ke samping.

Tamparan Lina meninggalkan rasa panas di pipinya.

Beberapa detik Bastian hanya diam.

Kemudian ia perlahan mengembalikan wajahnya. Tangannya meraih pergelangan tangan Lina.

“Sakit?” tanyanya tenang.

“Jangan menyentuhku!” bentak Lina sambil berusaha menarik tangannya.

Bastian tidak langsung melepaskan. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.

“Aku benci orang yang melawanku.”

Jemarinya mengendur, tetapi tatapannya tetap tertuju pada Lina.

“Mau ku kurung lagi seperti dua hari yang lalu?”

Lina seketika terdiam.

Bastian terkekeh pelan melihat perubahan sikap istrinya.

“Begitulah.” Ia menyandarkan tubuhnya pada sofa. “Kamu harus menerima sikapku, Lina.”

Tatapannya berubah dingin.

“Lagipula, kalau kamu ingin Ainun kembali ke sisi Sagara, bukankah hidup wanita itu akan berakhir sama sepertimu?”

Bastian mendekatkan wajahnya.

“Sagara jauh lebih gila dariku.” senyum tipis kembali terukir di bibirnya. “Jadi, aku tidak salah, kan?”

Lina tidak langsung menjawab.

Tatapannya masih tertahan pada wajah Bastian. Pria yang selama bertahun-tahun menjadi suaminya itu kini duduk begitu tenang, seolah ancaman yang baru saja dilontarkannya bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan.

Jari-jari Lina perlahan mengepal di atas pahanya.

‘Sudah puluhan kali aku ingin bercerai dari Mas Bastian.’

Dadanya terasa berat.

‘Namun, setiap kali aku mencoba melawan, semuanya selalu berakhir dengan hukuman.’

Lina menelan ludah.

‘Kalau nggak dikurung berhari-hari tanpa makan dan minum, aku akan dihukum berendam di dalam bak mandi sampai pagi.’

Ingatan tentang malam-malam panjang yang ia habiskan sendirian kembali muncul. Tubuhnya menggigil hanya dengan mengingat dinginnya air yang membasahi tubuh hingga pagi.

Lina memalingkan wajah.

‘Sudah berkali-kali aku mencoba melarikan diri.’ jemarinya semakin erat mengepal.

‘Namun, selalu ditemukan.’

Dan setiap kali itu terjadi, tidak pernah ada akhir yang baik.

Lina menarik napas perlahan, berusaha menahan gemetar yang mulai menjalar ke tangannya.

‘Seharusnya dulu aku nggak pernah menolong pria iblis ini.’

Pandangan Lina kembali jatuh kepada Bastian.

Bertahun-tahun lalu, ia hanya ingin membantu seorang pria yang saat itu dihina dan dijauhi banyak orang. Ia tidak pernah menyangka kebaikan kecil itu justru menjadi awal dari kehidupan yang terasa seperti neraka.

‘Hanya karena aku menolongnya ketika semua orang merendahkannya, dia malah membalasnya dengan menghadirkan neraka dalam hidupku.’

Lina menundukkan kepala.

‘Sagara...’ matanya mulai memanas. ‘Ibu kira kamu akan menjadi pelindung Ibu.’

Bibir Lina bergetar tipis.

‘Ibu kira, setelah melihat semua yang dilakukan ayahmu kepadaku, kamu akan tumbuh menjadi pria yang berbeda.’

Namun, kenyataan justru membuat harapannya runtuh.

‘Ibu salah.’ Lina memejamkan mata sejenak.

‘Sagara justru semakin parah.’

Tangannya berpindah menggenggam ujung bajunya.

‘Semakin tua aku bertahan di rumah ini, semakin terasa sulit untuk keluar dari neraka yang sama.’

Lina membuka mata kembali.

Di hadapannya, Bastian masih duduk dengan tenang.

Lina menatapnya beberapa detik, lalu mengalihkan pandangan.

1
merry
jgn cepat ksh ainum ktmu dgn Sagara terlalu cepat biar orang saraf kyk Sagara nyesel,, 🙏🙏🙏
merry
iblis busuk km bini dan ank gk diksh mknn
merry
otak y gk tau di mn ya heran aku emang pendidikan tingginya bisa didik ank dgn baik blm tentu x pak justru blansak ia,, klo Sagara jodoh y ainum jgn ksh Sagara nikh sm liona ksh ajj penyesalan trs biar ainum Lhirinn ank solehah hebat genius buat bungkam mulut Bpk dan kakek ya yg jht itu
Nia nurhayati
dasar laki"gilaaa kamu sagara
Ais: nah bnr kak emang gila sagara ini
total 1 replies
Nia nurhayati
Sagara dan BP nya sama brengsekkk laki"kurang ajarrrr😡😡😡
merry
gila bini y gk. diksh mkn minum kata ya cinta marah bini y di dekati org,, emng dikurung tnp mkn minum blm lg memar muka tangan gk diobati,, moga kmu dan pelakor itu dpt karna ya 🙏🙏🙏🙏ainum jgn lemah donk jgn perempuan jgn minta maaf klo ngk salh hrs lawan ke jwb ke kan Sagara juga mau nikah kn sm lion lion itu sdgkn kmu ngk nkh ngk pcarann juga cm ddk bareng knp di perlakuan seperti penjahat,,, hrs disini Sagara salh besar loh dh mau nikah lg,,, kasar lg
merry
egois bgtt si,, istri di seret di tampar gk di akuin org mana tau klo ainum istri mu gara,,, emng org dukun tau ainum bini mu 🤭🤭🤭🤭
Ais
psikopat dan egosi sagara ini ternyata
Ais
wah plot twist banget thor ternyata selama ini sagara mencintai ainun tp knp kayak psikopat gn seh sikap dan kelakuannya apalag pas berhubungan suami istri yg disebut malah nama kakaknya istri mana yg ngak salah paham dan menganggap dirinya hny istri sementara ngak salah dong ainun bersikap dan berkata begitu
Ais: nah bnr kak emang psikopat si sagara ini mungkin dia panggil si musang betina pengen bikin ainun insecure sekaligus cemburu kak🤣
total 2 replies
Arra Bella
saat liona datang sagara tidak akan melepaskanmu ainun
Arra Bella
aku yakin liona bakal nyesel
Ais
semangat updatenya thor bagus alur kisahnya
Arra Bella
salam kenal kakak
Soviani
up lagi dong , ceritanya seru
Skyline Scribe
halo kak aku mampir,
Ikut nunggu kelanjutannya , Semangat nulisnya Kak💪💪
Inarrr Ulfah
gimna mau pergi hp Ainun aja di sadap
Inarrr Ulfah
setelah itu pergi yang jauh Ainun,, hidup bahagia bersama anak mu..
partini
pengantin pengganti nyesek Ampe ulu hati, happy nanti kalau suami udah sreg di hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!