Semua benda di dunia memiliki harga.
Rumah, restoran, perusahaan, bahkan kesempatan yang tidak bisa dibeli dengan uang sekalipun.
Saat hidup Lin Liu berada di titik terendah, sebuah sistem misterius memilihnya sebagai pemilik baru. Sistem itu tidak memberinya uang, kekuatan, ataupun keberuntungan.
Yang diberikannya hanyalah... diskon.
Semakin besar target yang berhasil dicapai, semakin langka kartu diskon yang diperoleh. Dengan satu kartu, sesuatu yang mustahil dimiliki bisa berubah menjadi kesempatan yang berada dalam jangkauan.
Namun, setiap pilihan memiliki konsekuensinya.
Di balik setiap transaksi, tersembunyi rahasia yang membuat dunia tidak sesederhana yang terlihat. Kini Lin Liu harus menentukan apa yang layak dibeli... dan apa yang seharusnya tidak pernah memiliki harga.
Karena ketika segalanya bisa dibeli, batas antara keberuntungan dan keserakahan menjadi sangat tipis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Suara pelayan itu semakin mendekat, membuat Huang Ruoxi berdiri panik, matanya menyapu sekeliling gazebo mencari tempat bagi Lin Liu untuk bersembunyi. Namun taman belakang itu terlalu terbuka, tidak ada tempat yang cukup memadai untuk menyembunyikan seseorang dalam waktu singkat.
"Cepat, lewat pagar samping, jalan yang tadi kau masuk," bisik Huang Ruoxi tegang, mendorong Lin Liu ke arah pintu samping yang mereka lalui sebelumnya.
Lin Liu bergegas mengikuti arahan itu, namun baru saja dia mencapai separuh jalan menuju pagar samping, sosok pelayan yang tadi memanggil sudah muncul di ujung taman, matanya melebar kaget melihat sosok asing bersama nona majikannya.
"Nona, siapa ini?" tanya pelayan itu curiga, matanya bergantian menatap Lin Liu dan Huang Ruoxi.
Huang Ruoxi buru-buru memasang wajah setenang mungkin, meskipun jantungnya masih berdegup kencang. "Dia teman lama. Kebetulan lewat, jadi aku ajak masuk sebentar. Tidak usah cerita ke siapa-siapa, ini bukan hal penting."
Pelayan itu tampak ragu, namun sebelum dia sempat bertanya lebih jauh, suara berat lain terdengar dari arah pintu utama rumah, membuat seluruh tubuh Huang Ruoxi membeku seketika.
"Ruoxi, kenapa lama sekali? Ayah sudah menunggu di ruang keluarga."
Ayah Huang Ruoxi melangkah keluar menuju taman, wajahnya yang tadi terlihat serius berubah curiga begitu matanya menangkap sosok Lin Liu yang berdiri kaku di dekat pagar samping. Dia mengenali wajah itu—kurir yang dulu pernah duduk semeja dengan putrinya di food court mal, orang yang sempat membuatnya bertanya-tanya beberapa waktu lalu.
"Kau," suaranya berubah tajam, melangkah cepat mendekat. "Kurir yang waktu itu, kan? Kenapa kau ada di rumahku, dan kenapa kau bersama putriku diam-diam di taman belakang?"
"Ayah, ini bukan seperti yang Ayah pikirkan," Huang Ruoxi berkata cepat, mencoba melindungi Lin Liu meskipun suaranya bergetar. "Dia cuma kebetulan lewat, aku yang mengajaknya masuk sebentar."
"Kebetulan lewat sampai masuk ke taman belakang rumah kita?" ayah Huang Ruoxi mendengus tidak percaya, matanya menatap Lin Liu dengan tatapan menusuk. "Kau pikir aku akan percaya alasan semudah itu? Apa maumu sebenarnya mendekati putriku?"
Lin Liu berdiri tegak, meskipun dadanya bergemuruh menahan gugup, dia berusaha menjawab dengan tenang. "Saya tidak punya niat buruk, Pak. Saya cuma—"
"Kau tahu, aku baru saja bicara dengan seseorang yang menyebutkan namamu tadi siang," ayah Huang Ruoxi memotong, suaranya semakin dingin. "Chen Datong. Katanya kau punya urusan utang besar dengannya. Dan sekarang aku menemukanmu diam-diam di rumahku, bersama putriku yang seharusnya bertunangan bulan depan."
Wajah Huang Ruoxi memucat mendengar nama itu disebut ayahnya sendiri, menyadari bahwa situasi ini jauh lebih rumit dari yang mereka duga. "Ayah, dengar dulu, ini tidak ada hubungannya dengan—"
"Cukup, Ruoxi," ayah Huang Ruoxi mengangkat tangan, memotong ucapan putrinya dengan tegas. Dia menatap Lin Liu lama, matanya menyipit penuh perhitungan, seolah sedang menyusun sesuatu dalam pikirannya. "Aku tidak tahu permainan apa yang sedang kau mainkan, tapi kalau kau berpikir bisa menggunakan kedekatanmu dengan putriku untuk kepentingan apa pun—entah itu untuk Chen Datong atau untuk dirimu sendiri—kau salah besar."
Dia berbalik ke arah pelayan yang masih berdiri di dekatnya, suaranya berubah tegas memberi perintah. "Panggil satpam, antar orang ini keluar dari rumah ini. Dan mulai sekarang, pastikan gerbang selalu dijaga ketat, tidak ada orang asing yang boleh masuk tanpa izinku."
"Ayah, tunggu—" Huang Ruoxi berusaha mencegah, namun ayahnya sudah berbalik pergi tanpa mendengarkan lebih jauh, meninggalkan kesan dingin yang menggantung berat di udara taman itu.
Dua satpam berbadan tegap segera muncul, menggiring Lin Liu keluar melalui pintu samping dengan cara yang meskipun tidak kasar, namun jelas tidak memberinya ruang untuk membantah. Huang Ruoxi berdiri mematung di taman, menyaksikan kepergian Lin Liu dengan mata berkaca-kaca, tidak berani bergerak lebih jauh karena tatapan tajam ayahnya yang masih mengawasi dari kejauhan.
Begitu berada di luar gerbang, Lin Liu menoleh sekali lagi ke arah rumah megah itu, dadanya dipenuhi kekhawatiran yang tidak bisa dia sembunyikan. Ponselnya bergetar di sakunya, namun sebelum dia sempat memeriksa siapa yang mengirim pesan, layar sistem tiba-tiba muncul di sudut penglihatannya, menampilkan sesuatu yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
...[PERINGATAN: HOST TERDETEKSI TERLIBAT DALAM JARINGAN KONFLIK PIHAK KETIGA YANG KOMPLEKS.]...
...[REKOMENDASI SISTEM: SELESAIKAN MISI "JEJAK YANG HILANG" SECEPATNYA. KETERLAMBATAN DAPAT MEMPENGARUHI KESELAMATAN PIHAK-PIHAK TERKAIT.]...
Lin Liu menatap peringatan itu dengan rahang mengeras, menyadari bahwa waktu yang dia miliki kini terasa jauh lebih sempit dari sebelumnya. Bukan hanya soal utangnya sendiri, atau soal misi sistem yang harus dia selesaikan—kini nasib Huang Ruoxi, dan mungkin juga keselamatan Su Yan, ikut tergantung pada setiap langkah yang akan dia ambil selanjutnya.