NovelToon NovelToon
Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / CEO
Popularitas:452
Nilai: 5
Nama Author: Arka R.

Renard mengidap *skin hunger syndrome* — tubuhnya mendambakan kontak kulit, tapi mysophobia-nya membuatnya mual jika disentuh orang lain. Satu-satunya pengecualian? Gadis mungil berkulit putih pucat yang baru saja menjadi asistennya.

Sebuah kontrak rahasia pun dibuat: Liana menjadi "terapis sentuhan" Renard — identitas ganda yang tidak boleh diketahui siapa pun, termasuk Renard sendiri. Setiap Sabtu malam, di mansion gelap dengan mata tertutup, sang CEO yang paling ditakuti di Jakarta menyerahkan dirinya di tangan seorang gadis yatim piatu.

Tapi bagaimana caranya menjalankan terapi untuk bos sendiri — tanpa jatuh cinta?

Apalagi ketika bos itu mulai menatapnya terlalu lama di kantor...
Mencium telapak tangannya tanpa sadar...
Dan berbisik dengan suara serak: *"Sentuh aku lagi, Nona Terapis."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15

Mantan yang Datang Kembali

Satu minggu kemudian, Aldi menunggu di depan gedung Tan Group.

Liana melihatnya begitu pintu lobi terbuka. Kemeja putih, jam tangan baru, rambut ditata rapi. Penampilan yang sengaja dibuat untuk menunjukkan bahwa ia telah berubah.

Di tangannya ada satu mawar merah.

"Lia."

Nama itu membuat kulit Liana meremang.

Pegawai yang pulang mulai melambat. Di area drop-off, Agus menunggu di dalam Bentley milik Renard, belum menyadari apa yang terjadi.

Liana berhenti dua meter dari Aldi. "Apa yang kamu lakukan di sini?"

"Aku cuma mau bicara. Kamu memblokir semua nomor."

"Itu seharusnya jawaban yang cukup."

Aldi tersenyum dengan cara lama, lembut dan seolah terluka. "Kita tumbuh bersama. Aku orang yang paling mengenalmu. Masa semua itu kamu buang begitu saja?"

"Kita sudah selesai. Dan aku tahu kamu datang bukan karena rindu."

Senyumnya goyah. "Siapa yang menghasutmu? Bos kaya itu? Nadia bilang kamu sekarang susah diajak bicara sejak bekerja di sini."

"Nadia masih menyampaikan semua perkataanku kepadamu? Bagus. Berarti saya tidak salah menilai kalian."

"Jangan pakai `saya` denganku, Lia. Aku bukan orang asing."

"Kamu lebih buruk daripada orang asing. Orang asing belum pernah mengkhianati saya."

Beberapa pegawai berhenti terang-terangan. Ponsel mulai terangkat. Liana melihatnya, tetapi tidak menundukkan kepala. Jika konflik ini menjadi tontonan, ia ingin versi yang terlihat adalah dirinya berdiri tegak.

Aldi mendekat. "Aku sudah minta maaf. Apa lagi yang kamu mau?"

"Saya tidak mau apa pun darimu."

"Kamu pikir setelah dekat dengan CEO, kamu terlalu tinggi untuk orang dari panti?"

Kata-kata itu dilontarkan cukup keras agar orang lain mendengar.

Liana tetap tenang. "Asal-usul kita bukan alasan untuk menyakiti orang. Jangan memakai panti asuhan sebagai tameng atas pilihanmu."

"Pilihan apa? Nadia itu teman kita. Kamu cemburu tanpa alasan."

"Saya belum menyebut apa yang kalian lakukan. Menarik, kamu langsung membela diri."

Salah satu pegawai yang merekam mendekat. "Mbak Liana, perlu panggil security?"

"Tolong," jawabnya.

Aldi menunjuk ponsel orang itu. "Matikan! Ini urusan pribadi."

"Kamu membawanya ke depan kantor saya," kata Liana. "Begitu kamu menghalangi jalan dan memaksa saya bicara, ini bukan lagi percakapan pribadi."

Ia mengaktifkan perekam suara di ponselnya dan menyebut waktu serta tempat. "Saya sudah meminta kamu pergi. Saya tidak setuju disentuh atau diikuti."

Wajah Aldi memerah. "Kamu merekam aku?"

"Saya mencatat penolakan saya. Supaya nanti kamu tidak mengubah ceritanya."

Untuk pertama kali, Aldi tampak goyah. Liana yang dikenalnya dulu akan takut membuat keributan. Perempuan di hadapannya sekarang justru membangun bukti di depan saksi.

Wajah Aldi mengeras.

Topeng lembutnya jatuh.

"Dengar, Lia. Kamu tidak punya keluarga. Selama ini aku yang ada untukmu. Kalau kamu terus bersikap begini, siapa yang akan tahan? Bosmu itu? Dia hanya mempermainkan pegawai kecil sepertimu."

"Lepaskan masa lalu."

Liana berbalik hendak pergi.

Aldi menangkap lengannya.

"Aku belum selesai."

Cengkeramannya menyakitkan. Liana memutar pergelangan untuk melepaskan diri, tetapi Aldi menariknya kembali. Suara orang-orang berubah gaduh.

"Lepaskan saya."

"Kita bicara baik-baik kalau kamu berhenti sok tinggi."

Liana mengangkat siku, memutar tubuh ke arah ibu jarinya, teknik sederhana dari kelas keamanan perusahaan. Cengkeraman Aldi terlepas sesaat.

Ia mundur, tetapi pria itu menangkap ujung tasnya dan menarik kembali. Tali tas menekan bahu Liana. Dua satpam berlari dari pintu, masih berjarak beberapa meter.

"Dia sudah meminta dilepaskan."

Suara Renard datang dari belakang mereka.

Ia melihat kerumunan dari lobi. Yang membuat langkahnya berubah cepat bukan suara Aldi, melainkan tangan pria itu di tas Liana dan bekas merah di lengannya.

Renard menyerahkan map kepada Rizal tanpa menoleh. "Panggil kepala keamanan. Simpan rekaman CCTV dari sepuluh menit terakhir."

"Baik, Pak."

Baru setelah memastikan bukti tidak hilang, ia berjalan keluar.

Aldi menoleh. Renard berdiri beberapa langkah dari pintu, jas gelap melekat sempurna di tubuh setinggi seratus delapan puluh sembilan sentimeter. Wajahnya tenang, tetapi mata gelapnya tertuju pada tangan Aldi di lengan Liana.

"Ini urusan kami," kata Aldi.

"Kamu membuat keributan di depan gedungku dan menyentuh pegawaiku tanpa izin. Sekarang menjadi urusanku."

Satpam tiba di kedua sisi Aldi. Renard mengangkat satu tangan, mencegah mereka menarik pria itu sebelum Liana menjauh aman.

"Tanya Mbak Liana apakah dia ingin membuat laporan," katanya. "Keputusan ada padanya."

Liana menatap Renard. Bahkan dalam kemarahan, ia tidak mengambil alih pilihannya.

"Simpan identitas dan rekamannya," kata Liana kepada satpam. "Kalau dia datang atau menghubungi lagi, saya akan membuat laporan resmi."

"Baik, Mbak."

Renard mendekat. Ia tidak menyentuh Aldi. Ia hanya berdiri cukup dekat hingga pria itu harus mendongak.

"Lepaskan."

Aldi ragu, lalu membuka tangan.

Bekas merah tampak di lengan Liana.

Tatapan Renard menjadi lebih dingin. Ia meletakkan satu tangan di sisi pinggang Liana dan menariknya ke sisinya. Gerakan itu alami, tegas, dan terlalu intim untuk disebut sekadar melindungi bawahan.

Punggung Liana menyentuh sisi dada Renard. Telapak besar itu tetap di pinggangnya, hangat menembus kain.

"Ayo pergi," katanya hanya kepada Liana.

Ia membawa Liana menuju mobil tanpa memberi Aldi satu tatapan lagi.

Pengabaian itu lebih menghina daripada ancaman. Aldi berdiri di bawah lampu drop-off dengan satu mawar yang mulai layu di tangannya, sementara orang-orang memandangnya sebagai gangguan yang baru saja disingkirkan.

Kepala keamanan menahan Aldi di area publik untuk mencatat identitas dan peringatan tertulis, tidak membawanya ke ruang tertutup atau melakukan kekerasan. Pegawai yang merekam diminta menyerahkan salinan utuh kepada Liana dan menghapus potongan dari grup kantor.

"Saya akan lapor kalian!" teriak Aldi.

Liana berhenti sesaat. "Silakan. Rekaman lengkap akan menunjukkan saya meminta kamu pergi, dua kali."

Wajah Aldi berubah. Ia akhirnya mengerti bahwa setiap ancaman hari ini hanya menambah berkas yang disiapkan Liana.

Renard menekan telapak di pinggangnya, isyarat agar ia tidak perlu terus melayani.

"Bos tadi pegang pinggang Mbak Liana?" bisik seseorang.

"Bukan cuma pegang. Ditarik dekat."

Pintu Bentley dibuka Agus. Renard membantu Liana masuk, lalu duduk di sebelahnya. Pintu tertutup dan memotong semua suara luar.

Kabinnya begitu sunyi hingga Liana dapat mendengar detak jantung sendiri.

Bekas hangat tangan Renard masih tinggal di pinggangnya.

Pria itu menoleh. Tatapannya turun ke lengan Liana yang memerah, lalu kembali ke matanya.

"Dia siapa?"

Nada itu tenang, tetapi tangan Renard di atas lutut mengepal. Liana tahu jawaban berikutnya akan menentukan apakah pria di sampingnya tetap sekadar bos yang melindungi pegawai, atau seseorang yang menginginkan tempat di dalam urusan pribadinya.

Pertanyaan itu belum selesai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!