Tak memiliki apa pun selain namanya, Kenzo bertahan hidup di dunia yang kejam. Bagi orang lain, mimpi adalah sesuatu yang bisa dikejar. Baginya, mimpi hanyalah kemewahan yang selalu direnggut oleh kenyataan.
Hingga suatu hari, sebuah antarmuka emas muncul di hadapannya.
Sistem Gacha.
Jaminan 100%.
Setiap putaran selalu menghadiahkan sesuatu yang nyata. Kemampuan, artefak, teknik, bahkan kekuatan yang sanggup mengubah takdir. Dengan sistem itu, Kenzo tak lagi sekadar bermimpi. Ia akan menapaki jalan menuju puncak dan menyingkirkan siapa pun yang berani menghalangi langkahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Mereka meninggalkan area bawah yang kini telah berubah menjadi kuburan massal bagi pasukan taktis dan monster biologis buatan Korporasi Nexus.
Lampu indikator di atas pintu lift berkedip lambat.
Angka di panel digital terus bertambah, menunjukkan lantai yang kian meninggi.
Suasana di dalam kabin baja tersebut terasa sangat kontras.
Azzy duduk bersila di udara. Ia melayang beberapa sentimeter di atas lantai besi sambil mengayunkan kakinya dengan santai.
Mulutnya bersenandung riang, menyanyikan nada tanpa lirik yang kekanak-kanakan.
Sementara itu, Mystrul berdiri diam di sudut kabin.
Ia memejamkan mata. Jubah biru tuanya memancarkan pendaran tenang yang seolah menyerap seluruh kebisingan mesin lift.
Di tengah keheningan itu, Kenzo sibuk memeriksa sisa peluru udara di dalam silinder senjatanya.
Ia memastikan Belati Frekuensi Tinggi miliknya tersarung aman di paha kiri.
Napasnya sudah kembali normal. Stamina dari Esensi Pemulih Stamina yang ia gunakan sebelumnya telah berhasil menstabilkan detak jantungnya.
Melalui Kacamata Lensa Aether miliknya, Kenzo mendongak menembus atap kabin lift.
"Lantai 40. Pusat Komando dan Ruang Eksekutif," gumam Kenzo pelan.
Ia mengamati pendaran energi yang luar biasa masif di atas sana.
"Ada sekitar 30 individu Super tingkat tinggi di sana. Sistem pertahanan lingkungan mereka juga terhubung langsung ke inti reaktor gedung," tambahnya.
Kenzo menurunkan pandangannya. "Jika kita melangkah keluar begitu saja, mereka akan langsung membakar lorong ini hingga menjadi abu."
Azzy langsung berhenti bersenandung. Ia berdiri tegak dengan mata ungu yang berbinar antusias.
"Biar Azzy hilangkan saja lantai 40 itu! Azzy bisa membuat gedung ini tidak punya atap sama sekali! Pasti akan sangat lucu, Kenzo!" serunya gembira.
Kenzo menggeleng pelan. "Tidak, Azzy."
Ia menatap pelayan kecilnya dengan serius. "Kita membutuhkan data dari gedung ini, menghancurkannya akan menghancurkan data-data yang aku aku butuhkan."
"Aku harus memastikan pria bernama Adrian itu tidak memiliki tempat untuk bersembunyi lagi. Jika kau menghapus lantainya, semua bukti penting itu akan ikut lenyap," jelas Kenzo.
"Lagipula, pemerintah dan beberapa kelompok besar pasti akan langsung turun tangan jika gedung ini mendadak runtuh di tengah kota," lanjutnya.
Kenzo kemudian menoleh ke arah sang Penyihir Agung. "Mystrul. Saat pintu lift ini terbuka, mereka pasti akan langsung melepaskan tembakan energi berskala besar."
Mystrul membuka matanya perlahan. Sepasang matanya menyimpan kedalaman yang kosong mirip galaksi tanpa bintang.
"Mudah, Tuan," sahut Mystrul dengan suara beratnya yang tenang. "Apakah kau ingin aku membalikkan lintasan serangan mereka?"
Kenzo tersenyum tipis. "Tidak perlu. Cukup urai seluruh energi mereka menjadi nol."
"Matikan semua pertahanan dan lingkungan di lorong utama. Tapi biarkan semua benda fisik di sana tetap utuh," perintah Kenzo.
Ia menarik Pistol Taktis Fantom dari sarungnya. Senjata itu terasa pas di genggamannya.
"Bantu aku sebisa kalian," kata Kenzo dingin.
Ting!
Menyala hijau terang lampu indikator di atas pintu lift.
Saat pintu baja tebal itu bergeser terbuka, neraka langsung menyambut mereka tanpa basa-basi.
Puluhan Super tingkat elit dari Korporasi Nexus telah membentuk formasi setengah lingkaran di lorong utama.
Mereka melepaskan semua serangan secara serentak.
Tembakan laser konsentrasi tinggi, proyektil plasma, hingga sihir manipulasi elemen melesat cepat ke arah celah pintu yang terbuka.
Udara seketika memanas, cukup untuk menguapkan baja dalam sekejap.
Namun, sebelum cahaya mematikan itu sempat menyentuh selembar pun pakaian Kenzo, Mystrul mengangkat tangan kirinya.
Sebuah pendaran emas tipis menyebar cepat dari ujung jarinya.
Cahaya itu meluas menembus pintu lift, menyapu seluruh lorong hanya dalam hitungan milidetik.
Sebuah keanehan fisik yang mutlak langsung terjadi seketika.
Semua proyektil plasma dan sihir mematikan itu mendadak memudar di udara, persis seperti lampu yang dimatikan secara paksa.
Gelombang panas yang membakar langsung berubah menjadi embusan angin sejuk yang menyegarkan.
Senjata-senjata energi canggih di tangan para pasukan elit itu mendadak mati total. Lampu indikator dayanya berubah gelap tanpa nyawa.
Bahkan sistem pencahayaan dan semua jebakan laser di langit-langit lorong ikut padam, menyisakan lampu darurat merah yang berputar lambat.
"Energi kita! Energi kita diserap!" teriak salah satu komandan pasukan dengan panik.
Ia berulang kali mencoba merapal sihir elemen miliknya, namun tidak ada satu pun percikan api yang muncul dari ujung jarinya.
Mereka semua mendadak berubah menjadi sekumpulan orang dewasa yang hanya memegang mainan plastik tidak berguna.
Melesat keluar dari kabin lift, Kenzo bergerak cepat seperti bayangan hitam yang lapar.
Kecepatan dari Esensi Peningkatan Fisik Dasar miliknya membuat ia mampu memangkas jarak belasan meter hanya dalam satu kedipan mata.
Ia tidak mau membuang stamina untuk gerakan yang tidak perlu. Semua gerakannya taktis, efisien, dan mematikan.
Bum! Bum! Bum!
Tiga tembakan peluru udara meluncur tanpa suara dari Pistol Fantom miliknya.
Tembakan itu menghantam dada tiga prajurit terdepan hingga tulang rusuk mereka patah berantakan.
Kenzo merunduk rendah, menghindari sabetan pedang dari seorang Super spesialis jarak dekat yang mencoba melawan.
Sambil bergerak, ia menekan tombol di gagang Belati Frekuensi Tinggi miliknya.
Sring!
Bilah belati hitam itu bergetar hebat pada gelombang ultrasonik yang sangat tinggi.
Dalam satu putaran lengan yang mulus, Kenzo memotong gagang pedang musuh, lalu menancapkan bilah belatinya tepat ke leher pria tersebut.
Darah segar menyembur deras, melumuri dinding logam lorong yang semula bersih steril.
"Tembak dia dengan senjata api biasa!" raung komandan musuh yang mulai menyadari situasi mereka.
Beberapa prajurit yang membawa senapan serbu otomatis segera menarik pelatuk senjata mereka.
Hujan peluru timah panas melesat cepat ke arah Kenzo.
"Azzy," panggil Kenzo tanpa menghentikan gerakan lincahnya.
"Hore! Bagian Azzy sekarang!" seru Azzy riang.
Sang Penguasa Ketiadaan itu mendadak muncul di samping Kenzo.
Ia hanya perlu menatap rentetan peluru fisik yang meluncur cepat ke arah tuannya.
Seketika, ruang di depan mereka meliuk aneh dan terdistorsi.
"Hilang," ucap Azzy pelan dengan nada dingin.
Ratusan peluru yang melaju cepat itu langsung tersedot ke dalam sebuah bola hitam kecil tak kasatmata dan lenyap sepenuhnya.
Tidak ada suara pantulan logam, tidak ada sisa bubuk mesiu. Hanya ada kehampaan.
Ketakutan di wajah para prajurit Korporasi Nexus kini berubah menjadi keputusasaan yang mutlak.
Mereka akhirnya menyadari betapa mengerikannya kombinasi tim di depan mereka ini.
Sihir dan senjata energi mereka dimatikan oleh seorang pria tua berambut perak yang bahkan tidak melangkah dari depan lift.
Serangan fisik terkuat mereka dihapus begitu saja oleh seorang gadis kecil yang tertawa senang.
Dan di tengah-tengah kebingungan itu, seorang manusia biasa bergerak membantai mereka satu per satu dengan ketepatan seorang algojo terlatih.
Kenzo bertindak layaknya pemimpin orkestra kematian yang sangat tenang.
Ia memastikan staminanya tidak terbuang sia-sia karena pertahannya dijamin sepenuhnya oleh kedua pelayannya.
Lorong elegan di lantai 40 itu kini telah berubah menjadi hamparan mayat hanya dalam waktu kurang dari 5 menit.
Kenzo berdiri tegak di depan sebuah pintu kayu raksasa berbahan mahoni tebal yang kokoh. Pintu itu menjadi satu-satunya penghalang menuju Ruang Eksekutif.
Napasnya tetap terjaga teratur. Ia mengibaskan sisa darah yang menempel pada belatinya sebelum menyarungkannya kembali ke paha.
Sedikit keringat dingin membasahi keningnya, namun senyum kepuasan terlihat jelas di wajahnya.
"Kerja bagus, kalian berdua," puji Kenzo dengan suara rendah.
Azzy tersenyum sangat lebar. Ia langsung menghambur dan memeluk lengan kiri Kenzo dengan erat.
Mystrul melangkah perlahan dari belakang, lalu berdiri dengan tenang di sisi kanan tuannya sembari menundukkan kepala sedikit.
Melalui Kacamata Lensa Aether miliknya, Kenzo melihat satu sumber energi terakhir yang berada di balik pintu mahoni tersebut.
Energi itu sangat berbeda dari semua musuh yang telah ia habisi sebelumnya.
Auranya terasa sangat tebal, tenang, dan memancarkan tekanan murni yang mirip seperti seekor monster buas yang baru saja terbangun dari tidurnya.
Ia tahu betul itu bukan lagi prajurit biasa ataupun komandan tingkat menengah.
Sosok di dalam sana adalah salah satu petinggi utama Korporasi Nexus, atasan langsung dari Adrian yang mengendalikan seluruh jaringan kotor di kota ini.
"Mari kita lihat sosok misterius dari energi itu," ucap Kenzo dengan nada dingin.