"Demi menyelamatkan ayahnya, Alya setuju menggantikan kakaknya untuk memenuhi janji pernikahan dengan Mayor Damar. Namun, pada akhirnya semua hanyalah status dan diikat surat perjanjian yang berlaku selama tiga tahun. Di samping itu, Alya dan Damar menjalani kehidupan mereka masing-masing.
Namun, dua tahun kemudian, keduanya dipertemukan kembali di medan perang. Alya sebagai dokter ditugaskan ke perbatasan NTT, tempat Damar bertugas. Kontrak yang awalnya dianggap sebagai garis aman perlahan-lahan berubah menjadi bom waktu ketika cinta mengetuk hati Mayor Damar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 09 - Dia Menggendongku
Yonas selamat.
Berita itu datang pukul sembilan malam, setelah antivenom diberikan dan kondisinya mulai stabil. Istrinya menangis di kaki Alya sampai Alya panik sendiri.
"Jangan begitu, Bu. Yang penting suami Ibu istirahat."
"Terima kasih, Dok. Kalau Dokter tidak datang..."
"Tim yang membantu. Bukan saya sendiri."
Damar berdiri di belakang, mendengar jawaban itu untuk kesekian kalinya.
Alya selalu begitu.
Saat sesuatu berhasil, dia membagi pujian.
Saat sesuatu kacau, dia mengambil tanggung jawab lebih dulu.
Dia seharusnya terlihat seperti perempuan yang dulu dia tuduh mencari posisi. Tapi semakin lama Damar melihat, tuduhan itu semakin sulit dipertahankan.
Dan itu membuatnya tidak nyaman.
Perjalanan pulang dari RSUD dimulai hampir pukul sepuluh. Rina dan Joko ikut kendaraan ambulans yang kembali ke pos, sementara Alya dipaksa duduk di jip Damar.
Dipaksa, karena dia sempat menolak.
"Saya bisa ikut ambulans."
"Ambulans penuh."
"Saya bisa duduk di belakang."
"Kamu hampir pingsan tadi."
"Hampir berarti tidak."
Damar hanya membuka pintu penumpang.
"Masuk."
Alya menatapnya beberapa detik, lalu masuk karena terlalu lelah untuk berdebat.
Sepuluh menit pertama, dia duduk tegak.
Menit kelima belas, kepalanya mulai bersandar ke jendela.
Menit kedua puluh, matanya terpejam.
Damar meliriknya.
Cahaya lampu jalan yang jarang-jarang menyapu wajah Alya. Ada bekas tanah di pipinya yang belum bersih. Bibirnya pucat. Di pergelangan tangannya ada goresan kecil, mungkin dari semak saat evakuasi.
Damar memperlambat mobil sedikit.
Alya bergumam, "Jangan lambat."
Dia ternyata belum sepenuhnya tidur.
"Tidur saja."
"Pasien..."
"Sudah stabil."
"Yonas..."
"Hidup."
Alya menghela napas kecil. Setelah itu tubuhnya benar-benar lemas.
Damar menatap jalan lagi.
Kata-kata di lorong IGD tadi kembali menghantam kepalanya.
Suamimu memberi perintah.
Dia tidak tahu kenapa mengatakan itu.
Mungkin karena melihat Alya hampir jatuh membuat sesuatu di dalam dirinya bereaksi lebih cepat daripada akal sehat. Mungkin karena sejak perempuan itu datang, dia merasa posisinya sebagai orang yang membenci menjadi semakin sulit.
Atau mungkin karena sejak awal, dia tidak pernah benar-benar siap melihat Alya sebagai orang asing.
Jip tiba di kompleks hampir tengah malam.
Damar memarkir di depan rumah dinas Alya.
"Alya."
Tidak ada jawaban.
"Dokter Alya."
Masih tidak ada.
Dia turun, memutar ke sisi penumpang, lalu membuka pintu. Alya tidur dengan wajah sangat lelah. Satu tangannya masih memegang tali tas medis.
Damar berdiri beberapa detik.
Dia bisa memanggil Rina.
Bisa meminta prajurit perempuan.
Bisa membangunkannya dengan suara keras.
Tapi malam terlalu larut. Rumah di sekitar sudah gelap. Dan wajah Alya tampak seperti orang yang jika dibangunkan sekarang akan tetap memaksa berkata, saya baik.
Damar menghela napas.
Dia melepas tas dari tangan Alya pelan, lalu menyelipkan satu tangan ke punggungnya dan satu tangan ke bawah lututnya.
Alya bergerak sedikit.
"Jangan..."
"Diam. Kita sudah sampai."
Mungkin karena setengah sadar, dia tidak melawan.
Damar menggendongnya keluar dari mobil.
Tubuh Alya lebih ringan dari yang dia duga.
Terlalu ringan.
Di teras, dia mencari kunci di tas kecil Alya. Setelah pintu terbuka, dia masuk ke rumah yang dulu sengaja ditempatkan paling buruk. Sekarang ruangan itu rapi. Ada sajadah terlipat di sudut, buku catatan medis di meja, gelas teh yang belum dicuci, dan beberapa kain kasa yang dijemur dekat jendela.
Rumah itu tidak lagi tampak seperti hukuman.
Alya sudah mengubahnya menjadi tempat tinggal.
Damar meletakkan Alya di atas matras di kamar. Saat dia hendak menarik selimut, Alya membuka mata sedikit.
Mata mereka bertemu.
Untuk sesaat, dia tampak tidak tahu sedang di mana.
Lalu kesadaran kembali.
Alya langsung berusaha duduk.
"Saya bisa sendiri."
Damar menahan bahunya.
"Tidur."
"Anda menggendong saya?"
"Kamu pingsan tidur."
"Itu bukan jawaban."
"Itu jawaban yang cukup."
Wajah Alya memerah, entah karena malu atau marah.
"Anda tidak perlu melakukan itu."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa?"
Damar menatapnya. Pertanyaan itu seharusnya mudah dijawab.
Karena kamu lelah.
Karena aku tidak mau membangunkanmu.
Karena melihatmu hampir jatuh membuatku panik.
Tidak satu pun keluar.
"Karena kalau kamu jatuh di teras, besok satu kompleks akan menyalahkanku."
Alya tertawa pelan.
Tawa itu pendek, pahit.
"Tentu. Reputasi Komandan harus dijaga."
Damar mengatupkan rahang.
Dia membenci bagaimana setiap kalimatnya sendiri terdengar lebih buruk setelah keluar.
Alya menarik selimut sendiri.
"Terima kasih sudah mengantar."
Itu jelas kalimat untuk mengusirnya.
Damar berdiri.
"Besok kamu istirahat."
"Tidak bisa. Ada pasien observasi."
"Rina bisa menangani."
"Saya akan datang setelah subuh."
"Alya."
Dia menatap Damar dari atas matras.
"Saya tidak selemah itu."
"Aku tidak bilang kamu lemah."
"Tapi Anda memperlakukan saya seperti saya akan pecah."
Damar menahan napas.
"Aku memperlakukanmu seperti orang yang sudah memaksa tubuhnya melewati batas hari ini."
Alya diam.
Kalimat itu tidak menghina.
Itu yang membuatnya tidak tahu harus membalas apa.
Damar berjalan ke pintu.
Sebelum keluar, dia berkata, "Kunci pintu."
"Iya."
"Dan makan sesuatu kalau bangun."
"Mayor."
Dia berhenti.
"Kalau Anda terus memberi perintah kecil seperti itu, saya bisa salah paham."
Damar menoleh.
Alya menatapnya dengan mata lelah, tapi ada senyum tipis di bibirnya. Bukan senyum manis. Lebih seperti tameng.
"Anda sendiri yang bilang jangan salah paham," lanjutnya.
Damar memandangnya lama.
"Kalau begitu jangan."
Pintu tertutup.
Alya berbaring kembali, menatap langit-langit.
Jantungnya berdetak terlalu cepat untuk orang yang hampir pingsan.
Dia menyentuh lengan yang tadi berada di bahu Damar saat digendong. Ingatan itu membuat wajahnya panas.
"Bodoh," bisiknya pada diri sendiri.
Pria itu hanya menggendong karena praktis. Karena dia komandan. Karena dia tidak mau masalah.
Bukan karena peduli.
Jangan salah paham.
Dia memejamkan mata.
Namun di luar rumah, Damar belum langsung pergi.
Dia berdiri di teras beberapa saat, melihat lampu kamar Alya padam. Di tangannya masih ada tas medis yang lupa dia letakkan. Dia membuka pintu sedikit, menaruh tas itu di dekat meja ruang depan, lalu keluar lagi tanpa suara.
Saat berjalan ke mobil, dia bertemu Kapten Rendra yang entah sejak kapan berdiri di sisi jalan.
Kapten itu mengangkat kedua tangan.
"Saya tidak lihat apa-apa, Dan."
Damar menatapnya dingin.
"Kalau begitu kenapa masih berdiri?"
"Mau laporan soal patroli malam."
"Besok pagi."
"Siap."
Rendra berbalik, tapi mulutnya masih sempat bergerak.
"Dokter Alya kuat juga ya."
Damar membuka pintu mobil.
"Dia terlalu keras kepala."
"Biasanya orang keras kepala cocok dengan orang keras kepala."
Damar menatapnya.
Rendra langsung berdiri tegak.
"Maksud saya, cocok untuk kerja lapangan, Dan."
Damar masuk ke mobil dan menutup pintu lebih keras dari perlu.
Malam itu, dua orang di dua rumah berbeda sama-sama sulit tidur.
Alya karena mengingat lengan Damar.
Damar karena mengingat betapa mudahnya tubuh Alya terasa ringan di pelukannya.
Dan keduanya sama-sama menyalahkan kelelahan.
Pagi berikutnya, Bu Niken datang terlalu awal dengan alasan mengantar singkong rebus.
Matanya langsung turun ke sandal Damar yang tertinggal sebentar di teras karena pria itu semalam masuk mengembalikan tas medis.
"Dokter," katanya pelan, senyum melebar, "semalam ada tamu?"
Alya nyaris menjatuhkan gelas.
"Tidak seperti yang Ibu pikirkan."
"Saya belum pikir apa-apa."
"Wajah Ibu sudah menulis satu novel."
Bu Niken tertawa sampai bahunya berguncang. "Tenang, Dok. Saya tidak akan cerita."
Lima belas menit kemudian, Bu Wati lewat depan rumah sambil menyapu jalan yang tidak kotor.
Alya menutup pintu.
Di tempat seperti ini, rahasia tidak pernah benar-benar punya kaki untuk berlari.
Di pos komando, Rendra juga melihat sandal yang sama ketika Damar datang mengambilnya dengan wajah seolah sedang mengambil dokumen rahasia.
"Dan, barang bukti tertinggal?"
Damar menatap sandal di tangannya, lalu menatap Rendra.
"Kamu tidak punya pekerjaan?"
"Punya, Dan. Tapi ini lebih menarik."
"Rendra."
"Siap. Saya pergi."
Damar meletakkan sandal itu di bawah meja, lalu sadar tindakannya membuat semua ini justru terlihat makin mencurigakan.
Dia memijat pelipis.
Alya benar. Kompleks ini terlalu kecil untuk dua orang yang sedang belajar menyembunyikan kekacauan hati.