Delapan tahun pernikahan membuat Naura rela mengorbankan segalanya demi keluarga. Ia melahirkan dua anak, meninggalkan kariernya, dan diam-diam membantu suaminya membangun kerajaan bisnis hingga menjadi konglomerat.
Namun setelah tubuh Naura berubah gemuk usai dua kali melahirkan, Erwin justru menganggapnya sebagai aib dan memilih wanita lain.
Diceraikan, dihina, bahkan dipisahkan dari anak-anaknya, Naura memilih bangkit daripada terus terpuruk. Ia kembali pada identitas yang selama ini disembunyikan sebagai pewaris keluarga kaya. Di saat yang sama, takdir mempertemukannya kembali dengan pria dari masa lalunya, yang membantunya mengubah hidup sekaligus mengembalikan tubuhnya menjadi sehat dan ideal.
Saat Erwin kehilangan semua yang dibanggakannya dan memohon agar Naura kembali, wanita itu hanya tersenyum dingin.
"Kau membuangku karena tubuhku gemuk setelah melahirkan kedua anakmu! Kini, kau akan kehilangan semua yang pernah kubangun untukmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab⁶
Mobil yang ditumpangi Naura melaju meninggalkan Lavendra Medical Center dengan tenang. Dari balik jendela, deretan gedung tinggi dan padatnya lalu lintas berlalu begitu saja, tetapi perhatian Naura sama sekali tidak tertuju ke luar.
Pikirannya hanya dipenuhi oleh dua wajah kecil yang sejak kemarin belum sempat ia peluk lagi. Putrinya yang selalu merengek agar rambutnya dikepang sebelum berangkat sekolah, dan putra bungsunya yang tak pernah bisa tidur jika tidak mendengar dongeng dari bibir sang ibu.
Baru sehari berpisah, tetapi kerinduan itu terasa begitu menyiksa.
"Mama pasti akan membawa kalian pulang." Naura mengepalkan jemarinya di atas paha.
Kakek Guntur yang duduk di sampingnya memperhatikan perubahan raut wajah cucunya. Beliau tahu persis apa yang sedang dipikirkan Naura.
"Kamu memikirkan kedua anakmu lagi?" tanyanya pelan.
Naura mengangguk tanpa menoleh. "Mereka satu-satunya alasan kenapa aku masih bisa berdiri sampai sekarang, Kek."
Suara wanita itu terdengar tenang, tetapi menyimpan tekad yang begitu kuat.
"Aku bisa menerima penghinaan Erwin, aku juga bisa menerima perceraian itu. Tapi aku tidak akan pernah menerima kalau kedua anakku direnggut dariku."
Mobil perlahan berhenti di lampu merah, Naura menarik napas panjang sebelum kembali berbicara. "Erwin mengira karena dia punya uang, dia pasti memenangkan hak asuh."
Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. "Sayangnya, dia terlalu meremehkanku."
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya kakek Guntur.
Naura membuka tasnya, lalu mengeluarkan sebuah flashdisk berwarna hitam.
"Aku sudah mempersiapkannya sejak lama."
"Sejak lama?" Kakek tampak sedikit terkejut.
"Delapan tahun aku hidup bersama Erwin, aku tahu persis seperti apa pekerjaannya. Dia hampir tidak pernah berada di rumah. Kalau anak-anak sakit, aku yang begadang. Kalau mereka harus imunisasi, aku yang mengantar. Kalau mereka demam tengah malam, aku yang menggendong mereka ke rumah sakit."
Naura menggenggam flashdisk itu lebih erat. "Semua bukti masih kusimpan. Ada foto, rekaman dan juga tagihan rumah sakit. Bahkan ada rekaman CCTV rumah yang menunjukkan siapa saja yang setiap hari mengurus kedua anak itu."
"Kamu sudah memikirkan semua ini?" Tatapan Kakek Guntur berubah kagum.
Naura menggeleng pelan. "Enggak, kek. Dulu aku menyimpannya hanya sebagai kenangan. Siapa sangka, sekarang semua itu justru menjadi senjataku."
Ia kembali menatap ke luar jendela. "Erwin ingin menang dengan uang, dan aku akan mengalahkannya dengan fakta. Dan aku... tidak akan kalah."
"Itu baru cucu keluarga Ardynata." Kakek Guntur tersenyum bangga.
...*****...
Di waktu yang sama...
Mansion Gentala justru berubah menjadi medan perang. Sejak pagi, kedua anak Erwin sama sekali tidak mau sarapan.
Putri sulungnya duduk memeluk tas sekolah sambil terus menatap ke arah pintu.
"Kapan Mama pulang?" Anak laki-laki yang baru berusia lima tahun menarik pelan lengan kakaknya.
Pertanyaan polos itu membuat mata sang kakak kembali berkaca-kaca. "Kakak juga nggak tahu, Dek. Tapi Mama pasti pulang. Iya, kan?"
Anak laki-laki itu mengangguk pelan meski wajahnya dipenuhi keraguan.
Saat itulah suara langkah sepatu hak tinggi terdengar mendekat.
Tak...
Tak...
Tak...
Davina muncul dengan gaun ketat berwarna krem dan riasan wajah yang sempurna, Ia melirik kedua anak itu sekilas.
"Kalian belum sarapan?"
Putri kecil Naura menggeleng. "Aku mau makan kalau Mama yang masak."
Wajah Davina langsung berubah kesal.
"Dengar ya! Mulai sekarang, gak ada lagi ibu kalian disini! Aku yang akan mengurus kalian."
Anak laki-laki itu langsung memeluk kakaknya. "Aku maunya Mama...“
"Jangan panggil ibu kalian terus!" Davina mulai kehilangan kesabaran.
Ia menarik napas panjang, berusaha mengingat pesan Erwin sebelum berangkat bekerja.
«'Tolong urus anak-anak dulu, aku ada rapat seharian.'»
"Oke, mulai sekarang kita harus akur." Davina tersenyum kaku, ia berusaha memaksakan diri jadi calon ibu sambung yang baik. "Ayo sarapan..."
"Aku tidak mau..." jawab gadis kecil itu lirih.
"Kenapa?"
"Mama selalu menemani kami makan. Kalau Mama nggak ada, makanannya gak enak."
Davina menggertakkan giginya.
Dulu Naura mengurus mereka bagaimana, sih? kok manja banget?! Dalam hati ia mulai merutuk.
Satu jam kemudian, Davina berhasil membujuk mereka makan. Meski sebenarnya, yang dimakan hanya dua sendok.
"Aku mau main." Putra kecil Erwin turun dari kursinya.
"Iya, main saja. Jangan ganggu Tante, ya." Davina mengangguk asal, wanita itu melangkah pergi ke arah salah satu kamar di rumah itu.
Kedua anak itu saling bertukar pandang, tatapan nakal perlahan muncul di wajah mereka.
"Kak, aku punya ide. Mama bilang, orang jahat harus diberi pelajaran." Bisik si adik.
Sang kakak tersenyum lebar, mereka saling tos pelan.
Davina sedang duduk di depan meja rias di kamar tamu, Ia menghela napas panjang sambil menyisir rambutnya.
"Akhirnya tenang juga."
Tok...
Tok...
Tok...
"Tante Davina..." Suara lembut putri Erwin terdengar dari luar.
"Ada apa?" Davina membuka pintu.
"Tante Davina cantik banget, deh."
Ucapan polos anak itu membuat Davina tersenyum puas. "Benarkah?"
"Iya, rambut Tante panjang sekali. Boleh aku sisir?"
Davina tertawa kecil, anak ini akhirnya sadar juga siapa yang lebih cantik.
"Boleh." Ia kembali duduk di depan cermin, sementara putri Naura berdiri di belakangnya sambil membawa sisir.
Namun di balik punggungnya, putri Naura juga menyembunyikan gunting kecil yang tadi diambil dari laci meja belajar.
Sret!
Sret!
Sret!
Beberapa helai rambut panjang langsung jatuh ke lantai. Davina masih belum sadar, sampai Ia melihat bayangan rambutnya di cermin.
"Hah?" Tangannya refleks meraba bagian belakang kepala, rambutnya pendek sebelah!
"AAAAAA!!"
Jeritan Davina menggema ke seluruh rumah, putri kecil itu langsung berlari keluar sambil tertawa.
“Awas kalian! Berhenti!"
Kedua bocah itu berlari menuju kamar mandi di ujung lorong, baru saja Davina tiba di depan pintu dan hendak menangkap mereka...
Brak!
Pintu kamar mandi terbuka.
Byuuur!
Satu ember penuh air bekas pel pelayan yang mereka siapkan di atas daun pintu langsung mengguyur tubuh Davina dari kepala hingga ujung kaki.
"AAAA....!!!!!"
Maskara hitam mengalir di pipi Davina, bedak mahalnya luntur. Lipstik merahnya berantakan, dan gaun krem yang baru dipakai pagi tadi kini basah kuyup.
Sementara di depan pintu, putra bungsu Naura tertawa sampai memegangi perut.
"Basah... Tante Davina basah! Horeeeee! Dia kena hujan di dalam rumah!"
Kedua kakak beradik itu tertawa begitu lepas.
Para pelayan yang melihat kejadian itu buru-buru menundukkan kepala, bahu mereka bergetar menahan tawa.
"Kurang ajar kalian berdua! Anak-anak nakal!" Davina benar-benar murka, Ia mengejar mereka sampai ruang keluarga.
Begitu berhasil menangkap putri sulung Erwin, emosi Davina benar-benar meledak.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi gadis kecil itu.
"Akh!" Gadis kecil bernama Laura itu memekik kesakitan saat pukulan tersebut mengenai pipinya.
"Huwaaaaa... jangan pukul Kakak! Tante jahat!" Sang adik, Lionel, yang melihat kakaknya dipukul langsung menangis ketakutan.
Lionel berusaha menarik tangan Davina, tapi wanita itu justru mendorongnya hingga bocah kecil itu terduduk di lantai.
Beberapa pelayan refleks melangkah maju untuk menghentikan Davina. Namun wanita itu langsung menatap mereka dengan sorot mata tajam.
"Jangan ada yang ikut campur! Kalau berani menghalangiku, kalian sendiri yang akan menanggung akibatnya!"
Tangisan keras kedua anak itu langsung memenuhi seluruh rumah, para pelayan saling berpandangan. Wajah mereka dipenuhi kecemasan. Ingin menolong, tetapi mereka takut kehilangan pekerjaan. Jadi, tak seorang pun berani melawan Davina.
Tepat pada saat itulah, suara mesin mobil Erwin terdengar memasuki halaman mansion. Pintu utama terbuka, pria itu melangkah masuk sambil masih membawa tas kerjanya. Belum sempat ia bertanya apa yang terjadi, dua sosok kecil langsung berlari memeluk kakinya sambil menangis tersedu-sedu.
"Papa... Tante Davina pukul Kakak... Adek juga didorong..."
Tangisan kedua anaknya membuat langkah Erwin membeku, perlahan ia mengangkat kepala. Di hadapannya berdiri Davina dengan rambut acak-acakan, sebagian tampak terpotong tidak rata. Gaun mahalnya basah, make-up di wajahnya luntur hingga sulit dikenali.
Namun tatapan Erwin justru tertuju pada bekas telapak tangan yang masih membekas jelas di pipi putrinya, sorot matanya seketika berubah dingin.
Suasana di rumah megah Gentala mendadak dipenuhi ketegangan. Dan sejak Naura pergi, Erwin mulai menyadari bahwa menjaga dua anak... ternyata bukanlah pekerjaan semudah yang selama ini ia bayangkan.
😂😂😂😂😂😂😂😂😂
jgn sampe syok yx klo udh inget ,,
seharusnya kamu nyadar diri sudahlah hidup numpang
mencuri perhatian orang Tua naura
sekarang mau apalagi
sinting emang🤭
toh kamu cuman mau naura saat langsing
orang sirik tanda nak mampus ,,
🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
😁😁😁😁😁😁😁
tu bukan cahaya ilahi naura ,,
tu cahaya harapan km ,,
cuma ketutup ma dokter yg km sebut iblis🤭🤭🤭🤭😂😂😂😂