Antara mencintai atau obsesi itu beda tipis nggak sih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My. dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Berhasil.
Arina yang datang ke sekolah dengan terburu-buru karena sedikit kesiangan. Yah semalam Arina kesulitan untuk memejamkan matanya, otaknya terlalu berisik untuk menyambut tidur yang nyenyak. Bayangan Jagat terus menghantui dirinya.
Bruugghhh….!!!
“Awwhh,” ringgisnya sambil memegang dahinya. “Sorry nggak seng-, Ja-gat?” Matanya membola saat tau orang yang dia tabrak adalah Jagat. “Kamu nggak sekolah lagi?”
Jagat tersenyum lalu mengelengkan kepalanya, “Enggak, aku keluar.”
Jawaban yang membuat Arina semakin membeku dan tercengang. “Kenapa?”
“Nggak mau ganggu kamu lagi.”
“Ta-pi nggak perlu keluar da-ri sekolah juga kan?” Arina terbata bata saat ini dia bingung mau bereaksi seperti apa, di matanya dia melihat ada senyuman Jagat yang menutupi sebuah rasa sedihnya.
Jagat tersenyum nanar, sambil memalingkan wajahnya, justru untuk saat ini dia nggak siap bertemu dengan Arina.
“Bro, Lu beneran, keluar?” Brandon yang tiba-tiba menghampiri Jagat dan merangkulnya dari samping dengan keras.
“Ahhkk,” Jagat terlihat meringis kecil menahan rasa sakit punggungnya, lalu menepis Brandon.
“Sorry, nggak sengaja.”
Arina mengernyitkan matanya terfokus pada tubuh Jagat. “Dia di hukum lagi, kenapa?” Apa gara-gara aku lagi, apa karena ini dia menyerah, dan keluar dari sekolah?” Batin dan otak Arina mulai sibuk menerka- nerka.
“Ar, kita duluan ya,” pamit Brandon yang membubarkan lamunan Arina.
“Emb Jagat, boleh ngobrol sebentar nggak?” tanya Arina tiba-tiba.
Jagat yang biasanya tersenyum licik kini dia malah terlihat tercengang. “Tapi kamu bentar lagi masuk Ar,” tolaknya spontan.
“Udah sana, ini kan kesempatan yang Lu tunggu selama ini,” Brandon mendorong tubuh Jagat untuk mendekat ke arah Arina sambil tersenyum smirk.
Arina langsung menarik Jagat keluar dari sekolah dengan langkah yang terburu-buru.
“Ar, mau kemana?” tanya Jagat bingung, saat mereka keluar dari gerbang sekolah.
“Ambil motor kamu, cepetan.”
“Iya, kita mau kemana, sebentar lagi masuk.”
“Katanya mau ketemu untuk yang terakhir kalinya?”
“I-ya.”
“Ya udah buruan.”
Dengan patuh Jagat mengambil motornya dari parkiran sekolah dan keluar dari gerbang yang sebentar lagi akan tertutup.
Arina langsung naik ke jok belakang motor Jagat, “Buruan, sebelum ketahuan.”
Dengan terburu-buru Jagat mengemudikan motornya dan menjauh dari sekolahnya. “Kenapa misinya malah berhasil di waktu yang nggak tepat gini sih, kenapa nggak dari kemarin Ar, kalau ketahuan kita bisa mati bareng.” Batin Jagat mulai gelisah, dia siap menerima apapun konsekuensinya, tapi dia nggak siap jika Arina yang kena dampaknya.
“Kita mau kemana?”
“Terserah kamu aja,”
“Kok terserah sih,”
“Ya aku nggak ada tujuan.”
Jagat menepikan motornya di tepi jalan, dia menarik tangan Arina yang sejak tadi berpegangan erat di jaketnya. Jagat mulai mengengam nya dengan lembut. “Ar, kamu bolos demi aku buat apa?” tanya Jagat dengan jantung yang sudah berdisko ria.
“Ya aku hanya mau mengabulkan permintaan kamu yang terakhir.”
“Kamu berharap habis ini aku mati?”
“Ng-gak gitu, gimana sih, kan kamu sendiri kemarin yang ngomong, ya udah kalau nggak mau, aku balik sekolah lagi.”
Jagat terkekeh melihat Arina yang salting dari kaca spion, “tapi nggak bolos juga sayang, nanti habis pulang sekolah juga gapapa.”
“Ya udah kalau nggak mau.”
“Mau, Mau banget malah.” Jawab Jagat dengan penuh semangat.
“Ya udah, kita mau kemana?”
Byuuuuurrrrrrr….. hujan deras langsung menguyur tubuh mereka. “Aaa…Jagat buruan…” renggek manja Arina yang selama ini Jagat rindukan, membuat nya tersenyum geli.
“Neduh dulu mau nggak?”
“Nggak mau, nanti ada yang lewat kita ketahuan.”
“Gasss ini berarti?”
Arina terlihat mengangguk.
“Siap Tuan Putri.”
...----------------...
...“Hai, semoga suka ya, bantu Like, koment dan Vote.”...