NovelToon NovelToon
Dikhianati Sahabat Dan Kekasih Kini Aku Dewa Kematian

Dikhianati Sahabat Dan Kekasih Kini Aku Dewa Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Tiga tahun lalu, Sony kehilangan segalanya dalam satu malam akibat pengkhianatan sahabatnya dan mantan kekasihnya, Dimas dan Rina. Perusahaan keluarganya direbut, kedua orang tuanya dibunuh secara tragis, dan Sony dijebloskan ke dalam penjara paling kejam dengan tuduhan palsu. Namun, di tempat yang seharusnya menjadi akhir hidupnya itu, Sony justru bertemu dengan seorang guru misterius yang mewariskan ilmu bela diri tingkat dewa dan keterampilan medis kuno kepadanya. Setelah menghabiskan waktu di luar negeri, membantai para petarung terkuat hingga dijuluki Dewa Kematian, Sony kini menginjakkan kakinya kembali di tanah kelahirannya. Dengan kekuatan mutlak di tangannya, Sony bersiap untuk memberikan mimpi buruk dan membalas dendam kepada siapa saja yang telah menghancurkan hidupnya tanpa sisa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Hujan turun sangat deras mengguyur kota Jakarta malam ini.

​Brak!

​Suara petir menyambar bersamaan dengan langkah kaki seorang pria yang baru saja keluar dari pintu kedatangan bandara.

​Pria itu bernama Sony.

​Usianya baru dua puluh lima tahun, tetapi tatapan matanya sangat dingin dan tajam.

​"Akhirnya aku kembali," gumam Sony pelan.

​Dia menatap rintik hujan yang mulai membasahi jaket hitam yang dikenakannya.

​Tidak ada keluarga atau teman yang datang menjemputnya di sana.

​Hanya ada kenangan pahit masa lalu yang terus berputar di kepalanya bagaikan kaset rusak.

​"Tiga tahun, waktu yang cukup lama untuk membuat mereka merasa aman," Sony menghela nafas panjang.

​Tiba-tiba ponsel di saku celananya bergetar dengan kencang.

​Wush!

​Angin dingin berhembus saat dia mengangkat panggilan telepon tersebut.

​"Tuan, Anda sudah sampai di Indonesia?" Suara seorang pria terdengar sangat sopan dari seberang telepon.

​"Ya, aku baru saja berjalan keluar dari bandara," jawab Sony dengan nada datar.

​"Apa Anda ingin saya mengirim pasukan penjemput ke sana sekarang juga?" tanya pria itu lagi.

​"Tidak perlu, aku akan bergerak sendiri mulai malam ini," tolak Sony tegas.

​"Tapi Tuan, musuh-musuh Anda di kota itu sangat licik."

​"Mereka bukan musuh, mereka hanya serangga yang sedang menunggu gilirannya untuk diinjak," potong Sony.

​Tut.

​Sony mematikan panggilan itu tanpa menunggu jawaban dari bawahannya.

​Dia berjalan santai menuju pangkalan taksi yang berada di depan area bandara.

​Seorang sopir taksi paruh baya melambaikan tangan ke arahnya dari dalam mobil.

​"Mau ke mana malam-malam begini, Mas?" sapa sopir itu dengan ramah saat Sony mendekat.

​"Ke kompleks pemakaman umum Menteng," jawab Sony sambil membuka pintu belakang mobil.

​Sopir itu terlihat sangat terkejut mendengar tujuan yang diucapkan oleh Sony.

​"Malam-malam hujan deras begini mau ke kuburan, Mas?" tanya sopir itu dengan nada ragu.

​"Ya, jalan saja tidak usah banyak tanya," ucap Sony sambil menyandarkan punggungnya ke kursi.

​Mesin mobil menyala dan taksi itu perlahan meninggalkan area bandara yang ramai.

​Sony menatap ke luar jendela melihat gemerlap lampu kota yang menyala terang.

​Pikirannya secara otomatis kembali ke kejadian tragis tiga tahun yang lalu.

​Saat itu dia sedang berada di puncak kesuksesan hidupnya.

​Perusahaan keluarganya berkembang pesat menjadi salah satu yang terbesar di kota.

​Dia juga memiliki seorang pacar yang sangat cantik jelita bernama Rina.

​Tapi semuanya hancur berkeping-keping hanya dalam satu malam.

​Sahabat paling baiknya, Dimas, ternyata berkhianat dan menusuknya dari belakang.

​"Dimas, kenapa kau melakukan semua ini padaku?" Suara Sony terdengar bergetar di ingatannya sendiri.

​"Karena aku muak melihatmu selalu berada di atasku dan mengambil semua pujian, Sony," jawab Dimas sambil tersenyum sinis.

​Dalam ingatan yang menyakitkan itu, Rina juga berdiri tepat di samping Dimas sambil berpegangan tangan.

​"Maaf Sony, Dimas bisa memberikanku segalanya, tidak sepertimu yang hanya mengandalkan harta orang tua," ucap Rina dengan wajah tanpa rasa bersalah.

​Sony mengepalkan tangannya di dalam taksi kuat-kuat hingga kuku jarinya memutih.

​Krek!

​Suara pelan terdengar dari pegangan pintu mobil yang tidak sengaja diremas oleh Sony hingga sedikit penyok.

​Sopir taksi melirik dari kaca spion dengan raut wajah sangat khawatir.

​"Mas, ada masalah di belakang?" tanya sopir itu dengan sangat hati-hati.

​"Tidak ada, fokus saja menyetir ke depan," jawab Sony tanpa menatap sopir itu.

​Sopir itu langsung diam dan kembali menatap ke jalanan yang basah.

​Sony kembali menutup matanya perlahan.

​Ingatan tentang kematian kedua orang tuanya kembali muncul membakar amarahnya.

​Orang tuanya dibunuh dengan kejam oleh pembunuh bayaran suruhan Dimas di rumah mereka sendiri.

​Lalu semua bukti dan saksi dimanipulasi sedemikian rupa oleh Dimas.

​Semua tuduhan pembunuhan dan penggelapan dana perusahaan diarahkan tepat kepada Sony.

​Pengadilan memvonisnya bersalah dan dia langsung dijebloskan ke penjara luar negeri yang paling kejam.

​"Tunggu saja, Dimas. Tunggu saja pembalasanku, Rina," Sony berbisik di dalam batin.

​Di dalam penjara neraka itu, Sony hampir mati disiksa setiap hari oleh para tahanan lain.

​Hingga suatu hari dia bertemu dengan seorang lelaki tua misterius yang menjadi tahanan rahasia.

​Lelaki tua itu mengajarinya ilmu bela diri tingkat dewa dan ilmu medis kuno secara sembunyi-sembunyi.

​"Jika kau ingin membalas dendam dengan tuntas, kau harus menjadi dewa kematian itu sendiri," ucap lelaki tua itu di masa lalu.

​Sony membuka matanya saat taksi tiba-tiba berhenti.

​Ciiit!

​"Kita sudah sampai di depan gerbangnya, Mas," kata sopir taksi memecah keheningan.

​Sony mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dari dompetnya dan memberikannya ke sopir.

​"Kembaliannya ambil saja untukmu," kata Sony sambil membuka pintu dan keluar dari mobil.

​"Terima kasih banyak ya, Mas!" ucap sopir itu dengan wajah sangat senang.

​Taksi itu langsung pergi melesat meninggalkan Sony sendirian di depan gerbang pemakaman yang gelap gulita.

​Hujan sudah mulai reda sejak tadi, hanya menyisakan gerimis kecil yang dingin.

​Sony melangkah masuk perlahan melewati nisan demi nisan yang berjejer rapi.

​Dia akhirnya berhenti di depan dua makam yang letaknya agak di ujung dan terlihat tidak terawat.

​Rumput liar tumbuh sangat subur menutupi nama di batu nisan sekitarnya.

​Itu adalah makam ayah dan ibunya kandungnya.

​Sony langsung berlutut di atas tanah yang basah dan kotor.

​"Ayah, Ibu, aku akhirnya pulang," ucap Sony dengan suara yang sedikit parau.

​Tangannya mencabut dan membersihkan rumput liar di atas makam itu dengan sangat perlahan.

​"Maafkan anakmu yang tidak berguna ini karena baru bisa datang menjenguk sekarang."

​Tidak ada satu tetes pun air mata yang jatuh dari mata Sony.

​Air matanya sudah habis mengering selama tiga tahun disiksa di dalam penjara.

​"Aku berjanji di depan kalian, orang-orang yang melakukan ini pada keluarga kita akan membayar ribuan kali lipat."

​Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang mendekat dari arah belakang punggungnya.

​Tap. Tap. Tap.

​Sony sama sekali tidak menoleh dan dia masih sibuk membersihkan sisa kotoran di batu nisan.

​"Hei babi, sedang apa kau di sini malam-malam begini?" bentak sebuah suara serak dan kasar.

​Sony perlahan berdiri dan membalikkan badannya dengan tenang.

​Tiga orang pria berbadan besar dengan tato di lengan berdiri tidak jauh darinya.

​Mereka memegang tongkat besi berkarat dan pemukul bisbol kayu di tangan masing-masing.

​"Bukan urusan kalian aku sedang apa di sini," jawab Sony datar.

​"Berani sekali kau menjawab begitu! Ini wilayah kekuasaan geng Macan Hitam, tahu!" teriak pria yang kepalanya botak.

​"Lalu kenapa kalau ini wilayah kalian?" tanya Sony dengan nada mengejek.

​Pria botak itu membuang ludah ke tanah dengan kasar.

​Cuih!

​"Serahkan semua uang dan barang berhargamu sekarang juga kalau kau masih mau keluar hidup-hidup dari sini!" ancam pria botak itu sambil mengangkat tongkat besinya.

​Sony hanya tersenyum tipis merespon ancaman itu.

​"Kalian sungguh salah memilih lawan malam ini," ucap Sony.

​[Sistem Peringatan: Tiga musuh kelas rendah terdeteksi di sekitar Tuan]

​Sony menatap tulisan biru transparan yang tiba-tiba muncul di depannya dengan pandangan sangat bosan.

​Itu adalah sistem gaib yang terikat dengannya setelah dia berlatih keras di bawah bimbingan gurunya.

​"Aku tidak butuh peringatan sistem untuk menghadapi sampah masyarakat seperti mereka," batin Sony.

​"Jangan banyak gaya, cepat habisi dia!" teriak pria botak memberi perintah.

​Ketiga pria itu langsung berlari maju dengan cepat menyerang Sony secara bersamaan.

1
Fajar Fathur rizky
cepat bantai mawar hitam permalukan ke media sebelum di bantai
kiyoe: bantai
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai jendral haris beserta keluarganya dengan cara paling kejam dan sadis
kiyoe: hehehe
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai jendral haris dengan cara paling kejam
Fajar Fathur rizky
cepat bantai Viktor dengan cara paling kejam
kiyoe: hehehe 🙏
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai dimas dengan cara paling kejam pajang tubuhnya yang sudah tiada itu
kiyoe: mau di pajang ke mana kak tubuh nya hehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!