NovelToon NovelToon
Gairah Membara Seorang Wanita Simpanan CEO

Gairah Membara Seorang Wanita Simpanan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Percintaan Konglomerat / Kaya Raya / CEO
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Initial Be

"Tandatangani kontrak ini, maka seluruh utang keluargamu lunas dan ibumu akan mendapatkan perawatan terbaik malam ini juga."
Bagi Viona (23 tahun), dunia ini tidak pernah ramah. Demi menyelamatkan nyawa ibunya dari ancaman rentenir kejam, dia terpaksa membuang harga dirinya sedalam mungkin. Di bawah guyuran hujan badai, dia menjual kebebasannya kepada seorang pria asing yang ternyata adalah penguasa bisnis paling ditakuti di ibu kota—Arkan Mahendra (29 tahun).
Arkan adalah pria berwajah dewa yang berhati es. Baginya, Viona hanyalah mainan eksklusif yang dia beli untuk memuaskan obsesi dan gairahnya. Hubungan mereka adalah rahasia mutlak. Di siang hari, Viona hanyalah staf administrasi biasa yang tak terlihat. Namun di malam hari, dia adalah wanita yang terkurung dalam pesona membara sang CEO dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: Penyesalan di Ujung Kebenaran dan Rahasia yang Tercium

Malam di kota kecil pinggiran Jawa Tengah terasa begitu sunyi. Angin malam berembus pelan, menembus celah jendela rumah kayu sederhana yang kini menjadi tempat persembunyian Viona Adeline. Di atas lantai semen yang dingin, Viona masih terduduk lemas dengan air mata yang terus mengalir deras membasahi pipinya yang polos tanpa riasan.

Tangannya yang bergetar hebat masih memegang erat buku harian usang bersampul kulit hitam milik almarhum ayahnya. Lembar terakhir catatan itu benar-benar telah menjungkirbalikkan seluruh dunia yang ia yakini selama ini.

“Arkan tidak pernah menghancurkan bisnis Ayah... Dia justru menutupi aib Ayah dari dewan direksi lain...”

Kata-kata dari tulisan tangan ayahnya itu terus terngiang, menghantam dadanya dengan rasa bersalah yang teramat masif. Angst atau penderitaan emosional yang ia rasakan malam ini jauh lebih menyiksa daripada saat ia dilabrak oleh Clarissa di kantor dulu. Viona mengingat kembali bagaimana kejamnya ia memaki Arkan di lobi kantor, melempar gelang berlian pemberian pria itu, dan menuduhnya sebagai iblis yang kejam.

Padahal, di balik sifat posesif, dingin, dan kata-kata tajamnya, Arkan Mahendra telah memikul beban puluhan miliar rupiah akibat korupsi ayahnya. Pria itu mengikatnya dengan kontrak simpanan bukan untuk menginjak-injak harga dirinya, melainkan sebagai satu-satunya tameng hukum agar dewan direksi Mahendra Group yang murka tidak menjebloskan Viona dan ibunya ke dalam penjara atas pasal pencucian uang.

"Maafkan aku, Arkan... Maafkan aku..." tangis Viona pecah memecah keheningan malam.

Ia mengusap perutnya yang kini kian membuncit di balik daster longgarnya. Janin berusia empat bulan di dalam rahimnya itu berdenyut halus, seolah bisa merasakan penyesalan mendalam yang tengah dirasakan sang ibu. Viona berada dalam dilema yang luar biasa besar. Ia ingin kembali, ia ingin meminta maaf dan meluruskan kesalahpahaman ini pada Arkan. Namun, ego dan rasa malunya terlalu besar. Bagaimana mungkin ia menampakkan diri di depan pria yang keluarganya telah dikhianati oleh ayahnya sendiri? Terlebih lagi, ia kini menyembunyikan rahasia kehamilan ini dari sang CEO.

Di belahan kota lain, tepatnya di dalam Penthouse mewah Jakarta Pusat yang kini terasa bagai kuburan tak berpenghuni, Arkan Mahendra duduk di tepi ranjang king size. Penampilannya berantakan. Kemeja hitam yang ia kenakan kusut, tiga kancing teratasnya terbuka, menampilkan dada bidangnya yang naik turun akibat napas yang frustrasi. Rambut hitamnya acak-acakan karena jemarinya yang terus menjambak rambutnya sendiri demi meredam stres.

Sudah berbulan-bulan Viona menghilang, dan selama itu pula hidup Arkan hancur berantakan. Tidak ada lagi gairah membara yang menyambutnya di malam hari. Ruangan ini terasa hampa tanpa aroma manis tubuh Viona. Penyesalan sang CEO (CEO's regret) kini berada di titik puncaknya.

Pintu penthouse diketuk kasar, memecah kesunyian. Sekretaris pribadi Arkan melangkah masuk dengan wajah tegang, membawa sebuah map dokumen hitam.

"Tuan Arkan, kami menemukan sesuatu," ucap sekretaris itu dengan suara rendah, takut memicu kemarahan sang alpha male yang belakangan ini sangat tidak stabil emosinya.

Arkan langsung berdiri tegak, proporsi tubuhnya yang setinggi 187 cm memancarkan aura intimidasi yang pekat saat ia merebut map tersebut. "Apakah kau sudah menemukan keberadaannya?!"

"Belum secara pasti, Tuan. Nona Viona benar-benar menghapus jejaknya dengan sangat rapi. Namun, tim forensik digital kami berhasil melacak aktivitas ganjil dari rekening rahasia almarhum ayah Nona Viona dua minggu sebelum beliau wafat," jelas sekretaris itu.

Arkan membuka map tersebut dan membaca baris demi baris laporan keuangan. Namun, saat matanya mencapai halaman terakhir, rahang tegas Arkan mengeras sempurna, dan sepasang mata hitam kelamnya membelalak terkejut.

Plot twistlain yang jauh lebih mengerikan dan gelap akhirnya terendus oleh Arkan malam itu.

Selama ini, Arkan mengira ayah Viona melakukan korupsi puluhan miliar sendirian karena keserakahan bisnis. Namun, dokumen audit forensik yang baru selesai diproses ini menunjukkan aliran dana yang sebenarnya. Uang puluhan miliar yang dikorupsi oleh ayah Viona ternyata tidak pernah masuk ke rekening pribadi atau bisnis sang ayah. Seluruh dana tersebut ditransfer ke sebuah perusahaan cangkang di luar negeri yang dikendalikan secara rahasia oleh... keluarga Clarissa!

Ayah Viona hanyalah bidak catur yang dijebak dan ditumbalkan oleh keluarga Clarissa untuk menguras kas Mahendra Group sekaligus merebut tanah manufaktur tersebut. Clarissa sengaja memanfaatkan rahasia itu untuk menghancurkan mental Viona di kantor agar Viona pergi, karena Clarissa tahu jika Arkan menyelidiki lebih dalam, konspirasi busuk keluarganya akan terbongkar. Ayah Viona memilih bunuh diri bukan hanya karena malu, melainkan karena mendapat ancaman pembunuhan terhadap Viona dan ibunya dari pihak Clarissa jika berani membuka mulut.

Brak!

Arkan menghantam meja kaca di depannya hingga retak seribu. Aura di sekitar pria itu mendadak turun drastis, berubah menjadi sangat kejam dan haus darah. Mata kelamnya berkilat penuh kebencian yang mutlak.

"Clarissa..." desis Arkan dengan suara bariton yang begitu rendah dan berbahaya. "Kau dan keluargamu tidak hanya menjebak ayah Viona, tapi kau juga berani memanfaatkanku untuk menghancurkan wanita yang kucintai."

Ya, di titik kehancuran ini, ego Arkan runtuh seutuhnya. Pria yang semula menolak mengakui cinta itu kini sadar bahwa Viona adalah segalanya bagi hidupnya.

"Batalkan seluruh rencana transaksi bisnis dengan keluarga Clarissa besok pagi," perintah Arkan mutlak kepada sekretarisnya, suaranya sedingin es. "Dan kerahkan seluruh tim militer privat kita. Cari Viona ke setiap kota kecil di pulau Jawa. Aku sendiri yang akan menjemputnya, dan aku tidak akan membiarkan ada satu pun orang yang menyakitinya lagi."

Kembali ke kota kecil tempat persembunyian Viona. Pagi harinya, Viona mencoba mengalihkan seluruh rasa bersalah dan kesedihannya dengan menyibukkan diri membuat kue pesanan di dapur kecilnya. Mengenakan celemek kain, ia dengan telaten mengaduk adonan, meskipun sesekali ia harus berhenti untuk mengusap punggungnya yang terasa pegal akibat beban kehamilannya yang kian bertambah.

Ibunya yang kini sudah mulai membaik kondisinya berjalan perlahan mendekati dapur. Sang ibu menatap putrinya dengan pandangan sendu, penuh rasa bersalah karena telah memarahi Viona di rumah sakit waktu itu.

"Viona..." panggil sang ibu lembut.

Viona menoleh dan tersenyum manis, mencoba menyembunyikan kerapuhan hatinya. "Ibu sudah bangun? Tunggu sebentar ya, Bu. Kue bolu pandannya sebentar lagi matang."

"Maafkan Ibu, Nak..." ucap sang ibu tiba-tiba, membuat gerakan tangan Viona terhenti. "Ibu sudah membaca buku harian ayahmu yang tertinggal di kamarmu tadi pagi... Ibu baru tahu kalau kita selama ini salah menilai Tuan Arkan."

Air mata Viona kembali menggenang di pelupuk matanya. Ia berjalan mendekat dan memeluk ibunya erat. "Tidak apa-apa, Bu. Semua sudah terjadi. Yang terpenting sekarang adalah keselamatan kita dan... anak di dalam kandungan ini."

Namun, momen kehangatan ibu dan anak itu tidak berlangsung lama. Dari arah depan rumah toko (ruko) kecil mereka, terdengar suara raungan mesin mobil-mobil mewah yang berhenti mendadak, memecah ketenangan lingkungan sekitar.

Jantung Viona seketika bertalu kencang. Risiko rahasianya terbongkar dan pelariannya berakhir kini terasa begitu nyata di depan mata. Dengan perasaan cemas konstan yang memuncak, Viona melangkah perlahan menuju pintu depan dan mengintip dari balik tirai jendela.

Di luar sana, tiga mobil SUV hitam berukuran besar terparkir rapi, memblokir jalanan depan rumahnya. Beberapa pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam formal turun dan langsung menjaga setiap sudut area pekarangan.

Dan dari mobil paling tengah, sesosok pria dengan proporsi tubuh atletis setinggi 187 cm melangkah keluar. Rahang tegasnya tampak kokoh, dan tatapan mata hitam kelamnya langsung mengunci ke arah pintu rumah Viona dengan pandangan posesif, penuh kerinduan, sekaligus penyesalan yang teramat pekat.

Arkan Mahendra telah menemukannya.

Viona mundur beberapa langkah dengan wajah yang memucat sempurna, kedua tangannya refleks mendekap erat perutnya yang membuncit. Badai pertemuan kembali di antara sang CEO posesif dan wanita pelariannya kini telah tiba, siap membongkar seluruh rahasia dua garis merah yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.

1
Aysah Meta
Ya tuhan Buu..bisanya kau nolak anak mu,Viona!!Banyak hal sdh dia lalui..Krn km,dia melakukan ini semua.
bener sih kecewa sama perbuatan anak,tapi semua itu buat nyambung hidup mu.
Aysah Meta
Akhirnyaa up juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!