Tiga tahun Ratri Kusuma dijuluki janda pembawa sial — dituduh membunuh tunangan suaminya dan menyeret ibunya sampai tewas. Suaminya, Baskara Adiningrat, pewaris konglomerat, lenyap tepat setelah malam pernikahan.
Namun di balik topeng itu, Ratri adalah ahli forensik paling ditakuti di negeri ini, dipanggil "Nyai Ratri". Ia juga mengidap garis takdir nyaris putus — nyawanya bisa padam kapan saja.
Lalu Baskara kembali. Bukan untuk menceraikannya, melainkan berlutut dan diam-diam menyambung nyawanya ke sang istri. Ia menyembunyikan dua rahasia: dialah pria terkaya di dunia, dan ia terlahir dengan waskita — mampu melihat takdir semua orang setahun ke depan, kecuali takdir Ratri. Karena perempuan itu memang tak punya masa depan.
Satu per satu topeng terbuka, utang lama ditagih. Dan Jakarta akan belajar: janda yang mereka injak ternyata berdiri di atas mereka semua.
"Kalau kau memang ingin aku menjanda… buktikan dulu kau benar-benar mati, Baskara."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25
Bayang-Bayang Wiryawan
Kekalahan di malam amal membuat Priyo Wiryawan berhenti menganggap Ratri sebagai masalah pribadi Sekar.
Di ruang kerja kediaman Wiryawan, ia menutup semua tirai sebelum meletakkan tiga map di meja.
"Kau mempermalukan keluarga di depan seluruh Jakarta," katanya.
Sekar berdiri tanpa duduk. "Ahli itu yang gagal."
"Kau yang membawa dia ke panggung."
"Ratri pasti sudah mengetahui rencana kita."
"Kalau dia tahu, berarti orang-orangmu bocor. Kalau dia tidak tahu, berarti kau memilih lawan yang salah untuk bidang yang salah. Keduanya sama buruk."
Sekar menggigit bibir. "Saya hanya ingin keadilan untuk Mbak Laras."
Priyo membuka map pertama. Isinya daftar klien Sinar Sentosa, sponsor program sosial, dan perusahaan yang memakai jasa media dari jaringan tak terlihat milik Ratri.
"Keadilan tidak membuat keluarga kita kehilangan mitra. Mulai sekarang, ini bukan hanya tentang Larasati. Ratri menyerang nama Wiryawan. Kita akan menjawab sebagai keluarga."
Map kedua berisi daftar redaksi, pengiklan, dan tokoh sosial yang bisa mendorong cerita tentang mendiang ibu Ratri. Map ketiga mencantumkan pejabat serta pengusaha yang dapat membuat pekerjaan Sinar Sentosa jauh lebih sulit.
"Tekan dari tiga arah," kata Priyo. "Bisnis, media, dan jalur hukum. Jangan lakukan apa pun tanpa persetujuanku lagi."
"Bagaimana dengan polisi? Reza berada di pihaknya."
"Kita tidak menyentuh Reza. Kita buat begitu banyak laporan dan sengketa sampai Ratri menghabiskan waktunya menjawab. Klien akan pergi jika namanya terus terseret. Pengiklan akan mundur jika setiap kerja sama menjadi kontroversi."
"Dan cerita tentang ibunya?"
Priyo menutup map dengan satu tangan. "Cari orang lama yang bersedia bicara. Tidak perlu membuktikan semuanya. Keraguan yang diulang cukup sering akan terdengar seperti fakta."
Sekar tidak menjawab. Untuk pertama kalinya, rencana membela Larasati terdengar sangat mirip dengan bisnis menghancurkan orang hidup. Namun, rasa bersalahnya terkubur lagi ketika melihat foto kakaknya.
Sekar melihat foto kakaknya di rak. "Kalau Ratri benar-benar menyelidiki ulang kasus itu?"
"Maka kita pastikan dia terlalu sibuk menyelamatkan hidupnya sendiri."
Pada pagi yang sama, Ratri mengumpulkan orang-orangnya di ruang rapat kecil Sinar Sentosa.
Mbak Rara duduk dengan peta akun dan jaringan media. Reza hadir melalui sambungan suara. Wira membawa hasil pemeriksaan keamanan. Anin membantu Mbak Lia memilah kembali catatan transaksi Bimo dan Yuliana.
Di depan Ratri ada empat map.
Forensik.
Hukum.
Media.
Jaringan lapangan.
Selama tiga tahun, semua kekuatan itu dipakai untuk bertahan tanpa menunjukkan pusatnya. Kini ia tidak lagi berniat menunggu serangan berikutnya.
"Rara, petakan semua pembayaran untuk kampanye tentang ibu saya dan Larasati. Jangan balas narasi dengan narasi. Ikuti uangnya."
"Siap, Bos."
Rara membuka grafik transaksi. "Agensi yang membayar akun penyerang menerima dana dari perusahaan konsultasi milik kerabat jauh Wiryawan. Mereka memecahnya menjadi dua belas pembayaran agar tidak terlihat sebagai kampanye tunggal."
"Simpan bukti asal dan waktu. Jangan publikasikan dulu."
"Ada juga tiga mantan kenalan mendiang ibu Bos yang ditawari uang untuk wawancara. Dua menolak. Satu belum menjawab."
Ratri menahan napas sesaat. "Hubungi mereka hanya untuk pengamanan saksi. Jangan minta mereka memuji ibu saya."
"Reza, audit salinan berkas lama melalui jalur resmi. Jangan buka penyelidikan baru tanpa dasar, tapi jangan biarkan satu halaman berubah lagi."
"Siap."
"Permohonan salinan arsip sudah diajukan," tambah Reza. "Satu kantor mencoba menolak karena berkas dianggap selesai. Saya minta penolakan tertulis. Mereka langsung mengubah jawaban."
"Bagus. Semua harus punya jejak."
"Wira, cari orang yang menulis laporan pagar balkon. Mulai dari nomor telepon lama."
"Baik."
"Nomornya sudah tidak aktif," kata Wira. "Tapi registrasi lama mengarah ke teknisi gedung. Saya sedang mencari alamat terakhir tanpa mendatangi keluarganya lebih dulu."
"Jangan membuat dia tahu kita mencari sebelum tahu apakah dia aman."
Ratri menatap Anin. "Kau tetap membantu Mbak Lia. Tidak ada komunikasi langsung dengan Bimo atau ibumu. Kalau mereka menghubungi, simpan dan laporkan."
Anin mengangguk. "Aku mengerti."
"Kita tidak menyerang nama keluarga Wiryawan," lanjut Ratri. "Kita mencari siapa yang memalsukan bukti, siapa yang membayar, dan siapa yang memperoleh keuntungan dari dua perempuan mati. Kalau faktanya menuju mereka, biarkan mereka jatuh oleh fakta."
Pintu terbuka setelah rapat selesai.
Baskara masuk membawa makanan dan wajah tidak bersalah.
"Saya sudah bilang jangan masuk saat rapat," kata Ratri.
"Rapatnya selesai."
"Bagaimana Anda tahu?"
"Semua orang berdiri."
Rara menyembunyikan senyum dan meninggalkan ruangan bersama yang lain. Baskara meletakkan kotak makan di depan Ratri.
"Wiryawan akan bergerak lebih keras," katanya.
"Anda tahu dari mana?"
"Orang yang kalah di depan umum biasanya ingin menang di tempat yang tidak terlihat."
"Ini urusan saya. Jangan ikut campur."
Baskara menarik kursi. Wajahnya masih pucat sejak malam sebelumnya, tetapi suaranya tenang.
"Kau menyelidiki milikmu. Aku melindungi milikku."
Ratri mengangkat mata. "Saya bukan milik Anda."
"Kalau begitu, kau urus urusanmu, aku lakukan tugasku. Kita tidak saling berutang."
"Saya tidak meminta perlindungan."
"Aku tahu."
Jawaban itu membuat Ratri diam. Baskara tidak meminta izin, tetapi juga tidak merampas kendali. Ia hanya menyatakan akan berdiri di garis yang tidak bisa dijangkau Ratri sendiri.
"Makan dulu," katanya sambil membuka kotak.
"Anda merusak percakapan serius dengan nasi."
"Percakapan serius tidak berguna kalau kau pingsan."
Ratri mengambil sendok.
Ia tidak mengatakan Baskara boleh membantu. Ia juga tidak mengulang larangan. Bagi seseorang yang selalu menutup pintu rapat, diam itu adalah celah yang sangat kecil.
Baskara tidak mencoba membukanya lebih lebar. Ia hanya duduk sampai Ratri menghabiskan setengah makanannya, lalu membawa kotak kosong tanpa satu pertanyaan tentang rapat.
Di koridor, Panji menunggu pesan berikutnya. Baskara menggeleng. Belum waktunya menunjukkan kekuatan. Tugas mereka hanya memastikan tidak ada serangan yang mencapai Ratri tanpa lebih dulu melewati dirinya.
Sore hari, Priyo menerima laporan awal tentang Baskara. Hasilnya hampir kosong.
Tidak ada pekerjaan. Tidak ada aset atas nama pribadi. Tidak ada jejak jelas selama tiga tahun. Namun, setiap orang yang mencoba menggali lebih dalam mendapat telepon tanpa nomor atau kehilangan akses ke data pada menit berikutnya.
Priyo menutup laporan.
"Ratri bukan masalah terbesar," katanya kepada Sekar. "Yang lebih berbahaya adalah suaminya yang hilang tiga tahun. Cari tahu Baskara Adiningrat bersembunyi di mana, dan seberapa besar kekuasaan yang ia bawa pulang."
Di kediaman Adiningrat, Baskara berdiri sendirian di depan jendela.
Lampu kamar Ratri menyala di seberang taman. Ia menggulung lengan kemeja. Luka baru di antara garis lama belum menutup sempurna. Satu titik darah muncul dan mengalir ke pergelangan.
Baskara menyekanya tanpa mengalihkan mata dari cahaya kamar istrinya.
Jika Wiryawan datang untuk Ratri, mereka akan menemukan apa yang selama tiga tahun ia sembunyikan dari seluruh dunia.