NovelToon NovelToon
Aku Rela Bangkit Dari Kematian Demi Cintaku Dengan Musuhku

Aku Rela Bangkit Dari Kematian Demi Cintaku Dengan Musuhku

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Bad Boy / LGBTQ
Popularitas:287
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

BL/BxB. Don't Copy!!!!



Rayyan Steven Mahendra meninggal tepat. dihari Pertama masuk SMA Setelah Pulang dari MPLS akibat tertabrak truk. Seluruh keluarganya hancur.
Seluruh Sekolah berkabung. Bahkan musuh bebuyutannya, Revan Devano Sanjaya, yang terkenal sebagai Preman Sekolah dan anak konglomerat, tidak Pernah lagi tersenyum Sejak hari itu. Setelah dikremasi, Orang-orang menangis dan Revan langsung tak bisa berdiri dia Merasa Pusing. Namun tujuh hari Kemudian Rayyan melintasi waktu, bagaimana bisa dia sudah di depan Pintu rumahnya, dia masuk rumah dan Semua keluarga Ketakutan dan ada yang tak menyangka Kejadian itu. Kemudian Rayyan beraktivitas Seperti biasa, Nenek dan Ibu Paling Senang dan Revan mendengar Kabar Rayyan Sangat Senang dan tersenyum entah mengapa hal itu terjadi Padanya!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabar yang Menggemparkan Sekolah

Pagi hari di SMA Mahardika High School biasanya dimulai dengan riuh rendah obrolan santai tentang tugas sekolah yang menumpuk, rencana nongkrong di akhir pekan, atau gosip-gosip ringan seputar romansa remaja. Namun, hari Jumat ini terasa sangat berbeda. Udara di koridor utama sekolah elite tersebut tidak lagi terasa hangat oleh pancaran sinar matahari pagi, melainkan terasa pekat dan mencekam oleh gelombang kebingungan yang menjalar ke setiap sudut ruangan.

Sebuah kabar yang teramat sangat tidak masuk akal telah meledak sejak fajar menyingsing, melompati dinding-dinding kelas, dan menyebar seperti virus ke dalam jaringan ponsel pintar para siswa.

Kabar tentang Rayyan. Remaja yang baru saja mereka doakan dalam upacara duka seminggu lalu, kini dikabarkan telah kembali ke rumahnya dalam keadaan hidup dan bernapas.

"Gila, ini gak mungkin banget, kan?"

"Tapi foto yang beredar di grup angkatan semalam itu jelas banget! Masa ada orang yang mukanya mirip seratus persen?"

"Gue denger dari anak kompleks sebelah, semalam rumah keluarga Mahendra sampai dikepung warga karena pembantunya teriak-teriak histeris liat Rayyan berdiri di depan pintu!"

Obrolan-obrolan dengan nada berbisik namun sarat akan kepanikan itu menggema di sepanjang koridor. Kelompok-kelompok siswa tampak berkumpul di depan loker, di sudut-sudut tangga, hingga di kantin sekolah yang mendadak ramai sejak pagi buta. Layar ponsel mereka terus menyala, menampilkan tangkapan layar status WhatsApp buram dan kiriman anonim di forum obrolan sekolah.

Ada sebagian siswa yang bersikap skeptis, menganggap semua ini hanyalah bentuk lelucon kejam dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Namun, ada pula sebagian siswa yang mulai didera ketakutan murni, membayangkan skenario supernatural tentang arwah penasaran yang kembali menuntut balas atas kematian tragisnya di persimpangan jalan layang tempo hari.

...****************...

Di depan deretan loker besi bercat abu-abu di koridor kelas dua belas, sebuah kelompok siswa tampak terlibat dalam perdebatan yang cukup sengit.

Chelsea berdiri bersandar pada loker dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Wajah cantiknya tampak sedikit pucat, dengan sepasang mata yang menatap cemas ke arah layar ponselnya sendiri yang sejak tadi terus bergetar menerima ratusan notifikasi baru.

"Gue masih gak bisa mikir pakai logika sehat, jujur aja," gumam Chelsea, memecah keheningan di antara mereka. "Seminggu lalu kita semua ngelihat bendera kuning di depan gerbang rumahnya. Kita semua tahu dia kecelakaan parah. Bahkan kabarnya jasadnya udah diperabukan. Tapi kalau berita yang beredar pagi ini bener... kalau Rayyan beneran pulang ke rumahnya dan pakai seragam sekolah lagi..."

Chelsea menjeda kalimatnya, menarik napas panjang seolah mencoba menstabilkan dadanya yang mendadak terasa sesak.

"Kalau bener, berarti ini keajaiban," lanjut Chelsea dengan suara yang hampir menyerupai bisikan lirih.

Kelvin, yang berdiri di sebelahnya sambil memegang tali tas ranselnya erat-erat, langsung mendengus pelan. Remaja jangkung itu menggelengkan kepalanya dengan cepat, menolak mentah-mentah premis supernatural yang baru saja diucapkan oleh Chelsea. Sebagai salah satu orang yang cukup dekat dengan Revan, Kelvin tahu betul bagaimana hancurnya Revan seminggu ini, dan betapa kacaunya kondisi mental sahabatnya itu akibat rasa bersalah yang teramat mendalam.

"Keajaiban?" Kelvin membalas dengan nada suara yang sarkastis dan skeptis. "Chelsea, lu jangan naif deh. Di dunia nyata gak ada yang namanya orang mati suri setelah jasadnya berubah jadi abu di dalam tungku krematorium. Itu mustahil secara biologis dan medis! Menurut gue... atau jangan-jangan orangnya beda."

"Orangnya beda gimana maksud lu?" Naomi, yang sejak tadi berdiri diam sambil mengunyah permen karet, langsung ikut berkomentar dengan nada tidak sabar. Ia menoleh cepat ke arah Kelvin, matanya membelalak heran. "Lu pikir ini film fiksi ilmiah yang ada kloningannya? Rayyan itu anak bungsu keluarga Mahendra, dia gak punya saudara kembar identik yang selama ini disembunyiin. Kakaknya cuma Kak Reyhan, dan semua orang tahu itu."

Kelvin mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Ya siapa tahu, kan? Bisa aja ada orang luar yang sengaja operasi plastik buat mirip-mirip dia demi menguasai harta keluarga Mahendra. Zaman sekarang apa sih yang gak mungkin kalau udah urusan uang?"

"Lu kalau ngomong suka gak pakai otak ya, Vin," ketus Naomi, melipat kedua tangannya di pinggang. "Mukanya sama persis, gimana ceritanya beda? Di foto yang beredar semalam itu, struktur wajahnya, tinggi badannya, bahkan gaya rambutnya yang agak berantakan itu bener-bener Rayyan yang kita kenal. Gak ada operasi plastik yang bisa secepat dan se-sempurna itu dalam waktu seminggu!"

"Tapi lu juga gak bisa ngejelasin gimana caranya abu kremasi bisa berubah jadi manusia lagi, kan?!" balas Kelvin tidak mau kalah, suaranya sedikit meninggi hingga memancing perhatian beberapa siswa yang sedang berjalan melewati koridor mereka.

Chelsea segera menengahi perdebatan kedua temannya itu dengan mengangkat tangan. "Udah, stop. Gak usah ribut di koridor. Kita semua sama-sama gak tahu apa yang sebenernya terjadi di dalam rumah itu semalam."

Namun, ucapan Chelsea tidak mampu meredakan ketegangan yang ada. Kehadiran misteri besar ini seperti sebuah kabut tebal yang perlahan-lahan mulai merayap naik, menyelimuti seluruh bangunan SMA Mahardika High School dan mengaburkan batas antara kenyataan dan kemustahilan.

...****************...

Tepat pukul tujuh pagi, sebuah mobil sedan hitam mewah yang sangat familier bagi sebagian siswa perlahan-lahan memasuki area lobi depan sekolah. Di kaca bagian depan mobil tersebut, tertempel stiker khusus keluarga Mahendra yang berkilau di bawah siraman cahaya matahari pagi.

Seketika itu juga, area lobi utama yang tadinya ramai oleh langkah kaki siswa mendadak sunyi. Puluhan pasang mata langsung tertuju ke arah mobil sedan hitam yang perlahan-lahan berhenti tepat di depan anak tangga lobi. Beberapa siswa bahkan sengaja mendekat ke arah jendela kaca besar, menahan napas untuk melihat siapa yang akan melangkah keluar dari dalam mobil tersebut.

Apakah Rayyan? Ataukah Steven Mahendra yang datang untuk memberikan klarifikasi resmi?

Pintu kemudi terbuka. Sosok paruh baya dengan seragam safari biru tua yang rapi melangkah keluar dari dalam mobil.

Itu Pak Arip.

Sopir setia keluarga Mahendra itu berjalan dengan langkah yang tampak agak tergesa-gesa. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah map dokumen tebal berwarna biru tua yang didekap erat di dadanya. Wajah Pak Arip yang biasanya selalu dihiasi senyum ramah kini tampak sangat tegang dan lelah. Gurat-gurat kecemasan yang mendalam terukir jelas di dahinya, dan lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan bahwa ia juga tidak menikmati tidur yang nyenyak semalam.

Begitu Pak Arip melangkah masuk melewati pintu lobi utama sekolah, ia langsung dikerumuni oleh belasan siswa yang sejak tadi memang sudah menanti kedatangan perwakilan dari keluarga Mahendra.

"Pak Arip! Pak, tolong jawab, beneran Rayyan udah pulang?!"

"Pak, yang semalam pulang ke rumah itu beneran Rayyan atau bukan sih, Pak?"

"Pak Arip, kabarnya Rayyan hidup lagi setelah dikremasi, itu beneran atau cuma berita bohong?!"

Rentetan pertanyaan yang bertubi-tubi itu langsung menghujani Pak Arip dalam sekejap. Para siswa berdesakan, mengacungkan ponsel mereka seolah sedang mewawancarai seorang selebritas yang terlibat skandal besar.

Mendapatkan serbuan yang begitu mendadak, Pak Arip menghentikan langkah kakinya. Tubuhnya sedikit terhuyung ke belakang akibat desakan para siswa yang tidak sabaran. Ia menarik napas panjang, mencoba meredakan debaran jantungnya yang masih belum stabil sepenuhnya sejak kejadian mengejutkan di ruang tamu semalam.

Pak Arip mengangkat kedua tangannya ke udara, telapak tangannya terbuka lebar sebagai isyarat meminta ketenangan.

"Harap tenang, anak-anak! Tolong semuanya mundur sedikit dan beri jalan!" seru Pak Arip dengan suara yang lantang, mencoba mengalahkan riuh rendah suara para siswa di sekelilingnya.

Setelah para siswa sedikit mundur meskipun masih menatapnya dengan pandangan menuntut penjelasan, Pak Arip membetulkan letak map dokumen di pelukannya. Ia menatap wajah-wajah muda di depannya satu per satu dengan ekspresi yang teramat sangat serius.

"Bapak mohon kepada kalian semua... tolong berhenti menyebarkan rumor-rumor yang tidak jelas," ujar Pak Arip dengan nada suara yang bergetar namun penuh penekanan. "Bapak minta jangan ada lagi yang membagikan foto-foto atau informasi apa pun di media sosial sebelum ada penjelasan resmi dari pihak keluarga Mahendra atau dari pihak sekolah. Tolong hargai privasi keluarga yang sedang menghadapi situasi ini."

"Tapi Pak, penjelasan resminya kapan?!" teriak salah seorang siswa dari barisan belakang. "Kita semua di sekolah panik banget, Pak! Takut kalau yang datang itu beneran hantu!"

"Tidak ada hantu! Den Rayyan itu... pokoknya tolong semuanya tenang dan masuk ke kelas masing-masing!" balas Pak Arip dengan suara yang sedikit meninggi, tidak ingin memberikan celah bagi spekulasi liar lainnya. "Semuanya akan dijelaskan pada waktunya. Sekarang, tolong beri Bapak jalan."

Dengan sisa-sisa ketegasannya, Pak Arip menerobos kerumunan siswa yang masih tampak tidak puas dengan jawabannya. Ia melangkah cepat menyusuri koridor utama menuju ruang kepala sekolah, berniat menyerahkan surat penangguhan sementara status akademis Rayyan kepada Pak Herman agar pihak sekolah bisa mengambil tindakan preventif untuk meredakan kegemparan ini.

...****************...

Namun, apa yang diharapkan oleh Pak Arip dan pihak keluarga Mahendra justru berbanding terbalik dengan kenyataan yang terjadi di lapangan.

Larangan Pak Arip untuk menyebarkan rumor justru bagaikan menyiram bensin murni ke dalam kobaran api yang sudah menyala panas. Keengganan sopir keluarga Mahendra itu untuk memberikan jawaban "Ya" atau "Tidak" secara tegas justru dianggap oleh para siswa sebagai konfirmasi tersirat bahwa ada sebuah misteri yang sangat besar dan mengerikan yang sedang berusaha ditutupi oleh pihak keluarga.

"Tuh, kan! Pak Arip gak ngebantah sama sekali!" bisik Naomi dengan nada kemenangan yang samar, menoleh ke arah Kelvin setelah Pak Arip menghilang di balik belokan koridor menuju ruang kepala sekolah. "Kalau emang berita itu cuma hoax atau lelucon, harusnya dia langsung bilang itu bohong dengan tegas. Tapi barusan dia malah keliatan tegang banget dan minta kita jangan sebar foto. Itu artinya... yang semalam pulang beneran Rayyan!"

Kelvin hanya bisa terdiam, tidak mampu lagi menyusun argumen bantahan yang logis. Ia menatap lantai koridor dengan pandangan yang kosong. Di dalam pikirannya, ia mulai membayangkan bagaimana reaksi Revan jika mendengar semua kegemparan ini di sekolah hari ini.

Dan benar saja, seiring berjalannya waktu menuju jam pelajaran pertama, suasana di SMA Mahardika High School justru semakin tidak terkendali. Rumor yang tadinya hanya seputar "Rayyan hidup kembali" kini telah berkembang biak menjadi berbagai versi cerita yang berkali-kali lipat lebih liar dan mengerikan.

Ada versi yang menyebutkan bahwa Rayyan sebenarnya tidak pernah berada di dalam mobil yang mengalami kecelakaan tragis itu, melainkan diculik oleh organisasi rahasia dan jasad yang dikremasi kemarin adalah jasad orang lain yang sengaja disamarkan. Ada pula versi mistis yang menyebutkan bahwa Rayyan telah melakukan perjanjian terlarang dengan entitas tak kasat mata demi bisa kembali ke dunia untuk menuntut balas kepada orang-orang yang telah merundungnya di sekolah terutama kepada Revan dan kelompoknya.

Di tengah-tengah kepungan rumor yang kian menggila itu, bangku milik Revan di kelas dua belas IPA 1 tampak kosong melongpong pagi ini. Tas ransel hitamnya tidak ada di sana, dan sang pemilik kursi yang biasanya selalu datang dengan aura mengintimidasi itu tidak menunjukkan tanda-tanda kehadiran sama sekali. Absensi Revan hari ini seolah-olah menambah kesan eerie dan misterius yang kian kental di udara sekolah.

Sementara itu, di sudut koridor lantai dua yang sepi, Adrian berjalan dengan langkah yang teramat sangat tenang. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana abu-abunya, dan sebuah senyuman tipis yang sangat dingin terukir di wajah tampannya yang tanpa ekspresi.

Ia mendengarkan setiap bisik-bisik ketakutan dari para siswa yang ia lewati dengan saksama, seolah-olah semua kegemparan ini adalah sebuah pertunjukan teater menarik yang telah ia persiapkan naskahnya sejak lama.

"Semakin kalian mencoba menutupi kebenaran itu..." gumam Adrian sangat pelan, menatap ke arah lobi utama tempat Pak Arip tadi dikerumuni. "Maka dunia akan semakin memaksa untuk menghancurkan dinding kebohongan kalian."

Ia membetulkan letak kerah seragamnya, lalu melangkah masuk ke dalam ruang kelasnya dengan keanggunan seorang konduktor musik yang siap memulai bagian klimaks dari simfoni takdir yang ganjil ini. Sebuah babak baru telah dibuka di SMA Mahardika, dan kali ini, tidak akan ada satu pun orang yang bisa melarikan diri dari pusaran badai yang sedang bergerak mendekat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!