Nial Percy—seorang CEO tampan dengan reputasi dingin, tertutup, dan selalu memegang kendali—tidak pernah melibatkan perasaan dalam hidupnya. Segalanya terukur. Hingga suatu malam, ia meminta satu hal pada orang kepercayaannya: Mencarikan seorang wanita dengan kriteria tertentu. Tanpa ikatan. Tanpa emosi. Untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Namun takdir menyelipkan sesuatu yang tak ia rencanakan. Queen Lexian Arresta—wanita cantik dari keluarga terpandang yang tengah terjebak dalam perjodohan yang menyesakkan—tanpa sengaja mendengar percakapan itu. Dan dalam satu keputusan yang berani sekaligus nekat, ia menawarkan dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noire 23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Nial masih bisa merasakan sisa-sisa panas dari mimpinya yang merambat di saraf, membuat setiap langkah yang ia ambil terasa berat.
Ia baru saja selesai berendam air hangat, mencoba meredakan ketegangan dibawah sana.
Sebelum benar - benar keluar, Nial membasuh wajahnya berkali - kali di wastafel kamar mandi, berharap bisa menghapus bayangan Queen yang berlutut di antara kakinya.
Mimpi itu adalah peringatan—bahwa benteng yang ia bangun untuk menjadi "pria baik-baik" sedang berada di ambang keruntuhan.
Tok. Tok.
Nial membeku. Suara ketukan pintu itu ringan, tapi efeknya seperti ledakan di telinganya.
"Nial? Kau sudah bangun? Aku ... aku membuatkan sesuatu di dapur." Suara Queen terdengar dari balik pintu. Agak ragu, tapi tetap terdengar manis—suara yang sama dengan yang merintih meminta "lolipop" dalam mimpinya.
Nial menggeram rendah. Ia menyambar kaos hitam polos dan celana panjang santai, memakainya secepat kilat sebelum membuka pintu.
Begitu pintu terbuka, sosok Queen berdiri di sana. Ia mengenakan dress rumahan soft yellow. Dress itu pas ditubuhnya, menutupi hanya pertengahan pahanya, memperlihatkan kaki jenjangnya yang mulus.
Rambutnya Queen diikat asal-asalan, menyisakan beberapa helai yang jatuh di lehernya.
Nial menelan ludah. Fokusnya mendadak tertuju pada bibir Queen yang kemerahan. Basah. Sama seperti di mimpi.
"Nial? Kau oke? Wajahmu ... agak merah," tanya Queen sambil memiringkan kepalanya.
"Aku ... ya," jawab Nial singkat, suaranya lebih serak dari biasanya. "Kau bilang kau ke dapur? Sejak kapan kau bisa masak?"
"Hanya pancake instan dan kopi." Queen tersenyum tipis, lalu berbalik menuju ruang makan.
Nial mengikuti dari belakang, matanya tak lepas dari punggung Queen. Saat sampai di dapur, Nial mendadak berhenti. Posisinya sekarang persis seperti di mimpinya: Queen berdiri di depan meja marmer, membelakanginya sambil menuangkan kopi.
"Queen," panggil Nial rendah.
"Ya?" Queen berbalik, memegang dua cangkir kopi.
"Lain kali, tidak perlu repot - repot masuk ke dapur," ucap Nial, suaranya terdengar kaku, bahkan bagi telinganya sendiri.
Queen menaikkan sebelah alisnya, tampak bingung sambil tetap memegang dua cangkir kopi yang masih mengepul. "Kenapa? Kau tidak suka aku menyentuh dapurmu?"
Nial mengalihkan pandangannya ke arah jendela, berusaha keras tidak menatap lekuk tubuh Queen yang dibalut dress soft yellow itu. "Maksudku, biarkan pelayan yang membuatkan sarapan. Lagipula, semalam aku bilang aku ingin sarapan di kamar."
Queen terdiam sejenak, lalu senyum lebarnya terkembang. Ia menepuk dahinya pelan. "Astaga, maaf aku lupa!"
Tanpa aba - aba, Queen melangkah maju dan melingkarkan lengannya di leher Nial dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu pria itu. "Jadi, haruskah kita kembali ke kamar dan sarapan di sana? Aku bisa membawakan nampannya jika kau mau."
"Shit!" Nial mengumpat habis-habisan dalam hati.
Ia bingung kenapa dirinya jadi gampang sekali terpancing.
Rahang Nial mengeras hingga urat di lehernya menonjol. Sentuhan lembut itu—tekanan tubuh Queen di punggungnya—membuat bayangan liar di mimpinya kembali berputar seperti kaset rusak.
"Queen, lepaskan," geram Nial rendah, tangannya mencengkeram pinggiran meja marmer hingga buku jarinya memutih.
"Kenapa?" Queen justru mempererat pelukannya, sama sekali tidak menyadari bahwa ia sedang bermain dengan singa yang lapar. "Kau masih marah karena kejadian di bawah meja restoran kemarin? Aku kan sudah minta maaf."
Nial memutar tubuhnya dengan cepat, membuat pelukan Queen terlepas. Sebelum wanita itu sempat mundur, Nial sudah mengurungnya di antara kedua lengannya yang kekar, menekan Queen hingga punggung wanita itu membentur pinggiran meja marmer.
"Kau tidak tahu apa yang sedang kau lakukan." Nial menunduk, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Queen. Suaranya serak dan berbahaya.
Queen mengerjap, napasnya tertahan melihat binar gelap di mata Nial. "Aku hanya ... menawarkan sarapan di kamar, seperti maumu."
"Di kamar, hanya ada aku, kau, dan sebuah ranjang, Queen," desis Nial. Matanya turun menatap bibir Queen yang basah, lalu kembali ke mata wanita itu. "Jika kita kembali ke sana sekarang, aku tidak menjamin kita akan sempat menyentuh pancake buatanmu itu."
Wajah Queen merona merah sempurna. Ia bisa merasakan hawa panas yang memancar dari tubuh Nial. "Nial, aku—"
"Jangan memancingku, sayang," potong Nial sambil menarik helai rambut di leher Queen, menghirup aromanya dalam-dalam. "Aku sedang berusaha mati-matian menjadi 'pria baik-baik' hari ini agar kakakmu tidak mengirim pasukan ke sini. Tapi kalau kau terus menempel seperti itu..."
Nial menjeda kalimatnya, memberikan tatapan yang sanggup membuat lutut Queen lemas. "Sarapan di kamar adalah ide yang sangat buruk untuk kewarasanku."
Queen menelan ludah dengan susah payah, jantungnya berdegup kencang melawan dada bidang Nial. "O-oke. Kita sarapan di sini saja. Di meja ini. Sangat aman."
Nial menyeringai tipis, sebuah seringai yang tidak memberikan rasa aman sedikit pun. Ia melepaskan kurungannya, namun tetap berdiri cukup dekat untuk membuat Queen merasa terintimidasi.
"Bagus. Duduklah. Sebelum aku berubah pikiran dan benar-benar membawamu kembali ke atas," ucap Nial sambil mengambil salah satu cangkir kopi, menyesapnya untuk menyamarkan gejolak yang masih berdenyut di bawah sana.
Setelah sarapan, Nial dan Queen naik ke balkon penthouse untuk sekadar bersantai. Menara Eiffel berdiri megah di kejauhan, membelah cakrawala yang biru bersih. Namun, perhatian Queen sama sekali tidak tertuju pada ikon kota tersebut.
Matanya justru terpaku pada sosok pria yang duduk di kursi santai beberapa meter darinya. Nial sengaja menjaga jarak, memilih sudut balkon yang terkena sinar matahari langsung untuk merokok.
Ia duduk bersandar, membiarkan tubuh bagian atasnya yang tanpa busana terpapar panas matahari.
Queen menelan ludah tanpa sadar. Guratan otot perut Nial yang kering dan keras bergerak setiap kali pria itu menarik napas.
"Sial, dia benar-benar definisi dari kata sempurna," batin Queen.
Ia segera menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran - pikiran nakal yang mulai melayang liar.
"Fokus, Queen! Jangan jadi wanita mesum di pagi hari."
Untuk meredam rasa kagumnya yang mulai terasa aneh, Queen berdehem kecil, mencoba mencairkan suasana yang sejak tadi terasa tegang secara kasatmata.
"Nial?"
Nial mengembuskan asap rokoknya ke udara, lalu perlahan melepas kacamata hitamnya. Ia menoleh sedikit, menatap Queen dengan mata elang yang tajam. "Hm?"
"Cuacanya sangat panas. Bagaimana kalau kita berenang di kolam bawah?" tanya Queen sambil menunjuk kolam renang private yang airnya tampak sangat mengundang. "Sepertinya akan sangat segar."
Nial terdiam. Pertanyaan itu seolah menjadi palu godam yang menghantam sisa - sisa kewarasannya. Otaknya secara otomatis melakukan travelling ke skenario berbahaya; membayangkan Queen dalam balutan baju renang tipis, kulitnya yang basah bersentuhan dengannya di dalam air yang tenang, dan hanya ada mereka berdua tanpa gangguan.
"Sama saja bunuh diri," batin Nial.
Kolam renang privat itu terlalu intim, terlalu merangsang insting predatornya yang sedang ia ikat kuat-kuat sejak mimpi sialan tadi malam.
Nial mematikan rokoknya di asbak marmer, lalu berdiri. Ia memakai kembali kacamata hitamnya seolah ingin menyembunyikan tatapan laparnya.
"Kau suka pantai?"
Queen mengerjap, sedikit bingung dengan pengalihan itu. "Pantai? Ya, aku suka. Tapi bukankah kolam renang lebih dekat?"
"Kita ke pantai," putus Nial mutlak, tidak memberi ruang untuk perdebatan. "Banyak orang di sana, udaranya lebih terbuka. Aku butuh suasana yang tidak terlalu ... sempit."
Queen mengerucutkan bibirnya. "Kau aneh sekali hari ini. Tadi melarangku ke dapur, sekarang menolak berenang di rumah sendiri."
Nial tidak membalas. Ia hanya tersenyum tipis seolah berkata pada Queen bahwa ia sedang mencoba menyelamatkan wanita itu.
Nial mengusap pipi Queen sekilas dengan punggung tangannya yang hangat. "Siapkan pakaianmu. Kita berangkat sepuluh menit lagi. Dan pilih baju yang ... tidak terlalu terbuka,"
Tanpa menunggu balasan, Nial berjalan masuk ke dalam kamar.
Queen menyipitkan mata, menatap punggung pria itu sambil bergumam. "Ada apa dengannya?"
•••
Beach Club & Bar
Musik house bertempo rendah menyatu dengan suara ombak. Nial memilih meja paling ujung, mencoba mencari jarak dari keramaian, namun tetap di tempat terbuka.
"Pelayan!" panggil Nial saat mereka baru saja duduk. "Bawakan satu mocktail buah paling segar untuknya. Pastikan tidak ada setetes pun alkohol di dalamnya."
"Nial! Aku ingin mencoba cocktail yang itu," protes Queen sambil menunjuk menu.
"Tidak. Minum saja jusmu," sahut Nial datar.
"Kenapa kau jadi mengatur begitu? Aku sudah dewasa!"
"Karena aku sedang mencoba menjagamu—dan menjaga diriku sendiri—dari kejadian yang memalukan, Queen. Minum saja."
Perdebatan mereka terhenti saat sebuah suara cempreng memanggil dari arah bar.
"Queen?! Demi apa kau ada di sini?!"
Queen menoleh, matanya berbinar. "Clarisse? Kayden?"
Sepupu - sepupu Queen itu mendekat dengan heboh. Clarisse sempat mematung saat melihat siapa pria yang duduk di samping sepupunya.
"P-percy? Kau bersama Nial Percy?" bisiknya. Clarisse tahu betul bagaimana sejarah pria ini dan sepupunya setahun lalu.
Queen hanya mengangguk tipis.
Kayden justru tertawa lebar, penuh seringai jahil. Ia menepuk bahu pria tampan yang bersamanya. "Lihat siapa yang kita temukan di sini, Rexi! Dunia sempit sekali, ya?"
Pria bernama Rexi itu tersenyum ramah, matanya menatap Queen dengan binar yang sangat tidak disukai Nial. "Halo, Queen. Lama tidak melihatmu sejak acara di London."
"Rexi! Kau juga di sini?" Queen tersenyum lebar.
"Oh, tentu saja," Kayden menyela sambil menyikut Rexi. "Queen, kau ingat tidak? Dulu kakek hampir saja menjodohkanmu dengan Rexi. Katanya kalian ditakdirkan bersama karena nama tengah kalian mirip. Lexian dan Rexian. Lexi dan Rexi. Lucu, kan?"
"Ah, masa-masa itu," Rexi terkekeh, matanya tidak lepas dari wajah Queen. "Aku sih tidak keberatan kalau perjodohan itu dilanjutkan sekarang. Bagaimana, Queen? Nama kita masih terdengar serasi, kan?"
Nial mencengkeram gelasnya hingga buku-buku jarinya memutih. Suasana hangat di meja itu mendadak drop beberapa derajat saat Nial meletakkan gelasnya dengan dentuman keras ke meja.
Tawa Kayden pun terhenti seketika.
Rexi, yang tampaknya belum menyadari bahwa ia sedang melangkah di atas ladang ranjau, justru mengulurkan tangannya ke arah Nial dengan senyum percaya diri.
"Halo, Aku Rexi. Teman masa kecil Queen—atau mungkin calon masa depannya jika kakek kami masih punya kuasa," Rexi mengatakannya dengan nada bercanda yang penuh provokasi.
Ia menarik tangannya kembali saat Nial hanya menatapnya tanpa minat. "Dan kau ... kau siapanya Queen?"
Clarisse menahan napas. Ia tahu dari cerita Queen bahwa Nial adalah pria yang amat dominan dan posesif.
Sedangkan Kayden mendadak bungkam. Mereka semua menunggu jawaban dari pria yang dikenal dengan julukan The Ice King tersebut.
Nial tidak langsung menjawab. Ia justru menatap Rexi dengan binar mata yang gelap dan tajam, seolah sedang melihat serangga yang mengganggu tidurnya.
"Siapa aku?" Nial mengulang pertanyaan itu dengan suara bariton yang rendah.
Tanpa aba-aba dan tanpa peringatan apa pun, Nial menarik tengkuk Queen dengan satu tangan, memaksa wanita itu menghadapnya. Sebelum Queen sempat memproses apa yang terjadi, Nial sudah mendaratkan bibirnya di atas bibir Queen.
Cup.
"Hmpph!"
Nial melumat bibir Queen dengan dominasi yang telak, bahkan sengaja menghisap bibir bawah wanita itu dengan tekanan yang dalam dan panas—sebuah klaim posesif yang dilakukan tepat di depan mata para sepupunya.
Queen terkesiap, jemarinya meremas kemeja Nial karena terkejut, namun Nial tidak melepaskannya sampai ia merasa pesannya tersampaikan dengan sempurna.
Saat Nial akhirnya menarik diri, ia meninggalkan bibir Queen yang sedikit bengkak dan kemerahan. Pria itu kemudian menoleh ke arah Rexi, Kayden, dan Clarisse yang kini mematung seperti patung lilin dengan mulut setengah terbuka.
"Menurutmu..." Nial mengusap sudut bibirnya dengan ibu jari. "Apa hubunganku dengannya setelah apa yang kau lihat barusan?"
Rexi menelan ludah dengan susah payah. Keberaniannya menguap entah ke mana saat melihat tatapan predator milik Nial.
"Maaf, aku ... aku tidak tahu kalau kalian—" gagap Rexi.
"Sekarang kau tahu," potong Nial dingin. Ia berdiri, lalu menarik tangan Queen agar ikut bangkit bersamanya. "Habiskan waktumu dengan Kayden, Rexian. Karena mulai detik ini, bahkan untuk menyebut nama kekasihku saja, kau tidak punya izin dariku."
Nial melirik Queen yang masih termangu dengan wajah merah padam. "Ayo pergi. Tempat ini mendadak terlalu ramai oleh orang-orang yang punya ingatan buruk tentang masa lalu."
Kayden dan Clarisse hanya bisa menepi saat Nial menuntun—atau lebih tepatnya menyeret—Queen pergi meninggalkan beach club tersebut.
lanjut thor😄👍makin seru liat nial🥰