Di benua tempat langit dan bumi saling menyatu, kekuatan sejati bukanlah tentang seberapa tajam pedang yang kau genggam atau seberapa tinggi tingkatan kultivasimu melainkan seberapa murni hatimu dan seberapa tulus kasih sayang yang kau berikan kepada dunia.
Lin Mo seorang pemuda yang lahir tanpa bakat istimewa di mata orang lain memulai perjalanan panjangnya menembus kabut tebal yang menyelimuti langit dan bumi. Ia menghadapi petir surgawi yang menggetarkan jiwa saat menerobos setiap tingkat kekuatan. Ia menembus hutan purba yang dijaga makhluk purba yang tak pernah menampakkan wujudnya kepada siapa pun. Ia mendaki puncak salju abadi yang membekukan jiwa bahkan sebelum membekukan tubuh.
Dengan hati yang tetap murni dan rendah hati meskipun kekuatan di tangannya semakin dahsyat Lin Mo mengumpulkan kembali empat kekuatan suci yang telah terpisah ribuan tahun. Cahaya api yang membakar kejahatan. Cahaya kehidupan yang menyembuhkan luka. Cahaya keheningan yang melatih kesabaran. Cahaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 PERTEMUAN DI PERBATASAN
Lin Mo berjalan di depan membelah semak belukar yang rimbun. Di belakangnya, binatang buas berwarna kelabu tua itu melangkah dengan tenang, tubuhnya yang besar tak menimbulkan suara sedikit pun seakan kakinya tak menyentuh tanah. Setelah menyelesaikan pengasingan singkat di lembah tersembunyi, Lin Mo kini melanjutkan perjalanannya menuju kota perbatasan terdekat yang terletak di kaki pegunungan luas itu. Ia menyadari bahwa sekadar memiliki kekuatan saja belum cukup. Ia harus memahami dunia luar dengan lebih baik, mengetahui di mana letak bahaya yang mengintai, serta mempelajari lebih dalam tentang rahasia kekuatan Naga Abadi yang kini terus tumbuh perlahan di dalam dadanya.
Sepanjang perjalanan, Lin Mo merasakan perubahan yang terus terjadi pada dirinya. Setiap kali ia melangkah, energi murni dari alam secara otomatis mengalir masuk ke dalam tubuhnya, memperkuat fondasi kekuatannya tanpa perlu ia perintah. Panca inderanya semakin tajam menembus jarak jauh, mampu mendengar suara aliran sungai yang tersembunyi di balik bukit, serta mencium bau-bauan yang samar terbawa angin dari kejauhan. Cahaya keemasan yang sesekali melintas di matanya kini semakin jarang tampak, menyembunyikan identitas aslinya dari siapa pun yang mungkin memiliki mata tajam di luar sana. Lin Mo paham betul kata-kata peringatan yang terdengar di dalam kesadarannya — semakin lama ia tetap tersembunyi, semakin aman ia dari mereka yang mencari keturunan Darah Naga dengan niat buruk.
Menjelang sore hari, bayangan tembok kota yang menjulang tinggi akhirnya tampak samar di kejauhan. Kota itu bernama Kota Benteng Awan, sebuah kota perbatasan yang ramai sekaligus berbahaya. Sebagai gerbang antara wilayah kekuasaan dinasti dan wilayah hutan belantara yang luas, kota itu menjadi tempat berkumpulnya orang-orang dari berbagai latar belakang — pendekar, pedagang, petualang, hingga penjahat buronan yang mencari tempat persembunyian. Di sini, kekuatan dan kebijaksanaan adalah dua hal yang paling dihargai, sementara kelemahan sama sekali tidak memiliki tempat untuk bertahan hidup.
Lin Mo menghentikan langkahnya tak jauh dari gerbang kota. Ia berbalik menatap binatang buas yang berdiri tenang di sampingnya. Binatang itu tampak paham bahwa kehadirannya yang besar dan mencolok justru akan menarik perhatian yang tidak diinginkan bagi tuannya. Ia menundukkan kepalanya besar ke arah Lin Mo seakan menyatakan kesediaannya untuk menunggu di hutan pinggiran kota.
"Tetaplah bersembunyi di sini," ucap Lin Mo pelan sambil menepuk kepala binatang itu dengan lembut. "Aku akan masuk ke dalam kota sendirian untuk mencari informasi dan bekal yang kubutuhkan. Jika aku memanggilmu, barulah kau datang. Jangan menampakkan dirimu kepada siapa pun sebelum aku memberi isyarat."
Binatang itu mengangguk patuh, lalu melangkah mundur perlahan menyusup kembali ke dalam rimbunan pepohonan yang rimbun hingga tak terlihat lagi oleh mata. Lin Mo pun melanjutkan perjalanannya sendirian menuju gerbang kota yang ramai itu.
Sesampainya di gerbang, Lin Mo melihat antrean panjang orang-orang yang masuk dan keluar. Para penjaga yang berjaga di sana tampak kuat dan sigap, namun mata mereka lebih banyak menatap ke arah kantong uang dan perhiasan yang dikenakan oleh para pendekar dan pedagang yang lewat. Saat tiba gilirannya, penjaga itu melirik Lin Mo sekilas dari atas hingga ke bawah dengan tatapan yang meremehkan melihat pakaian sederhana yang dikenakan pemuda itu. Namun begitu mata mereka bertemu dengan sepasang mata Lin Mo yang tenang namun dalam, kedua penjaga itu tiba-tiba merasa kaku dan seakan tertindih beban berat yang tak kasat mata. Mereka tak berani melontarkan satu kata pun atau meminta pajak masuk seperti yang biasa mereka lakukan kepada orang lain. Mereka hanya diam membiarkan Lin Mo melangkah masuk begitu saja seakan terhipnotis oleh ketenangan yang memancar dari pemuda itu.
Lin Mo melangkah masuk ke dalam kota yang sibuk itu. Jalan-jalan utamanya lebar dan padat dengan pejalan kaki, kereta kuda, serta suara riuh rendah tawar-menawar dari para pedagang yang menjajakan barang dagangan mereka. Bangunan-bangunan batu bertingkat berjejer rapi di sepanjang jalan, memberikan kesan kokoh namun sedikit suram karena warna batu abu-abunya. Lin Mo berjalan perlahan menyusuri jalan utama sambil memperhatikan sekelilingnya dengan tenang. Ia tidak terlihat mencolok sama sekali, namun kesadaran yang tajam membuatnya mengetahui segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya tanpa perlu menoleh.
Tak lama berjalan, Lin Mo tiba di sebuah alun-alun kecil yang tampak ramai. Di tengah keramaian itu, tiba-tiba terdengar suara bentakan keras disertai bunyi dentuman benda berat yang jatuh ke tanah. Orang-orang di sekitar berlarian menjauh memberi ruang, dan Lin Mo melihat sekelompok pemuda berpakaian mewah sedang mengelilingi seorang pedagang tua yang terjatuh ke tanah sambil memegangi dadanya dengan wajah pucat. Barang dagangan pedagang itu berserakan hancur di tanah. Salah seorang pemuda yang tampak menjadi pemimpin rombongan itu berdiri dengan tangan di pinggang sambil tertawa mengejek penuh kesombongan.
"Orang tua yang tidak tahu diri! Berani sekali kau menghalangi jalan kami Tuan Muda!" ucap pemuda itu sambil menendang nampan berisi buah-buahan hingga melayang pecah. "Kau kira dengan wajah memelas itu kami akan merasa kasihan? Katakan saja berapa harga nyawamu agar kami tahu berapa yang harus kami bayar saat kau mati nanti!"
Tawa mengejek terdengar dari mulut orang-orang yang mengikutinya. Pedagang tua itu berusaha bangkit dengan susah payah sambil memohon dengan suara gemetar. "Aku mohon... ampunilah aku... Aku tidak sengaja... Biarlah aku pergi..."
Namun alih-alih membiarkannya pergi, pemuda yang sombong itu justru mengangkat kakinya hendak menendang dada pedagang tua yang masih lemah itu dengan sekuat tenaga. Penonton di sekitar hanya saling berpandangan dan berbisik-bisik, namun tak ada satu pun yang berani maju membantu. Mereka semua mengenali lambang di jubah pemuda itu — itu adalah lambang Keluarga Jiang, keluarga terkuat di kota itu. Menentang mereka sama saja dengan mencari jalan ke kuburan sendiri.
Namun tepat saat kaki pemuda itu hampir menyentuh dada pedagang tua, sebuah batu kecil melesat dari keramaian dan menghantam pergelangan kaki pemuda itu dengan presisi yang luar biasa. Terdengar suara renyah disertai teriakan kesakitan yang melengking. Pemuda itu terpental jatuh ke tanah sambil memegangi kakinya yang bengkak seketika. Seluruh orang yang hadir tertegun diam. Semua mata seketika beralih ke arah dari mana batu itu datang. Dan di sanalah mereka melihat seorang pemuda berpakaian sederhana berdiri tenang di sana dengan wajah yang datar dan tak tergoyahkan.
Lin Mo melangkah maju perlahan mendekati pedagang tua itu. Ia menatap pemuda yang sedang mengerang kesakitan di tanah dengan pandangan yang tenang namun membuat hati siapa pun yang menatapnya merasa dingin.
"Menyakiti orang lemah demi kesenangan sendiri... Itu bukanlah kehebatan," ucap Lin Mo pelan namun suaranya terdengar jelas di tengah keheningan yang mendadak menyelimuti tempat itu. "Bertobatlah selagi masih ada kesempatan. Jangan biarkan keserakahan dan kesombongan menghancurkan hatimu sepenuhnya."
Pemuda itu mengangkat wajahnya penuh amarah. Ia menatap Lin Mo dengan mata menyala penuh kebencian dan malu yang tak tertahankan.
"Siapa kau?! Berani sekali kau melukai anak buah Keluarga Jiang di wilayah kami!" teriak pemuda itu sambil memberi isyarat kepada pengikutnya yang masih tertegun. "Tangkap dia! Hancurkan dia! Aku ingin melihat seberapa keras tulang orang yang berani menghadapi Keluarga Jiang!"
Belasan orang pengikutnya segera melesat maju menyerang Lin Mo dari segala arah. Mereka memancarkan energi kekuatan yang cukup kuat untuk membuat orang biasa ketakutan dan lari terbirit-birit. Namun di mata Lin Mo, gerakan mereka tampak begitu lambat dan penuh celah yang nyata. Lin Mo tidak mengeluarkan senjata apa pun. Ia bahkan tidak memancarkan aura kekuatannya. Dengan tenang dan santai, ia melangkah ke samping menghindari serangan pertama, lalu mengangkat tangan menepuk bahu orang kedua yang melesat di sampingnya. Seketika itu juga, orang kedua itu terpental jatuh pingsan tanpa suara. Begitu seterusnya, setiap kali Lin Mo menggerakkan tangan atau kakinya, satu orang pengikut jatuh tak berdaya. Tak ada ledakan kekuatan yang dahsyat. Tak ada cahaya yang menyilaukan mata. Yang terlihat hanyalah pemuda itu bergerak dengan tenang dan elegan, seakan sedang berjalan santai di taman bunga, sementara belasan orang pendekar itu jatuh satu per satu bagaikan batang kayu yang dipukul lembut.
Dalam hitungan sekejap mata, seluruh pengikut yang menyerangnya telah tergeletak di tanah tanpa mampu bergerak sedikit pun. Lin Mo berdiri kembali di tempatnya semula dengan napas yang tetap tenang dan teratur, seakan tak melakukan hal yang luar biasa sedikit pun. Penonton di sekitar mematung terpaku dengan mulut ternganga lebar. Mereka sama sekali tidak melihat bagaimana cara pemuda itu melakukannya. Yang mereka tahu hanyalah bahwa pemuda yang tampak sederhana itu ternyata memiliki kekuatan yang jauh melampaui bayangan siapa pun di kota ini.
Pemuda yang menjadi pemimpin rombongan itu kini gemetar hebat di tanah. Ia menatap Lin Mo yang perlahan berjalan mendekat dengan tatapan penuh ketakutan yang luar biasa. Kakinya lemas seketika hingga tak mampu menarik diri mundur walau satu jengkal pun.
"Kau... Kau berani melukai orang Keluarga Jiang..." gumamnya terbata-bata. "Kau... Kau akan menyesal... Ayahku adalah pelindung kota ini... Dia pasti akan datang dan membunuhmu..."
Lin Mo berhenti tepat di hadapan pemuda itu. Ia menatapnya dengan pandangan yang tenang namun tajam menembus ke dalam jiwanya.
"Aku tidak takut pada siapa pun selama aku tidak bersalah," ucap Lin Mo pelan namun tegas. "Sampaikanlah pesanku kepada ayahmu. Kekuatan itu ada untuk melindungi yang lemah dan menegakkan keadilan. Bukan untuk menindas rakyat kecil dan memuaskan kesombongan diri. Jika ayahmu sepertimu juga... maka katakan padanya... bahwa ada seseorang yang akan datang menuntut pertanggungjawaban atas segala kesalahan yang telah kalian perbuat."
Lin Mo tidak menyakiti pemuda itu lebih jauh. Ia berbalik dan membantu pedagang tua itu berdiri perlahan. Dengan lembut ia menenangkan pedagang tua itu dan membantunya mengumpulkan barang-barang yang masih tersisa. Pedagang tua itu menatap Lin Mo dengan mata berkaca-kaca penuh rasa terima kasih yang mendalam. Ia ingin berterima kasih, namun Lin Mo hanya tersenyum tipis dan membantunya berjalan pergi dari tempat itu dengan aman.
Namun saat Lin Mo hendak melangkah pergi, tiba-tiba langit di atas alun-alun itu seakan berubah mendung seketika. Angin kencang berhembus memutar daun-daun dan debu di tanah. Dari arah kediaman Keluarga Jiang di pusat kota, sesosok bayangan melesat cepat menembus udara menuju ke arah mereka. Energi yang dipancarkan sosok itu begitu kuat dan menindih hingga membuat napas para penonton di sekitar terasa sesak. Sosok itu mendarat dengan keras di tanah, menciptakan retakan panjang yang menjalar hingga ke kaki Lin Mo. Ia adalah pria berwajah garang dan bermata tajam yang menatap Lin Mo dengan tatapan penuh niat membunuh.
"Aku adalah Jiang Xiong... Kepala Keluarga Jiang dan pelindung kota ini..." suara pria itu menggelegar bagaikan guntur yang memecah langit. "Kau berani melukai anakku dan orang-orangku di wilayah kekuasaanku... Hari ini... kau tak akan bisa pergi dari sini hidup-hidup!"
Jiang Xiong mengangkat tangannya ke atas, dan seketika itu juga, energi yang gelap dan pekat berkumpul di telapak tangannya membentuk bola energi raksasa yang siap meledak menghancurkan apa pun di hadapannya. Seluruh orang yang hadir berlari ketakutan menjauh. Namun Lin Mo tetap berdiri tenang di tempatnya. Ia menatap Jiang Xiong yang hendak melancarkan serangan mematikan itu dengan tatapan yang masih tetap tenang dan tak tergoyahkan. Cahaya keemasan samar perlahan mulai menyembul dari balik kulitnya, bersiap menyambut serangan yang tampak dahsyat itu. Dan di dalam hati Lin Mo kini hanya berpikir satu hal — bahwa pertarungan sesungguhnya di kota ini baru saja dimulai, dan ia tak akan mundur selangkah pun meskipun lawannya adalah penguasa kota ini sendiri.