Arka kehilangan segalanya dalam satu malam ketika warung makan peninggalan almarhum orang tuanya dihancurkan oleh lintah darat dan kekasihnya meninggalkannya demi pria kaya yang sombong. Di ambang keputusasaan saat mencoba memasak seporsi nasi goreng terakhir di tengah puing-puing warungnya, sebuah suara mekanis misterius tiba-tiba bergema di dalam kepalanya. Berbekal Sistem Kuliner Sakti yang memberinya hadiah uang tunai dan keterampilan tingkat dewa setiap kali pelanggannya merasa puas, Arka memulai langkah balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Arka menuangkan sedikit minyak wijen ke dalam wajan yang sudah dipenuhi bumbu dasar aromatik tadi.
Pyar!
Ia memecahkan dua butir telur ayam kampung ke tepian wajan dan langsung mengaduknya dengan cepat hingga hancur merata.
Srenggg! Wushhh!
Arka membesarkan api kompor hingga lidah api menjilat bagian bawah wajan baja tersebut.
Ia melemparkan potongan daging ayam dan udang segar ke dalam campuran telur, lalu mengaduknya dengan gerakan melingkar yang cepat.
Laras yang tadinya sibuk melihat ponsel kini tertegun menatap pemuda penjual nasi goreng di depannya.
Gerakan tangan Arka sangat luwes, ritmis, dan terlihat sangat profesional seperti koki yang sedang melakukan pertunjukan di televisi.
"Sejak kapan penjual nasi goreng pinggir jalan punya teknik memasak sekeren ini?" Batin Laras dengan mata yang tidak berkedip menatap atraksi Arka.
Arka mengambil sepiring penuh nasi putih pandan wangi yang sudah didinginkan semalaman agar teksturnya pera dan tidak menggumpal.
Ia memasukkan nasi itu ke dalam wajan dan mulai mengayunkan wajan tersebut ke depan dan ke belakang dengan tenaga penuh.
Srak srak srak!
Nasi berterbangan di udara seolah menari bersama potongan udang dan telur sebelum jatuh kembali ke dalam wajan tanpa ada satu butir pun yang tumpah.
Arka menaburkan sedikit garam, lada putih, dan kecap manis premium secukupnya tanpa perlu menggunakan sendok takar.
Perasaannya sangat peka, ia tahu persis kapan setiap bumbu harus dimasukkan dan seberapa banyak takarannya.
Aroma nasi goreng yang sangat kuat, perpaduan antara gurihnya udang, manisnya kecap, dan wangi asap dari wajan baja atau wok hei, menyebar memenuhi udara pagi.
Laras menelan ludahnya kasar, tiba-tiba rasa laparnya meningkat berkali-kali lipat hingga membuatnya tidak sabar.
"Ini benar-benar penyiksaan pagi hari, wanginya terlalu enak." Laras bergumam pelan sambil menggigit bibir bawahnya.
Setelah tiga menit dimasak dengan suhu tinggi, Arka mematikan kompor dan menuangkan nasi goreng itu ke atas piring keramik putih bersih.
Ia menaburkan irisan daun bawang segar dan bawang merah goreng yang renyah di atas nasi goreng yang masih mengepulkan asap panas itu.
"Nasi Goreng Spesial ala Arka, silakan dinikmati selagi panas Kak." Arka meletakkan piring itu di atas meja tepat di depan Laras beserta sebuah sendok.
Laras menatap hidangan di depannya dengan mata berbinar-binar seperti melihat sebuah karya seni.
Setiap butir nasi terlapisi oleh bumbu dengan sempurna, warnanya cokelat keemasan, dan tidak ada genangan minyak berlebih di dasar piring.
Udang kemerahan dan telur kuning yang menyebar di antara butiran nasi membuat tampilannya sangat menggugah selera.
Laras mengambil sendok dan meniup pelan nasi goreng itu sebelum memasukkannya perlahan ke dalam mulutnya.
Nyam.
Begitu nasi goreng itu menyentuh lidahnya, mata Laras langsung membelalak lebar hingga hampir melotot.
Ledakan rasa gurih, manis, dan sedikit pedas berpadu dengan sempurna di dalam mulutnya tanpa ada satu rasa pun yang saling tumpang tindih.
Tekstur nasinya sangat pas, tidak terlalu keras tapi juga tidak lembek, dengan aroma asap khas wajan yang membuat rasanya semakin kaya.
Udangnya terasa sangat manis dan kenyal, menandakan bahwa bahan yang digunakan sangat segar dan kualitasnya terjamin.
"Ya ampun, apa-apaan rasa ini?" Laras berseru tanpa sadar dengan mulut yang masih mengunyah.
Ia merasa seolah sedang berdiri di tengah ladang padi keemasan yang ditiup angin sejuk di pagi hari, semua rasa lelah dan stres skripsinya tiba-tiba menguap begitu saja.
Tanpa mempedulikan citranya sebagai gadis yang anggun, Laras mulai menyuapkan nasi goreng itu dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Sendoknya terus bergerak tanpa henti dari piring ke mulutnya seolah ia takut makanan itu akan direbut orang lain.
Arka yang berdiri bersandar pada gerobaknya hanya bisa tersenyum puas melihat reaksi pelanggannya.
"Pelan-pelan Kak, nanti tersedak, minum dulu teh hangatnya." Arka menyodorkan segelas teh manis hangat yang sudah ia siapkan.
Namun Laras hanya mengangguk tanpa menghentikan kunyahannya sama sekali.
Dalam waktu kurang dari lima menit, piring keramik putih itu sudah bersih mengkilap tanpa menyisakan sebutir nasi pun.
Laras meminum teh hangatnya dalam sekali teguk lalu menghela napas panjang dengan raut wajah yang sangat bahagia dan rileks.
"Mas, ini nasi goreng paling enak yang pernah aku makan seumur hidupku!" Laras menatap Arka dengan tatapan kagum yang tulus.
"Terima kasih atas pujiannya Kak, saya senang kalau Kakak suka dengan masakan saya." Arka menundukkan kepalanya sedikit dengan rendah hati.
"Ini harganya berapa Mas? Seratus ribu juga aku bayar kalau rasanya semewah ini." Laras membuka tas kecilnya dan mengeluarkan dompet.
"Cukup dua puluh lima ribu saja Kak, harga standar warung tenda." Jawab Arka sambil tersenyum lebar.
"Dua puluh lima ribu? Mas ini mau jualan atau mau sedekah sih, murah banget!" Laras menggelengkan kepalanya tidak percaya.
Laras meletakkan selembar uang lima puluh ribu di atas meja dan berdiri dari kursinya.
"Kembaliannya ambil saja Mas, besok-besok aku pasti akan ajak teman-teman kampusku makan di sini." Laras melambaikan tangannya sambil berlari kecil melanjutkan perjalanannya dengan wajah ceria.
"Terima kasih banyak Kak, hati-hati di jalan!" Arka melambaikan tangannya membalas Laras.
Tepat saat Laras menjauh dari warung, suara mekanis yang ditunggu-tunggu oleh Arka akhirnya berbunyi di kepalanya.
[Ding!]
[Pelanggan Laras merasa Sangat Puas dengan hidangan Host!]
[Kemajuan Misi: 1/50]
[Host mendapatkan hadiah uang tunai langsung sebesar Rp. 250.000,- dan 1 Poin Kepuasan.]
Arka buru-buru merogoh saku celananya dan melihat layar ponselnya yang menyala.
Notifikasi dari aplikasi banknya muncul, menunjukkan adanya dana masuk sebesar dua ratus lima puluh ribu rupiah.
"Satu pelanggan memberikan dua ratus lima puluh ribu? Berarti kalau lima puluh pelanggan aku bisa dapat belasan juta rupiah hari ini!" Arka mengepalkan tangannya ke udara dengan penuh kegembiraan.
Ditambah lagi dengan hadiah utama misi sebesar lima puluh juta rupiah, hutangnya kepada Bos Boni bisa lunas malam ini juga.
Harapan yang semalam sempat hancur berkeping-keping kini mulai tersusun kembali menjadi pijakan yang kuat untuk masa depannya.
Namun kesenangan Arka tidak berlangsung lama karena ia menyadari satu masalah besar yang baru saja muncul.
"Tunggu dulu, kalau pelanggan tadi bawa rombongan temannya, di mana mereka harus duduk?" Arka menggaruk kepalanya yang tidak gatal melihat hanya ada satu meja yang tersisa.
Ia baru sadar bahwa memiliki rasa masakan tingkat dewa tidak akan maksimal jika fasilitas warungnya masih seperti kapal pecah akibat ulah preman suruhan Kevin semalam.
Arka harus segera mencari solusi agar sisa empat puluh sembilan pelanggan lainnya tidak kabur karena kehabisan tempat duduk.