Hezlin terjebak dalam pernikahan bisnis dengan Garra Xaverius Kingston, menggantikan Felicia, wanita yang meninggalkannya demi karier. Selama empat tahun, Hezlin perlahan jatuh cinta, meski tahu dirinya hanya pengganti.
Saat Felicia kembali, Hezlin memilih pergi. Ia meminta cerai, yakin Garra akan kembali pada cinta lamanya. Namun keputusan itu justru mengguncang Garra, yang baru menyadari bahwa kehilangan Hezlin lebih menyakitkan dari yang ia kira.
Di antara masa lalu dan perasaan yang tak terucap, keduanya dihadapkan pada satu pilihan: berpisah… atau memperjuangkan cinta yang terlambat disadari.
"Aku ingin kita bercerai," -Hezlin Rayla Iyzebelle.
"Apa yang selama ini tidak cukup membuatmu tetap berada di sisiku?" -Garra Xaverius Kingston.
"Nyonya, Tuan tidak mau bercerai!" -Ervan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33 ~ Apa Yang Kamu Dapatkan?
"Cium aku."
Mata Hezlin langsung membulat. "Garra! Jangan memanfaatkan keadaan!"
Alih-alih merasa bersalah, Garra justru menarik senyum tipis. "Kalau begitu, akan aku anggap ciuman itu sebagai hutang."
Hezlin tertegun. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan cara berpikir pria di hadapannya.
Tanpa melanjutkan pembicaraan itu, Garra merogoh saku jasnya. Ia mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam dengan logo perusahaan di sudutnya, lalu menyodorkannya kepada Hezlin.
"Pegang."
Hezlin menatap kartu itu sesaat, tetapi tidak segera menerimanya.
"Untuk apa?"
"Gunakan kalau kamu membutuhkan sesuatu."
Hezlin menggeleng pelan.
"Aku masih punya uang."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa memberikannya padaku?"
Tatapan Garra melembut. "Aku tidak suka melihat istriku harus berpikir dua kali hanya karena ingin membeli sesuatu."
Hezlin tetap tidak bergerak. "Aku tidak idak bisa menerimanya."
"Bisa." Garra meraih tangan Hezlin, lalu menyelipkan kartu hitam itu ke dalam genggamannya.
"Anggap saja ini salah satu tanggung jawabku sebagai suami."
Hezlin menunduk menatap kartu di tangannya. Entah mengapa, benda kecil itu justru terasa begitu berat untuk diterima. Ia menatap kartu hitam itu beberapa saat sebelum akhirnya memasukkannya ke dalam tas.
"Sore nanti aku ingin bertemu Rachel, jadi kamu tidak perlu menjemputku di kantor."
Garra mengangguk pelan, seolah tidak mempermasalahkannya.
"Hm. Kalau begitu, kirimkan lokasi tempat kalian bertemu. Aku akan menjemputmu di sana."
Hezlin memejamkan mata sejenak. Ia tahu Garra bermaksud baik, tetapi perhatian pria itu justru membuatnya merasa semakin sulit menjaga jarak.
"Garra..."
"Hm?"
"Bisakah kamu memberiku sedikit ruang untuk sendiri?"
Suasana di dalam mobil mendadak hening.
Tatapan Garra yang semula tenang perlahan berubah sendu. "Apa keberadaanku membuatmu tidak nyaman?"
"Bukan begitu."
"Lalu?"
Hezlin menggigit bibir bawahnya sebelum menjawab. "Aku hanya... butuh waktu."
"Waktu untuk apa?"
"Untuk menata pikiranku."
Garra terdiam cukup lama. Rahangnya mengeras, tetapi ia tidak memaksa. "Baik."
Jawaban singkat itu justru membuat Hezlin terkejut. Dia merasa akhir-akhir Garra lebih banyak mengalah dan menghindari perdebatan diantara mereka.
"Aku akan memberimu ruang." Garra menatap lurus ke depan. "Tapi bukan berarti aku akan melepaskanmu lagi."
Ucapan itu membuat dada Hezlin berdebar pelan. Ia tidak tahu harus merasa lega atau justru semakin gelisah.
Beberapa detik kemudian, Garra kembali menoleh kepadanya.
"Kalau sudah selesai bertemu Rachel, telepon aku."
Hezlin mengangguk pelan.
"Baik."
••
••
Beberapa hari terakhir, Felicia diam-diam memperhatikan kebiasaan Garra yang mulai berubah.
Entah sejak kapan, pria itu lebih sering membawa mobilnya sendiri ke kantor daripada dijemput oleh Ervan seperti biasanya.
Awalnya Felicia menganggap itu bukan sesuatu yang perlu dipikirkan. Namun, kebiasaan itu terus berulang setiap hari.
Bukan hanya saat berangkat, Garra juga selalu meninggalkan kantor tepat waktu, seolah memiliki seseorang yang harus ia temui.
Rasa penasaran Felicia perlahan berubah menjadi kecurigaan.
"Sepertinya Garra sedang menyembunyikan sesuatu?" gumamnya pelan.
Tanpa sadar, pandangannya mengikuti langkah Garra yang baru saja masuk ke ruang CEO sambil membawa kunci mobil di tangannya.
"Aku harus mencari tahu secepatnya." bisiknya pelan penuh ambisi.
••
••
Sore harinya, Rachel sudah lebih dulu tiba di restoran yang telah mereka sepakati. Di hadapannya telah tersaji segelas minuman dingin dan beberapa camilan ringan. Sembari menunggu, gadis itu menghabiskan waktu dengan memainkan ponselnya.
Tak lama kemudian, Hezlin muncul di ambang pintu restoran.
"Maaf, aku terlambat."
Rachel langsung mengangkat wajahnya dan tersenyum.
"Tidak masalah. Aku juga belum lama sampai."
Hezlin menarik kursi di hadapan Rachel, lalu duduk.
"Lagipula," lanjut Rachel sambil menyandarkan dagunya pada telapak tangan, "kenapa kamu tidak mengizinkanku menjemputmu di depan kantor? Kita kan bisa langsung datang ke sini bersama."
Hezlin tersenyum kecil.
"Tidak perlu."
"Kenapa?"
"Kalau kamu menungguku, aku malah tidak akan bisa menyelesaikan pekerjaanku dengan baik. Karena aku akan terus kepikiran kalau ada seseorang yang sedang menungguku." jawab Hezlin jujur.
Rachel langsung menggeleng sambil tertawa kecil.
"Dasar. Kamu ini masih sama seperti dulu."
Suasana di antara keduanya pun kembali terasa hangat, seolah waktu tidak pernah memisahkan persahabatan mereka.
"Jadi," Rachel menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi sambil menatap sahabatnya lekat, "apa yang ingin kamu ceritakan padaku?"
Hezlin terdiam beberapa saat. Jemarinya saling bertaut di atas meja, seolah sedang mengumpulkan keberanian.
Rachel memperhatikan perubahan raut wajah sahabatnya itu, lalu menyipitkan mata.
"Apa ini ada hubungannya dengan Garra?"
Hezlin mengangguk pelan.
"Sudah kuduga!" Rachel langsung meletakkan gelasnya dengan sedikit keras. "Apa lagi yang dia lakukan? Biar aku saja yang menghajarnya nanti!"
"Rachel, hentikan."
Hezlin buru-buru menenangkan sahabatnya.
"Dia tidak melakukan apa-apa."
"Lalu kenapa wajahmu seperti itu?" Rachel mengernyit. "Jangan bilang dia mengancammu lagi."
"Bukan."
"Lalu?"
Hezlin menarik napas panjang.
"Sebenarnya... Garra sudah menarik surat gugatan perceraiannya."
Rachel terdiam. Mencoba bersabar mendengarkan sampai Hezlin benar-benar selesai.
"Dan sekarang..." suara Hezlin semakin pelan, "aku sedang hamil."
"APA?!"
Mata Rachel membelalak lebar. Ia sampai refleks berdiri dari kursinya hingga beberapa pengunjung restoran menoleh ke arah mereka.
"Kamu hamil?"
Hezlin mengangguk pelan.
Rachel buru-buru kembali duduk, lalu meraih kedua tangan Hezlin. "Tunggu... jadi selama ini kamu menyembunyikan kabar sebesar ini dariku?"
Hezlin tersenyum kecut. "Aku sendiri juga baru mengetahuinya beberapa hari yang lalu."
Rachel masih tampak sulit memercayai apa yang baru saja didengarnya.
"Astaga... jadi sekarang kamu dan Garra..."
"Itulah yang membuatku bingung." Hezlin menundukkan pandangannya.
"Aku tidak tahu harus bagaimana. Awalnya aku yakin kami akan tetap bercerai setelah semuanya selesai. Tapi sekarang... semuanya berubah begitu cepat."
Rachel terdiam. Kali ini ia tidak lagi menyela. Ia memilih mendengarkan, menyadari bahwa sahabatnya benar-benar sedang berada di persimpangan yang sulit.
Rachel mengembuskan napas panjang, berusaha mencerna semua yang baru saja didengarnya.
"Jadi... Garra tahu kalau kamu hamil?"
Hezlin mengangguk pelan. "Dia tahu."
"Dan karena itu dia membatalkan perceraian?"
"Itu yang kupikirkan."
Rachel terdiam sejenak sebelum menatap Hezlin dengan serius. "Kalau begitu, apa yang sebenarnya kamu inginkan?"
Pertanyaan itu membuat Hezlin membisu. Ia menggigit bibir bawahnya. Selama beberapa hari terakhir, ia terlalu sibuk memikirkan sikap Garra hingga lupa bertanya pada dirinya sendiri.
"Aku juga tidak tahu."
Rachel menghela napas pelan.
"Hezlin, jangan mengambil keputusan hanya karena merasa kasihan atau terpaksa."
"Aku tahu."
"Dan jangan juga bertahan hanya demi anak."
Hezlin mengangkat wajahnya.
"Kalau Garra benar-benar berubah, biarkan dia membuktikannya. Tapi kalau ternyata semua ini hanya karena dia merasa bertanggung jawab terhadap anak itu, cepat atau lambat kalian akan kembali terluka."
Hezlin menunduk. Ucapan Rachel tidak sepenuhnya salah. Itulah yang sejak awal membuatnya gelisah.
"Aku juga memikirkan hal yang sama."
Rachel menggenggam tangan sahabatnya. "Kalau begitu, jangan terburu-buru memberikan jawaban. Biarkan waktu yang menjawab. Kalau Garra memang mencintaimu, dia akan tetap bertahan bahkan tanpa harus diminta."
Hezlin tersenyum tipis.
"Aku harap begitu."
Jauh di dalam hatinya, ia juga menginginkan hal yang sama. Ia hanya ingin dicintai sebagai Hezlin, bukan semata-mata karena kini ia mengandung anak Garra.
Tak terasa, hampir dua jam berlalu sejak mereka mulai berbincang. Banyak hal yang mereka ceritakan, Hingga tanpa sadar langit di luar restoran pun mulai menggelap.
Hezlin melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, lalu perlahan berdiri.
"Sepertinya aku harus pulang."
Rachel ikut bangkit dari kursinya. "Aku antar."
Hezlin menggeleng sambil tersenyum tipis. "Tidak perlu. Aku sudah memesan taksi. Sebentar lagi sampai."
Rachel mengembuskan napas pelan. Meski masih ingin memastikan sahabatnya baik-baik saja, ia memilih menghormati keputusan Hezlin.
"Baiklah. Hati-hati."
"Hm."
Hezlin melambaikan tangan kecil sebelum melangkah keluar dari restoran.
Rachel memperhatikan kepergian sahabatnya hingga sosok itu benar-benar menghilang dari pandangan. Barulah ia berjalan menuju area parkir.
Sesampainya di mobil, Rachel membuka pintu kursi pengemudi dan masuk ke dalam.
Namun, ia tidak sendirian. Seorang pria telah duduk tenang di kursi penumpang depan, seolah memang sudah menunggunya sejak tadi.
Rachel menoleh sekilas.
"Jadi? Apa yang kamu dapatkan?"
•
•
❤️
ayo lawan..💪
Kita disuguhi pergulatan batin yang nyata di mana cinta yang seharusnya menjadi pelindung, justru sempat menjadi sumber luka karena ketidaksabaran untuk saling mendengar. Namun di balik semua pertengkaran, diam, dan rasa sakit, terlihat jelas bahwa ikatan mereka tak pernah benar-benar putus.