Nial Percy—seorang CEO tampan dengan reputasi dingin, tertutup, dan selalu memegang kendali—tidak pernah melibatkan perasaan dalam hidupnya. Segalanya terukur. Hingga suatu malam, ia meminta satu hal pada orang kepercayaannya: Mencarikan seorang wanita dengan kriteria tertentu. Tanpa ikatan. Tanpa emosi. Untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Namun takdir menyelipkan sesuatu yang tak ia rencanakan. Queen Lexian Arresta—wanita cantik dari keluarga terpandang yang tengah terjebak dalam perjodohan yang menyesakkan—tanpa sengaja mendengar percakapan itu. Dan dalam satu keputusan yang berani sekaligus nekat, ia menawarkan dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noire 23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Ketegangan yang tadinya memuncak di dalam kamar mandi itu mendadak surut, menyisakan keheningan yang menyesakkan.
Nial masih menghimpit tubuh Queen, namun saat ia melihat setitik air mata jatuh membasahi pipi wanita itu, gerakannya terkunci.
"Tolong..." suara Queen keluar dengan getaran yang sangat tipis, hampir seperti bisikan putus asa. "Jangan memaksaku, Nial."
Kata - kata itu menghantam Nial lebih keras daripada tamparan fisik mana pun. Ia tertegun. Genggamannya pada pergelangan tangan Queen perlahan melonggar, lalu ia menarik tangannya kembali seolah baru saja menyentuh api yang panas.
Nial mundur dua langkah. Ia menatap Queen yang kini menyandarkan punggungnya di pintu dengan napas pendek.
Seberapa besar pun gairah yang membakar Nial saat ini, seberapa haus pun ia akan sentuhan Queen setelah setahun pencariannya, ia tidak akan melakukannya.
Nial Percy memiliki ego yang setinggi langit dan sifat yang dominan, namun ia bukan tipe pria rendah yang akan memaksa seorang wanita untuk melayaninya. Baginya, penaklukan tanpa kerelaan adalah sebuah penghinaan terhadap harga dirinya sendiri.
"Aku tidak akan memaksamu," ucap Nial. "Aku memang brengsek, tapi aku tidak serendah itu."
Nial memutar tubuhnya, membelakangi Queen agar ia tidak perlu melihat kerapuhan wanita itu yang hanya akan membuatnya semakin merasa bersalah. Ia mengembuskan napas panjang, mencoba menormalkan detak jantungnya yang masih berpacu liar.
"Mandi dan tenangkan dirimu," lanjut Nial tanpa menoleh. "Aku akan menunggu di luar. Kau aman."
Dengan gerakan yang jauh lebih tenang, Nial membuka kunci pintu kamar mandi dan melangkah keluar. Ia menutup pintu itu dengan sangat pelan, memberikan privasi yang sangat dibutuhkan Queen.
Nial kini berdiri di ruang tamu, merapikan jasnya yang sedikit berantakan. Ia baru saja akan menuju dapur untuk mengambil air minum saat pintu salah satu kamar terbuka.
Seorang pria bertelanjang dada dengan rambut acak-acakkan keluar sambil menguap lebar.
"Queen? Kau berisik sekali, aku sedang—"
Langkah pria itu terhenti. Ia mematung saat melihat sosok pria asing yang tampak sangat berkuasa berdiri di tengah apartemen sepupunya.
Nial menyipitkan mata. Ia menatap pria itu, lalu melirik foto raksasa yang menempel di dinding.
"Siapa kau?"
Pertanyaan itu terlontar secara bersamaan, membelah kesunyian ruang tamu yang tegang. Nial dan Kayden saling mengunci pandangan dengan intensitas yang berbeda; Nial dengan tatapan predator yang menguliti, sementara Kayden dengan kerutan dahi penuh kebingungan.
Kayden mendengus, ia sedikit membenarkan posisinya dan berkacak pinggang. "Seharusnya aku yang bertanya. Kau berdiri di tengah ruang apartemenku dengan setelan jas mahal. Siapa kau? Perampok? Tidak mungkin, kau kelihatan kaya."
Nial tidak memedulikan sindiran itu. Ia mengabaikan basa-basi, auranya tetap dingin dan mendominasi saat ia melangkah satu langkah lebih maju. "Ada hubungan apa kau dengan Queen?"
Kayden menaikkan sebelah alisnya, ia melirik foto raksasanya sendiri di dinding, lalu kembali menatap Nial dengan seringai tipis. "Kenapa kau ingin tahu?"
•••
Cklek.
Pintu kamar mandi terbuka. Queen melangkah keluar dengan rambut yang masih lembap dan sebuah kimono mandi dengan motif elegan.
Ia sudah menyiapkan mental untuk kembali berhadapan dengan Nial, atau mungkin melerai perkelahian antara pria itu dengan Kayden.
Namun, langkahnya terhenti saat ia sampai di ruang tengah.
Hening.
"Apa dia benar-benar pergi?" batin Queen dengan perasaan campur aduk.
Namun, saat ia melangkah lebih dalam ke ruang tengah, ia melihat pintu balkon yang sedikit terbuka. Di sana, di bawah temaram cahaya lampu kota, Nial berdiri membelakanginya dengan satu tangan di saku celana dan tangan lainnya menempelkan ponsel di telinga.
Queen terdiam di tempat. Ia berniat untuk segera mengusir pria itu, namun langkahnya tertahan saat mendengar nada bicara Nial yang terdengar sangat rendah dan intens—jenis suara yang jarang Nial gunakan untuk urusan bisnis biasa.
"Aku tahu," ucap Nial, suaranya terbawa angin malam masuk ke telinga Queen. "Sabar sedikit, Britania. Aku akan menemuimu secepatnya setelah urusanku di sini selesai."
Deg.
Queen merasa seolah ada sebongkah es yang dijatuhkan tepat ke dalam perutnya. Britania. Nama itu terdengar begitu elegan, begitu cantik, dan cara Nial menyebutnya ... penuh dengan kelembutan yang menyakitkan.
Queen tertawa pahit dalam diam. Air mata yang tadi sempat kering kini terasa ingin mendesak keluar lagi.
"Bodoh sekali!" maki Queen pada dirinya sendiri. Kau pikir dia mencarimu setahun ini karena dia benar - benar menginginkanmu? Sadarlah Queen, dia hanya sedang mampir sebelum kembali pada wanitanya.
Saat Queen hendak berbalik dengan hati yang terasa remuk, pantulan bayangannya di kaca balkon tertangkap oleh mata tajam Nial. Pria itu segera mengakhiri panggilan dengan cepat dan memasukkan ponselnya ke saku.
"Sudah selesai mandinya?" tanya Nial sambil melangkah masuk ke dalam ruangan. Suaranya kembali datar, seolah percakapan dengan 'Britania' tadi tidak pernah terjadi.
Queen tidak menoleh. Ia berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air, punggungnya menegang kaku.
"Kau tidak buta, kan?" jawab Queen ketus. Nada suaranya dingin, sarat akan kemarahan yang coba ia sembunyikan di balik sikap apatis.
Nial menghentikan langkahnya, alisnya bertaut melihat perubahan sikap Queen yang mendadak menjadi lebih berduri dari sebelumnya. "Kenapa ketus sekali? Apa air hangatnya tidak cukup untuk mendinginkan pikiranmu?"
"Pikiranku sangat jernih, Tuan Percy," Queen berbalik, menatap Nial dengan tatapan tajam. "Begitu jernih hingga aku sadar bahwa kau seharusnya tidak berada di sini. Bukankah kau punya janji yang sangat penting dengan seseorang bernama Britania? Pergilah menemuinya dan berhenti membuang waktu di apartemenku."
Nial tertegun sejenak. Ia menatap Queen dengan pandangan yang sulit diartikan, sebelum akhirnya sebuah seringai tipis muncul di sudut bibirnya.
"Kau menguping?" tanya Nial. Ia melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka hingga Queen terpaksa bersandar pada konter dapur. "Dan kau ... cemburu pada Britania?"
"Cemburu? Jangan konyol!" Queen mendengus, meski jantungnya berkhianat dengan detakan yang menggila. "Aku hanya muak melihat kemunafikanmu. Kau mengejarku, mengurungku di kamar, bahkan menendang sepatu orang lain, sementara kau punya wanita lain yang menunggumu? Kau benar-benar memuakkan."
Nial tertawa rendah, sebuah suara bas yang terdengar sangat seksi namun membuat Queen ingin sekali melemparnya dengan gelas. Pria itu menangkup konter dapur dengan kedua tangannya, mengunci Queen dalam kungkungannya.
"Britania itu bukan—"
"Sudahlah!" Potong Queen. Ia hendak berbalik, namun tangan Nial bergerak cepat menahannya.
"Dengar! Kau hanya perlu tahu satu hal."
Tertarik, Queen memutar tubuhnya, menghadap Nial.
"Aku tidak menjalin hubungan dengan siapapun. Tidak sebelum kau datang, dan setelah kau pergi."
Blusshh!
Wajah Queen merona seketika. Ia berdeham, mencoba menormalkan detak jantungnya yang tiba - tiba berdegup liar lantaran mendengar pengakuan Nial.
"Kenapa?" Nial tersenyum samar. "Apa kau berharap ada drama perselingkuhan agar kau punya alasan lebih kuat untuk membenciku?"
Queen terdiam.
"Ikut denganku. Aku akan membawamu menemui Britania sekarang."
Queen sempat ingin melayangkan protes keras, namun telinganya menangkap suara langkah kaki Kayden yang kembali mendekati pintu kamar. Enggan menghadapi situasi canggung atau interogasi konyol sepupunya, Queen akhirnya mengangguk terpaksa.
Ia mengganti pakaiannya dengan cepat, mengambil tas kecilnya dan kembali menghampiri Nial.
Keduanya berjalan beriringan, tanpa ada yang berniat membuka percakapan.
Begitu mereka sampai di lobi dan keluar ke area parkir, sebuah mobil sport hitam dengan desain agresif sudah terparkir manis di depan pintu masuk.
Itu adalah mobil milik Nael. Nial memang sempat mengirim pesan singkat memerintahkan sopir keluarga untuk mengantarkan mobil adiknya itu ke sana sementara Rayden membawa mobil utama.
Sopir yang menunggu segera memberikan kunci pada Nial, membungkuk hormat, dan pergi setelah diperintahkan kembali.
Nial mengulurkan tangan untuk membukakan pintu penumpang.
"Aku bisa sendiri," potong Queen cepat. Tangannya lebih dulu menyambar gagang pintu.
Nial tidak membantah. Pria itu hanya mengangkat kedua tangannya ke atas—gestur menyerah, lalu melangkah memutari kap mobil menuju kursi pengemudi.
Begitu Queen duduk di dalam kabin yang sempit dan beraroma kulit mewah itu, ia berusaha mengatur napasnya. Namun, saat ia hendak menarik sabuk pengaman, matanya tertuju pada konsol tengah, tepat di celah sempit dekat rem tangan. Ada sesuatu yang mengkilap di sana.
"Pengaman?" Mata Queen mengerjap. Ia mematung, menatap benda saset perak itu dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara rasa jijik dan kekecewaan yang mendadak menghantam dadanya.
Tepat saat itu, pintu pengemudi terbuka dan Nial masuk.
Hening.
Nial menyadari perubahan atmosfer di sampingnya. Ia mengikuti arah pandang Queen yang terpaku pada benda tersebut.
Rahangnya mengeras seketika. Dengan gerakan secepat kilat, Nial menyambar saset itu dan melemparkannya ke jok belakang tanpa ekspresi.
"Bukan punyaku," ucap Nial singkat.
"Aku percaya," sahut Queen. Wajahnya menunjukkan hal yang sama sekali berbeda dari perkataannya.
"Nael sialan!" umpat Nial dalam hati. Ia benar-benar ingin mencekik adiknya itu sekarang juga.
"Dengar, ini mobil adikku. Dan itu barang miliknya," Nial memutar tubuhnya sedikit ke arah Queen, auranya mendadak menjadi sangat intens dalam ruang yang terbatas itu. "Lagipula, kau mengenalku, Queen. Aku sama sekali tidak tertarik memakai karet sialan itu."
Queen membuang muka ke arah jendela, mencoba menyembunyikan rona merah yang mendadak muncul karena kejujuran vulgar Nial.
"Tidak perlu menjelaskan. Kau berhak melakukan apa pun yang kau mau dengan siapa pun."
Nial mendadak mematikan mesin yang baru saja menyala. Ia memutar tubuhnya sepenuhnya ke arah Queen, mengunci wanita itu dengan tatapan predatornya dalam ruang kabin yang sempit.
"Jangan gunakan nada itu padaku," desis Nial. "Kau tahu persis siapa yang aku inginkan selama setahun terakhir. Jika aku memang ingin main - main, aku tidak akan membuang waktu mengejarmu ke apartemen ini."
"Aku tidak memintamu mengejarku," balas Queen, meski suaranya sedikit bergetar.
Nial mendekatkan wajahnya, aroma parfum maskulinnya yang mahal memenuhi indra penciuman Queen. "Kau tidak perlu meminta. Kau adalah milikku. Dan sekarang, berhenti memikirkan benda di jok belakang itu karena kita punya urusan yang lebih penting."
Nial kembali menyalakan mesin. Ban mobil berdecit saat ia menginjak gas, membelah jalanan malam dengan kecepatan maksimal.
Dua puluh menit kemudian, Mobil sport hitam itu akhirnya berhenti dengan mulus di depan Hôtel Plaza Athénée.
Nial mematikan mesin, lalu tanpa menunggu lama, ia menyambar tangan Queen dan membawanya masuk melintasi lobi yang megah menuju lift.
Queen hanya diam, membiarkan dirinya dituntun. Ia terlalu lelah untuk berdebat, apalagi di tengah kemewahan seperti ini. Perasaannya masih campur aduk membayangkan sosok wanita bernama Britania itu.
Ting.
Lift tiba di lantai tujuan. Nial melangkah lebar menuju salah satu pintu suite mewah, lalu menekan bel beberapa kali. Tak lama, pintu terbuka dan seorang anak laki - laki kecil langsung berlari keluar.
"Uncle tampan!" seru anak itu riang sambil memeluk kaki Nial.
Nial terkekeh pelan, ia langsung membungkuk dan mengangkat anak itu ke dalam gendongannya. "Hei, jagoan. Kau belum tidur?"
"Belum! Aku menunggumu!"
Nial kemudian menoleh ke arah wanita cantik yang berdiri di ambang pintu. "Di mana Rayden?"
Queen mengernyitkan keningnya dalam - dalam. "Rayden? Kenapa Nial menanyakan asistennya di kamar wanita ini?" pikirnya bingung.
"Masuklah dulu, Nial. Rayden sedang mandi, dia baru saja selesai menyiapkan laporan yang kau minta sambil mengomel sepanjang waktu," sahut wanita itu dengan senyum ramah. "Dan kau pasti Queen. Silakan masuk, jangan sungkan."
Queen tak tahu harus bersikap bagaimana. Ia hanya spontan tersenyum tipis dan mengangguk.
Sambil tetap menggendong anak itu, Nial mempererat genggamannya pada tangan Queen dan membimbingnya duduk di sofa besar.
Queen sempat melirik tangannya yang digenggam Nial, lalu beralih menatap anak laki-laki di pangkuan pria itu.
Hatinya mendadak perih. Potret ini ... sangat mirip dengan apa yang pernah ia bayangkan jika anak mereka dulu berhasil lahir ke dunia. Tanpa sadar, setetes air mata jatuh. Queen cepat - cepat menghapusnya sebelum ada yang menyadari.
"Jadi, Nial," Britania duduk di hadapan mereka sambil melipat tangan. "Rayden benar-benar stres. Dia bilang kau mengancam akan memotong gajinya penuh bulan ini."
Nial mendengus dingin. "Dia terlalu banyak mengeluh pada istrinya."
Mata Queen membelalak sempurna. Ia menoleh cepat ke arah Britania, lalu kembali ke Nial. "Istri? Maksudmu ... Britania ini adalah istri Rayden?"
Britania tertawa renyah melihat ekspresi syok Queen. "Oh, astaga. Nial benar-benar tidak menjelaskan apa pun padamu? Ya, Queen. Aku Britania, istri dari asisten Nial. Dan anak ini adalah Leo, putra kami."
Queen membeku. Rasa malu yang luar biasa menyergapnya. Jadi, kecemburuannya sejak tadi benar - benar salah sasaran.
"Hmm!" Suara deheman Nial terdengar.
Quen menoleh, dan mendapati pria itu menaikkan alis, menyandarkan punggungnya ke sofa dengan gestur yang sangat tenang, seolah-olah kekacauan emosi yang dialami Queen adalah pemandangan yang menghibur baginya.
Nial tidak melepaskan genggaman tangannya, justru ibu jarinya mengusap punggung tangan Queen dengan gerakan provokatif.
"Senang bertemu lagi denganmu secara resmi, Queen," lanjut Britania dengan nada menggoda. "Kau mungkin lupa, tapi setahun lalu kau pernah masuk ke mobil Nial dan langsung duduk di pangkuannya. Aku ada di kursi belakang saat itu, menonton 'pertunjukan' kalian dengan sangat terhibur."
Wajah Queen seketika merah padam. "A-apa? Jadi itu Anda? Aku ... aku benar - benar tidak tahu."
"Tidak apa - apa, itu momen yang sangat berani," sahut Britania santai.
"Uncle tampan, siapa Bibi cantik ini?" Leo, yang berada dalam pangkuan Nial, tiba - tiba berceloteh. "Matanya bagus sekali, tapi kenapa tadi Bibi seperti menangis?"
"Aku tidak menangis." Elak Queen.
Nial menatap Queen dengan intensitas yang dalam, membuat Queen salah tingkah. "Dia adalah orang yang membuat Uncle mencarinya sampai ke ujung dunia, Leo. Dan dia agak marah saat ini."
Queen langsung membuang muka.
"Bibi jangan marah," ucap Leo dengan logat khas anak-anak. "Bibi sangat cantik. Seperti putri di buku ceritaku!"
Queen tersenyum tipis, meski hatinya masih terasa getir oleh kenangan masa lalu. "Terima kasih, Leo. Kau juga sangat tampan."
"Aku merasa kau membawanya ke sini hanya untuk pamer, Nial," sela Britania sambil tertawa kecil, matanya melirik ke arah tangan Nial yang masih menggenggam erat jemari Queen. "Kau ingin menunjukkan pada kami bahwa pencarian gila - gilaanmu selama setahun ini akhirnya membuahkan hasil, kan?"
Nial hanya mendengus pelan, namun ia tidak melepaskan genggamannya. Ia justru menarik Queen sedikit lebih dekat ke arahnya. "Aku hanya ingin dia berhenti membuat asumsi tentang siapa yang menghubungiku malam - malam."
"Oh, jadi kau menakutinya dengan namaku?" Britania menggeleng - gelengkan kepala, lalu menatap Queen dengan penuh simpati. "Maafkan pria kaku ini, Queen. Dia memang tidak punya cara yang manis untuk menjelaskan sesuatu. Dia lebih suka menyeretmu langsung ke sumber masalahnya daripada bicara baik-baik."
Queen terdiam, merasakan hangat yang menjalar di wajahnya. Ia kembali memperhatikan Nial yang kini menjawab Britania dengan nada yang lebih santai.
Pria ini ... terlihat berbeda dari setahun lalu.
Nial yang dulu dikenalnya adalah pria dengan wajah kaku yang seolah terbuat dari pahatan batu es. Bicaranya irit dan setiap katanya tajam. Namun malam ini, Nial tampak jauh lebih "manusiawi". Ia lebih mudah tersenyum dan bicara sedikit lebih banyak.
Queen tanpa sadar ikut tersenyum tipis. Apapun rasa sakit yang ia telan selama setahun ini, apapun pelarian melelahkan yang ia jalani, ia tersadar akan satu kenyataan: ia sama sekali tidak bisa membenci Nial.
Seberapa keras pun ia mencoba membangun tembok kebencian, tembok itu runtuh hanya dengan melihat cara pria itu memperlakukannya sekarang.
Sebaliknya, kerinduan itu justru semakin membukit, menyesakkan dadanya hingga terasa nyeri. Ia merindukan bagaimana rasanya menjadi satu-satunya fokus di mata tajam itu.
Nial, yang seolah memiliki radar terhadap tatapan Queen, mendadak menoleh. Mata mereka bertemu.
"Kenapa?" tanya Nial, suaranya melembut. "Kau menatapku seolah aku ini makhluk asing."
Queen mengerjap, mencoba menetralkan kembali emosinya. "Kau ... sedikit berbeda,"
"Aku tetap Nial yang sama. Nial yang mencintaimu."
Queen tertegun. Jantungnya berdegup kencang.
Pria ini biasanya sangat tertutup, selalu menyembunyikan emosinya di balik topeng otoriter. Mendengar pengakuan yang begitu blak-blakan dan tulus membuat pertahanan Queen goyah seketika.
Namun, tepat sebelum Queen mampu membalas ucapan itu, sebuah suara berat yang familiar memecah suasana dari arah koridor kamar.
"Hentikan, Nial. Kata - kata itu terdengar sangat menggelikan saat kau yang mengucapkannya."
Mereka semua menoleh serentak, kecuali Nial. Pria itu memejamkan mata, menahan kesal.
Rayden berjalan santai menuju meja bar kecil di sudut ruangan, menuangkan air mineral sambil tetap melempar pandangan jahil ke arah bos sekaligus sahabatnya itu.
"Kau harus tahu, Nona," ujar Rayden, suaranya naik satu oktav agar terdengar jelas. "Bosku yang terhormat ini tidak sehebat yang kau lihat sekarang. Saat kau pergi tanpa kabar setahun lalu, dia benar-benar berantakan. Dia menghabiskan malam dengan mabuk-mabukan di ruang kerjanya sampai botol-botol whisky itu lebih sering ia ajak bicara daripada aku."
Queen mengerjap, ia melirik Nial yang masih duduk dengan kaki menyilang di sampingnya. Ia mencoba menahan tawa yang mulai mendesak di tenggorokan. "Benarkah?"
Nial kembali menyandarkan punggungnya dengan santai, wajahnya tetap datar seolah sedang membicarakan laporan cuaca. Baginya, mengakui kehancurannya adalah bentuk kejujuran atas rasa miliknya pada Queen.
"Ceritakan saja semuanya, Rayden. Aku tidak peduli. Aku memang hancur saat itu. Tidak ada yang perlu disembunyikan."
Rayden menyeringai lebar, ia melirik Britania seolah meminta dukungan untuk meledakkan bom terakhir. "Sambil menangis, dan terus menyebut namamu di depan botol kosong."
Deg.
Tawa Queen yang tadinya hampir meledak seketika lenyap, berganti dengan rasa haru yang menggelitik dadanya. Namun, reaksi Nial jauh lebih cepat.
"Kau cari mati, Rayden!" umpat Nial, sambil tertawa marah.
"Hahahaa!" Rayden langsung tertawa terbahak-bahak, berlindung di balik punggung Britania. "Lihat? Dia sangat sensitif kalau soal air mata. Padahal saat itu dia terlihat sangat menyedihkan, Queen. Dia memeluk maskermu yang tertinggal di mansion sambil meracau marah karena kau berani meninggalkannya."
"RAYDEN!" teriak Nial. Runtuh sudah harga dirinya sebagai pria dingin dan angkuh.
lanjut thor😄👍makin seru liat nial🥰