NovelToon NovelToon
Penulis Terakhir Langit Yang Retak

Penulis Terakhir Langit Yang Retak

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Timur
Popularitas:196
Nilai: 5
Nama Author: Tubagus Abidin

Di Kekaisaran Xuan-Mo, realitas adalah tinta, dan kekuasaan adalah keindahan goresan. Mereka yang bisa menulis hukum alam dengan kuas emas diperlakukan sebagai dewa, sementara mereka yang gagal hanyalah noda yang harus dihapus.
Ren Zexian lahir dengan kutukan "Mata Void"—ia tidak bisa melihat keindahan ilusi dunia, hanya kerangka rapuh di baliknya. Dianggap sampah oleh klan kaligrafer elit, ia bekerja sebagai penghapus buku terlarang, hidup dalam diam hingga suatu hari ia menemukan sebuah halaman kosong yang berdarah.
Saat "The Fade" mulai menelan desa asalnya, mengubah manusia menjadi hampa tanpa ingatan, Ren menyadari bahwa kekacauan ini bukanlah bencana alam, melainkan suntingan yang disengaja oleh Dewan Langit. Dengan kuas patah dan teknik terlarang yang memungkinkan ia "menghapus" keberadaan musuh, Ren memulai perjalanan berbahaya mendaki 9 Provinsi Mengambang.
Ia bukan pahlawan yang akan melukis dunia baru. Ia adalah editor yang akan memotong bagian-bagian busuk dari cerita ini,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tubagus Abidin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pasar yang Bernapas dalam Kabut

Kota Pasar Terapung tidak tidur; ia hanya mengubah irama napasnya. Siang hari adalah simfoni tawar-menawar yang riuh, di mana harga ikan dan mantra dijual dengan teriakan lantang. Namun malam hari, ketika kabut tebal dari Danau Cermin turun menyelimuti rakit-rakit kayu raksasa, kota ini berubah menjadi labirin bisikan dan bayangan. Lentera-lentera kertas berwarna merah gantung bergoyang pelan ditiup angin lembap, menciptakan ilusi mata-mata merah yang mengawasi setiap langkah.

Ren Zexian duduk bersila di sudut gelap gubuk tua mereka, mencoba menenangkan napas yang masih tersengal-sengal. Pil pemulihan dari Dokter Mo telah bekerja, menutup luka di bahunya dengan jaringan parut baru yang gatal dan panas, tapi kelelahan mentalnya belum pulih. Di sebelahnya, Lin tertidur lelap, tubuhnya meringkuk seperti bola kecil. Cahaya perak di kulit gadis itu kini redup, berdenyut sangat lambat seiring dengan tidurnya yang dalam. Itu tanda baik; energinya sedang berintegrasi, bukan bocor.

Ren menatap poster pencarian yang ia sobek dari tiang gerbang dan simpan di sakunya. Wajah sketsanya terlihat kasar, namun matanya—mata hampa yang digambar oleh seniman upahan Klan Naga—tertangkap dengan menakutkan akurat. Hadiah 10.000 koin emas. Jumlah yang bisa membuat seorang petani biasa menjadi bangsawan dalam semalam. Jumlah yang bisa membuat tetangga sendiri menjual saudara kandungnya.

"Kita tidak bisa tinggal di sini lama," gumam Ren pada dirinya sendiri. "Si Telinga harus tahu sesuatu."

Ia bangkit perlahan, memastikan kuas patahnya terselip aman di balik ikat pinggang. Ia membangunkan Lin dengan lembut. Gadis kecil itu membuka matanya, cincin perak di irisnya berkilau samar dalam kegelapan.

"Kita pergi, Kak?" tanya Lin, suaranya serak karena tidur.

"Ya," jawab Ren singkat. "Kita butuh informasi. Dan kita butuh uang. Kita tidak bisa hidup dari udara saja."

Mereka keluar dari gubuk, menyusuri gang-gang sempit yang menghubungkan rakit-rakit utama. Lantai kayu di bawah kaki mereka berlumut licin, dan air hitam danau terkadang menyembur melalui celah-celah papan, membasahi sepatu mereka. Bau ikan asin, rempah busuk, dan asap arang memenuhi udara.

Ren mengarahkan langkah mereka menuju Distrik Bawah, bagian kota yang paling dekat dengan permukaan air, tempat para pencuri, penyelundup, dan penjual informasi berkumpul. Di sini, lentera lebih jarang, dan bayangan lebih pekat.

Mereka berhenti di depan sebuah warung tenda kecil yang tampak seperti tumpukan sampah yang disulap menjadi bangunan. Tanda di atasnya tertulis dengan cat pudar: "Teh Pahit & Kabar Manis".

Ren mengetuk pintu kayu yang reyot tiga kali. Pola ketukan khusus yang diajarkan Master Wei: dua cepat, satu lambat, dua cepat.

Pintu terbuka sedikit. Sepasang mata sipit dan licik mengintip dari kegelapan dalam.

"Pola ketukan basi," kata suara serak dari dalam. "Wei sudah mati lima tahun lalu bagi orang-orang seperti kalian. Pergi."

"Tapi kabar tentang 'Penulis Hantu' masih segar," balas Ren tenang, menyebut kode kedua. "Dan aku membawa tinta yang belum kering."

Hening sejenak. Lalu pintu terbuka lebar.

Di dalam, ruangan itu pengap dan penuh dengan tumpukan gulungan kertas, peta usang, dan botol-botol minuman keras murah. Di belakang meja kayu yang penuh goresan pisau, duduk seorang pria kurus kering dengan kulit pucat seperti kertas perkamen. Ia mengenakan kacamata tebal dengan satu lensa yang retak. Ini adalah Si Telinga, atau nama aslinya, Bao.

Bao menatap Ren dan Lin dengan curiga. Matanya tertuju pada wajah Lin yang tertutup tudung, lalu kembali ke Ren.

"Kau berisiko tinggi, anak muda," kata Bao, mengambil sloki teh hitam pekat dan meminumnya sekaligus. "Poster wajahmu ada di setiap tiang dermaga. Penjaga Pelabuhan Utara sudah memasang perangkap qi di sekitar area ini. Mereka tahu kau akan mencari kontak."

"Aku tidak punya pilihan," kata Ren, duduk di kursi berlawanan. Lin berdiri di belakangnya, tangan mencengkeram baju kakaknya. "Aku butuh tahu siapa yang memimpin pasukan pencari itu. Dan aku butuh jalan keluar dari kota ini yang tidak dijaga."

Bao tertawa pendek, suara yang kering seperti daun kering diinjak. "Informasi itu mahal. Sangat mahal. Apalagi untuk orang yang diburu oleh Elder Penjaga Klan Naga. Kau pikir 10.000 koin emas itu main-main? Itu harga kepala raja, bukan pemulung."

Ren meletakkan sebuah benda kecil di atas meja. Itu adalah cincin giok sederhana yang ia ambil dari mayat salah satu penjaga saat mereka melarikan diri dari laboratorium. Giok itu berkualitas rendah, tapi memiliki ukiran lambang Klan Naga yang asli.

"Ini bukti akses," kata Ren. "Dan aku punya sesuatu yang lebih berharga daripada emas."

Bao mengangkat alisnya, tertarik. "Oh? Apa itu?"

Ren menurunkan suara, membungkuk ke depan. "Aku tahu lokasi gudang penyimpanan Tinta Murni ilegal yang diselundupkan oleh Wakil Kepala Klan Su ke pasar gelap kota ini. Informasi itu berasal dari buku catatan yang kucuri."

Mata Bao membelalak di balik kacamatanya yang retak. Selundupan Tinta Murni adalah bisnis miliaran koin. Jika ia bisa menjual informasi itu ke pesaing Klan Su, atau memeras Klan Su sendiri...

"Kau bermain api, anak muda," bisik Bao, nafsu keserakahannya terlihat jelas. "Tapi aku suka api. Baiklah. Pasukan pencari dipimpin oleh Elder Han, spesialis pelacak jejak Qi. Dia membawa tiga Anjing Darah, beast yang bisa mencium bau ketakutan dan sisa energi dari jarak satu mil. Mereka sudah menyisir Distrik Atas. Sekarang mereka bergerak ke Bawah."

Jantung Ren berdegup kencang. Elder Han. Nama yang pernah disebut Master Wei sebagai salah satu pemburu paling kejam.

"Dan jalan keluarnya?" tanya Ren.

Bao menunjuk ke arah jendela kecil yang menghadap ke danau hitam. "Ada saluran pembuangan limbah tua di sisi barat kota. Saluran itu mengarah ke gua bawah tanah yang terhubung dengan Sungai Arus Cepat. Dari sana, kau bisa mencapai Provinsi Hutan dalam dua hari. Tapi salurannya dijaga oleh... sesuatu. Bukan manusia. Bukan beast biasa. Penduduk lokal menyebutnya 'Penjaga Lumpur'. Tidak ada yang pernah kembali dari sana utuh."

Ren menghela napas. Selalu ada harga. Selalu ada monster.

"Aku akan mengambil risikonya," kata Ren.

Bao tersenyum licik. "Bagus. Sekarang, beri aku detail gudang Tinta Murni itu. Dan sebagai bonus..." Ia melemparkan sebuah peta kecil berbahan kulit ikan kepada Ren. "Peta saluran pembuangan. Hati-hati di belokan ketiga. Ada jebakan qi lama yang masih aktif."

Ren menangkap peta itu, memasukkannya ke saku. Ia memberikan deskripsi lokasi gudang sesuai yang ia baca sekilas di buku catatan curian—informasi yang cukup untuk membuat Bao sibuk, tapi tidak cukup untuk membuatnya langsung bertindak tanpa verifikasi. Cukup untuk membeli waktu.

"Mari kita pergi, Lin," kata Ren, bangkit.

Saat mereka berbalik untuk pergi, Bao memanggil mereka lagi.

"Hei, Zexian," kata Bao, suaranya tiba-tiba serius. "Elder Han tidak hanya mengejar karena hadiah. Dia mengejar karena rasa malu. Kau mempermalukannya di perpustakaan. Bagi orang seperti dia, malu lebih menyakitkan daripada luka. Dia tidak akan berhenti sampai kau mati, atau dia mati. Jangan remehkan kebenciannya."

Ren mengangguk singkat, lalu menarik Lin keluar dari warung, kembali ke dalam kabut malam.

Mereka berjalan cepat menuju sisi barat kota. Semakin jauh mereka dari pusat keramaian, semakin sepi jalanan. Lentera-lentera semakin jarang, digantikan oleh kegelapan pekat yang hanya diterangi oleh cahaya bulan pucat yang menembus kabut tipis.

Tiba-tiba, Lin menarik lengan Ren.

"Kakak," bisiknya, wajahnya pucat. "Aku merasakan... sesuatu. Di depan."

Ren segera menghentikan langkah. Mata Void-nya aktif. Ia melihat struktur lingkungan sekitar. Dan di ujung jalan buntu yang mengarah ke dermaga barat, ia melihat gumpalan energi merah gelap yang berdenyut-denyut. Bukan manusia. Beast.

Seekor Anjing Darah.

Beast itu berukuran sebesar kuda, tubuhnya ditutupi bulu hitam kasar yang tampak seperti kawat besi. Mulutnya terbuka, memperlihatkan gigi-gigi runcing yang berlumuran air liur beracun. Matanya berwarna merah darah, menatap lurus ke arah mereka. Ia tidak sendirian. Di belakangnya, terdengar langkah kaki berat.

Elder Han muncul dari balik bayangan sebuah gudang ikan. Pria itu tinggi, berwajah tajam dengan jenggot rapi, mengenakan jubah merah darah yang bersih dan mewah. Di tangannya, ia memegang sebuah cambuk qi yang berkilau biru.

"Aku mencium bau tikus," kata Elder Han, suaranya dingin dan halus, kontras dengan penampilan brutal beast-nya. "Dan bau kebohongan."

Ren mendorong Lin ke belakang sebuah tumpukan peti kayu. "Lari ke saluran pembuangan, Lin. Aku akan menahannya."

"Tidak!" protes Lin. "Kita bersama!"

"Lakukan!" perintah Ren, suaranya tegas. "Aku akan menyusulmu. Percaya padaku."

Lin menatapnya dengan mata berkaca-kaca, lalu mengangguk pelan. Ia berlari ke arah dermaga barat, menuju pintu besi berkarat yang menandai awal saluran pembuangan.

Elder Han tersenyum sinis. "Memisahkan diri? Strategi bodoh."

Ia mengayunkan cambuknya. Ujung cambuk itu melesat seperti ular, bertujuan untuk menangkap Lin.

Ren tidak berpikir. Ia melompat ke depan, menghalangi jalur cambuk itu dengan tubuhnya. Ia menulis karakter "Keras" di udara, memperkuat tulang rusuknya sesaat sebelum cambuk itu menghantam dadanya.

BLAM!

Dampaknya terasa seperti ditabrak kereta kuda. Ren terpental ke belakang, menghantam dinding kayu gudang. Darah menyembur dari mulutnya. Tulang rusuknya retak, mungkin patah. Rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya.

Tapi ia berhasil menahan serangan itu. Lin sudah masuk ke dalam pintu besi. Suara kunci berputar terdengar dari dalam.

Elder Han tampak kesal. Ia menatap Ren yang tergeletak di tanah, batuk darah.

"Kau tahan banting," komentar Han, mendekati Ren perlahan. "Tapi sia-sia. Anjingku akan menemukan jalannya. Dan kau... kau akan mati di sini, sendirian, dalam kegelapan."

Anjing Darah itu menggeram, siap menerjang.

Ren tersenyum, darah mengalir di dagunya. Ia mengangkat kuas patahnya, meski tangannya gemetar hebat.

"Kau salah, Elder," kata Ren, suaranya parau tapi penuh tantangan. "Aku tidak pernah sendirian. Aku selalu membawa kegelapan bersamaku."

Dengan sisa tenaga terakhirnya, Ren menulis karakter "Ledak" di lantai kayu di bawah kaki Anjing Darah.

KRAK!

Lantai kayu meledak ke atas, menciptakan awan debu dan serpihan kayu yang tebal. Dalam kekacauan itu, Ren menggulingkan tubuhnya ke samping, jatuh ke dalam air danau yang dingin di samping dermaga.

Ia tenggelam ke dalam kegelapan air, paru-parnya terbakar, tapi ia terus menyelam lebih dalam, menjauh dari permukaan, menjauh dari Elder Han yang marah, menuju arus bawah yang akan membawanya ke kebebasan, atau ke kematian.

Di atas permukaan, Elder Han berdiri di tepi dermaga, menatap air yang bergelombang dengan tatapan dingin.

"Temukan dia," perintahnya pada Anjing Darah. "Hidup atau mati, aku ingin kepalanya."

Perburuan berlanjut. Tapi Ren Zexian telah menghilang ke dalam perut danau, membawa serta rahasia yang bisa menghancurkan dunia, dan harapan terakhir untuk menyelamatkan adiknya.

1
Anime aikō-kā
..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!