NovelToon NovelToon
Jantung Hatiku, Aku Hanya Ingin Kamu

Jantung Hatiku, Aku Hanya Ingin Kamu

Status: tamat
Genre:CEO / Wanita perkasa / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

4 tahun lalu, Naomi Liem dipaksa meninggalkan satu-satunya orang yang pernah dicintainya.

Dia hampir mati karenanya.

4 tahun kemudian, Darren Wijaya kembali — pewaris konglomerat terkaya, pria dengan mata rubah yang berbahaya, dan senyum yang bisa menghancurkan dunianya.

"Aku sudah menunggu 4 tahun. Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu."

Yang tidak Naomi ketahui: Darren sudah diam-diam mencintainya selama 10 tahun. Sejak bangku SMA. Tanpa pernah goyah.

Yang tidak Darren ketahui: Ada rahasia gelap di balik perpisahan mereka — dan musuh yang jauh lebih berbahaya dari yang mereka bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33

Nama Kecil untuk Bayi

Malam setelah pesan anonim itu, Darren tidak tidur di kamar.

Ia memang pulang ke kamar saat subuh, mencium kening Naomi pelan, lalu duduk di sofa dekat jendela dengan laptop di pangkuan. Ketika Naomi terbangun, layar laptop masih menyala dan jari Darren berhenti di atas keyboard.

"Ko."

Darren langsung mengangkat kepala. Mata rubahnya merah karena kurang tidur, tetapi senyumnya tetap muncul lebih dulu. "Bangun? Bahumu sakit?"

"Yang sakit bukan bahuku. Kepalaku melihat suamiku berubah jadi hantu kerja."

"Hantu kerja yang tampan."

Naomi mengambil bantal kecil dan melemparkannya pelan ke arah Darren. Ia menangkapnya tanpa usaha, lalu tertawa kecil, suara yang sengaja dibuat ringan agar Naomi tidak ikut tegang.

Namun ketegangan di Rumah Besar tidak bisa disembunyikan hanya dengan tawa.

Pagi itu, jumlah pengawal di koridor bertambah. Pintu servis ruang Arthur dikunci ulang. Setiap pelayan yang lewat membawa kartu akses baru. Bahkan bunga di vas besar dekat tangga diperiksa batangnya satu per satu sebelum diletakkan.

Naomi berjalan perlahan menuju sayap taman, ditemani satu pengawal perempuan. Darren ingin ikut, tetapi Raymond memanggilnya untuk rapat keamanan. Sebelum pergi, Darren memasangkan jaket tipis di bahu Naomi dan menunduk hingga dahi mereka hampir bersentuhan.

"Jangan keluar dari jalur kamera."

"Aku mau ke ruang Natalia, bukan kabur ke hutan."

"Di rumah ini, vas bunga saja bisa jadi mata-mata."

"Kalau begitu, aku akan baik-baik pada vas."

Darren akhirnya tersenyum, tetapi tangannya masih menahan ujung lengan Naomi lebih lama dari perlu. "Kalau ada apa-apa, tekan tombol."

"Aku tahu."

"Kalau kau bosan, tekan juga."

"Untuk apa?"

"Supaya aku punya alasan meninggalkan rapat Papa."

Naomi memutar mata, tetapi dada yang sejak semalam terasa penuh menjadi sedikit lebih longgar. Ia menepuk punggung tangan Darren. "Pergilah, Pak CEO."

"Galak sekali, Nyonya Wijaya."

Di ruang Natalia, suasananya berbeda.

Tidak ada layar, tidak ada map audit, tidak ada suara perintah yang ditekan. Hanya cahaya matahari yang jatuh di tirai putih, aroma minyak telon bayi yang lembut, dan buku sketsa gaun kecil yang kemarin hampir rusak karena teh.

Natalia duduk di kursi panjang dekat jendela, kedua tangan menopang perutnya yang besar. Wajahnya tampak pucat, tetapi matanya menyala begitu melihat Naomi.

"Naomi, sini." Natalia menepuk sisi kursi. "Aku menyelamatkan sketsamu dari Felicia."

Di atas meja kecil, kertas desain itu sudah dirapikan kembali. Bekas teh tidak hilang seluruhnya, tetapi Naomi menambahkan detail pita di bagian yang bernoda, membuatnya tampak seperti motif sengaja.

Natalia menyentuh gambar itu dengan ujung jari. "Kamu benar-benar bisa mengubah kerusakan jadi hiasan."

Naomi duduk hati-hati. "Kalau hidup memberi noda, kadang kita cuma punya dua pilihan. Menangis, atau menggambar pita di atasnya."

Natalia tertawa pelan, lalu tiba-tiba memegang perutnya.

Naomi langsung menegak. "Kontraksi?"

"Bukan. Dia menendang." Natalia mengambil tangan Naomi dan menempelkannya di sisi perutnya. "Rasakan."

Awalnya tidak ada apa-apa.

Lalu ada dorongan kecil dari dalam, lembut tapi nyata, seperti seseorang mengetuk pintu dari dunia lain.

Naomi membeku.

Sejak kecil, ia lebih sering memegang kain daripada keluarga. Ia tahu berat sutra, kasar lembut linen, dan cara tubuh perempuan berubah saat memakai gaun yang pas. Tetapi sentuhan kecil dari perut Natalia itu membuat tenggorokannya panas tanpa peringatan.

"Dia kuat," bisik Naomi.

"Seperti kamu."

Naomi ingin menyangkal, tetapi Natalia tersenyum lebih dulu.

"Aku tahu kamu tidak suka dipuji terlalu langsung," kata Natalia. "Tapi aku serius. Malam di danau itu... kalau aku jadi kamu, mungkin aku sudah menyerah."

"Jangan bicara begitu." Naomi menarik napas pelan. "Kamu punya bayi yang harus kamu temui."

Mata Natalia turun ke perutnya. Ada kebahagiaan di sana, tetapi juga sesuatu yang rapuh. "Kadang aku takut tidak sempat menjadi ibu yang baik."

Naomi menatapnya. "Kenapa berkata begitu?"

"Entahlah. Mungkin karena rumah ini terlalu banyak rahasia." Natalia mencoba tertawa, tetapi gagal. "Mungkin juga karena aku menikah dengan laki-laki yang tidak pernah benar-benar bisa kumengerti."

Nama Ethan tidak disebut, tetapi udara langsung berubah.

Naomi tidak memaksa. Ia hanya menunggu.

Natalia merapikan selimut di pangkuannya. "Ethan bisa sangat lembut. Saat dia mau, dia ingat hal-hal kecil. Dia tahu aku tidak suka teh terlalu manis. Dia tahu aku takut suara petir. Dia membelikan buku cerita bayi bahkan sebelum aku memilih ranjang bayi."

Naomi mendengarkan dengan hati-hati.

"Tapi kadang," suara Natalia turun, "matanya seperti melihat tempat yang bukan di sini. Seolah kami semua hanya bayangan di ruangan yang pernah terbakar."

Naomi teringat wajah Ethan saat melihat video pintu servis. Terlalu tenang. Terlalu bersih.

"Natalia," kata Naomi, "kalau suatu hari kamu merasa tidak aman, kamu boleh datang padaku. Ke Darren juga."

Natalia menatapnya lama. "Kamu tidak takut terseret urusanku?"

"Aku sudah terseret sejak pertama kali masuk Rumah Besar."

Kali ini Natalia tertawa benar-benar. Tangannya menutup mulut, bahunya bergetar kecil. Bayinya ikut bergerak, dan ia mengelus perutnya dengan sayang.

"Namanya tetap Anneliese, ya?" tanya Naomi untuk mengembalikan udara menjadi hangat.

Mata Natalia melembut. "Iya. Tapi kalau sehari-hari, aku ingin memanggilnya Annie."

"Annie." Naomi mengucapkannya pelan. "Manis."

"Aku ingin dia punya hidup yang ringan." Natalia menatap jendela. Di luar, pohon kamboja bergerak tertiup angin. "Tidak seperti kami."

Kalimat itu jatuh terlalu pelan, tetapi Naomi mendengarnya.

Pintu diketuk dua kali.

Pelayan masuk membawa susu hangat dan beberapa camilan. Pengawal Naomi memeriksa nampan lebih dulu sebelum mengangguk. Setelah kejadian vitamin palsu, tidak ada satu pun makanan masuk tanpa diperiksa.

Natalia melihat proses itu, lalu tersenyum pahit. "Di rumah sendiri, kita bahkan perlu izin untuk minum susu."

"Untuk sementara," kata Naomi.

"Semoga sementara."

Mereka makan sedikit. Naomi memperbaiki beberapa detail sketsa, Natalia memilih warna pita, dan untuk hampir satu jam, Rumah Besar terasa seperti rumah sungguhan. Ada bayi yang menendang, dua perempuan yang membicarakan gaun kecil, dan matahari yang tidak bertanya siapa pewaris, siapa korban, siapa musuh.

Namun saat Naomi hendak pamit, Natalia menggenggam jarinya.

"Naomi."

"Ya?"

Natalia menatap perutnya, lalu Naomi. "Kalau nanti aku terlalu lemah untuk meminta sesuatu, ingatkan aku hari ini."

Jantung Naomi menegang. "Meminta apa?"

Natalia tersenyum, lembut sekali sampai tampak menyakitkan.

"Agar Annie tidak tumbuh sendirian di rumah ini."

1
Wawan
Salam kenal untuk Naomi 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!