Mo Tianxia pernah berdiri di puncak dunia.
Sebagai seorang kultivator yang telah mencapai Absolute Realm, tidak ada lagi lawan yang mampu menandinginya dan tidak ada lagi batas yang mampu menghalanginya. Namun, setelah mencapai segala sesuatu yang bisa dicapai, yang tersisa baginya hanyalah kebosanan.
Dalam sebuah keputusan yang tidak masuk akal bagi siapa pun, Mo Tianxia menghancurkan jiwanya sendiri dan memulai kembali kehidupannya dari nol.
Kini, ia terbangun dalam tubuh yang lemah dengan kultivasi paling dasar.
Tidak ada kekuatan absolut. Tidak ada kedudukan tinggi. Tidak ada nama besar.
Hanya pengetahuan tentang jalan yang pernah ia tempuh.
Dengan sikap tenang dan pengalaman yang jauh melampaui usianya, Mo Tianxia kembali melangkah di jalan kultivasi. Sekte, turnamen, dunia rahasia, para jenius, dan berbagai ancaman mulai muncul di hadapannya.
Namun kali ini, tujuannya bukan menjadi yang terkuat. Ia hanya ingin menikmati kembali perjalanannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Hari ujian tiba lebih cepat dari yang dirasakan siapa pun. Lapangan desa yang biasanya sepi di pagi hari kini dipenuhi puluhan keluarga, masing-masing membawa anak mereka dengan wajah campuran harap dan cemas. Beberapa anak terlihat gemetar. Beberapa lainnya berusaha tampil percaya diri meski jelas gugup.
Mo Tianxia berdiri di antara mereka bersama Wang Dazhi, mengenakan pakaian terbaik yang dimiliki keluarganya—meski "terbaik" hanya berarti pakaian yang belum terlalu usang.
"Kau gugup?" tanya Wang Dazhi, suaranya sedikit bergetar.
"Tidak," jawab Mo Tianxia jujur.
"Enak sekali jadi kau," gerutu Wang Dazhi, mengusap telapak tangannya yang berkeringat ke celana. "Aku rasanya mau muntah."
Mo Tianxia menepuk pundak sahabatnya. "Kau sudah berlatih keras tiga hari ini. Percaya pada dirimu sendiri."
Deacon Song dan Chen Feng muncul di depan lapangan tepat saat matahari mulai naik penuh. Di belakang mereka, dua orang disciple sekte berdiri membawa peralatan sederhana—sebuah batu giok kecil yang bersinar redup, digunakan untuk mengukur akar spiritual calon kandidat.
"Ujian akan dimulai," umum Deacon Song, suaranya menggema di lapangan yang kini hening. "Setiap kandidat akan maju satu per satu. Letakkan tangan kalian di atas Batu Pengukur. Batu ini akan menunjukkan kualitas akar spiritual kalian."
Satu per satu, anak-anak maju dengan gugup. Sebagian besar hasilnya biasa saja—cahaya redup yang menandakan akar spiritual kelas bawah, cukup untuk memulai kultivasi namun tidak istimewa. Beberapa bahkan tidak menghasilkan cahaya sama sekali, menandakan mereka tidak memiliki akar spiritual yang cukup untuk kultivasi jenis apa pun.
Wajah-wajah kecewa mulai menghiasi kerumunan orang tua. Ketika giliran Wang Dazhi tiba, ia maju dengan langkah gemetar. Tangannya menyentuh batu itu, dan cahaya yang muncul sangat redup—bahkan lebih redup dari rata-rata. Wang Dazhi menunduk, kecewa.
Mo Tianxia mengamati dari kejauhan.
'Akar spiritualnya memang tidak istimewa,' pikirnya. 'Tapi bakat bukan satu-satunya hal yang menentukan seberapa jauh seseorang bisa melangkah.'
Chen Feng melirik hasil itu, lalu menatap sekilas ke arah Deacon Song. "Kelas bawah. Batas minimum untuk diterima sebagai disciple luar."
"Terima dia," kata Deacon Song singkat, tanpa penjelasan lebih lanjut.
Wang Dazhi mengangkat kepalanya, tidak percaya. "Aku—aku diterima?"
"Batas minimum tetap batas yang bisa diterima," jawab Deacon Song datar. "Selama kau bersedia bekerja keras."
Wang Dazhi hampir menangis saking senangnya, buru-buru membungkuk berkali-kali sebagai ucapan terima kasih.
Mo Tianxia tersenyum kecil melihatnya. 'Setidaknya dia mendapat kesempatan yang layak diperjuangkan.'
Giliran Mo Tianxia tiba. Ia melangkah maju dengan tenang, meletakkan tangannya di atas Batu Pengukur.
Untuk sesaat, tidak terjadi apa-apa. Kemudian, cahaya mulai muncul—bukan cahaya redup seperti kebanyakan kandidat lain, namun juga bukan cahaya yang terlalu terang hingga mencolok.
Cahaya sedang. Stabil. Konsisten.
'Bagus,' pikir Mo Tianxia dalam hati, puas dengan hasil yang telah ia rencanakan dengan hati-hati. 'Cukup baik untuk diterima tanpa menarik perhatian berlebihan.'
Chen Feng mengamati hasil itu dengan seksama, alisnya sedikit terangkat.
'Kelas menengah atas,' pikirnya. 'Bagus, tapi tidak cukup istimewa untuk dianggap jenius. Aneh... aku merasa hasil ini terlalu "pas" untuk sekadar kebetulan.'
Ia menggelengkan kepala, mengesampingkan kecurigaannya untuk saat ini.
"Diterima," umum Deacon Song.
Su Wan, yang berdiri di antara para orang tua, tidak bisa menahan air matanya. Mo Feng merangkul bahunya, senyum bangga tersungging di wajahnya yang lelah oleh kerja keras bertahun-tahun.
Setelah seluruh kandidat diuji, hanya belasan anak yang dinyatakan lolos dari puluhan yang mencoba—termasuk Mo Tianxia dan Wang Dazhi.
Matahari hari mulai naik lebih tinggi. Deacon Song mengumpulkan seluruh kandidat yang lolos di depan lapangan.
"Kalian akan berangkat menuju Gunung Qingfeng besok pagi," katanya. "Perjalanan akan memakan waktu tiga hari melalui jalur darat, dilanjutkan dengan kapal terbang kecil pada hari terakhir menuju gerbang sekte."
Bisik-bisik penuh semangat kembali terdengar di antara para kandidat.
Mo Tianxia menatap ke arah utara, arah di mana Gunung Qingfeng berada meski masih terlalu jauh untuk terlihat dari desa mereka.
'Tian Yun Sect,' pikirnya, mengingat kembali serpihan informasi tentang sekte ini yang pernah ia dengar sepanjang seribu dua ratus tahun hidupnya—meski sekte ini sendiri kemungkinan besar belum berdiri pada masa itu, atau mungkin sudah lama runtuh dan dilupakan sejarah. 'Mari kita lihat apa yang bisa kutemukan di sana.'
...-----...
Malam itu, sebelum keberangkatan, Su Wan memeluknya erat-erat di depan gubuk mereka.
"Jaga dirimu baik-baik, Tianxia," katanya, suaranya bergetar menahan tangis. "Jangan lupa makan yang cukup. Jangan bertengkar dengan disciple lain. Kalau ada masalah, cepat kirim kabar—"
"Ibu," potong Mo Tianxia lembut, "aku akan baik-baik saja."
Ia mengatakannya dengan keyakinan penuh—bukan keyakinan kosong seorang anak yang tidak tahu apa-apa tentang bahaya di luar sana, melainkan keyakinan seseorang yang tahu persis seberapa jauh kemampuannya melampaui bahaya apa pun yang mungkin ia temui di tingkat disciple luar sekte kecil.
Namun ketika ia menatap wajah Su Wan yang penuh kekhawatiran, ada sesuatu di dalam dirinya yang bergerak—perasaan hangat yang asing, namun tidak ia tolak.
'Ini,' pikirnya, 'adalah perasaan yang tidak pernah kumiliki di kehidupan sebelumnya.'
Ia memeluk ibunya sedikit lebih erat, sedikit lebih lama dari biasanya.