NovelToon NovelToon
PUTRI MALAM UNTUK PANGLIMA SENJA

PUTRI MALAM UNTUK PANGLIMA SENJA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Istana/Kuno / Transmigrasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Pada hari ia terbangun kembali tujuh tahun lalu, Wulan Ardani sadar bahwa pernikahannya dengan Panglima Senja, Nalendra, akan menimbulkan tragedi. Dalam hidup sebelumnya, ia menolak, keluarga hancur, dan sang pria yang menolongnya gugur di Lembah Sigar. Kini ia menerima takdir itu, menyimpan rahasia sebagai putri malam dari Paguyuban Niskala. Saat intrik istana, racun mematikan, dan perebutan takhta mengejar, Wulan harus memilih: menebus masa lalu atau menulis takdir baru bersama lelaki yang pernah mati demi menyelamatkannya.

note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10 - APAKAH AKU SALAH MINUM OBAT

Malam sudah sangat larut ketika Pangeran Cendana berdiri mematung di ambang pintu, membiarkan cahaya lentera koridor bergetar di belakang punggungnya. Sudah lama ia tidak merasakan sesuatu seperti ini — rasa asing menjadi orang yang datang terlambat ke sebuah rumah yang bukan miliknya.

Setelah jeda yang panjang, ia akhirnya mengangguk. "Baiklah, karena Wulan baik-baik saja, aku merasa tenang. Ini sudah larut, aku tidak akan terlalu mengganggumu." Ucapannya terdengar bijak, tetapi di balik kata-kata yang halus itu ada sesuatu yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya — seolah ia baru menyadari bahwa malam ini tidak lagi berjalan sesuai keinginannya.

"Wulan, istirahatlah yang baik." Ia sedikit melembutkan ekspresi, berkata dengan lembut seperti biasanya, lalu berbalik dan pergi. Punggungnya tetap tegak, tetapi langkahnya meninggalkan halaman itu tidak secepat saat ia datang.

Baru setelah bayangan itu lenyap di ujung gerbang, Intan melepaskan napas yang selama ini ditahannya. Dayang kecil itu memang menghadang lebih teguh daripada biasanya malam ini — kakinya nyaris tak bergeser seinci pun meski dadanya berdebar keras. Sebagai dayang yang telah mendampingi nona mudanya sejak kecil, ia tahu persis bahwa ada hal yang jauh lebih penting daripada sekadar menjaga tata krama.

Di balik jubah hitam yang hangat itu, Wulan membiarkan ucapan perpisahan tadi jatuh ke ruang kosong; tak satu pun ototnya bergerak untuk menjawab. Ia hanya menutup matanya sejenak dan membiarkan suara langkah yang menjauh itu tenggelam dalam detak jantungnya sendiri.

Setelah bayangan yang mengganggu itu benar-benar hilang, Nalendra menurunkan jubahnya, memperlihatkan kepalanya yang mungil, dan berkata dengan suara rendah, "Semua orang sudah pergi. Apakah kau masih akan bersembunyi?" Suaranya rendah, tetapi ada nada geli yang sulit ia sembunyikan — seolah tingkah gadis di pelukannya ini benar-benar membuatnya terhibur.

Wulan menggelengkan kepalanya, mengerucutkan bibir, dan menjawab dengan nada yang sedikit cemberut, "Aku tidak bersembunyi. Aku hanya tidak ingin melihatnya." Pandangan Pangeran Cendana yang terlalu penuh perhatian itu selalu membuatnya ingin berpaling. Dulu ia menyebutnya perhatian; kini ia tahu itu hanyalah cara pria itu menilai harta.

"Mengapa?" Matanya terang dan sejuk, dan sepasang mata elang yang dalam dan indah itu tampak menatap langsung ke dalam hatinya, seolah ingin membaca setiap sudut pikiran yang selama ini ia sembunyikan.

Wulan sama sekali tidak mengelak. Ia menatap tajam ke dalam mata itu dengan mantap, lalu bertanya balik, "Kaulah yang akan menikah denganku dalam tiga hari. Mengapa aku harus menemuinya?" Pertanyaan itu membuat suasana hening sejenak. Gema dua kata itu masih mengambang di udara, terasa asing di telinga Wulan sendiri — tetapi anehnya, tidak terasa salah.

Nalendra sepertinya tidak menyangka akan mendengar jawaban seperti itu. Alisnya bergerak sedikit, dan untuk sesaat ia tidak bereaksi — seolah sedang mengukir setiap kata yang baru saja keluar dari mulut gadis ini di dalam kepalanya.

"Tidak peduli seburuk apa pun aku di masa lalu, aku tetap tahu bahwa kau adalah suamiku." Wulan membusungkan bibirnya dan mengulanginya dengan tegas, tidak memberi ruang untuk disangkal. Kata-kata itu ia ucapkan dengan jelas, seperti sumpah yang tidak akan ia tarik kembali. Tiga hari lagi mereka akan menjadi suami istri; kata itu tidak lagi terdengar seperti kutukan, melainkan janji.

Mata elang Nalendra yang indah sedikit terangkat. Ia memandangnya dari atas ke bawah dengan tatapan curiga, seolah sedang menguji apakah ada kepalsuan di balik kata-kata manis itu. Pertanyaan "apakah ia salah minum obat" jelas tertulis di matanya. Di dunia ini, hanya pria ini yang berani memandangnya seperti itu — seperti hendak membongkar setiap rahasia yang ia sembunyikan di balik kepolosan wajahnya.

"Hei, apa yang kau lihat dari matamu itu?" Wulan kesal melihat kecurigaan yang tidak ia sembunyikan itu. Jarang sekali ia bersikap selembut ini, dan justru pria ini yang berani meragukannya.

"Bukan apa-apa." Nalendra tiba-tiba tersenyum — senyum yang nyaris tidak terlihat di wajahnya yang biasa dingin. Ia melepaskan tangannya, lalu berdiri. "Tidak apa-apa. Istirahatlah yang cukup. Ini sudah sangat larut." Namun tepat ketika ia hendak melangkah, ada kehangatan yang aneh menyelinap di antara kelopak matanya yang setengah tertutup itu.

"Hei!" Wulan tanpa sadar meraih lengan bajunya, menahannya sebelum pria itu sempat melangkah pergi. Tindakan itu terjadi begitu saja, mengikuti dorongan yang tidak bisa ia kendalikan — seolah tangannya sendiri yang memutuskan sebelum otaknya sempat berpikir.

Mengapa orang ini selalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun? Di kehidupan lampau juga begitu — ia datang dan pergi seperti angin, dan Wulan tidak pernah sempat menahannya sampai semuanya terlambat. Setiap kali ia pergi seperti ini, Wulan merasa ada bagian dari hidupnya yang ikut dibawa pergi — dan di kehidupan lampau, ia baru menyadarinya setelah pria itu benar-benar tidak pernah kembali.

Nalendra menoleh dan melihat tangan putih kecil itu mencengkeram erat lengan bajunya. Sesuatu yang tak bisa ia kenali tiba-tiba muncul di matanya — campuran antara heran dan rasa yang jauh lebih dalam dari itu. Ia duduk kembali di sisi pembaringan dengan mata elang yang sedikit menyipit, menatapnya setengah tersenyum. "Hah? Kau tidak ingin aku pergi?"

Wulan melihat senyum tipis di wajahnya, ragu-ragu sejenak, tetapi tangannya tetap tidak melepaskan lengan baju itu. Ia menggigit bibirnya dan memilih diam, tidak berani mengaku betapa ia takut ditinggalkan. Malam ini ia sudah memutuskan: tidak akan membiarkan pria ini pergi sendirian lagi, apa pun yang terjadi.

Bibir Nalendra sedikit melengkung. Ia tiba-tiba mendekat tanpa peringatan apa pun, begitu cepat hingga Wulan bahkan tidak sempat menarik napas. Ia mendekat dalam jarak yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang paling dekat — jarak yang biasa dipakai untuk berbisik, untuk berbagi rahasia, untuk menyentuh hati tanpa menyentuh kulit.

Wulan terkejut oleh jarak yang tiba-tiba menyusut itu. Ia bersandar ke belakang tanpa sadar, kehilangan keseimbangan, dan jatuh telentang ke atas selimut yang lembut — dengan Nalendra yang ikut condong ke arahnya. Helaian selimut yang lembut menahan jatuhnya, dan untuk sesaat Wulan hanya bisa tertegun di bawah bayangan yang menaunginya.

Nalendra tidak berniat menjauh. Ia hanya menoleh sedikit, meletakkan satu tangan di sisi kepalanya untuk menopang dirinya, dan menatapnya dari atas dengan tatapan yang sulit dibaca. Ruangan itu tiba-tiba terasa lebih sempit dan lebih panas dari sebelumnya, dan hanya suara lilin yang berderak kecil terdengar di antara mereka.

Napas hangatnya menerpa pipi Wulan. Wajah gadis itu memerah tanpa sadar, dan suaranya mengecil setipis bisikan yang nyaris tak terdengar, "Na, Nalendra..." Kata-kata itu keluar sebelum ia sempat berpikir, dan ia langsung menyesali betapa lemahnya suaranya sendiri.

Jarak mereka begitu dekat, begitu dekat hingga Wulan bisa melihat dengan jelas bulu matanya yang panjang dan tebal — bulu mata yang memantulkan cahaya lilin yang redup dan membayang gelap di bawah matanya. Ia bahkan bisa menghitung helai demi helai bulu mata itu jika ia mau — pemandangan yang dulu selalu ia tolak untuk diperhatikan.

"Kalau kau tidak membiarkan aku pergi, bagaimana?" Nalendra mendekat lebih dalam lagi. Suaranya yang biasanya dingin kini terdengar rendah dan serak, seolah menahan sesuatu yang telah lama ia pendam di dalam dadanya.

Wulan tidak bisa berpikir jernih. Sebagian besar ruang pandangnya dipenuhi sosok pria itu, dan jantungnya berdegup begitu keras seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Ia menatap mata elang yang dalam seperti mata air itu, merasa sedikit tersesat sejenak — dan untuk pertama kalinya, ia tidak ingin menemukan jalan keluar.

Ia selalu tahu pria ini tampan — terutama sepasang mata elang yang tampak dilukis dengan sapuan kuas yang paling halus. Sekali pandang padanya, mustahil untuk mengalihkan pandangan. Malam ini, di tengah jarak yang hampir menyentuh itu, Wulan hanya ingin berhenti berpikir dan membiarkan hatinya yang menuntunnya pulang.

1
Candra Buwana
novel ini tidak bosan untuk dibaca. keren dah. bikin penasaran terus. lanjutkan thor
Kartika Candrabuwana: terimakasih atas votenya.🙏
total 1 replies
prameswari azka salsabil
keren dah novel ini. membuatku terhanyut dalam emosi. sukses selalu buat penulis.
Candra Buwana: betul sekali
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!