NovelToon NovelToon
Under The Autumn Canopy

Under The Autumn Canopy

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: air sungai

​Di bawah langit kelabu Inggris yang selalu basah oleh gerimis, Aurora "Rory" Vance melangkah masuk ke kampus paling bergengsi di Britania Raya hanya berbekal koper tua, beasiswa penuh, dan keteguhan hati. Sebagai gadis dari kalangan menengah ke bawah yang realistis dan tak punya waktu untuk urusan cinta, prioritas Rory hanya satu: bertahan hidup dan mempertahankan IPK-nya.
​Namun, tradisi Freshers' Week (PKKMB) di kampus elit ini jauh dari kata ramah. Para senior panitia yang keras dan disiplin tanpa ampun siap menyaring siapa yang pantas berada di sana. Di tengah tekanan fisik dan mental itu, Rory bertabrakan dengan Julian Edward Radcliffe senior tingkat tiga sekaligus ketua panitia kedisiplinan yang berasal dari salah satu dinasti bangsawan terpandang di Inggris.
Julian adalah definisi kesempurnaan yang dingin, tampan, cerdas, kaya, dan tak tersentuh. Namun, di balik tatapan tajam dan wibawanya yang mendominasi, Julian menyimpan beban ekspektasi keluarga yang mencekik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon air sungai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bintang di atas Atap Dan Pengakuan yang tertunda

Seminggu setelah maraton ujian tengah semester yang menguras energi, papan pengumuman utama Gedung Sains St. Jude’s akhirnya dipadati oleh ratusan mahasiswa. Lembar hasil evaluasi Biokimia Lanjut dan Farmakologi resmi dipajang.

Suasana di lorong sangat riuh. Suara helaan napas lega, sorak kegirangan, hingga desah kekecewaan bersahut-sahutan.

Gemma, yang kini sudah lepas dari kruknya dan bisa berjalan normal, menyelinap di antara kerumunan sambil menarik lengan Rory.

"Rory! Lihat tuh, paling atas!" jerit Gemma kegirangan sambil menunjuk baris pertama papan pengumuman.

1. Aurora Vance - 98.5 (A+)

Nilai sempurna yang hampir tak tersentuh di seluruh fakultas sains semester ini. Di bawah namanya, terpaut tiga angka, ada nama mahasiswa-mahasiswa senior dan rekan-rekan seangkatannya.

"Sudah kuduga!" kata Gemma bangga, memeluk sahabatnya erat-erat. "Kamu bener-bener jenius, Rory!"

Rory tersenyum tipis, menghembuskan napas lega yang menumpuk di dadanya selama seminggu terakhir. "Hasil yang sepadan dengan waktu tidur yang hilang, Gem."

Tak jauh dari papan pengumuman, Julian berdiri bersama Profesor Evans. Julian mengenakan setelan kemeja putih dengan lengan yang digulung rapi dan dasi gelap. Begitu matanya menatap nomor satu di lembar nilai tersebut, sebuah senyuman bangga mengembang di wajahnya.

Profesor Evans menepuk bahu Julian pelan. "Pilihanmu sebagai asisten praktikum sangat tepat, Julian. Gadis Vance itu punya analisa yang sangat tajam. Dia kandidat kuat untuk program beasiswa riset musim panas di laboratorium pusat."

"Dia bekerja sangat keras untuk itu, Prof," jawab Julian pelan, matanya tak lepas dari sosok Rory yang sedang tersenyum bersama Gemma di ujung lorong.

Malam harinya, kampus St. Jude’s terasa jauh lebih tenang. Sebagian besar mahasiswa merayakan selesainya UTS di pub-pub sekitar kota, namun Rory memilih melangkah menuju menara atap (rooftop) Gedung Astronomi Tua tempat tersembunyi yang pernah diberitahukan Julian padanya minggu lalu.

Udara malam Oxford di akhir Oktober sangat dingin. Angin meniup pelan kemeja dan kardigan rajut cokelat yang dikenakan Rory. Di atas sana, pemandangan kota tua Oxford terhampar indah di bawah pendar lampu-lampu jalanan dan langit malam bertabur bintang.

Suara langkah kaki yang mantap terdengar menyusuri tangga batu di belakangnya.

"Aku tahu kamu bakal ada di sini," suara Julian memecah kesunyian malam.

Rory menoleh, menyunggingkan senyum hangat. Julian melangkah mendekat sambil membawa dua cangkir kopi panas dari kedai kafe bawah. Pria itu mengenakan mantel panjang hitam yang membuatnya tampak makin tinggi dan tegap.

"Selamat atas nilai tertinggimu, Rory," kata Julian sambil menyerahkan salah satu cangkir kopi hangat pada Rory.

"Terima kasih, Julian," jawab Rory, menerima cangkir tersebut. "Terima kasih juga sudah membantuku mempertajam metodologi laporan selama praktikum."

Julian menyandarkan siku di pembatas batu menara, memandangi hamparan lampu kota di bawah mereka. "Aku tidak memberimu bantuan berlebihan. Nilai itu murni karena kecerdasan dan kerja kerasmu sendiri."

Mereka berdiri berdampingan dalam kesunyian yang syahdu selama beberapa saat. Hanya ada suara angin malam dan hangatnya uap kopi yang membumbung tipis di udara.

"Julian," panggil Rory pelan, menatap profil samping wajah Julian yang diterangi cahaya bulan.

"Ya?" Julian menoleh, menatap mata cokelat jernih Rory.

"Terima kasih untuk semuanya. Sejak hari pertama di St. Jude’s....kamu selalu ada saat aku hampir kewalahan," kata Rory tulus. Suaranya halus, menanggalkan seluruh dinding keteguhan yang biasanya ia pasang di depan orang lain.

Julian menatap Rory dalam-dalam. Di bawah pendar bintang malam itu, wajah polos Rory tampak begitu indah dan menenangkan. Tanpa sadar, Julian mengikis jarak di antara mereka. Pria itu mengangkat tangannya, dengan lembut merapikan helai rambut cokelat Rory yang bertiup angin di sekitar pipinya.

Sentuhan jemari Julian yang hangat di kulit wajah Rory membuat napas gadis itu tertahan sejenak. Jantung Rory berdetak kencang di balik dadanya.

"Aku melakukan semua itu bukan hanya karena tugas sebagai senior, Rory," bisik Julian, suaranya terdengar sangat dalam, rendah, dan penuh emosi yang jujur.

Jarak di antara wajah mereka kini hanya terpaut beberapa sentimeter. Mata hazel Julian memancarkan keseriusan murni yang tak lagi bisa disembunyikan oleh alasan akademis mana pun.

"Lalu... karena apa?" tanya Rory pelan, hampir berupa bisikan.

Julian menatap bibir dan mata jernih Rory bergantian. "Karena sejak pertama kali kamu berdiri di pelataran kampus menatap hujan...aku tidak bisa lagi mengalihkan pandanganku dari dirimu, Aurora."

Genggaman Julian berpindah melingkari jemari Rory yang memegang cangkir, menyalurkan kehangatan yang mengusir seluruh rasa menggigil malam itu.

Tepat saat Julian hendak menundukkan kepalanya lebih dekat, suara getaran keras dari ponsel di dalam saku mantel Julian memecah momen magis di antara mereka.

Julian menghentikan gerakannya sejenak, menghela napas panjang menahan gejolak emosi. Ia merogoh sakunya dan melihat nama yang tertera di layar ponselnya: Arthur Radcliffe.

Raut wajah Julian mendadak berubah tegang. Panggilan dari ayahnya di jam larut malam seperti ini hampir selalu membawa kabar dari dunia keluarga Radcliffe yang penuh tekanan.

Rory mundur setengah jengkal dengan lembut, menyunggingkan senyum pengertian meski ada sedikit rasa kecewa di dadanya. "Angkatlah, Julian. Mungkin penting."

Julian menatap Rory dengan tatapan penuh penyesalan, sebelum akhirnya menggeser layar ponselnya dan mengangkat panggilan tersebut.

"Julian," suara dingin dan dominan Arthur Radcliffe terdengar jelas dari seberang telepon. "Acara pertunanganmu dengan Victoria sudah ditetapkan untuk akhir bulan ini. Kembalilah ke manor besok pagi. Ada dokumen keluarga yang harus kamu tandatangani."

Kata-kata itu bergema pelan di dalam heningnya malam di atas menara, cukup jelas untuk ditangkap oleh pendengaran Rory.

1
stevany indri
maya sang cucu sj usianya sdh 50thn,,,, bgmn mgkn kejadian antara kakek Julian&nenek aurora terjd 50thn yg lalu... ada2 sj
stevany indri
aurora lahir thn 1969....kejadiannya thn 1968, bgmn mgkn terjd.... 😳
stevany indri
u maya... kakek&nenek tp u Julian junior mestinya uyut deh
Forta Wahyuni
maya tapi cucu, koq manggil ayah dan ibu n bingung thor. Julian cicit krn anak maya, hadeh suka2 thor lah. 🙏🙏🙏
Maya Elvin
siap kk👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!